Belajar Objektif dalam Menilai, Nasihat Berharga The God Father

Memulai tulisan ini, saya ingin mengutip Quote terkenal dari Don Michael Corleone dalam God Father the Trilogi.

“Never hate your enemies,it affect your judgment (jangan pernah membenci musuhmu, itu mempengaruhi penilaianmu)”

Mario Fuzo sangat apik memberi karakter Don Michael Corleone, sebagai seorang pemimpin keluarga mafia  yang wise, cerdas, family man sekaligus karakter yang kejam, ambisius , dan tak kenal ampun terhadap musuh-musuhnya (para Don keturunan Italia yang menguasai kota-kota di Amriki). Apresiasi setinggi-tingginya buat Alpacino yang sukses memerankan sang Godfather. Dulu menonton film ini sampai berjam-jam dan tersihir dengan karakter sang “Don”, dan setelah itu akan selalu  muncul feel romantisme khas Pria Italia, yang suka berkebun, masak buat keluarga, ngantar anak-anak ke sekolah. Tapi dibalik jaketnya selalu terselip revolver dan senjata otomatis yang siap menyalak bila  ada tugas dari sang Don. Aahhh, tak ada habisnya jika mau cerita Film yang melegenda ini.

Mari kita fokus ke quote diatas “jangan pernah membenci musuhmu karena itu akan mempengaruhi penilaianmu”. Bagaimana kalau kita balik, supaya seimbang dengan qoute ” jangan pernah terlalu menyukai sesuatu karena itu akan mempengaruhi penilaianmu”.

Dalam keseharian kita sering kali penilaian-penilaian kita tak luput dari hal- hal yang sifatnya subyektif dan dipenuhi unsur like and dislike, sehingga terkadang kita tidak jernih melihat persoalan. Coba ingat, dalam perdebatan Syiah dan Sunni di sosmed (saya tidak memakai VS ditengahnya karena memang tidak perlu), berapa banyak  argumen yang penuh dengan hujatan dan kebencian hanya karena dipicu sebuah gambar provokatif  yang tak jelas asalnya. Betapa si pendebat saling men’sesat’kan dalam suatu issu dengan berdasar dalil masing-masing yang memang sumber dan sanadnya berbeda. Coba ingat pertarungan  saat Pilpres yang lalu, yang sampai sekarang menyisakan  perdebatan tiada akhir . Coba cek postingan dari para haters Prabowo atau Haters Jokowi. Pokoknya, apapun yang mereka lakukan akan selalu salah di mata para haters. Saat melihat Pak Jokowi duduk berakrab-akrab dengan suku anak dalam di Jambi eeh, dikira Paspampres yang mensetting untuk act like jd anak suku. Atau coba lihat komentar atas Prabowo saat menonton di TV, haters yang akan selalu berteriak bocor,, bocor.. Semuanya didasari atas dasar karena terlalu membenci atau over menyukai.

Disekitar kita juga seperti itu. betapa kita tidak seimbang dalam menyikapi banyak hal. Berlaku kurang adil terhadap seseorang karena muatan suka dan tidak suka. Banyak keputusan-keputusan kita yang dipengaruhi faktor yang sifatnya pribadi dan subyektif, bukan berdasarkan obyektifitas , apa adanya dari masalah yang ada. Banyak dari kita yang sering berdebat terhadap sesuatu yang sebenarnya simple, tetapi kita melihatnya dari sudut berbeda, dan bodohnya kita berdebat panjang soal itu. Menjadi Hakim atas pemikiran orang lain, padahal alam berfikir merupakan hak asasi setiap orang.

Judgment terhadap sesuatu apakah itu suatu kasus, atau penilaian terhadap seseorang akan selalu di pengaruhi oleh pengalaman, Latar belakang keilmuan  juga oleh kepentingan tertentu. sehingga menurut kami ada tiga hal yang membuat kerangka berfikir kita jadi keliru dalam melakukan penilaian

GENERALISASI, contoh kecil dijadikan representasi untuk hal yang besar. Lihatlah issu di sosmed, hanya karena video berdarah-darah pada hari asyyura yang dilakukan segelintir orang syiah di Iran. Kita lantas menyamakan semua orang Iran melakukan hal yang sama. padahal nyata-nyata sudah ada pernyataan resmi dari otoritas Iran bahwa itu dilarang. Tapi kita tetap saja menyerang orang Iran dengan tuduhan Islamnya biadab, sesat ,dan harus dihujat hanya berdasar atas satu video yang di Upload situs -situ provokatif.

Contoh lain misalnya, dukungan buta terhadap dua kubu Koalisi Merah Putih (KMP) dan Koalisi Indonesia hebat (KIH), lihat masing-masing para pendukung yang menggeneralisir dan menyamaratakan kalau Legislatif Korup yang kebetulan dari KMP maka semua Koalisi KMP juga koruptor.

DISTORSI. Sering kali data dan informasi sering “dipelintir” dan diputar balikkan untuk kepentingan tertentu. Ini banyak sekali kita lihat saat ini, gambar editan, kata-kata provokatif, dan lain-lain. Sayangnya, banyak dari kita langsung mengiyakan dan mengikuti tujuan dari si pembuat informasi yang sudah terdistorsi tanpa klarifikasi dan penelusuran.

DELESI. Sering kali data dan informasi yang kita terima tidak lengkap bahkan menggantung. lihatlah di timeline kita berapa banyak issu yang hanya kita terima piece per piece, berapa banyak informasi yang kita terima tentang Palestina, Suriah dan Iran. Mungkin hanya kulit-kulitnya saja, dan ketidak tahuan kita dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Disaat kita menjatuhkan judment karena faktor-faktor diatas, maka yang timbul adalah penilaian sesaat, tak berdasar, dan lemah. Tidak banyak dari kita yang sebelum berdebat di timeline menyiapkan diri dengan Ilmu terkait kasus perdebatan. Tak banyak dari kita yang sebelum bertarung ide, terlebih dahulu memahami lawan debat beserta alam fikirnya. Yang ada kita bersitegang karena sama-sama mempertahankan hal yang sama-sama kita tidak tahu. Kita bertahan dengan argumen yang sebenarnya disandarkan pada dinding lemah yang bernama Ego. Dan kita menyerang orang lain tidak berdasarkan senjata fakta dan logika, tapi berdasarkan kebencian semata.

Entah apa di alam fikir Mickey Corleone  yang dalam suatu waktu harus mengambil keputusan sulit untuk  menyuruh membunuh adiknya Fredo Corleone diatas perahu saat senja. Mungkin penilaiannya saat itu juga tidak jernih dan dipengaruhi  rasa amarah. Tapi mungkin saja itu adalah pilihan logis karena pertaruhannya adalah kepentingan yang lebih besar, yakni nama besar Corleone. Namun yang pasti, kita harus belajar dari hal tersebut diiatas. Sepertinya kita harus lebih bersabar, menunggu, bertabayyun, mengklarifikasi segala hal, segala issu sebelum  menjatuhkan pilihan, atau menentukan di front mana kita akan berdiri. Karena sesungguhnya suka dan benci itu letaknya di hati yang gampang di bolak balik.

Penulis

Sukmayadi, S.IP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *