Ingatan Akan Seorang Ayah

Saya bertemu pertama kali dengan Profesor Muhammad Kausar Bailusy pada sekitar pertengahan tahun 2007. Pertama kali menghubungi beliau melalui sms pada saat beliau sedang mengajar pada salah satu kelas pascasarjana. Dengan reputasi sebagai ilmuwan politik yang punya nama tidak saja di Unhas maupun Sulawesi Selatan, maka kesempatan bertemu beliau ketika itu saya anggap sesuatu yang cukup membuat saya tegang. Saya seorang calon asisten dosen yang akan bertemu orang yang memungkinkan saya pertama kali masuk dalam lingkungan Fisip Unhas. Pertemuan pertama buat saya sangat berkesan, ternyata beliau adalah seorang yang sangat ramah, kebapakan dan memperlakukan bahkan seorang yunior seperti saya dengan penuh respek. Meminta saya membantu beliau pada beberapa mata kuliah yang diampu dan memberikan kepercayaan yang sangat tinggi kepada seorang pemula seperti saya merupakan sebuah hal yang sangat luar biasa. Beliau tidak pernah sedikitpun menunjukkan sikap meremehkan pada saya yang masih minim pengalaman. Satu kalimat yang beliau ucapkan ketika itu “ Terima kasih ya sudah mau bantu saya”.

Selama beliau menjabat sebagai Wakil Dekan 1 bidang akademik (saat itu masih disebut sebagai pembantu dekan),  ruangan kerja beliau mungkin adalah ruangan yang paling sering saya kunjungi, baik untuk sekedar bertanya, berdiskusi atau bahkan sekedar menumpang untuk mendapatkan segelas air mineral yang selalu tersedia dalam ruangan beliau. Tidak ada sikap formal yang berlebihan, ini hanya tentang seorang Ayah yang senantiasa bersedia membuka ruang bagi seorang anak yang ingin belajar dan menimba pengalaman. tidak pernah ada yang berubah dari wajah dan sikapnya setiap kali saya menemui beliau, itu yang menyebabkan saya merasa memiliki seorang sosok Ayah di Fakultas. Bahkan ketika beliau menelpon pagi hari agar saya bisa masuk kelas menggantikan beliau karena sedang ada keperluan atau kegiatan lainnya, saya selalu merasa diminta oleh seorang Ayah “Assalamualaikum, sudah bangun? Nanti kamu masuk dulu kelas ya, saya ada undangan kegiatan hari ini bersamaan”. Sangat senang untuk senantiasa mendapat kepercayaan beliau.

“Kamu segera sekolah begitu ada kesempatan, jangan lama-lama.. kalau bisa sekolah yang jauh saja”. Ketika pertama kali beliau mengucapkan kalimat itu, awalnya saya berpikir itu hanya saran formalitas dari seorang senior kepada yuniornya. Namun ketika hal tersebut sering diulang ketika bertemu, Saya merasa itu seperti doa seorang Ayah pada anaknya. Karena itu ketika akhirnya kesempatan itu datang di tahun 2012 dan berita itu saya sampaikan beliau hanya tersenyum “selamat ya, jangan terlalu lama sekolahnya.. tidak usah pikir yang lain fokus saja sekolah dengan niat yang baik”. Ketika pertama kali akan berangkat saya memohon ijin kepada beliau di kediamannya. Dengan sarung yang khas dan posisi tempat duduk yang khas beliau ketika di rumah “jangan sia-siakan apa yang ada, ini kesempatanmu”. Sejak itu, setiap kali pulang ke Indonesia, saya tidak pernah absen mengunjungi rumah beliau, namun saya tidak pernah mengunjungi langsung ketika akan kembali lagi ke Jerman. Biasanya saya hanya menelpon beliau ketika sudah akan berangkat di Jakarta. Beliau beberapa kali bilang dan itu juga disampaikan oleh Ibu Kausar, kata beliau” kenapa Sukri kalau baru datang dari jerman selalu kesini, tapi kalau sudah mau pulang tidak mampir dulu tapi hanya lewat telpon”.. Sejujurnya, saya hanya tidak ingin merepotkan, karena saya tahu beliau selalu ingin membekali sesuatu ketika saya akan pulang ke Jerman. Seperti seorang Ayah yang memberikan bekal apapun bentuknya kepada seorang anak yang akan pergi sekolah, Maaf kan saya untuk ini Prof..

Sejujurnya saya sudah sering dihinggapi kekuatiran atas kondisi beliau, setelah riwayat kesehatan yang tampak turun naik. Beberapa kali keluar masuk rumah sakit dan sudah jarang untuk tinggal lama di kampus. Beliau bahkan sudah berhenti bermain badminton, olahraga kegemarannya dan mulai sedikit tertatih ketika berjalan. Kekuatiran berikutnya karena, sejak setengah tahun lalu, beliau sering sekali bilang “Sukri, waktu saya tinggal sedikit ini, mudah-mudahan kamu dan semua yang di Prodi bisa tetap berkembang sudah saatnya saya yang sudah tua ini mundur, dan kalian yang muda-muda melanjutkan”. Saat itu, saya hanya berpikir bahwa beliau sedang menghitung waktu pensiun yang masih tersisa sekitar empat tahun lagi. Jadi saya hanya sering menjawab, “belum Prof, masih lama, kami juga pasti tetap selalu butuh bimbingan”…”tidak Sukri, waktu saya tidak lama lagi”.. sejujurnya Prof, setiap kalimat itu yang kita ucapkan, saya selalu merasa was-was.. ketika suatu pagi Prof, tiba-tiba kurang enak badan dan pingsan menjelang ujian salah satu mahasiswa, saya merasa sangat kuatir, tapi saat itu, Allah masih memberikan waktu untuk kami dapat bersama Prof. Makanya, ketika dapat kabar pada malam hari tanggal 9 Mei 2018, saya masih berharap itu adalah “masuk rumah sakit” seperti biasa dan akan segera sembuh dan pulang lagi satu atau dua hari berikutnya. Bahkan ketika kondisi medis Prof menunjukkan situasi yang kurang baik, saya masih berharap hari itu bukan saatnya untuk Prof meninggalkan kami.. sejujurnya kami masih sangat berharap Prof tetap ada bersama saya dan kami di kampus.. membimbing kami, menjadi suri tauladan bagi kami.. kami kehilangan sosok sepertimu yang mau mengayomi kami dengan caramu, dengan segala kelebihan dan kekuranganmu… Sosok yang tidak pernah kehilangan senyum dan canda kepada kami dalam situasi apapun… ketika saat itu tiba, tanggal 10 Mei 2018, tidak ada seorangpun yang dapat menolak kehendak Allah SWT.. sejujurnya berat melepaskanmu, terutama saya yang merasa terlalu banyak berutang budi dan belum mampu membalasnya… Tapi saya sadar tidak boleh egois, Maafkan atas segala kesalahan yang kami buat dan yang mungkin telah membuatmu gundah… Allah lebih menyayangimu Prof… Saya dan seluruh orang yang mengasihimu akan selalu berdoa untukmu… In Sha Allah tempat terbaik disediakan oleh Allah SWT kepadamu di sisiNya karena engkau selalu memberikan kami tempat terbaik untuk menjadi Ayah, Guru dan Teman yang baik… Selamat Jalan Prof…. meski berat kami mengikhlaskanmu kali ini karena kami yakin Allah SWT menjanjikan tempat istimewa buatmu disana… ijinkan saya untuk selalu mengenangmu sebagai seorang Ayah yang telah memberikan jalan dan kesempatan bagi seorang anak untuk meniti hidupnya dengan cara yang sangat bijaksana…

Penulis

Sukri, PhD

Dosen Ilmu Politik FISIP UNHAS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *