Menyoal Broster Pak Wali…

Cukup lama saya tidak mengikuti perkembangan politik local. Bukan karena isu politik local tidak menarik akan tetapi rasanya isunya kian monoton dan cenderung membuat mual. Isunya terlalu dominan dikuasai oleh isu-isu elit(is) ketimbang isu-isu publik yang membasis dalam keseharian. Isu yang beredar dan mengepul di ruang-ruang publik lebih banyak membahas siapa calon dan akan berpasangan dengan siapa, sangat sedikit membicarakan apa dan bagaimana nasib warga kota dalam landscape politik local atau bagaimana mendesain ruas kepentingan warga kota dan  kekuasaan agar kian merapat dan presisif hingga artikulasi kepentingan warga mengalir dengan baik.

Hingga beberapa hari kemarin sepulang beraktifitas. Saya menemukan di atas meja sesuatu yang bentuknya mirip tabloid[1]. Setelah saya amati “tabloid” tersebut hampir semuanya berisikan Foto-Foto pejabat local (Walikota Makassar) beraktifitas, baik sendiri maupun dengan beberapa pihak. Kesemua foto diimbuhi dengan diskripsi tentang foto tersebut beserta aktifitasnya. Ada juga   infografik, Informasi program dan lain-lain. “Tabloid” tersebut ternyata di sebut Broster singkatan dari Brosur berbentuk poster. Istilah yang tergolong baru saya dengar. Mungkin ini hasil perkawinan silang antara Brosur dan Poster maka lahirlah Broster. Mungkin.

Baiklah. Broster ini berjumlah 48 Halaman timbal balik berwarna penuh. Broster ini jika di lihat dari kontennya sekilas sangat mirip dengan brosur-brosur yang biasanya beredar saat musim pilkada, kesemua isinya tentang cerita sukses suatu program atau kebijakan. Oh iya, ada yang tahu berapa harga cetak 48 halaman full colour ?

Singkat cerita setelah saya amati dengan seksama dalam tempo yang tidak singkat. Saya merasa ada beberapa hal yang mengganjal dari Broster tersebut dan membutuhkan penjelasan lebih terkait isi atau informasi yang disajikan. Sebagai warga boleh dong menuntut kejelasan, eh.. penjelasan dari apa tindak tanduk para pemangku kekuasaan atau setidaknya boleh dong mempertanyakan hal-hal yang saya anggap ganjal dari isi Broster tersebut. Yang soal kemudian kepada siapa hal-hal yang mengganjal tersebut ditanyakan dan mendapatkan jawabannya. Hingga akhirnya saya sampai pada kesimpulan, tidak ada cara lain selain menyampaikannya dengan merangkum hal-hal yang mengganjal tersebut dalam bentuk catatan-catatan.

Setelah Broster saya bolak balik lembar demi lembar. Setidaknya ada 19 hal yang mengganjal yang saya buatkan catatan yang tidak rapi, Jika nanti justru menambah kebingungan silahkan di tanggung sendiri.

Mari memulainya dari halaman 1…

Halaman pertama di buka dengan pernyataan yang menarik :

“Hari ini juga adalah bagian dari masa lalu terima kasih kepada jasa para pendahulu”

Rasanya ini sebuah pengakuan yang baik bahwa kerja-kerja hari ini juga adalah bagian dari kerja-kerja terdahulu.  Pada halaman 1 ini juga saya mengetahui Broster ini di keluarkan saat usia Pemerintahan DIA berumur 2 Tahun 7 bulan. Berarti Broster ini sudah cukup lama ada tapi kenapa baru sekarang dimunculkan atau mungkin saya saja yang baru menemukan Broster tersebut setelah tergeletak selama 2 tahun di atas meja ?.  Jangan-jangan seperti itu .

Informasi dari seorang kawan yang sempat saya konfirmasi terkait hal ini. Di rumahnya juga banyak Broster serupa yang dibagikan oleh orang kelurahan kepada orang tuanya yang kebetulan ketua RW. Broster tersebut katanya akan dibagikan ke warga. Selain itu ada juga seorang kawan yang menemukan sebaran Broster ini pada sebuah Masjid saat ia shalat Jum’at. Aneh juga produk lama tapi baru massif di waktu yang setahun lagi jelang Pilkada. Tidak bermaksud su’udzon ya ! tapi ya aneh saja.

Bergeser ke Halaman 2…

Halaman ini berisi foto yang cukup besar prosesi pelantikan pasangan DIA. Selain itu ada narasi 8 paragraf yang menjelaskan apa itu Boster dan lain-lain. Paragraf 4 menjelaskan Broster yang dimaksudkan untuk ”(Kami[2]) menyampaikan berita yang di sajikan dengan jujur dan apa adanya…dst.. secara transparan dan terbuka”. Yang menarik paragraf terakhir berbunyi “Supaya rakyat semakin tahu kerja DIA dengan data dan fakta yang jelas dan nyata bukan hoax dan bukan pula propaganda”. Paragraph akhir ini membuat saya semakin penasaran data dan fakta seperti apa yang di tampilkan.

Baiklah, mari lanjut halaman berikutnya (Halaman 3, 4, 5 berisi daftar isi, visi misi dan program waktu kampanye Pilwali serta klaim telah terjadi perubahan besar dengan Foto Walikota berukuran besar).

Halaman 6 … 

Pada halaman ini di sajikan dua gambar, satu gambar infografik pertumbuhan ekonomi sedangkan gambar kedua berupa Bart Chart hasil survey yang di klaim sebagai Indeks Kebahagian Masyarakat. Nampaknya Bart Chart tersebut bersumber dari hasil survey CRC salah satu lembaga riset local yang ternama. Gambar pertama saya tidak punya kapasitas memadai mengomentarinya terlebih setelah membaca komentar penutupnya.

“performa ekonomi kota Makassar seperti ini (Pertumbuhan 7,83% inflasi 3,16%) adalah kondisi ekonomi terbaik Indonesia bahkan di tingkat dunia” .

Ini berarti mengalahkan kota New York, Tokyo, Sidney, Seol, Hamburg, Oslo dan lain-lain. Saya tidak tahu apa kota-kota dunia tersebut masih membutuhkan pertumbuhan ekonomi ataukah tidak namun  yang pasti  kota-kota tersebut dikalahkan oleh Kota Makassar. Luar biasa, bukan ?.

Pada gambar kedua merujuk dari sumbernya berdasarkan hasil survey  akan tetapi tidak dicantumkan kapan survey tersebut dilaksanakan. Informasi waktu pelaksanaan survey tentunya penting mengingat hasil survey sangat terikat pada waktu. Data dari bart Chart tersebut dibahasakan sebagai Indeks kebahagiaan Masyarakat Kota Makassar.

…“Tingkat kebahagiaan masyarakat adalah ukuran puncak dari semua hasil pembangunan yang langsung dirasakan masyarakat. Secara nasional ukuran rata-rata Index Kebahagiaan Masyarakat berkisar 69% sedangkan jika di perbandingkan dengan kota-kota metropolitan lainnya di Indonesia berkisar 70% dan kota Makassar mencapai Index Kebahagiaan Masyarakat sebesar 75.21% yang merupakan Index kebahagiaan tertinggi di Indonesia. IKM ini di hasilkan dari 10 indikator yang terlihat pada table tersebut di atas dan IKM ini menjadi standar ukuran global terhadap keberhasilan pembangunan kota dan keberhasilan sebuah kepemimpinan”…

Ada beberapa hal menarik dari tampilan data beserta uraiannya, terutama klaim  Makassar sebagai Kota dengan indeks Kebahagiaan tertinggi di Indonesia. Tentu saja ini membuat penasaran mengingat kota ini adalah kota pusat aktifitas keseharian yang segala denyutnya kita dapat rasakan bersama. Temuan survey di atas mengemukakan pertanyaan besar : Benarkah demikian ?. Tentu saja saya tidak akan menggugat metode(logi) serta hasil dari survey tersebut akan tetapi lebih mempertanyakan “penggunaan” data dan klaim dari data tersebut.

Berdasarkan pemaparan data di dalam Broster saya pun mencari beberapa refensi pembanding untuk untuk menelaah metode serta pelaksanaan riset Indeks Kebahagiaan Masyarakat. Terkait dengan itu saya menemukan beberapa referensi yang bersumber dari BPS[3] sebagai lembaga pemerintah yang rutin melakukan Survei Pengukuran Tingkat Kebahagiaan (SPTK) yang menjadi dasar bagi pengukuran Indeks Kebahagiaan Masyarakat. Dari situs BPS tersebut saya mendapatkan beberapa referensi terkait metode dan pelaksanaan SPTK yang saya rangkum sebagai berikut :

 

SPKT 2014[4] SPKT 2017[5]
Sampel Responden SPTK 2014 adalah kepala rumah tangga atau pasangan kepala rumah tangga dengan jumlah sampel sebesar 70.631 rumah tangga yang tersebar di seluruh propinsi. Menurut wilayah, komposisi reseponden di perkotaan lebih besar di banding pedesaan, masing-masing 57,84 dan 42,16%. Setiap rumah tangga sampel, dipilih kepala rumah tangga atau pasangan kepala rumah tangga (istri/suami) sebagai responden, untuk mewakili rumah tangga tersebut.

 

“Indeks Kebahagiaan Indonesia tahun 2017 diukur berdasarkan data hasil Survei Pengukuran Tingkat Kebahagiaan (SPTK) 2017 yang dilaksanakan secara serentak di 487 kabupaten/kota terpilih sebagai lokasi sampel, yang tersebar di 34 provinsi di seluruh Indonesia, dengan sampel sekitar 72.317 rumah tangga (estimasi level nasional dan provinsi). Setiap rumah tangga sampel, dipilih kepala rumah tangga atau pasangan kepala rumah tangga (istri/suami) sebagai responden, untuk mewakili rumah tangga tersebut.
Indikator SPTK 2014 dilaksanakan untuk menghasilkan indikator kebahagiaan penduduk Indonesia dengan pendekatan kepuasan hidup. Indeks kebahagiaan merupakan indeks komposit yang disusun oleh tingkat kepuasan terhadap 10 aspek kehidupan yang esensial. Kesepuluh aspek kehidupan tersebut secara substansi dan bersama-sama merefleksikan tingkat kebahagiaan meliputi kepuasan terhadap: 1) kesehatan, 2) pendidikan, 3) pekerjaan, 4) pendapatan rumah tangga, 5) keharmonisan keluarga, 6) ketersediaan waktu luang, 7) hubungan sosial, 8) kondisi rumah dan aset, 9) keadaan lingkungan, dan 10) kondisi keamanan. Indeks Kebahagiaan tahun 2017 selain Dimensi Kepuasan Hidup ditambahkan juga Dimensi Perasaan (Affect) dan Dimensi Makna Hidup (Eudaimonia). Pada Dimensi Kepuasan Hidup terbagi menjadi 2 (dua) subdimensi, yaitu Subdimensi Kepuasan Hidup Personal dan Subdimensi Kepuasan Hidup Sosial. Subdimensi Kepuasan Hidup Personal diukur menggunakan 5 (lima) indikator: Pendidikan dan Keterampilan, Pekerjaan/Usaha/Kegiatan Utama, Pendapatan Rumah Tangga, Kesehatan, serta Rumah dan Fasilitas Rumah. Sementara Subdimensi Kepuasan Hidup Sosial diukur dari 5 (lima) indikator: Keharmonisan Keluarga, Ketersediaan Waktu Luang, Hubungan Sosial, Keadaan Lingkungan, dan Kondisi Keamanan. Dimensi Perasaan (Affect) diukur menggunakan 3 (tiga) indikator yaitu Perasaan Senang/Riang/Gembira, Perasaan Tidak Khawatir/Cemas, dan Perasaan Tidak Tertekan. Berikutnya, Dimensi Makna Hidup (Eudaimonia) mencakup 6 (enam) indikator yaitu Penerimaan Diri, Tujuan Hidup, Hubungan Positif dengan Orang Lain, Pengembangan, Diri, Penguasaan Lingkungan, dan Kemandirian.
Tujuan Menghasilkan data dan informasi terkait kebahagiaan yang dapat disajikan untuk merepresentasikan kondisi kebahagiaan penduduk di tingkat nasional dan provinsi Menghasilkan data dan informasi terkait kebahagiaan yang dapat disajikan untuk merepresentasikan kondisi kebahagiaan penduduk di tingkat nasional dan provinsi

Sumber : di olah sendiri .

Dari penjelasan dalam table di atas ada perbedaan indicator penilaian dalam mengukur Indeks Kebahagiaan Masyarakat pada tahun 2014 dengan Indeks Kebahagiaan Masyarakat 2017. Selain itu IKM 2014 dan 2017 bertujuan untuk mempresentasekan kondisi kebahagiaan di tingkat nasional dan propinsi tidak bertujuan untuk membaca hal serupa untuk konteks kabupaten/kota.

Jika ada yang membandingkan hasil IKM suatu Kota dengan Propinsi rasanya kurang tepat karena prinsip memperbandingkan haruslah apple to apple. Pun jika harus memperbandingkan IKM antara satu kota dengan kota lainnya haruslah juga apple to apple dalam arti survey IKM di masing-masing Kota tersebut menggunakan metode, sampel serta intrumen yang sama persis hingga hasilnya dapat diperbandingkan sebagaimana yang dilakukan oleh BPS di atas.

Dari hasil penelusuran saya selanjutnya, Survei yang ada pada broster di atas dilaksanakan 18-25 Agustus 2015[6]. Jadi besar kemungkinan menggunakan indikator Index Kebahagian Masyarakat yang digunakan pada Tahun 2014. Sayapun berupaya mencari hasil riset atau data terkait survey Indeks kebahagian pada tahun yang sama dengan survey CRC yang ada dalam broster. Hasilnya saya menemukan informasi ada dua kota yang melakukan riset Indeks Kebahagiaan Masyarakat untuk konteks Kab/kota yakni Indeks Kebahagiaan Masyarakat Kab. Bojonegoro[7] dan Kota Bandung[8]. Kota Bandung survey IKM dilaksanakan pada bulan November Tahun 2015 sedangkan Kabupaten Bojonegoro dilaksanakan pada bulan Desember Tahun 2014. Ketiga survey IKM di atas saya rangkum dalam table di bawah ini :

 

IKM Makassar Bandung[9] Bojonegoro[10]
Sampel Secara metode Survei tersebut menggunakan sampel yang ditetapkan sebanyak 420 responden, yang dibagi secara proporsional pada 14 kecamatan SPTK Kota Bandung tahun 2015 dilaksanakan di seluruh wilayah administratif Kota Bandung dengan rancangan sampling random yang ditujukan untuk mewakili tingkat kebahagiaan warga Bandung di 30 Kecamatan. Jumlah responden 3.020 Responden Jumlah sampel penelitian ini adalah 800 orang yang berasal dari 28 kecamatan, serta dari 57 desa/kelurahan. Sampel yang di tetapkan 800 Responden.
Indikator Kesepuluh aspek yang meliputi kepuasan terhadap :

1) kesehatan,

2) pendidikan,

3) pekerjaan,

4) pendapatan rumah tangga,

5)keharmonisan keluarga,

6) ketersediaan waktu luang,

7) hubungan sosial, 8) kondisi rumah dan aset,

9) keadaan lingkungan, dan

10) kondisi keamanan

Ada 10 Aspek Kehidupan yang di nilai adalah :

1.       Keharmonisan Keluarga

2.       Hubungan Sosial

3.       Kondisi Keamanan

4.       Kesehatan

5.       Keadaan Lingkungan

6.       Ketersediaan Waktu Luang

7.       Kondisi Rumah dan Aset*

8.       Pekerjaan*

9.       Pendidikan*

10.    Pendapatan Rumah Tangga

 

Indikatornya diadaptasi dari The Gross National Happiness Survey Questionnaire yang disusun oleh The Centre of Bhutan Studies tahun 2007[11] yang antara lain sebagai berikut :

1.       Dimensi Aspek Psychological : Wellbeing Life satisfaction, Emotional balance (positive and negative emotions, Spirituality

2.       Health  : Self-reported health status, Healthy days , Long-term disability, Mental health

3.       Education :  Literacy, Educational qualification, Knowledge, Values

4.       Culture : Language, Artisan skills, Socio-cultural participation, Driglam Namzha

5.       Time Use : Working hours, Sleeping hours

6.       Good Governance : Political participation, Political freedom, Service delivery, Government performance

7.       Community Vitality : Social support, Community relationships, Family, Victim of crime

8.       Ecological Diversity and Resilience : Pollution, Environmental responsibility, Wildlife, Urban issues

9.       Living Standards :  Household income, Assets, Housing quality

 

Teknik Sampel Acak Bertahap Acak Bertahap Acak Bertahap
Margin Error +/-5% 1,82% 3,46%
Tingkat kepercayaan 95% 95% 95%

Sumber : Di olah sendiri

Dari uraian table di atas di atas survey Indeks kebahagiaan Masyarakat Kota Makassar, Kabupaten Bojonegoro dan Kota Bandung menggunakan Jumlah sampel yang berbeda, namun sama dalam teknik sampling. Selain itu untuk indicator penilaian ada kesamaan indicator antara survey IKM yang dilaksanakan di Kota Makassar dengan Kota Bandung sedangkan untuk Kabupaten Bojonegoro menggunakan Indikator penilaian yang berbeda.  Dapat di simpulkan bahwa dari ketiga survey IKM tersebut di atas menggunakan metode, indicator penilaian yang berbeda walaupun sama-sama melakuakn survey IKM. Maka dari itu dengan perbedaan tersebut secara metode tentu kita tidak dapat memperbandingkan hasil dari survey-survei IKM di atas karena secara prinsip berbeda, dengan kata lain tidak apple to apple untuk di perbandingkan.

Maka dari itu, tidak ada alasan untuk memperbandingkan nilai Index Kebahagiaan Masyarakat Kota Makassar dengan Propinsi Sulsel serta kota-kota lainnya karena beberapa alasan di atas. Analogi sederhananya tidak mungkin kita menilai manisnya Mangga dengan menciumi Nenas terlebih lagi jika hasilnya diperbandingkan.

Selain itu paparan data IKM Kota Makassar dalam Broster menggunakan persen(tase), yakni sebesar 75.21%. Ini tentunya aneh mengingat  dalam penilaian Indeks Kebahagiaan Masyarakat menggunakan skala 0-100 yang merupakan indeks Kompusit yang tersusun dari dimensi-dimensi yang diukur dengan persentase kontribusi yang beragam dari masing-masing dimensi[12]. Jadi tampilan datanya bukan dalam persen (%) sebagaimana tercantum dalam Broster (75.21%) akan tetapi haruslah nilai angka yang bergerak dari skala 0-100. Cara baca data dan menampilkan data sebagaimana dalam Broster tersebut di atas cenderung bias dan menyesatkan.

Halaman 07 dan 08 …

Pada halaman ini menampilkan infografik tentang Kemiskinan yang menurun, Pendapatan meningkat tajam, Pertumbuhan ekonomi meningkat, IPM meningkat, PAD dan APBD meningkat tajam serta angka harapan hidup. Dari semua infografik menampilkan juga sumber data infografik tersebut, namun yang ganjal adalah tidak satupun dari rujukan data tersebut yang menampilkan rujukan TAHUN kapan data tersebut dirilis hanya menampilkan institusi (BPS Sulsel dan Bappeda Kota Makassar)  dari sumber data tersebut di kutip. Rujukan tahun dalam tampilan sebuah data sangatlah penting selain sebagai prosedur standar sajian data tapi juga penting untuk kebutuhan konfirmasi maupun verifikasi data terkait. Hal ini di atas sekaligus menggugurkan klaim di awal bahwa broster ini sebagai “data dan fakta yang jelas dan nyata ..”

Halaman 9…

Halaman ini berisi diskripsi tentang program Makassar Home care (Dottorotta) dengan segala kecanggihan dan kemudahannya :

” Pelayanan kesehatan yang TERBAIK di Indonesia ini adalah murni ide dan inovasi walikota Makassar.. dst .. 48 armada mobil yang selalu siaga 24 jam di puskesmas dengan peralatan Telemedicine yang canggih yaitu Tele USG, Tele EKG dan Tele Spirometrik yang langsung di monitoring oleh dokter spesialis dengan respon tim diagnosa tak lebih 20 menit ..dst”.

Sistem canggih ini di klaim oleh Menteri kesehatan hanya ada 2 DI DUNIA serta sudah meraih penghargaan Inovasi Pelayanan publik tertinggi oleh kementerian PAN RB sebagai Top Inovasi Pelayanan Publik Indonesia 2016. Sebagai pelayanan kesehatan yang terbaik di Indonesia dan (katanya) hanya 2 di dunia dengan sederet penghargaan pula. Sangat aneh rasanya jika dalam Broster ini tidak menyajikan data berapa jumlah warga kota Makassar yang mengakses program tersebut (Call 112) serta sudah berapa dari warga yang mengakses tersebut dapat ditangani oleh pelayanan ini, apa saja sakitnya dan bentuk-bentuk tindak kesehatannya.  Data tersebut tentunya sangat penting sebagai penandas betapa mutakhir dan ampuhya program ini sebagaimana yang di klaim dalam Broster.  Ingat paragraph 8 di halaman 2 Broster ini berisi ; data dan fakta yang jelas !

Halaman 11 dan 12 …

Pada halaman ini bercerita tentang kemacetan dan seterusnya dan salah satu solusinya adalah Smart Pete-pete angkutan kota terkeren dan tercanggih di Indonesia. Berarti Moda ini mengalahkan kecanggihan MRT di Jakarta ?. Masih di halaman 12 ada penjelasan bahwa Moda ini di desain sendiri olah Pak Walikota Makassar dan merupakan prototype kendaran umum yang ramah lingkungan dengan system keamanan cukup tinggi, ada CCTV, ada pula fasilitas lain seperti tempat colokan di setiap tempat duduk, WIFI, AC, TV LED dan fasilitas solar cell panel. Saya sempat termangu, ini pete-pete atau Kos-kos-an ? bolehkah kita sekalian menginap ?. Saking penasarannya saya pun mencari info tambahan tentang Smart Pete-pete ini di Lini masa. Menariknya saya justru tersesat ke beberapa link berita terkait program ini. Silahkan dibuka sendiri.

http://regional.kompas.com/read/2017/01/04/11592481/polisi.minta.mobil.petepete.smart.segera.dilengkapi.dokumen.resmi

http://www.seputarmakassar.com/proyek-petepete-smart-pemkot-makassar-tidak-laku.html

http://sulsel.pojoksatu.id/read/2016/12/13/kok-bisa-petepete-smart-makassar-berasap-saat-diluncurkan-apa-yang-salah/

http://www.antarasulsel.com/berita/82952/dishub-makassar-sebut-lelang-smart-pete-pete-gagal

http://makassar.tribunnews.com/2016/12/12/video-waduh-petepete-smart-makassar-terbakar-saat-diluncurkan

https://www.sulselsatu.com/2017/08/22/makassar/terancam-gagal-total-danny-ingin-tunjuk-langsung-rekanan-proyek-petepete-smart.html

Halaman 13 … 

                                                         

Halaman ini bercerita tentang banjir dan genangan yang di klaim sudah sangat berkurang. Selanjutnya ada penjelasan:

…“ cuaca ekstrim dalam bentuk “heavy Rain” di perparah dengan “Sea Level rise” yang terjadi sepanjang pantai kota Makassar”…

Satu hal yang mencolok dari kesemua penjelasan ataupun penamaan program di Broster ini selalu menyisipkan bahasa Inggris di dalamnya. Salah satunya  sebagaimana yang termaktub di atas. Saya termasuk orang yang tidak pandai berbahasa Inggris jadinya hanya bisa menebak maksud dan artinya. Heavy rain, mungkin yang di maksud itu hujan keras, Sea level rise mungkin artinya naiknya permukaan air laut atau biasa di sebut banjir Rob. Jika seperti itu artinya, adakah hal baru yang ingin di sampaikan dari istilah Inggris di atas ?.

Baiklah, mari kembali ke masalah banjir dan genangan. Masih di halaman yang sama di jelaskan pada Tahun 2015 Pemkot Membuat program strategis yaitu gerakan pemebersihan drainase. Sehingga hari ini tampak berkuranya spot genangan. Pertanyaan lucunya adalah berapa jumlah spot genangan sebelumnya dan berapa jumlah spot yang berkurang karena program tersebut ? serta di mana-mana saja lokasi spot-spot tersebut berada ? sehingga kita dapat memperbandingkan sejauh mana efektifitas kerja dari program yang di maksud. Sayangnya data dan informasi yang di maksud tidak ada dalam Broster padahal klaim pada paragraph 8 di halaman 2 ; data dan fakta yang jelas dan nyata…

Halaman 14…

Halaman ini menggambarkan Gerakan Makassar Tidak Rantasa (MTR) dan lain lain beserta skema dan intrumennya. Terkhusus untuk program ini saya pribadi mengapresiasinya, setidaknya program ini diganjar penghargaan Kalpataru, eh..maksud saya Adipura. Adapun yang aneh klaim terhadap program-program tersebut adalah klaim ; “Berhasil membuat Kota Makassar masuk menjadi Kota Terbersih di Indonesia” (?). Saya masih berfikir positif. Mungkin saja salah ketik atau mungkin yang di maksud salah satu terbersih. Namun jika itu klaim yang sadar rasanya itu sangatlah keterlaluan dan tidak tahu diri.

Halaman 16…

Dua gambar ini di klaim sebagai bukti bagaimana usaha sungguh-sungguh dan kerja keras oleh Pemkot untuk mewujudkan TPA Bintang Lima. TPA bintang lima di maksud di desain di atas lahan seluas 16 HA yang terintegrasi dengan sejumlah fasilitas penunjang antara lain layanan bank sampah induk, Pembangkit listrik tenaga sampah, rumah potong hewan, arena olah raga dan saran wisata. Pertanyaan besarnya sejauh manakah hal-hal di atas sudah di wujudkan ? adakah di antara kawan-kawan yang bersedia memberikan info tambahan terkait TPA Bintang Lima ini ?.

Mari kembali ke 2 foto yang di klaim di atas. Setahu saya foto yang bagian bawah adalah Foto pelantikan aparatur pemerintah beberapa waktu lalu yang berlangsung di TPA Tamangappa Antang. Lucu rasanya jika foto ini dijadikan bukti kesungguhan dan kerja keras Pemkot dalam mewujudkan TPA Bintang Lima. Mari ingat kembali paragraph 8 di halaman 2 ; data dan fakta yang jelas dan nyata bukan hoax dan bukan pula propaganda …

Halaman 17…

Pada halaman in menampilkan foto Walikota yang diapit oleh anak-anak kecil yang berbusana muslim dengan pose nampak menunjuk ke atas. Bagian ini membahas “Tata LORONG bangun Kota dunia”. Setidaknya ada empat paragraph penjelasan terkait ini yang di mulai dengan analogi Kota sebagai sebuah system tubuh dengan lorong sebagai sel terkecil dari sebuah kota dan seterusnya. Hal yang paling kental dari narasi terkait lorong adalah sangat kuat pelabelan lorong sebagai sumber kemiskinan dan kriminalitas.

“Segala hal yang bersentuhan dengan lorong atau yang juga biasa di sebut dengan Gang maulai dari kemiskinan, sampah, kebakalan remaja, hingga potensi, seperti ekonomi, budaya, dan lainnya warga yang sebagian besar berada di bawah garis kemiskinan bermukim lebih banyak di lorong”

Pada paragraph empat :

“…Masalah perkotaan yang sebagian besar berawal dari lorong misalnya ; kemiskinan, pengangguran, kriminalitas, penyalahgunaan Narkoba, rawan kebakaran, derajat kesehatan rendah, tingginya konflik social, kejahatan rumah tangga, pelecehan sexual serta menjadi kantong urbanisasi”…

Jujur saya gagal paham apa contoh kasus dan asumsi teoritis yang mendasari kesimpulan bahwa masalah perkotaan sebagian besar berawal dari lorong. Di sini lorong di lihat sebagai suatu entitas yang hidup dan penjadi penyebab dari penyakit sosial perkotaan. Lorong beserta segala problem kemanusiaan di dalamnya bukanlah akibat dari suatu kondisi structural (kebijakan ekonomi maupun politik) tata kelola kota , persaingan bisnis dan lain-lain  yang berakibat langsung pada kehidupan social ekonomi masyarakat. Singkatnya, jika anda bodoh, miskin dan menjadi pelaku criminal itu semua di akibatkan anda tinggal di lorong bukan karena misalnya akibat ketidakmampuan pemerintah menciptakan lapangan kerja untuk anda atau karena adanya pembangunan mall atau hotel hingga anda tergusur dan harus tinggal di gang sempit nan kotor tanpa pekerjaan. Bukan pula karena misalnya anda tidak dapat mengakses jasa keuangan hingga usaha anda bangkrut lalu tutup dan anda jatuh miskin. Akan tetapi semuanya akibat anda tinggal di lorong dan lorong itulah yang menelan anda dalam kemiskinan dan kriminalitas. Lorong adalah sebab dari segala problem manusia yang hidup didalamnya karena itu lorong harus direstorasi bukan isi kepala orang-orang yang ingin merestorasi tersebut yang harus direstorasi. Logika ini sama dengan mengatakan penyebab kecelakaan lalu lintas adalah kendaraan bermotor bukan akibat dari kelalaian atau ketidakdisiplinan pengendaranya.

Halaman  19 dan 20 …

Pada halaman ini menceritakan penanganan sampah melalui metode Bank Sampah.. “Bank sampah adalah suatu tempat yang digunakan untuk mengumpulkan sampah yang sudah di pilah-pilah. Hasil dari pegumpulan sampah yang sudah di pilah akan disetorkan ke tempat pembuatan kerajinan dari sampah atau ke tempat pengepul sampah atau dari bank sampah sektoral ke bank sapah pusat”. Di klaim pula manfaat Bank Sampah yang dapat di rasakan langsung oleh masyarakat dengan beragam programnya seperti.. “sampah di tukar beras, sampah tukar voucher listrik, sampah di tukar gallon air di kepulauan, sampah tukar ice cream, sampah ditukar voucer Bimbingan belajar, dan sampah di tukar gas 3 KG hingga tukar EMAS”.. dari penjelasannya lanjutannya nampaknya program ini sebagai model pemberdayaan masyarakat, yang menarik untuk diketahui bagaimana sebenarnya skema pemberdayaan tersebut bekerja ?. Pada halaman 19 di klaim ..”Bank sampah sendiri selama tahun 2015 telah berhasil mereduksi sampah sebanyak sebanyak 700 Ton dengan perputaran uang mencapai 3 Miliar”. yang menjadi pertanyaan saya, bagaimanakah menghitung angka-angka tersebut ?. Berapa berapa kira-kira  volume berkurangnya sampah pertahun akibat dari program ini ? lalu berapa pula kira-kira aggregate peningkatan pendapatan masyarakat dengan adanya program ini ?. Data-data tersebut sangatlah penting sebagai penegas bahwa program ini existing dan bekerja.

Halaman 21…

Pada halaman ini menjelaskan cukup panjang apa dan bagaimana cara kerja program BULO atau Badan Usaha Lorong. BULO ini di jadikan sebagai program pemberdayaan masyarakat pra sejahtera yang tinggal di pemukiman padat penduduk ataupun yang tinggal di gang-gang yang sempit. Katanya program ini merupakan program lanjutan dari program Longgar (lorong garden).  Pada paragraph ke empat.. “BULO yang di kembangkan walikota Makassar, Danny Pomanto akan di mulai di 500 Lorong dari 7000 Lorong yang menjadi target.. dan seterusnya”. Ini hal kesekian di mana program-program yang ada dalam broster ini yang merujuk langsung kepada Walikota Makassar, jujur saja saya bingung menempatkan program-program tersebut apakah program pribadi Danny Ponmanto selaku Walikota Makassar ataukah program Pemerintah Kota Makassar yang di kerjakan oleh perangkat teknis tertentu. Selain itu, Lalu dimana fungsi para penasehat/staf ahli walikota yang jumlah cukup banyak dalam rancang bijak suatu program ?. Pertanyaan mendasar dari program BULO ini adalah SUDAH berapakah BULO yang di bentuk dan existing hingga sekarang ini ? di mana saja lokasi-lokasinya ? Serta sudah berapa jumlah Kepala Keluarga yang menjadi anggota dari BULO tersebut. Dalam Broster tidak ada data yang meninformasikan hal tersebut. Padahal data ini penting untuk memperlihatkan bahwa program ini ada berjalan dan bekerja.

Sayapun berupaya mencari informasi terkait hal di atas dan sekali lagi nyasar pada link-link berikut ini. Silahkan di buka sendiri dan disimpulkan sendiri.

http://makassar.tribunnews.com/2017/07/13/prasasti-panen-raya-cabe-di-lorong-bulo-meghilang

http://makassar.tribunnews.com/2017/07/13/jokowi-batal-datang-cabai-di-lorong-bulo-satu-persatu-diangkut-pemiliknya

http://makassar.tribunnews.com/2017/07/15/batal-didatangi-presiden-jokowi-inikah-tanda-tanda-lorong-cabai-di-makassar-setting-an-belaka?page=2

http://makassar.tribunnews.com/2017/07/10/jokowi-mau-datang-lorong-96-mendadak-jadi-hutan-cabai?page=all

Halaman 22 …

Halaman ini bercerita tentang APARONG alias apatemen lorong yang di klaim sebagai solusi rumah layak huni bagi masyarakat lorong. Klaimnya program ini merupakan solusi bagi kondisi pemukiman yang buruk dibeberapa kawasan Kota Makassar.

Pertanyaan sederhana dari program ini adalah sudah berapa dan di mana saja APARONG telah di bangun ? kira-kira sejauh mana efektifitas program ini menanggulangi persoalan hunian warga kota/lorong ?. Dalam Broster ini tidak ada data yang menunjukkan hal tersebut sehingga saya sulit membayangkan existensi dari program ini. Mari ingat kembali paragraph 8 di halaman 2 ; data dan fakta yang jelas dan nyata bukan hoax dan bukan pula propaganda …

Halaman 23…

Halama ini di buka dengan kutipan dari Walikota tentang program Singara’na lorongta… “Ada 10.000 titik lampu singara’na lorong ta yang AKAN di pasang di 14 Kecamatan Se-Kota Makassar, ada 3 bola lampu yang terpasang pada setiap tiang singara’na lorong ta”. Saya kurang paham 10.000 titik ini di 10.000 lorong ataukah di 10.000 tiang ?. Klaim aneh lain dari program ini adalah … “Lorong yang sebelumnya SAMA SEKALI TIDAK PERNAH mendapat perhatian pemerintah kota..” . Benarkah demikian ? moga-moga saja ini hanya salah ketik.

Halaman 24 …

Pada halaman ini bercerita tentang gerakan penanaman pohon ketapang untuk membentuk koridor hijau sekaligus untuk memenuhi 20% kewajiban RTH Kota Makassar.  Akan tetapi dalam Broster tidak menyebutkan sudah berapa pohon yang sudah di tanam serta dimana saja lokasinya. Mari ingat kembali paragraph 8 di halaman 2 ; data dan fakta yang jelas dan nyata bukan hoax dan bukan pula propaganda …

Halaman 27 …

Halaman berisi gambar petugas kebersihan sedang bekerja dan berpose bersama. Dari penjelasan dalam Broster setidaknya hamper 3000-an orang yang di angkat menjadi pegawai kontrak. Mereka di rekrut sebagai satgas drainase, satgas kebersihan, satgas pertamanan, satgas lampu jalan, brigade anti macet, satpol PP dan Balakar. Cukup lucu juga sebenarnya jumlah orang yang di rekrut  menjadi aparatus pemerintah menggunakan angka taksiran bukan jumlah tepat. Tidak adakah system pendataan yang baku terkait hal tersebut ? mengingat inlah adalah aparatus pemerintah bukan rombongan liar konggres kepemudaan.

Hal lain lagi bagaimanakah mekanisme perekruitmen ribuan orang tersebut ? apa saja syarat keahlian yang harus dimiliki mengingat posisi-posisi yang menangani persoalan vital di perkotaan (banjir, macet, kebakaran dll) ?. Tidak ada informasi terkait kecuali klaim rakyat menganggur, dipekerjakan pemerintah.

Halaman 28… 

            

Halaman ini menjelaskan tentang program KAKILIMATA yang fokus pada pembangunan infrastruktur penataan PK 5 dengan standar kelas dunia. Iya, standar kelas dunia. Sebagai orang yang lahir di kampung dan besar di Kota Makassar sulit bagi saya untuk membayangkan PK 5 standar dunia itu seperti apa. Adakah konvensi internasional yang dilahirkan terkait PK 5 ? atau adakah badan dunia yang mengurusi PK 5 ? atau jangan-jangan sudah ada  kesepakatan internasional terkait PK 5 yang sudah diratifkasi yang saya tidak ketahui ? mohon informasinya. Selain itu dalam Broster tersebut di klaim juga pada tahun 2017 pembangunan PKL Centre akan berada di lima titik akan tetapi tidak di sebutkan 5 titik tersebut di mana-mana saja. Barangkali ada kawan-kawan dapat membantu saya untuk menelusuri hal ini, apakah sudah terwujud atau belum sama sekali.

Halaman 29 …

Pada halaman ini bercerita tentang kemananan Makassar dengan pemasangan  CCTV, Camera Infra red, yang berteknologi tinggi dan diperkuat oleh system Drone Guard serta pusat operasi dan monitoring “War Room” yang mampu mengontrol dan memberikan informasi kejadian factual, visual, akurat di seluruh wilayah kota 24 jam.

Pertanyaan lucu bagi program ini adalah : …Sudah berapa persen tingkat penurunan tingkat kejahatan, kriminalitas jalanan yang mampu diturunkan dengan adanya program ini ?. Tanpa ada data itu tersebut program ini hanya omong kosong.

Halaman 31 …

Halaman ini menampilkan foto aparatus berbaris membentuk segitiga dengan posisi memberi hormat. Ada juga narasi tegas yang berbunyi :

… “Berakhir sudah : Jual beli jabatan, Jual bangku sekolah, Jual proyek, pungli dan lain-lain”..

Saya tidak tahu ini program atau kampanye anti korupsi. Kalaupun program, tidak ada penjelasan mengenai skema ataupun regulasi yang terkait perang melawan korupsi, semisal skema atau regulasi menggandeng KPK dalam supervisi tiap penggunaan anggaran publik atau meluaskan ruang bagi publik untuk mengakses informasi terkait penggunaan anggaran publik dan lain-lain.

Dalam broster tersebut saya tidak mendapatkan informasi di atas, saya pun coba mencari bantuan Mr. Google untuk mencari informasi terkait hingga akhirnya  nyasar ke link-link berita berkut ini. Silahkan di baca dan di simpulkan sendiri.

http://makassar.tribunnews.com/2017/06/12/hakim-tak-hadir-kepala-sman-5-makassar-batal-disidang

http://www.mediaindonesia.com/news/read/122068/terbukti-pungli-kepsek-sma-5-makassar-divonis-1-tahun/2017-09-12

https://news.okezone.com/read/2017/02/25/340/1627866/diduga-pungli-penerimaan-siswa-baru-kepala-sma-5-makassar-dibui

http://makassar.tribunnews.com/2017/07/11/pasca-penangkapan-asisten-1-pemkot-makassar-danny-pomanto-belum-masuk-kantor

http://regional.kompas.com/read/2017/07/10/16061201/sewakan.lahan.negara.asisten.1.pemkot.makassar.ditahan

http://beritakotamakassar.fajar.co.id/berita/2017/05/08/kasus-korupsi-terbanyak-di-makassar-dan-jeneponto/

http://makassar.tribunnews.com/2017/09/06/habiskan-rp-27-m-acc-desak-kejari-makassar-usut-proyek-tempat-sampah-gendang-dua

http://sulsel.pojoksatu.id/read/2016/09/23/kajari-makassar-bantah-kasus-korupsi-gendang-dua-dihentikan/

Halaman 32…

Halaman ini menceritakan tentang GOLO’RONG sepak bola tanpa lapangan rumput yang tentunya sangat sulit didapatkan di perkotaan. Kontan saja saya teringat masa kecil awal 90an dimana setiap sore hari biasa bermain bola di jalanan. Namanya juga di jalanan otomatis tidak ada rumput tetapi hanya aspal, di karenakan berlangsung di jalanan sudah pasti tidak mungkin memasang gawang standar lengkap dengan jaringnya. Biasanya pengganti tiang gawang menggunakan batu ataupun sandal jepit. Adakalanya juga tidak menggunakan gawang sama sekali tetapi hanya sebuah batu ataupun kaleng yang di pasang di sisi masing-masing tim. Bagi tim yang mampu menendang bola mengarah ke batu atau kaleng tersebut dan mengenainya maka itu terhitung sebagai gol. Begitulah masa kecil tanpa lapangan bola (yang berumput maupun tidak) maka jalanan ataupun emperan toko yang jadi tempat bermain.

Nah, baru di tahun 2017 ini setelah membaca Broster ini tepatnya di halaman 32 paragraf kedua saya baru mengetahui ternyata olah raga sepak bola sebagaimana saya jelaskan di atas adalah ciptaan Walikota Makassar… “untuk mengatasi kendala lapangan rumput dst..Muh. Ramadhan Pomanto MENCIPTAKAN olah raga sepak bola jalanan tanpa lapangan rumput, tanpa penjaga gawang yang di sebut dengan GOLORONG”. Begitulah. Saya tidak bisa berkomentar apa-apa lagi untuk itu. Silahkan kawan-kawan yang menilainya.

 

Selain itu disebutkan dalam broster Manager REAL MADRID tertarik untuk mempelajari teknik GOLORONG ini. Dalam Broster tidak disebutkan siapa manager Real Madrid yang dimaksud yang pasti sangat jelas disebutkan Manager dari Real Madrid, Klub bola raksasa yang menjadi raja Piala Champhions Eropa dengan 12 tropi yang berasal dari Negara Spanyol salah satu negara yang menjadi bagian sejarah sepak bola moderen, ingin belajar teknik GOLORONG !. Luar biasa !. Begitulah. Anda-anda sekalianlah yang menilainya.

Halaman 33 …

Halaman in bercerita tentang Gerakan Makassar Shalat subuh berjamaah yang di gagas (sekali lagi) langsung oleh Walikota yang bertujuan membudidayakan shalat subuh di masyarakat. Bagi saya ini hal aneh, setahu saya shalat subuh berjamaah sudah berlangsung sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu di Masjid-Masjid se-antero kota.

Justru menjadi hal aneh jika Pemerintah Kota menjadikan shalat subuh sebagai agenda mengingat shalat (ibadah) adalah sesuatu yang privat, sesuatu yang hanya mahluk dan Tuhan yang mengetahuinya. Ibadah bukanlah sesuatu yang harus diagendakan dan di mobilisasi sebab setiap individu pasti sadar itu adalah kewajibannya, perihal individu tersebut menunaikan ataukah tidak itu hal lain yang akan ia akan pertanggungjawabkan pada Tuhanya. Poinya, ibadah shalat bukanlah urusan publik yang harus melibatkan pemerintah dalam menjalankannya. Terlalu jauh rasanya pemerintah harus mengurusi ibadah seseorang.

Jikapun hal tersebut adalah kelumrahan, pertanyaan saya, bolehkan warga kota Makassar atau pegawai di Pemerintah Kota Makassar yang bergama non islam, menggunakan fasilitas public yang sama untuk menunaikan ibadah mereka ? dan apakah juga Pak Walikota bersedia atas nama Pemerintah Kota menginisiasi atau memfasilitasi  warga kota atau pegawai Pemerintah Kota yang beragama non Islam jika ingin melakukan ibadah keagamaan mereka di ruang publik ?.

Dari catatan-catatan panjang di atas saya sampai pada kesimpulan bahwa semua informasi dan data yang di tampilkan dalam Broster tersebut sungguh jauh dari klaim awal menampilkan.. “data dan fakta yang jelas dan nyata bukan hoax dan bukan pula propaganda”…

Terakhir, sebagai penutup saya akan berikan kuis. Kuisnya, berapakah Foto Danny Pomanto dalam Broster tersebut ?. Bagi yang menjawab dengan benar saya beri hadiah sepeda. Sekian.

Penulis

Irawan Danu Amiruddin, S.IP, M.Si

Peneliti Sosial dan Politik

[1] Tabloid sebenarnya adalah istilah suatu format surat kabar yang lebih kecil (597 mm × 375 mm) dari ukuran standar koran harian. Istilah ini biasanya dikaitkan dengan penerbitan surat kabar reguler non harian (bisa mingguan, dwimingguan, dan sebagainya), yang terfokus pada hal-hal yang lebih “tidak serius”, terutama masalah pesohorolahragakriminalitas, dan lain-lain. Meskipun demikian, dalam beberapa tahun terakhir, beberapa surat kabar harian seperti Republika dan Koran Tempo telah pula mulai menggunakan format tabloid-Wikipedia

[2] Kami yang di maksud di sini tidak jelas, apakah kedua pasangan, Pemerintah kota, Tim sukses atau siapa ?

[3] Berita Resmi Statistik No. 79/08/Th. XX, 15 Agustus 2017

[4] file:///E:/Website/INDEKS%20KEBAHAGIAAN%20INDONESIA%20TAHUN%202014.pdf

[5] file:///E:/Website/INDEKS%20KEBAHAGIAAN%20INDONESIA%20TAHUN%202017.pdf

[6] http://crc.or.id/news/read/20 (http://makassar.tribunnews.com/2015/10/07/di-makassar-ternyata-warga-ujung-tanah-paling-tak-bahagia?page=all)

[7] file:///E:/Website/INDEKS%20KEBAHAGIAAN,%20Bojonegoro,%202014.pdf

[8] http://riset.fmipa.unpad.ac.id/data/uploads/paper/semnas/2016/065-337-347-yuyun-hidayat.pdf

[9] file:///E:/Website/065-337-347-yuyun-hidayat.%20IKM%20Bandung%202015.pdf

[10] file:///E:/Website/INDEKS%20KEBAHAGIAAN,%20Bojonegoro,%202014.pdf

[11] ibid

[12] Contoh : Indeks Kebahagiaan Indonesia tahun 2017 merupakan indeks komposit yang disusun oleh tiga dimensi, yaitu Kepuasan Hidup (Life Satisfaction), Perasaan (Affect), dan Makna Hidup (Eudaimonia). Kontribusi masing-masing dimensi terhadap Indeks Kebahagiaan Indonesia adalah Kepuasan Hidup 34,80 persen, Perasaan (Affect) 31,18 persen, dan Makna Hidup (Eudaimonia) 34,02 persen.

 

One thought on “Menyoal Broster Pak Wali…

  • October 11, 2017 at 2:45 pm
    Permalink

    Cermat mengulas …itu sudah. Mantap

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *