Berkelana Mencari Responden…

Para undangan sudah memenuhi  ruangan. Tampak panitia sudah bersiap di posisi masing-masing, semenjak tadi hilir mudik mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan. Mulai dari membuat absen hingga memastikan para undangan hadir. Tim presenter sudah bersiap di meja depan, lengkap dengan panelis dari kampus ternama serta panelis dari Parpol ternama pula. Pekerja media sudah beberapa kali mengambil gambar dari bergbagai sudut. Akhirnya moderator selaku pembawa cara mulai berbicara. Menjelaskan apa maksud dan tujuan dari kegiatan tersebut. Suasana tampak hening ketika sang presenter memulai pemaparannya. Di slide show jelas terpampang maksud dan tujuan kegiatan tersebut. Slide demi slide pun berganti, sesekali di imbuhi bunyi “cekret” dari jepretan kamera. Para undangan pun nampak menyimak dengan serius. Sang presenter dengan tampilan parlente kian bersemangat memaparkan presentasenya. Sesekali ia bersenda gurau dengan khalayak yang hadir. Biasanya, acara ini berlanjut dengan sesi diskusi dan tanya jawab.

Benar. Kegiatan di atas adalah persentase hasil suatu riset, lebih tepat riset kuantitatif yang lazim di sebut survey. Kali ini survey terkait perilaku politik suatu daerah jelang Pilkada. Mungkin ini jenis riset yang paling renyah, paling popular dan paling booming di era sekarang. Maklum market riset serupa ini cukup besar. Hajatan Pilkada serta Pileg merupakan celah pasar yang cukup lebar untuk di rambah. Walaupun bagitu kata seorang kawan, menjalin “kerja” dengan politisi/Parpol harus ekstra hati-hati. Apalagi masalahnya kalau bukan persoalan “Hak” penyedia jasa. Sedari awal kontrak kerja harus detail dan jelas, begitu ungkapnya pada suatu pertemuan.

Hasil presentase di atas belum berakhir. Keesekon harinya di media-media ternama terpampang foto dan berita kegiatan tersebut di atas. Di media-media online sejak awal sudah menurunkan reportase mereka, bahkan sejak menit-menit awal kegiatan dilaksanakan. Di social media, salah satu ruang bermuaranya publikasi hasil survey sudah penuh sesak dengan postingan, analisis, komentar, saling sindir terkait hasil survei. Di ranah sosial nyata, para penggiat politik (tim sukses, Parpol, relawan dll) menggelar operasi bagaimana mempengaruhi  masyarakat untuk memilih kandidatnya. Cara kerja mereka ini umumnya berdasarkan rumusan dari hasil/temuan survey di atas ataupun hasil modifkasi tim itu sendiri. “Produk” kerja mereka ini tak jarang juga kita temui di ruang-ruang publik ataupun fasilitas-fasilitas sosial yang ada, bahkan merasuk hingga ke ruang-ruang privat. Ada kalanya produk-produk itu bergelombang dan  menumpuk menjadi sampah yang mengotori ruang-ruang publik hingga cara berfikir. Sampah yang kadang susah untuk di urai.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Tapi tahukah anda bagaimana awal serta proses dari data/informasi yang di sajikan dari presentase di atas?. Bagaimana data tersebut di dapatkan, bagaimana data-data tersebut menjadi angka-angka serta gambar seperti yang di peresentasekan?. Berikut ini ada beberapa tahapan-tahapan serta proses bagaimana riset dilakukan.

  1. Persiapan

Tahapan ini sebagian besar adalah kerja-kerja di belakang meja. Pada tahapan ini setidaknya dapat di bagi menjadi 2, yakni persiapan administrative (surat izin, surat tugas dll) serta  perancangan metode dan instrument riset. Penyusunan metode sangat tergantung dari tujuan dari riset atau informasi apa yang ingin diketahui atau digali dari suatu riset. Apakah hanya ingin mengetahui gambaran sutau fenomena atau ingin menguji suatu variable tertentu.

Kerja-kerja pada tahap ini sebagian besar kerja-kerja literasi. Kita harus banyak mengumpulkan dan membaca beberapa buku yang terkait dengan subjek yang akan diteliti. Selain itu harus juga banyak mengumpulkan dan membaca penelitian-penelitian terdahulu yang terkait dengan subjek dari riset yang hendak diteliti. Selain itu, data-data sekunder yang penting juga harus dikumpulkan. Terkait survey-survey perilaku politik maupun survey-survey untuk monitoring dan evaluasi kebijakan data sekunder yang penting dikumpulkan adalah data-data demografi. Ini penting untuk kebutuhan sampling.

Setelah persoalan metode dan hal-hal konseptual lainnya terselesaikan, kemudian dilanjutkan dengan menyusun instrument survey (kuisener). Pada proses ini dilakukan bersama oleh Tim peneliti. Tak jarang dalam penyusunan instrument ini dilakukan FGD ataupun diskusi terbatas dalam penyusunannya. Bahkan untuk kepentingan tertentu harus mendatangkan pakar atau ahli tertentu untuk pendalaman suatu isu.

Setelah instrument disusun, kemudian istrumen tersebut diujikan atau biasanya disebut pre test instrument. Pada proses ini instrument diujikan langsung atau digunakan untuk mewawancarai responden. Praktik ini benar-benar dilakukan dengan responden di masyarakat. Proses pre test ini dimaksudkan untuk mengetahui alur logika instrument, apakah sudah benar atau tidak, semua informasi dari tujuan penelitian? Apakah item pertanyaan sudah lengkap? Apakah ada item pertanyaan yang sulit di pahami oleh resposnden? Pada pertanyaan mana saja akan menimbulkan penafsiran berbeda oleh responden serta berapa kira-kira durasi wawancara dengan satu respoden?. Informasi-informasi dari pre test sangat penting untuk menyusun perbaikan-perbaikan instrument sebelum digunakan di lapangan. Tak jarang suatu instrument ditambahkan berdasarkan hasil dari pre test intrumen tersebut.

 

  1. Pelatihan

Pada tahapan ini, setelah proses rekruitmen peneliti/pewawancara lapangan/enumerator (selanjutnya di singkat enum) selesai. Sebagaimana umumnya pelatihan tahapan dilangsungkan dalam ruangan yang cukup kondusif. Adapun hal yang dilatihkan adalah terutama terkait dengan teknik dan prosedur dalam menjalankan survey. Hal penting lainnya adalah sama-sama mempelajari instrument survey agar ada kesepahaman yang sama terkait isntrumen tersebut. Jangan sampai ada tafsir yang berbeda dalam memahami instrument. Tambahan lainnya biasanya terkait dengan masalah-masalah teknis, semisal jalur koordinasi, komunikasi dan lain-lain.

 

  1. Penelitian lapangan

Tahapan ini adalah tahapan inti dari proses penelitian. Baik itu penelitian dengan metode kualitatif maupun kuantitatif. Pada tahapan ini peneliti dimobilisasi ke lokasi tugas masing-masing. Pada riset-riset, umumnya dilakukan oleh satu tim untuk suatu lokasi riset,  namun biasanya untuk riset/survey-survei perilaku politik, di karenakan lokasinya luas dan berjauhan, para peneliti harus menempuh perjalanan sendiri hingga ke lokasinya masing-masing.

Perjalanan ke lokasi penelitian merupakan kenikmatan tersendiri bagi seorang peneliti. Selalu saja ada kejutan di tiap perjalanannya, maklum lokasi yang akan di datangi umumnya adalah daerah yang sama sekali belum pernah di datangi. Ada kalanya lokasi yang di tuju harus di tempuh dengan jalan kaki berkilo-kilo, ataupun harus naik perahu dan lain-lain. Perjalanan yang panjang, bahasa dan budaya yang berbeda merupakan daya pikat tersendiri dari suatu penelitian.

Seorang kawan bercerita bagaimana ia harus terombang ambing berjam-jam di lautan pulau selayar karena mesin perahunya mati. Ada juga seorang kawan harus menyewa mobil seharga motor matic bekas untuk bisa menembus daerah papua. Ada pula salah satu kawan harus menderita usus turun sepulang dari penelitian di Seko. Menginap di rumah warga di tengah perjalanan ataupun numpang bermalam di masjid adalah sebagian cerita-cerita yang menjadi oleh-oleh sepulang dari riset.

Sesampainya di lokasi, hal yang pertama dilakukan adalah berkoordinasi dengan pemerintah otoritas setempat untuk menjelaskan maksud dan tujuan kegiatan yang akan dilaksanakan. Beserta meminta bantuannya untuk menyediakan beberapa data sekunder yang dibutuhkan dalam riset.

Setelah proses kordinasi  selesai, proses kerja lapangan pun di mulai. Mulai dari sampling dan lain-lain hingga melakukan wawancara dengan responden yang terpilih. Proses wawancara tentu tidak selalu berjalan mulus, sering kali ada hambatan baik itu teknis maupun non teknis. Beberapa hambatan yang sering terjadi antara lain: responden sedang tidak di rumah (pergi kerja, atau ke kebun atau bahkan ke luar kota), tidak bersedia karena sibuk atau karena malas atau curiga/tidak percaya dengan survey, dan kendala bahasa. Respon responden pun sangat beragam dalam menerima peneliti. Ada yang begitu terbuka namun ada juga menaruh curiga bahkan terkadang ada juga menolak dan mengusir enum. Maka dari itu dibutuhkan suatu skill tertentu hingga responden (warga) merasa yakin bahwa apa yang kita lakukan ini adalah hal yag baik dan positif. Tingkat penerima ini sangatlah penting bagi suatu penelitian karena ini terkait langsung dengan kualitas  informasi/data yang dibutuhkan akan sesuai dengan tujuan riset/survei. Jika tingkat penerimaan baik maka semakin baik dan lancar informasi yang didapatkan. Namun jika sebaliknya, boleh jadi kualitas informasi/data yang didapatkan kurang baik.  Maka menjadi penting bagi enum untuk memahami konteks dan situasi budaya setempat sebagai pintu masuk yang baik untuk dekat dengan responden (warga). Bahkan tak jarang ada enum yang membangun komunikasi lebih lanjut dengan respondennya, misalnya bertemu di kota Makassar jika responden ke kota makassar akan suatu urusan.  Setelah semua proses wawancara selesai tak lupa enum harus mengecek kembali segala hal yang terkait dengan survey. Jangan sampai masih ada kebutuhan data yang belum lengkap hingga harus kembali.

 

  1. Pasca penelitian lapangan

Setelah proses penelitian lapangan selesai, perjalanan survey tentu masih tergolong panjang. Secara garis besar ada tiga tahapan, yaitu input data, olah data, dan analisis data. Proses input data dilakukan oleh satu tim tersendiri, meskipun terkadang sebagian adalah tim peneliti lapangan juga. Penginputan data dilakukan dengan menggunakan aplikasi yang sudah disiapkan, baik itu dengan aplikasi Microsoft Exel maupun aplikasi yang lebih baik seperti Epi Data atau bahkan langsung di SPSS.

Tahapan berikutnya setelah data diinput adalah pengolahan data, yang biasanya dilakukan oleh peneliti ahli statistik atau setidaknya peneliti yang cukup memahami ilmu statistik. Dengan kemajuan teknologi menbuat proses olah data ini menjadi lebih mudah, semisalnya menggunakan program SPSS. Setelah  proses pengolahan sesuai dengan tujuan penelitian, data kemudian  dianalisis oleh tim peneliti/ahli, tak jarang juga harus mengundang pakar tertentu untuk membantu analisis suatu temuan. Analisis hasil penelitian yang dilakukan oleh beberapa peneliti kemudian disinkronkan menjadi satu laporan penelitian yang utuh dan siap di presentasekan.

Pada proses ini juga, salah satu hal penting adalah melakukan diskusi kecil dengan para enum yang bertugas di lapangan untuk mendengarkan langsung hasil cerita, catatan atau observasi mereka selama di lokasi penelitian. Informasi-informasi kualitatif seperti itu sangat penting dalam analisis data.

Sebagai penutup, hasil presentase/publikasi riset yang mungkin pembaca pernah baca tidaklah tiba begitu saja akan tetapi berasal dari suatu proses panjang dan rumit hingga dapat di presentasekan ataupun di publikasikan dalam bentuk tulisan. Proses-proses tersebut dilahirkan oleh kedisiplinan, ketekunan, integritas serta kerja keras para peneliti lapangan dalam melakoni pekerjaannya. Mereka adalah  ujung tombak dari suatu riset atau survei.

 

Penulis

Irawan Amiruddin,S.IP,. M.Si & Ahmad H. Silaban, S.IP, M. SI

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *