Pemanjat Yang Berjatuhan

PEMANJAT mana yang tidak mengenal Chris Sharma, Stept Davis, Dean Potter dan sederet pemanjat kelas dunia lainnya. Mereka yang menjangkau ketinggian berbekal kekuatan di kedua tangan dan kakinya. Setapak demi setapak gerakan penuh risiko. Satu kesalahan kecil saja bisa berujung fatal. Patah tulang, lumpuh, bahkan kematian menjadi warna pertunjukan mereka ketika beraksi.

Dan, yang terhangat di 2017, Alex Honnol melakukan climbing di Yosemite National Park—YNP, California tanpa seuntas tali pun. Cukup dalam waktu 3 jam 56 menit, dia berhasil menaklukkan dinding granit vertikal setinggi 3 ribu kaki. Ini adalah kali kedua usaha Alex menaklukan YNP dan berbuah manis. Di usaha pertamannya, dia sempat mengalami kegagalan.

National Geografi yang turut mendokumentasikan aksi Alex di YNP pun segera membuat nama Alex semakin harum di kancah dunia. Para pemanjat dan pecinta ketinggian lain segera membanjiri Alex dengan ucapan dan pujian, segera setelah kabar itu sampai ke telinga mereka.

Tidak semua pemanjat bisa mendapatkan kemewahan dan keharuman nama seperti layaknya Alex. Ribuan kilometer dari tempat Alex beraksi, tepatnya di Desa Sipakainge, juga terdapat pemanjat-pemanjat yang tidak kalah nekat dari yang Alex lakukan. Pemanjat yang juga tanpa alat keselamatan, alas kaki, dan sehelai pun arsuransi kecelakaan. Soal risiko, sama besarnya. Pijakan dan pegangan yang minim menuntut para pemanjat untuk memiliki pengalaman puluhan tahun agar dapat melakukan aksinya. Tidak ada istilah latihan dalam kamus mereka, dan nyawa menjadi taruhannya. Mereka adalah para pemanjat pohon cengkeh yang bekerja saban tahun dari satu pohon ke pohon yang lain.

pemnajat cengkeh

Orang Selatan

Desa Sipakainge’ terletak di Kecamatan Pakue, Kabupaten Kolaka Utara, Propinsi Sulawesi Tenggara. Di desa ini cukup ramai karena terdapat sebuah pelabuhan tua yang kini sudah tidak difungsikan lagi sebagai pelabuhan penumpang—sebelum Pemerintah Daerah setempat membangun pelabuhan penyebrangan ferry di Tobaku pada 2004, kurang lebih sejam perjalanan dari Sipakainge’. Pembangunan pelabuhan tersebut tidak lantas membuat masyarakat meninggalkan pelabuhan di Sipakainge’.

Di awal 2000an, masih ada beberapa kapal kayu pengangkut penumpang yang melayani penyeberangan ke Sulawesi Selatan via Pelabuhan Siwa, di Kabupaten Wajo, Pelabuhan Malili dan Kendari (khusus perahu bermesin ketinting). Hingga akhirnya kapal-kapal kayu menjadi usang hingga akhirnya masyarakat benar-benar memindahkan aktifitas penyeberangan mereka ke pelabuhan baru di Tobaku.

Di masa sebelum kepindahan pelabuhan, Sipakainge’ terus bertumbuh secara ekonomi dan jumlah penduduk seiring meningkatnya pendatang yang coba mengadu nasib di tempat ini. Setelahnya, pertumbuhan itu pun terhenti, kecuali jumlah penduduk yang hanya mengalami perlambatan saja. Namun, pendatang yang bekerja sebagai buruh perkebunan masih tetap berdatang ke Sipakainge’ dan desa-desa lain di sekitarnya ketika musim panen cengkeh tiba.

Sejak tanaman cengkeh masuk dan mulai masif ditanam di Kolaka Utara pada 1975, migrasi pekerja dari Sulawesi Selatan menjadi rutinitas tahunan, khususnya di perkebunan cengkeh. Orang setempat menyebut para pekerja ini sebagai ‘Orang Selatan’—mereka para pekerja kebun harian yang berasal dari wilayah Sulawesi Selatan. Buruh perkebunan yang datang sebagai pemetik bunga cengkeh atau akrab disebut sebagai pemanjat cengkeh. Kabupaten Wajo dan Luwu merupakan dua kabupaten asalnya.

Pemanjat cengkeh memiliki siklus kerja yang teratur mengikuti siklus berbunganya pohon cengkeh. Jika curah hujan baik dan pohon-pohon cengkeh berbuah maksimal, bisa saja cengkeh berbunga dua kali dalam setahun. Jika curah hujan tinggi dibandingkan biasanya—musim penghujan lebih dari 3 bulan—panen hanya sekali dilakukan dalam setahun dengan hasil mengecewakan atau bahkan tidak ada hasil sama sekali. Selain perubahan iklim, faktor lain yang mempengaruhi tanaman cengkeh yakni usia dan jenis pohon. Semakin tua usia pohon, umumnya di atas 10 tahun, maka semakin kuat beradaptasi dengan curah hujan yang tinggi. Jenis pun sangat menentukan. Untuk jenis Sansibar lah yang menurut petani tidak begitu terpengaruh bunganya ketika musim penghujan lebih panjang dari kemarau.

Soal bayaran, pendapatan pemanjat cengkeh jelas tidak sebanyak yang sponsor berikan kepada Alex atau pendapatan pembersih gedung pencakar langit di kota-kota besar. Sistem bagi hasil masih menjadi primadona di perkebunan cengkeh. Misalnya dalam satu pohon menghasilkan 100 liter atau setara 50 kilogram cengkeh basah, pemanjat akan mendapat sepertiga hingga setengahnya dari pemilik pohon. Tidak jarang, ada pula pemilik yang memberikan semua hasil panennya dengan syarat, pemanjat harus membersihkan seluruh bunga cengkeh, batang-batang yang lapuk, benalu dan sarang serangga yang ada di pohon. Hal ini penting bagi pemilik pohon cengkeh, mengingat bahwa bunga cengkeh yang tidak dipetik akan merusak pertumbuhan bunga cengkeh berikutnya. Di kasus tertentu bahkan tidak ada bunga yang tumbuh jika bunga sebelumnya dibiarkan membusuk di pucuk.

Pemanjat cengkeh pun memiliki peralatan yang mereka ciptakan sendiri untuk membantu kerja-kerja mereka. Pengetahuan itu juga mereka wariskan ke generasi setelahnya hingga sekarang. Mulai dari tangga panjat, dudukan antar batang, tempat penyimpanan cengkeh ketika berada di atas pohon, hingga lilitan tali apa adanya agar mereka  tidak mudah terjatuh ketika pijakan mendadak berayun.

Jeka dan Kemudahan

Hal paling tampak dari ketidak-majuan perkebunan cengkeh yakni teknologi pendukung pada saat panen. Kerja sebagai pemanjat cengkeh, dengan risiko yang besar, bukan pilihan paling masuk akal buat buruh perkebunan. Kondisi ini berbanding terbalik dengan teknologi yang ada pada profesi memanjat lain, yang berkaitan dengan kerja-kerja di ketinggian. Alex dan kawan se-profesinya mungkin bisa menikmati aksi mereka di ketinggian. Tapi tidak dengan pemanjat cengkeh yang bertaruh nyawa untuk membawa pulang seliter cengkeh.

Untuk mendapatkan hasil panen yang memuskan, cengkeh umumnya harus dipetik sebelum sebagian besar bunganya memerah. Sementara, waktu yang cengkeh butuhkan untuk matang relative singkat. Dari kondisi ini, pemanjat tidak memiliki waktu yang banyak ketika panen. Dalam perjalanannya, pemanjat cengkeh di Kolaka Utara membuat dan menggunakan Jeka (tangga panjat) untuk memudahkan dan mempercepat proses panen.[1]

Bentuk Jeka hampir sama dengan tangga pada umumnya. Hanya saja, jika tangga memiliki dua tiang vertikal di kedua sisinya, sedangkan Jeka  hanya memiliki satu tiang vertikal saja. Alat ini terbuat dari Awo Pettung dan Awo Tara[2] dengan tinggi antara 7 hingga 13 meter. Anak tangga terbuat dari kayu yang dipasang di bagian tengan bambu—terdapat lubang di bagian tengah bambu untuk meletakkan anak tangga kemudian diikat. Karena ukuran yang sangat panjang, ketika petani mendirikan Jeka, mereka mengikatkan tali di bagian tengah kemudian mengaitkan tali ke pohon yang lain untuk mengurangi ayunan bambu ketika dipanjat. Untuk biaya pembuatan Jeka terbilang mahal oleh sebagian  besar petani yakni kisaran 350 ribu rupiah.

Jeka memiliki beberapa keunggulan, terutama karena dapat membantu pemanjat menjangkau bunga cengkeh terluar. Tanpanya, pemanjat hanya dapat memetik bunga lataknya dekat dengan batang-batang terdalam pohon. Maka tidak heran, pemanjat yang menggunakan Jeka bisa lebih cepat memanen karena bunga cengkeh yang sebagian besar tumbuh di pucuk-pucuk terluar. Hanya saja, memanjat di bagian luar pohon dengan menggunakan Jeka, tidak membantu petani dalam hal perawatan cengkeh dari gangguan seperti sarang serangga, benalu dan ranting yang sudah membusuk dan mati.[3]

Sebaliknya, memanjat tanpa Jeka berarti harus berpijak pada batang dan ranting pohon secara langsung. Pemanjat bisa saja mematanhkan ranting ketika salah menginjak bagian yang rapuh sehingga dapat merusak pohon. Walaupun kurang efisien dibanding menggunakan Jeka, tapi cara ini memiliki beberapa keunggulan di antaranya: Pertama, sembari memanen, pemanjat dapat sekaligus membersihkan batang dan ranting yang sudah membusuk atau mati; Kedua, sarang binatang yang mengganggu tanaman, seperti sarang arella (semut angkreng) juga dapat sekalig dibersihkan; dan Ketiga, pemanjat bisa sekaligus membunuh benalu yang mengganggu  pertumbuhan pohon.

Karena bentuk Jeka yang panjang dan berat, tambah pula dibutuhkan keterampilan dan keberanian yang lebih besar untuk memanjat, maka hanya laki-laki saja yang menggunakannya. Sedangkan pemanjat perempuan dan anak-anak lebih memilih untuk memanjat di dahan-dahan terendah. Kalaupun ingin lebih tinggi lagi, mereka menggunakan papan yang dipasang terlentang mengikuti ketersediaan ruang di antara batang pohon sebagai pijakan, sekaligus menjadi tempat mengistirahatkan otot kaki yang tegang. Tidak lupa tangan mereka berbekal Kandu[4] dan pengait ranting yang terbuat dari besi dengan gagang kayu atau bambu untuk menambah daya jangkaunya.

Dalam hal teknis, kedua cara di atas memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Tidak jarang, petani menempuh keduanya—menggunakan Jeka untuk menjangkau bunga yang tinggi dan tidak menggunakan Jeka untuk menjangkau bunga di ranting rendah saja—sekaligus melakukan perawatan cengkeh. Menggunakan Jeka atau tidak, keduanya memiliki risiko kecelakaan yang sama besarnya. Keterlibatan anak di dalam sektor perkebunan cengkeh yang berbahaya ini, tentu wajib menjadi perhatian kita bersama.

Anak-Anak Pemanjat dan Ancaman Kematian

Rahiwati (31 tahun) berbagi cerita pengalamannya 20 tahun silam. Panen cengkeh tiba. Rumahnya di Desa Sipakainge’ tampak sepi sejak pagi. Begitu pula rumah warga yang lain. Sebaliknya, kebun-kebun sesak dengan orang yang bekerja. Sebagian bunga cengkeh kemerahan tampak merekah. Selebar senyum petani yang datang bersama keluarga. Kebun yang sebelumnya hanya berisi suara burung dan serangga, kini berganti dengan riuh anak-anak yang berlarian tanpa arah. Dari kejauhan, suara obrolan ibu-ibu tersapu angin, tapi tetap jelas apa yang mereka bicarakan.

Layaknya perkemahan, tikar terhampar di bawah pohon-pohon cengkeh yang tumbuh menjulang. Tikar dengan aneka makanan di atasnya. Anak-anak dan orang dewasa duduk melingkar, siap menyantap bekal makan siang mereka. Perempuan lah yang paling sibuk menyajikan makan dan minum ketika memasuki jam-jam istirahat. Ketika wadah terbuka, wangi nasi hangat dan ikan kering mendesak orang-orang untuk segera menghabiskannya. Semua itu bercampur dengan aroma khas cengkeh dan air laut yang terbawa angin sampai ke hidung.

Orang-orang saling sapa satu sama lain, lebih dari hari biasanya. Di jalan, di bawah pohon cengkeh, bahkan, mereka yang letak kebunnya bersebelahan pun masih sempat berbincang ketika berada di atas pohon. Saling meninggikan suara agar terdengar. Berangkat di waktu yang sama, pulang pun seperti itu.

Saat Rahiwati masih duduk di bangku SMP, dia mendapat kepercayaan dari orang tuanya untuk merawat satu pohon cengkeh. Sebagai ganti, dia bebas untuk memanen dan menikmati hasil pohon tersebut. Di Sipakainge’, sudah menjadi kebiasaan bagi orang tua untuk memberikan pohon cengkeh kepada anak-anak mereka, sejak kecil.

Sudah tentu perasaan senang hadir di anak-anak. Mereka kian bersemangat untuk segera memetik bunga cengkeh miliknya. Sedangkan anak-anak lain, yang orang tuanya tidak memiliki pohon cengkeh, juga masih bisa menikmati kegembiraan saat panen. Pasalnya, sudah menjadi kesepakatan bersama, mereka diperbolehkan untuk mengumpul dan memiliki bunga cengkeh yang jatuh ke tanah.

Anak-anak menjemur hasil kerja mereka sebelum dijual. Uang hasil penjualan mereka gunakan untuk jajan. Di keluarga Rahiwati memiliki kebiasaan berbeda. Uang hasil cengkeh, biasanya dia titipkan ke kerabat yang akan melakukan perjalanan ke kota. Tentunya bersama dengan daftar belanjaan seperti tas, baju, sepatu dan sebagainya. Panen menyenangkan bagi anak-anak Sipakainge’ karena saat itu mereka bisa membeli apa yang diinginkan dari hasil kerjanya sendiri.

Umumnya orang tua melarang anak-anak mereka untuk memanjat terlalu jauh ke atas. Anak-anak hanya mendapat izin memetik bunga di tangkai yang rendah. Orang tua tidak ingin ketika anak-anaknya memanen di ranting yang tinggi, justru akan merusak ranting cengkeh yang sehat. Jangkauan tangan anak-anak yang masih terbatas untuk meraih bunga di ranting terluar akan memaksa mereka mematahkan rantingnya.

Ada alasan lain orang tua melarang anaknya memetik cengkeh yang tinggi, dan ini menjadi alasan paling utama yakni keselamatan. Walaupun memanjat bagi sebagian besar anak-anak menyenangkan, tapi risiko memanjat pohon cengkeh bukan  perkara remeh. Nyawa menjadi taruhannya.

Yusuf (42 tahun) menceritakan, terakhir pada 2014, ada seorang pemanjat cengkeh yang terjatuh. Bisa dibayangkan terjatuh dari ketinggian mencapai 13 meter dari tanah, tentu berakibat fatal bagi pemanjat cengkeh.

Terjatuh dari pohon cengkeh pernah Aco (40 tahun) alami 24 tahun silam. Kejadian itu berakhir dengan kelumpuhan di dirinya hingga sekarang. Bukan hanya tulang kaki yang patah, tapi juga merusak syaraf di bagian tulang belakang. Sepulang dari rumah sakit, Aco mendapat perawatan khusus dari orang tuanya. Kini dia sepenuhnya bergantung pada pertolongan orang-orang di sekitarnya.

Aco menumpang di rumah keluarganya karena saat itu bersekolah di luar Sipakainge’ yakni di Kendari. Kejadian naas yang Aco alami terjadi pada 1993, ketika dia masih sekolah di kelas 1 Aliah (setingkat SMA). Ketika panen cengkeh tiba, dia ikut membantu keluarganya memetik cengkeh. Petaka pun terjadi. Dia terjatuh dan—

Aco hanyalah satu dari sekian banyak orang yang menjadi korban di perkebunan cengkeh. Setiap tahun, panen cengkeh tidak hanya ramai oleh pemberitaan soal harga dan jumlah panen yang meningkat atau menurun, tapi juga warta buruh perkebunan yang terjatuh dari pohon. Minimnya peralatan keselamatan, ditambah tingginya risiko kerja sebagai pemanjat mengakibatkan kejadian serupa terus berulang hampir setiap tahun, tidak terkecuali korban pada anak-anak.

Berkembangnya teknologi pertanian dan perkebunan secara teknis dewasa ini tidak lantas menyelesaikan kesulitan petani cengkeh ketika masa panen tiba. Padahal, ada begitu banyak perlengkapan keselamatan untuk pekerja di ketinggian yang tersedia saat ini. Sebut saja dalam olahraga panjat tebing, pembersih gedung pencakar langit, pemelihara fasilitas listrik dan pekerja di ketinggian lainnya. Sayangnya, peralatan keselamatan seperti itu belum bisa diadopsi ke pertanian cengkeh. Selain untuk memudahkan dalam proses panen, ini juga demi keselamatan petani dan pemanjat. Agar kecelakaan yang pernah dialami oleh Aco dan korban sebelumnya tidak terulang di masa mendatang.[]

Oleh Agung Prabowo

*Penulis adalah mantan Korwil Komunitas Kretek Makassar (2012). Sejak 2015 bergabung di afiliasi peneliti Insist Press Yogyakarta dan bekerja sebagai buruh lepas di beberapa penelitian. Penulis dapat dihubungi melalui surel agp.ketan@gmail.com, akun twitter @humaneco atau mengunjungi langsung catatan lain penulis di https://agpketan.wordpress.com.

[1] Tanpa menggunakan Jeka, petani membutuhkan waktu hingga 2 hari untuk memanen 1 pohon cengkeh berusia 5 sampai 10 tahun dan 3  hari untuk memanen 1 pohon cengkeh berusia di atas 10 tahun. Setelah menggunakan Jeka, petani bisa menghemat waktu sehari untuk 1 pohon yakni, sehari untuk memanen 1 pohon berusia 5 sampai 10 tahun dan 2 hari untuk memanen 1 pohon cengkeh berusia di atas 10 tahun.

[2] Awo dalam Bahasa setempat merujuk pada tanaman bambu yang banyak terdapat di wilayah ini. Jenis yang paling sering digunakan untuk membuat Jeka adalah jenis Pettung.

[3] Hal-hal yang menghambat pemanjat ketika melakukan panen di antaranya keberadaan arella (semut angkreng) yang biasa bersarang di daun. Jika jumlahnya sedikit, itu tidak menjadi masalah buat pemanjat. Tapi dalam jumlah besar, serangan semut ini cukup menyakitkan; Sammering (semut kecil berwarna coklat), walaupun kecil, semut ini cukup menyakitkan ketika menggigit. Tidak jarang semut jenis ini menyerang bagian mata dan menjadikan bagian itu perih. Semut jenis ini biasa bersarang di batang cengkeh; Hewan pengganggu lainnya yang kerap hadir ketika masa panen tiba yakni Kalindoro’ (kaki seribu), baik yang merah kecil maupun yang hitam besar. Mungkin untuk pemanjat dewasa binatang ini tidak menjadi masalah, tapi bagi anak-anak hewan ini menakutkan.

[4] Tempat menyimpan sementara bunga cengkeh yang pemanjat petik ketika masih berada di atas pohon. Alat ini terbuat dari karung bekas yang pada sisi atasnya dipasang besi agar dapat membentuk lingkaran. Sedangkan pada bagian bawah karung diikat rapat untuk memastikan tidak ada bunga cengkeh yang jatuh ke tanah. Kandu kemudian diikatkan ke bagian pinggang, atau memberikan cantolan dengan seuntas tali agar dapat diletakkan di dahan pohon.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *