Catatan Generasi Milenial (Bagian 2)

Nama saya FAJAR WIDAYATI biasa dipanggil FAJAR. Sekarang saya berumur 17 Tahun, saya lahir tepatnya Tanggal 28 Juni Tahun 2000. Saya anak pertama dari 2 bersaudara, adik saya sekarang kelas 5 di Madrasah Ibtidaiyah atau sekolah Islam setingkat SD.

Saya tinggal di Desa Sadar Kecamatan Bone Bone Kabupaten Luwu Utara Provinsi Sulawesi Selatan. Daerah yang sangat jauh dari Kota Makassar. Di desa saya mayoritas suku Jawa namun ada juga suku  lain seperti suku Bugis dan Toraja. Mayoritas warga desa beragama Islam selebihnya beragama protestan. Sejak dahulu kehidupan sosial di desa saya sangat erat, toleransi beragama sangat dijaga dengan baik. Semua warga hidup bertetangga baik satu sama lain. Jika hari raya tiba, kami pun sangat biasa untuk saling mengunjungi dan berbagi terutama berbagi makanan. Kondisi ini harus terus di jaga agar kehidupan selalu harmonis. Oh, iya, Sebagian besar warga di desa saya bekerja sebagai petani Kelapa Sawit.

Baiklah. Saya akan bercerita bagaimana saya bisa masuk di Perguruan Tinggi UNIVERSITAS HASANUDDIN. Diterima masuk Program Studi Ilmu Politik Fisip Unhas tidaklah segampang yang dibayangkan diperlukan  perjuangan dan kerja keras. Saya masuk di UNIVERSITAS HASANUDDIN ini melalui jalur yang di sebut SBMPTN[1] (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Saya memilih jurusan akuntansi sebagai pilihan pertama kerena saya sangat suka dengan pelajaran tersebut waktu di SMA, setahu saya rata-rata siswa jurusan IPS waktu di SMA memilih fakultas ekonomi sebagai pilihan utama. Oleh kerena itu saya pun memilih akuntansi menjadi pilihan pertama dengan harapan dapat menjadi seorang akuntan publik. Adapun pilihan kedua adalah jurusan Administrsai Negara UNM, jurusan ini saya pilih karena anjuran dari kakak sepupu saya yang kebetulan alumni kampus tersebut. Nah, sedangkan pilihan ketiga adalah Ilmu Politik Fisip Unhas.

Sewaktu mengikuti proses tes SBMPTN mulai dari pendaftaran hingga lulus saya lakukan sendiri. Dengan melakukan semuanya sendiri menjadi Spirit tersendiri bagi saya menaklukkan SBMPTN dan membawa kabar gembira kepada keluarga saya di kampung.

Satu bulan kemudian

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Hari itu tepatnya tanggal 16 Mei 2017 sekitar pukul 5 Sore saya pergi ke warnet terdekat bersama kakak sepupu saya. Dalam hati semuanya saya pasrahkan semua kepada Allah SWT Tuhan pencipta semesta alam. Saya masuk kedalam bilik warnet dengan hati yang berdebar-debar kian kencang. Setelah memasukan nomor peserta berikut tanggal, bulan dan tahun lahir saya, web-nya pun terbuka dan sungguh mengejutkan sekaligus menggembirakan ternyata saya LULUS. Saya pun histeris dan loncat kegirangan hingga tak sadar kalau saya sudah menjadi perhatian pengunjung warnet waktu itu. Sungguh kegembiraan yang tak terkira seolah-olah saya ingin teriakan kepada dunia bahwa saya diterima di KAMPUS MERAH !!.  Dari sekian banyak banyak orang menginginkan untuk masuk di Unhas saya salah satu yang berhasil lulus, tentunya saya bangga karena bisa menyingkirkan ratusan orang bahkan ribuan orang.

Dengan kecepatan di atas normal saya melaju menuju rumah dengan penuh senyuman seperti orang sedang jatuh cinta. Sesampainya di rumah saya langsung menuju dapur. Ibu saya yang mengetahui saya sepulang melihat hasil pengumuman langsung menghampiri saya dengan wajah penasaran, maklum saya mengerjainya dengan memasang wajah sedih. Ketika kian mendekat ke saya, saya pun langsung memeluknya.

“ Saya lulus, Bu !”

Dengan air mata yang tidak bisa saya tahan lagi ibu pun memeluk saya dengan erat.

“Alhamdulillah, Nak !

Ayah saya juga memeluk saya sambil berucap.

Jangan sombong yah nak, jangan jadikan keberhasilan sebagai awal dari kesombonganmu”

Tanpa bisa berkata apa lagi saya hanya mengangguk dan menatapnya dengan penuh rasa cinta. Begitulah kegembiraan dan keharuan hari itu yang tidak mungkin saya lupa seumur hidup.

Setelah pengumuman kelulusan beberapa waktu kemudian saya pun melakukan  registrasi, yaitu registrasi UKT (Uang Kuliah Tunggal) tepatnya tanggal 17 Juli 2017. Sebenarnya saya mengajukan untuk UKT kelompok 1 (Rp. 500 ribu) namun ditolak dan dimasukkan di kelompok 2 dengan jumlah UKT Rp.600.000. Biaya yang sebenarnya tidak terlalu ringan untuk penghasilan orang tua saya yang seorang petani kelapa sawit dengan penghasilan perbulannya hanya berkisar Rp.1.000.000 saja.

Berangkat ke Makassar

Jarak tempuh dari Desa saya ke Kota Makassar kurang lebih  sekitar 12 jam via BIS dengan biaya Rp. 160.000/orang. Saya berangkat seorang diri untuk menyelesaikan segala urusan yang harus diselesaikan. Sepanjang jalan banyak hal berkecamuk dalam fikiran saya ; nanti di sana bagaimana ? apa yang di lakukan terlebih dulu ? dan lain-lain. Tapi tidak ada cara lain selain menjalaninya.

Selama di Makassar saya tinggal bersama kakak sepupu yang juga kuliah di UNHAS Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Di sini saya selama 3 bulan untuk menyelesaikan registrasi yang dibutuhkan saat masuk di UNHAS. Oh, iya sebelumnya sewaktu mengikuti test SBMPTN saya tinggal bersama kakak sepupu yang juga sedang menjalani Program S2 di UNM. Dialah yang banyak membantu saya selama proses Test SBMPTN.

Singkat cerita semua tahapan saya lalui mulai dari Verifikasi UKT, verivikasi akademik dan kesehatan. Semua saya lewati dengan baik. Hal yang berkesan bagi saya, saya melakukannya tanpa dampingan orang tua atau keluarga. Ada kebanggan tersendiri ketika mampu melewati semuanya.

Masa penyambutan mahasiswa baru

Hari yang dinanti pun tiba yakni P2KBN MABA. Seluruh mahasiswa baru yang totalnya sebanyak 5.371 orang dikumpulkan dalam satu gedung yang disebut BARUGA Andi Pangeran Petarani, gedung yang sangat besar dan luas. Kegiatan inipun di sambut antusias oleh Maba tak terkecuali saya. Dari proses inipun saya jadi mengetahui tentang unhas dan juga FISIP. Saya pun mengetahui bahwa banyak Jurusan/prodi di lingkungan FISIP dan Ilmu politik salah satu di antaranya.

Setelah saya mengikuti semua kegiatan P2KBN sampai Hingga P2KBN Prodi. Di sini baru saya sedikit mengerti akan jurusan yang saya pilih. Pada acara di prodi ketika menghadirkan beberapa alumni dengan beragam profesi, fikiran saya juga kian terbuka bahwa pilihan jurusan tidak selalu akan  menentukan apa pekerjaan,  dimana dan sebagai apa kita ke depan. Akan tetapi yang paling menentukan adalah niat dan upaya kerja keras kita nantinya. Dengan masuk di Prodi ILMU POLITIK saya merasa sudah menjadi bekal utuk manunjang masa depan, karena dalam ilmu ini diajarkan bagaimana mengeluarkan pendapat, berargumen beserta memberi solusi layaknya seorang pemimpin.

Di bidang keilmuan cakrawala berfikir saya mulai terbuka bahwa politik itu tidak seperti dipahami orang banyak sebagai taktik yang penuh kelicikan akan tetapi ilmu yang mempelajari bagaimana membangun masyarakat yang beradab berdasarkan hak-hak mereka. Ilmu politik mengajari kita bagaimana menjadi pemimpin yang baik dan bertanggung jawab. Tentang kepemimpinan, mendengarnya itu saya langsung teringat idola saya yang sekaligus Bupati saya Hj. Putri Indah Indriani. Salah satu tokoh perempuan yang menjadi inspirasi saya. Rasanya tidak salah jika ke depan saya mengikuti jejak beliau. Hehe. Siapa tahu saya bisa melangkah lebih jauh lagi menjadi Alumni pertama Fisip Unhas yang menjadi Presiden RI. Rasanya ini mimpi yang istimewa yang harus diwujudkan dengan kerja keras dan doa.

Sebagai penutup, saya berpesan kepada teman-teman Se-Fisip bahwa percayalah talenta saja tidak cukup tapi harus didukung kerja keras dan doa.  Doa dan kerja keras adalah penentu dalam mengembangkan diri akan seperti apa kita ke depan. Salam Biru Kuning ! Salam Red Jacket !! Bersama, Bersatu, Berjaya !!!.

***

Kita semua mengetahui bahwa nasib negara bangsa ini tergantung pada generasi muda, dan kualitas generasi mudanya tercermin dari bagaimana kualitas (Sistem) pendidikannya.

Cerita di atas boleh jadi mewakili banyak anak muda di tanah air yang bercerita tentang perjuangan dan pengharapan. Harapan besar akan menimba ilmu dalam kawah pengetahuan yang bernama Universitas. Harapan yang di tambatkan  guna menerangkan karir dan masa depan mereka. Tentu ini pengharapan yang sah dan tidak salah.

Pertanyaan kemudian bagaimanakah Sistem pendidikan (Perguruan Tinggi) “menunaikan” harapan tersebut ?. Bisakah perguruan tinggi (baca; sistem pendidikan) menjadi tempat bagi siapa saja untuk menempa mimpi dan harapannya tak peduli ia anak seorang kuli bangunan sekalipun ?. Mampukah perguruan tinggi menjadi ruang dialektis yang setara dan melahirkan artikulasi pengetahuan, gagasan, serta ide-ide yang berguna bagi kehidupan dan kemanusiaan. Atau jangan-jangan perguruan tinggi hanya memupuk kesadaran palsu melahirkan generasi kacamata kuda yang abai akan realitas sosial ? atau jangan-jangan perguruan tinggi hanyalah penjaja mimpi yang memperdagangkan sertifikat formal demi akumulasi modal ?.

Satu hal yang pasti, kecermelangan ide/gagasan dari generasi terdidik hanya dapat lahir dari perguruan tinggi yang segala sumberdayanya di curahkan untuk hal-hal substansial guna kebutuhan pendidikan bukan perguruan tinggi yang lebih mengutamakan hal-hal yang artifisial seperti mempersolek halaman dan teras depan lalu abai untuk kebutuhan-kebutuhan substansial pendidikan.

Oh, iya ..ada yang tahu berapa koleksi buku terbaru perpustakaan di Kampus Merah sekarang ?! Ada yang tahu ?.

Sekian. Wassalam.

(Tim Redaksi)

 

Terima kasih kepada adinda Fajar Widayati atas sumbangan tulisannya.

[1] Ada 6 jenis program pendaftaran perguruan tinggi ; 1) SNMPTN adalah kepanjangan dari Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri; 2) PMDK-PN (Penelusuran Minat dan Kemampuan Politeknik Negeri; 3) SBMPTN adalah kepanjangan dari Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri; 4) Ujian Masuk Perguruan Tinggi Kedinasan; 5) UMPN (Ujian Masuk Politeknik Negeri); 6) Mandiri PTN/PTS adalah jalur penerimaan mahasiswa baru yang diselenggarakan secara khusus oleh panitia dari Perguruan Tinggi Penyelenggara baik itu Perguruan Tinggi Negeri (PTN) atau Perguruan Tinggi Swasta (PTS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *