Mengunjungi fanspage Facebook Calon Gubernur Sulawesi Selatan

 

Perkembangan Teknologi Informasi dewasa ini bukan hanya mengubah cara manusia berkomunikasi, akan tetapi juga telah mengubah cara manusia bertindak dan berperilaku. Adanya moda transportasi online dan menjamurnya situs-situs belanja online telah merubah kebiasaan orang berkendara dan berbelanja. Awalnya orang-orang menggunakan sarana-sarana yang konvensional, sekarang tinggal menggunakan aplikasi tertentu, maka semuanya dapat dilakukan dalam genggaman dengan hitungan menit pula. Sekarang  dengan kemutakhiran “Ponsel Pintar” berbasis internet, tanpa bergerak pun orang dapat menelusuri informasi se-antero dunia, memesan tiket pesawat, tiket kereta api, lihat skore sepak bola, booking hotel, cek berita selebriti, informasi judi online, hingga pesan makanan dapat dilakukan hanya dengan meng-Klik layar ponsel pintar anda. Semuanya menjadi tak berjarak, tak berbatas dan memadat. Tentu saja kemajuan ini tidak saja berbuah positif, akan tetapi juga dapat berpengaruh negatif, misalnya perilaku konsumtif (ekstase Konsumerisme) serta rentan terkena tumpahan informasi Hoaks jika tidak ada filter yang baik dari  para penggunanya.

Perubahan tersebut bukan hanya terjadi utuk hal-hal keseharian, akan tetapi juga terjadi pada hal-hal “Besar” seperti Politik dan kekuasaan. Maraknya penggunaan istilah E-Gov, E-Pajak, E-Voting, Smartcity dan-lain-lain menunjukkan bagaimana kemajuan teknologi informasi bekerja dalam ranah politik dan kekuasaan. Pada konteks lain, yakni politik electoral juga menunjukkan hal yang serupa. Jika dahulu debat, kampanye dan lain-lain hanya berlangsung di ruang-ruang nyata, semisal lapangan, ruang seminar ataupun warkop-warkop, sekarang hal-hal tersebut berlangsung di ruang maya dengan ragam isu yang kompleks. Di ruang maya ini biasanya menggunakan fasilitas sosial media sebagai Mediumnya. Pilpres 2014 dan pilkada DKI yang terakhir sebagai contoh bagaimana hiruk pikuk dan brutalnya penggunaan social media dalam konteks politik elektoral.

Mengapa Sosial media dan mengapa Facebook

Andreas Kaplan dan Michael Haenlein (Dalam Junaidi dkk, 2015) mendefinisikan media sosial sebagai “sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang membangun di atas dasar ideologi dan teknologi Web 2.0, dan yang memungkinkan penciptaan dan pertukaran user-generated content”. User-generated content adalah segala isi yang dibuat dan atau dipublikasikan oleh pengguna media siber antara lain, artikel, gambar, komentar, suara, video dan berbagai bentuk unggahan yang melekat pada media siber, seperti blog, forum, komentar pembaca atau pemirsa, dan bentuk lain. Dengan media sosial, penggunanya dapat dengan mudah berpartisipasi dan memberi kontribusi di dalam media tersebut dengan adanya keterbukaan dialog antar para pengguna. Para pengguna (user) media sosial dapat berkomunikasi, berinteraksi, saling kirim pesan, dan saling berbagi (sharing), dan membangun jaringan (networking) satu sama lainnya. Dengan fasiltas dan kemudahan tersebut membuat sosial media menjadi instrumen penting bagi masyarakat moderen dalam berkomunikasi, sosialisasi, interaksi pemikiran hingga untuk kampanye sosial maupun politik.

Pada tahun 2016, APJII (Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia) bekerja sama dengan Lembaga Pooling Indonesia mengadakan survey sepanjang tahun 2016. Menemukan bahwa sebesar 132, 7 juta penduduk Indonesia telah terhubung ke Internet dari total penduduk 256,2 juta orang. Hal tersebut naik 51,8% dibanding tahun 2014 yang hanya 88 juta pengguna internet. Di duga hal ini di sebabkan perkembangan infrastruktur dan mudahnya mendapatkan ponsel pintar. Data survey tersebut juga mengungkapkan 67,2 juta (50,7%) mengakses melalui perangkat genggam dan komputer. Ada sebanyak  63,1 juta (47,6%) yang mengakses melalui smartphone sedangkan ada sekitar 2,2 juta orang (1,7%) menggunakan Komputer untuk mengakses internet. Dari data di atas menunjukkan rata-rata pengakses internet di Indonesia menggunakan perangkat genggam[1]. Angka-angka diyakini akan naik mengingat bertambahnya penduduk, pembangunan infrastruktur TI hingga ke pelosok serta semakin banyaknya aplikasi kebutuhan sehari-hari yang berbasis online.

Laporan Tetra Pak Index tahun 2017[2] mencatat ada sekitar 132 juta pengguna internet di Indonesia, sekitar 40% diataranya  menggunakan internet untuk mengakses sosial media.  Dari laporan yang sama juga tercacat ada lebih dari 106 juta orang Indonesia yang menggunakan social media setiap bulannya, di mana sebesar 85% yang menggunakan perangkak seluler sebagai media untuk mengakses. Kedua data hasil riset di atas menunjukkan semakin massal dan massifnya pengguanaan internet dan social media. Tak pelak lagi, sulit memungkiri bagaimana pentingnya internet dan social media dalam aktifitas keseharian masyarakat modern, begitu pun dalam konteks yang lebih luas seperti politik elektoral.

Salah satu tokoh yang berhasil menggunakan social media senbagai sarana sosialisasi maupun kampanyenya dalah Barack Obama. Melalui sosial media seperti Facebook dan MySpace, ia menjelaskan program dan kebijakannya untuk menjangkau publik umum. Profil Obama di situs jejaring Facebook kontan menjadi semacam virus yang menyebar seluruh penjuru dunia dengan jumlah pengikut yang menanjak tajam. Tak dapat dipungkiri popularitas Barack Obama kala itu, tidak terlepas dari strateginya memamfaatkan social media, terutama Facebook sebagai media sosialisasi dan kampanye politiknya.

Hal-hal di atas diperkuat lagi dengan fenomena kekinian, dimana masyarakat  cenderung jengah dengan gaya berpolitik yang menggunakan cara-cara konvensional ataupun berpolitik dengan narasi besar seperti partai politik, tim sukses, pembuatan POSKO dan lain lain. Masyarakat lebih menyukai gaya berpolitik praktis (politik electoral) dengan narasi-narasi kecil dan otonom. Semisal membentuk relawan yang sesuai dengan ide/visi politiknya tanpa harus terikat dengan suatu ikatan tim/parpol ataupun suatu garis komando politik yang ketat. Masyarakat lebih cenderung ingin berpolitik dengan ide dan  metode mereka sendiri. Fenomena ini marak terjadi pada pilpres 2014 dan pilgub DKI 2017. Dimana kelompok-kelompok masyarakat (relawan) tumbuh bak cendawan dengan segala macam bentuk dan gerakan dalam mendukung kandidatnya. Menariknya, kelompok-kelompok ini bahkan tidak memiliki afiliasi ke partai politik tertentu ataupun di tim tertentu. Relawan-relawan ini benar-benar lahir otonom sesuai dengan visi dan aspirasi mereka sendiri. Mereka pun bergerak otonom baik dari segi isu maupun financial, bahkan di antara mereka rela mengumpulkan donasi untuk kebutuhan-kebutuhan aksi mereka. Satu hal yang menjadi ciri dari gaya berpolitik ini adalah relasi organisasi sangat cair dan otonom, tidak ada pembagian kerja serta struktur yang kaku dan mengikat, kelompok-kelompok relawan ini dapat membentuk dan bergerak setiap saat dan kapanpun mereka kehendaki. Bentuk organisasi yang cair dan luwes adalah cirinya, baik dalam gerakan maupun dalam  menentukan isu. Ciri khas lainnya adalah sebagian besar dari kelompok-kelompok relawan ini menggunakan social media sebagai salah satu arena dalam menyuarakan dukungan terhadap kandidat mereka.

Tak dapat di sangkal lagi, pesatnya perkembangan IT dan social media serta lahirnya fenomena “Politik Pascamoderen” seperti digambarkan di atas, merupakan fenomena yag akan kian mewarnai kancah politik electoral tanah air.

***

Facebook dan Pilgub Sulsel                                                             

Untuk konteks nasional, penggunaan media baru (Sosmed) dalam sosialisasi/kampanye politik baru mendapat perhatian besar pada Pilkada DKI 2012 dan kian massal dan semarak pada Pilpres 2014. Bagaimanakah penggunaan media baru ini untuk kampanye politik ditingkat lokal ?.

Pilgub Sulsel genderangnya kian ditabuh, setidaknya sudah ada 3 pasangan bakal kandidat kuat yang  akan bertarung di Pilgub 2018. Sebagaimana telah di singgung di awal, Pilgub Sulsel juga tak lepas dari semaraknya penggunaan social media, terutama Facebook sebagai media yang digunakan untuk sosialisasi ataupun kampanye politik dari kandidat ataupun tim sukses dan relawan[3]. Kian hari kian semarak bahkan cenderung panas, debat kusir dan saling sindir menjadi menu keseharian di media sosial. Untuk itu, maksud dari tulisan ini adalah mengamati bagaimana penggunaan Facebook oleh para calon Gubernur Sulsel, adapun akun Facebook yang akan dijadikan subyek amatan adalah fanspage dari para kandidat/tim tersebut.

Akun Facebook di Indonesia hingga 29 oktober 2017 mencapai 108.331.000 akun aktif dengan pengguna usia 17 tahun ke atas (usia wajib pilih). Pemilik akun ini tersebar diberbagai propinsi di Indonesia[4].

Gambar 1 Persebaran pengguna FB di Indonesia

Sedangkan pengguna Facebook di Sulawesi Selatan dapat diamati pada gambar di bawah ini ; ada sebanyak 3.800.000 Orang yang menggunakan Facebook yang berumur dari 17 tahun hingga 65 tahun ke atas. Ini jumlah yang besar mengingat trend an efek massif yang bisa diakibatkan oleh kecepatan dan massalnya isu yang di dorong oleh media sosial. Efek jangkauan bahkan hingga ke ruang-ruang privat dan tak mengenal waktu.

Gambar 2 Pengguna Facebook di Sulawesi Selatan

Fanspage para kandidat

Berdasarkan hasil amatan penulis dari ketiga calon Gubernur beserta Tim/relawannya, mereka memiliki beberapa akun  aktif yang digunakan sebagai media berkomunikasi, berinteraksi, saling kirim pesan, saling berbagi (sharing), dan membangun jaringan (networking).

Ichsan Yasin Limpo

Ichsan Yasin Limpo yang akrab disapa dengan IYL memiliki beberapa fanspage aktif, berdasarkan pantauan penulis, IYL memiliki Fansapge utama yang diberi nama Ichsan Yasin Limpo, dilike 41.237 pengguna facebook. Para relawannya memliki 7 fanspage aktif;

Kandidat Akun Fanspage
IYL Saya IYL

Ichsan Yasin Limpo

Punggawa Lolo IYL

Ichsan Yasin Limpo Fans

Relawan Ichsan Yasin Limpo

Kita Punggawa

Relawan Kita Punggawa.

 

Nurdin Abdullah (NA)

Fanspage utamanya diberi nama Nurdin Abdullah dengan like 158.367 pengguna facebook. Tak berbeda dengan yang lainnya NA juga memilik relawan yang aktif menggunakan fanspage sebagai media sosialisasi. Ada 9 fanspage aktif mengenai NA:

 

Kandidat Akun Fanspage
Nurdin Abdullah (NA) Sahabat Nurdin Abdullah

1 Juta Like Untuk Nurdin Abdullah

Saya Sulsel Saya Nurdin Abdullah

Temanna Nurdin Abdullah

Komunitas Online Pendukung Nurdin Abdullah

Nurdin Abdullah For Sulsel

Nurdin Abudllah Sulsesl 01

Pendukung Nurdin Abdullah

Relawan Profesi Nurdin Abdullah

 

Nurdin Halid (NH)

Aadapun fanspage Facebook Nurdin Halid memiliki 1 satu Fanspage utama yang dilike 34.181 pengguna facebook, di samping itu ada 7 fanspage aktif ;

Kandidat Akun Fanspage
Nurdin Halid (NH) H. Nurdin Halid

Nurdin Halid- Abd. Aziz Qahhar Mudzakkar

Teman Nurdin Halid

Nurdin Halid Fans

Sulsel Baru

NH-Azis Sulsel Baru

Nahkoda Sulsel Baru

 

Dari amatan penulis hingga tanggal 29 Oktober 2017 via Fanspage utama para kandidat berdasarkan jumlah like menunjukkan data sebagai berikut :

Dari data di atas menujukkan fanspage utama Nurdin Abdullah (NA) tampil teratas mengungguli fanspage utama calon kandidat lainnya dalam hal pengunjung yang me-LIKE fanspage tersebut. Memang data tersebut di atas tidak otomatis memiliki efek electoral terhadap kandidat tersebut, namun setidaknya menunjukkan fanspage tersebut memiliki daya pikat ataupun rasa ingin tahu dari pengguna Facebook untuk mengunjunginya sebagai pintu masuk untuk mengetahui lebih jauh profile, aktifitas dari kandidat tersebut. Tinggal bagaimana kandidat tersebut meresponnya, begitupun kandidat lainnya di Fanspage masing-masing.

Dari segi Postingan, berdasarkan pantauan penulis 1 bulan terakhir, sebagian besar Fanspage dari kandidat tersebut berisikan; Aktifitas/kegiatan kandidat terkait jabatan, Aktifitas dengan keluarga, berita dukungan partai politik, kegitan seminar, Kegiatan deklarasi/Temu warga, Kegiatan sosial serta postingan berita lama terkait kandidat.

Ada yang menarik berdasarkan amatan penulis. Kandidat NA cukup kuat memposting aktifitasnya selaku pejabat public, misalnya dengan memposting aktifitas memantau suatu program/proyek. Kandidat ini nampaknya menonjolkan apa yang sudah dilakukannya sebagai pejabat publik sebagai postingan. Boleh jadi kandidat ini menjual rekam jejaknya selaku pejabat publik sebagai jualan di Fanpage, Sebagai contoh di bawah ini ;

Adapun kandidat IYL cukup sering memposting aktifitasnya bersama keluarga dengan caption terkait keluarga. Kandidat ini sepertinya menonjolkan keluarga (kekeluargaan) sebagai salah kekuatannya.

Sedangkan kandidat NH cukup sering menampilkan aktifitas/kegiatan mengunjungi masyarakat dalam postingannya di Fanspage, cukup sering juga bersamaan dengan kegiatan charity (amal).  Boleh jadi kandidat ini ingin menampilkan sosok dirinya dekat dengan rakyat dan peduli dengan kegiatan-kegiatannya yang bernuansa amal, sebagai contoh sebagai berikut ;

***

Tentu saja apa yang tersaji di Fanspage masing-masing kandidat, berpulang ke public, bagaimana mengapresiasinya. Hemat penulis, terkait dengan konteks lahirnya fanspage tersebut di atas, dimana dimaksudkan sebagai media sosialisasi kandidat untuk kebutuhan Pilgub. Sebaiknya kandidat lebih mengekslplore pemanfaatan Fanspage Facebook (Sosial media) untuk bagaimana publik bisa mengetahui visi dan misi kandidat sejak dini. Kandidat-kandidat haruslah mulai “menjual” visi dan misi yang lebih programatik, detail dan terukur hingga publik dapat mengetahui dan menilai seperti apa dan bagaimana visi, misi dan program kandidat sejak awal. Sederhananya, para kandidat sudah harus menjelaskan ke publik bagaimana Sulsel ke depan akan dikelola, misalnya bagaimana program para kandidat tersebut terkait masyarakat pinggir hutan, bagaimana program kandidat terkait masyarakat maritim, bagaimana skema pembagunan antar daerah, bagaimana kebijakan menurunkan kemiskinan, bagaimana kebijakan terkait difabel, bagaimana desain pembangunan infrastruktur yang dapat mendorong pembangunan ekonomi dan lain-lain. Hal-hal tersebut maha penting mengingat yang akan dipilih ke depan bukanlah calon Bupati, ketua PSSI ataupun calon menantu. Akan tetapi hal yang maha penting dan luas dari itu semua, manyangkut nasib jutaan orang yang menaruh harapan akan lahirnya pemimpin yang benar-benar bekerja untuk rakyatnya. Bukan penipu ulung yang menjarah atas nama rakyat.

[1] Kompas.com di akses tanggal 31 Oktober 2017.

[2] https://m.detik.com/inet/ciberlife/d-3659956/132-juta-pengguna-internet-indonesia-40-penggila-medsos

[3] Hasil polling IDC pada Juni 2017 yang lalu tentang persepsi Pengguna Facebook di Sulawesi Selatan terhadap pemilihan  Gubernur Sulawesi Selatan Tahun 2018 yang melibatkan 858 responden pengguna facebook yang tersebar di Sulawesi Selatan. Hasil polling IDC menunjukkan 37,3% responden mendapatkan Informasi calon kandidat Gubernur Sulawesi selatan melalui media Sosial Facebook.

[4] Kedua data tersebut didapatkan dari data audience facebook pada tanggal 29 Oktober 2017 Pukul 21.00 Wita.

 

Penulis

Anjas Husain, S.IP

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *