Menyikapi Munculnya Now Generation

Salah satu topik yang menarik perhatian kekinian adalah kemunculan Generasi Sekarang (Now Generation). Now Generation adalah generasi muda (remaja) yang bukan saja akrab dengan teknologi informasi dan selalu berselancar di dunia maya, tetapi mereka juga menyuarakan segala sesuatu harus ‘sekarang’: “I want it, I want it now”. Lebih dari sekedar generasi modern yang banyak dikaitkan dengan citra digital.

                Data terbaru dari E-Marketer tentang penggunaan smartphone di seluruh dunia mengabarkan bahwa pengguna smartphone Indonesia pada tahun 2016 telah mencapai 69,4 juta pengguna aktif, pada tahun 2017 ini diprediksi menjadi 86,6 juta, dan pada 2018 nanti di prediksi menjadi 103 juta. Pada tahun 2018 di prediksi Indonesia akan menduduki peringkat keempat dari penggunaan smartphone terbanyak di seluruh dunia setelah China, India, dan Amerika. Dari data E-Marketer tersebut, diperkirakan dari jumlah pengguna tersebut saat ini, sekitar 74 persen remaja yang menggunakan komunikasi mobile. Sebagaimana diketahui kelebihan dari Smartphone adalah adanya fitur internet hingga akses internet menjadi cepat tidak ada lagi jarak dan waktu. Semuanya dapat dilakukan dalam genggaman. Apapun yang ingin diketahui, dibelanja, saat itu pula  bisa dilakukan dengan berselancar di dunia maya yang tanpa batas. Mesin pencari akan menyisir apa saja sesuai dengan informasi apa yang hendak dicari.

Remaja sebagai bagian dari “sub-sosial” masyarakat, merupakan salah satu pihak yang paling “terpapar” dengan penggunaan teknologi di atas. Saat ini boleh dikata nyaris semua remaja banyak menghabiskan waktunya dengan nge-fb, nge-twit, bahkan ngepet (eh’ ngepath maksudnya), maupun memplototi berjam-jam gadgetnya hanya untuk melihat gambar ataupun foto-foto di instagram. Menelusuri dunia maya adalah aktivitas keseharian yang paling mendominasi mereka, menggantikan aktivitas bermain dengan teman sebaya, olah raga, membaca dan bahkan aktivitas belajar. Boleh jadi hal ini sudah menjadi gaya hidup (life style) remaja kekinian.

Apa yang tersaji dalam social media tentu saja tidak semuanya berisikan hal-hal positif, akan tetapi sangat banyak pula hal-hal yang negative, yang berpotensi membawa pengaruh buruk bagi perkembangan remaja. Derasnya informasi/berita Hoax ataupun konten kekerasan dan pornografi merupakan sederet hal-hal negatif yang dapat menjadi pemicu pembelajaran buruk bagi prilaku remaja. Sudah lazim terjadi remaja kekinian hanya betah belajar atau membaca buku dalam satu-dua jam saja, namun  ketika berhadapan dengan gadgetnya, itu dapat berlangsung hingga lupa waktu. Tidak sedikit remaja yang kecanduan mengakses situs porno tanpa ada kontrol dari siapapun. Tak jarang juga kita mendengar  remaja yang benar-benar tenggelam dalam “realitas” dunia maya hingga menjadi remaja yang soliter dan menutup diri dengan realitas sesungguhnya. Hal-hal tersebut di atas tentu saja berdampak pada perkembangan psikis dan prilaku remaja tersebut. Dampak yang paling jelas adalah membuat remaja kian konsumtif karena harus mengeluarkan biaya untuk dapat mengakses internet. Pada situasi tertentu konsumsi kuota internet bahkan menggeser beberapa kebutuhan bagi anak remaja, semisal membeli buku pelajaran ataupun kebutuhan sekolah (kuliah) lainnya.

Lalu bagaimanakah seharusnya kita menyikapi hal-hal tersebut?. Sebagai bagian dari konsekwensi perkembagan zaman, kemajuan teknologi IT dan kemudahan berselancar di dunia maya merupakan hal yang tak terhindari. Untuk konteks remaja, kenikmatan dan kemudahan ini menjadi daya tarik sendiri, ditengah kondisi kegiatan belajar yang acapkali terlalu membebani dan menjemukan bagi usia remaja, belum lagi serbuan industri gaya hidup yang terus-terus menjejali keseharian dengan segala komodifikasinya hingga serasa tak ada pilihan selain mengamininya. Dalam kondisi demikian, tidaklah mudah “melawan” dampak perkembangan tersebut dengan mengandalkan pendekatan yang sifatnya regulatif-punitif, seperti razia-razia, fatwa haram dan lain-lain bagi pengguna sosmed dan situs jejaring lainnya. Diperlukan pendekatan yang lebih humanis untuk dapat situasi dan kondisi remaja dan dunia mereka.

Maka dari itu, sebagai upaya menghadapi kegandrungan now generation ini bisa dilakukan dengan berupaya menyelami dunia sosial-psikologis remaja itu sendiri, berempati pada apa yang mereka butuhkan dan dunia remaja keseluruhan. Mereka harus di lihat sebagai subyek yang hidup yang memiliki kebutuhan, harapan serta cita-cita dengan mendekatinya dengan cara-cara yang humanis bukan dengan larangan atau fatwa halal haram yang justru dapat memenjarakan mereka dalam ruang konservatisme.

Perkembangan teknologi dan tumpah ruahnya informasi nyaris tak terelakkan, kita hanya dapat meminimalisirnya agar tak terbawa arus dan tenggelam dalam gelombang informasi, begitupun dengan industri gaya hidup yang kian deras menyerbu hingga ke ruang-ruang yang paling privat sekalipun.  Untuk itu tidak ada cara lain untuk “membendung” atau menyisir itu semua dengan bekal pengetahuan yang baik, membangun tradisi kritis, tradisi membaca yang harus dimulai dari sejak dini. Remaja sejak awal haruslah dibiasakan terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang sifatnya humaniora, kegiatan-kegiatan yang mengasah nalar, serta afektif mereka dengan pengalaman-pengalaman sosial keseharian. Dengan demikian akan memperkaya preferensi mereka akan kehidupan, nilai moral, pengetahuan, serta praktik hidup bersama hingga dapat membedakan mana hal-hal yang subtantif dan mana yang tidak. Dengan bekal tersebut remaja dapat membaca dan memilah mana hal yang positif bagi dirinya serta mana yang tidak. Dengan kondisi ini akan lahir pribadi remaja yang mandiri dan otonom.

Oleh : Fauziah Ramlan

(Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Unhas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *