Suara dari Langit­

Suara dari Langit­

2 Agustus 2015

 

Kekalutan hidup seperti belantara liar

Dimana nafas pun diintai serigala

Kemana harus berdiam diri, bahkan sungai mengalirkan amis darah

Racun telah bergentayangan bersama rembulan

Hanya pagi yang dapat mengobati

Maka segera datanglah wahai embun dan matahari

Kekalutan hidup yang bengis ini murnikan lagi

Basuh dan bakar dosa-dosa

Taburi sisa dupa dan doa yang gagal terpanjat

 

Meringislah demikian sendu

Akan pula digerogoti daging-dagingmu

Sesama saudara bahkan memaki dan mengkhianati

Kemana harus berpacu berlari

Dunia ibarat sarang binatang ribuan tahun lalu

Kekalutan hidup yang berdesak-desakkan dengan polusi

Hanya akan membunuh semua jiwa yang memujanya

Maka segeralah minta secahaya suci menuntun pulang

Sumbat dan pangkas dosa-dosa

Dekap habis gelap kelam yang menyerta jiwa

 

 

Cerita Belakang

8 Agustus 2015

 

Kita makan bangkai yang kita cerita belakangi pagi tadi,

Tikus enggan melahapnya

Gagak-gagak hanya mengitarinya

Kucing bahkan muntah-muntah menciumnya

Semut-semut menolak berbaris di jasadnya

Sungguh, kita akan makan bangkai yang kita cerita belakangi pagi tadi,

Serigala tertawa melihat tingkah rakus kita

Ular menggulung tubuh melingkar dan tidur

Buaya mengurung diri di sungai-sungai

Belatung bahkan meminta madu

Sungguh, kita akan makan bangkai yang kita cerita belakangi pagi tadi.

 

 

Di Perantara Nasib

10 Agustus 2015

 

Siang mukul kepala

Kepala leleh jejer keringat

Tunggu saja di jalan yang dia sering lalui,

Sama-sama makan serpih matahari itu

 

Kalau nasib dipikul di pundak

Siap-sedia kaki digopoh-gopoh

 

Kau dan dia di perantara

Ngitung langkah, debu usap tiap pulangnya

Sekali-kali singgah di mesjid,

Biar nasib tidak melulu minta dipikul di bahu yang rapuh.

 

 

Ketika Bulan Bersinar di Wajahnya

11 Agustus 2015

 

Ketika bulan bersinar di wajahnya

Bayangannya padam di tanah

Sudah ke sekian malam, sejak serigala terakhir mati dalam raungan sendiri

 

Mungkin tak pernah ia berkaca,

Pada sinar bulan.

Siapa sesungguhnya yang pandai menghisap darah.

 

Penulis

Fadly Fahry S. Wally

Mahasiswa Ilmu Politik FISIP UNHAS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *