Catatan Generasi Milenial

Sebagian besar dari kita kemungkinan pernah merasakan haru biru pasca kelulusan di perguruan tinggi ataupun kelulusan-kelulusan lain dari proses hidup. Banyak cara mengekspresikan kelulusan tersebut, mulai dari bersuka ria sepanjang malam, menelpon pacar, niat berpuasa, buat acara syukuran hingga melakukan ritual tertentu.

Tak dapat dipungkiri, melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi dengan segala motivasi, prosedur dan proses yang menyertainya, sudah menjadi semacam stage along life cycle[1] bagi masyarakat. Selepas pendidikan menengah hiruk pikuk terkait pilihan pendidikan mulai menyeruak, apakah melanjutkan sekolah ke universitas, sekolah profesi atau mungkin langsung mencari kerja. Tentu saja pilihan-pilihan tersebut menggandung konsekwensi yang berbeda dan sangat menentukan akan arah kehidupan ke depannya. Menjadi wajar jika bagi banyak orang fase ini menjadi fase krusial dan keramat dalam menentukan pilihan-pilihan hidup. Tak jarang dalam menentukan pilihan-pilihan tersebut segenap keluarga dan kerabat ikut andil dalam menentukannya. Biasanya pilihan melanjutkan pendidikan merupakan pilihan yang di anggap “paling efektif”, boleh jadi hal ini karena pendidikan masih dilihat sebagai medium yang dapat membuka penawaran-penawaran  peluang yang cukup banyak dan beragam untuk mendapatkan pekerjaan atau profesi yang diinginkan. Belum lagi orang berpendidikan biasanya menempati posisi derajat sosial yang lebih baik dibandingkan yang tidak. Pemikiran-pemikiran seperti itu cukup mudah kita jumpai dalam masyarakat.

Sebagai gambaran akan animo masyarakat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, dapat dilihat dari jumlah peserta Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2017 yang meningkat sekitar 10 persen dibandingkan tahun 2016. Data tersebut di rinci sebagai berikut[2] :

STATUS PENDAFTAR 2014 2015 2016 2017
Pendaftar 664.509 764.185 721.326 797.023
Reguler / Non Bidikmisi 583.590 763.499 596.928 639.049
Bidikmisi 80.919 90.686 124.398 157.974
Daya Tampung 91.294

64 PTN

115.788

74 PTN

126.804

78 PTN

128.085 (awal)

85 PTN

 

Rincian Pendaftar SBMPTN 2017 berdasar Kelompok Pilihan :

Kelompok Saintek Soshum Campuran Jumlah
Reguler / Non Bidikmisi 256.452 260.780 121.817 639.049
Bidikmisi 55.126 66.897 35.951 157.974
Total 797.023

Rincian Pendaftar SBMPTN 2017 berdasar Kelompok Ujian PBT dan CBT :

Kelompok Saintek Soshum Campuran Jumlah
PBT 303.667 318.824 153.672 776.163
CBT 7.913 8.855 4.092 20.860
Total 797.023

 

Data di atas menunjukkan juga bahwa melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi menjadi pilihan dominan masyarakat sebagai salah satu stage along life cycle dengan segenap harapan dan konsekwensinya.

Pada konteks lain, tingginya animo serta ketatnya persaingan masuk perguruan tingi, tak berlebihan juga jika sekiranya ada perasaan yang membumbung tinggi jika seseorang dapat melalui ujian masuk ke perguruan Tinggi dengan kelulusan. Ada eforia yang patut di syukuri. Walaupun kadang eforia tersebut harus tertahan mengingat ada “prosesi kebudayaan” yang bernama Ospek yang harus dilalui. Ospek menjadi momok bagi siapapun yang akan menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Belum lagi, bagi mahasiswa yang berasal dari luar daerah tentunya membutuhkan beberapa penyesuaian dengan tempat baru yang akan di laluinya. Tak jarang kita mendengar beberapa orang harus melakukan “ritual” tertentu sebagai “bekal” sebelum berangkat ke daerah lokasi Kampus ia akan kuliah.

 

Lalu bagaimanakah generasi kekinian mengekspesikan segala “ proses kebudayaan” di atas ? . Berikut ada dua[3] cerita dari generasi kekinian ;

***

“Pertama yang saya rasakan adalah adalah rasa takut. Takut dengan dunia baru yang saya akan saya lalui nanti. Rasa takut itu mulai dari takut terhadap kakak senior, takut saja nanti akan di apa-apain. Belum lagi rasa takut terhadap  dosen, bagaimana menghadapi mereka nantinya. Hal lain yang membuat saya takut kalau nantinya saya tidak mendapatkan teman dan kurang bergaul karena saya orangnya pendiam seperti tumbuhan putri malu, disentuh baru bereaksi seperti halnya saya kalau tidak ada yang ajak bicara saya akan terus diam dan tidak bereaksi.

Namun setelah saya menjalani semuanya, rasanya tidak ada sedikitpun rasa takut yang muncul dalam diri saya sendiri. Apa yang ada dalam benak saya sebelumnya gugur satu persatu. Kakak seniornya yang anggapan awal saya galak ternyata sangat baik dan bersahabat, begitupun dengan dosen-dosennya. Yang tak kalah menggembirakan juga, saya sudah mendapatkan teman baru walaupun belum terlalu saling kenal dan masih sangat canggung antara satu sama lain. Ibarat pepatah tak kenal maka tak sayang, dengan berlalunya waktu suatu saat kami akan saling mengenal dengan baik. Sebenarnya bagi saya silaturahmi adalah nomor satu, kalau tidak ada silaturahmi antara manusia patut dipertanyakan kemanusiaannya. Namun terkadang saya canggung dan pemalu dengan suasana atau dunia baru yang kadang membuat saya urung berinteraksi dengan orang lain. Akan tetapi setelah proses kegiatan di kampus saya berkomitmen untuk merubah itu semua, akan lebih banyak bergaul dan silaturahmi.

P2KBN-MABA

Pada proses P2KBN-MABA, yang paling saya suka adalah saat pada kegiatan di tingkat prodi.  Terutama kegiatan yang menghadirkan tokoh-tokoh senior dengan beragam profesi dan pekerjaan. Kehadiran dan cerita pengalaman mereka menginspirasi saya dan kawan-kawan bahwa  walaupun semuanya lulusan ilmu politik akan tetapi pekerjaan dan profesi mereka sangat beragam, jadi belum tentu lulusan politik maka profesi dan pekerjaannya nanti  akan mengarah pada hal yang berbau politik. Senior-senior yang hadir menunjukkan hal tersebut, ada yang bekerja Militer, Fotografer, wartawan, Peneliti, PNS, pegawai Bank, aktifis LSM hingga pedagang ikan.

Saat mereka bercerita tentang pengalaman baik sejak kuliah hingga membangun karir semuanya berbeda satu sama lain bahkan ada yang sangat bertolak belakang. Ada yang dulunya preman tapi sekarang jadi ustadz, ada juga yang dulu anti pemerintah tapi sekarang PNS dan lain-lain. Jadi saya kadang bingung bagaimana kampus itu sebenarnya.  Akan tetapi yang saya lihat walaupun proses dan arah jalan hidup mereka berbeda-beda, tapi satu hal yang membuat mereka sama adalah semuanya sukses dengan jalan apa yang mereka pilih.

Hikmah penting yang saya bisa petik dari cerita dan pengalaman senior-senior di atas adalah jadilah diri sendiri walaupun kau memilih jalan yang berbeda. Jalan menjadi sukses itu banyak cara namun yang terpenting kita memberikan yang terbaik terhadap apa yang kita tuju.  Dan semuanya di awali dari langkah-langkah kecil, seperti usaha untuk bangun pagi dan kita berhasil itu juga termasuk kesuksesan. Maka jadilah diri sendiri dan tetap teguh dengan pilihan jangan takut dianggap aneh karena melakukan hal yang berbeda dengan yang lain yang penting tetap berusaha. Yakinlah ALLAH akan membukakan jalan bagi orang yang berusaha.

***

Pilihan tanpa dukungan keluarga

Sebenarnya saya memilih ilmu politik tidak ada keluarga yang mendukung terutama orang tua.

” loko mantaji aga ?mega pa dui pa’na lopa isogok maneng ku loki mantaji caleg yarega pejabat ” *

Begitulah kata orang tua saya waktu itu. Akan tetapi setelah mengikuti proses P2KBN-MABA dengan dihadirkannya senior-senior dengan segala cerita pengalaman mereka, menginspirasi saya untuk menunjukkan kesemua orang, terkhusus untuk orang tua saya, bahwa yang mereka pikirkan belum tentu benar karena saya yakin inilah jalan terbaik  yang saya pilih untuk menempuh kesuksesan. Bravo !!”

* Mau jadi apa ? !. Harus banyak uang karena mau pi di sogok kalau mau ki jadi caleg ataupun pejabat.

Terima kasih kepada adinda Andi Irfani Kartika atas sumbangan tulisannya (Redaktur)

 

Penulis

Andi Irfani Kartika

Mahasiswa Ilmu Politik FISIP UNHAS Angkatan 2017

[1]  Konsep dalam Antropologi yang melihat kehidupan itu tingkat demi tingkat akan dilalui dan dialami seseorang di sepanjang masa hidupnya. Setiap individu dianggap bersangkutan dalam kondisi dan lingkungan tertentu pada tiap tingkatan hidup. Oleh karena itu setiap peralihan dari satu tingkat ke tingkat lainnya dapat dikatakan sebagai peralihan dari satu lingkungan sosial ke lingkungan sosial yang lain.

[2] Sumber: Panitia Pusat SNMPTN-SBMPTN 2017

[3] Bagian kedua akan dimuat minggu depan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *