Eksistensi PMKO di Kampus  Biru Kuning

Politik, Antro, HI pujilah Tuhan,

Sosiologi, Adm, pujilah Tuhan,

Kosmik, Kearsipan, Pemerintahan

Pujilah Tuhan.

(Reff Sospol Bermazmur –Mars PMKO Fisip Unhas)

 

Hari pertama masuk kuliah di Kampus Unhas pun tiba. Mahasiswa baru tentu sangat menantikan hari ini. Selepas dari SMA dan berhasil masuk di kampus negeri ternama seperti Unhas adalah cita-cita, begitupun yang saya rasakan. Setelah lulus SMA di tahun 2007 datang dari Kota kecil Ambon Manise menuntut ilmu di Unhas. Saya bangga, meski hanya pilihan ketiga, ilmu politik!. Pilihan pertama saya adalah farmasi, dan kedua adalah ilmu hukum. Perasaan senang kala itu juga dihinggapi rasa kegelisahan, apakah saya bisa bersosialisasi di Kampus Unhas? Maklum saja, kekuatiran itu muncul karena saya adalah anak korban konflik Ambon yang sejak kelas empat SD hingga lulus SMA hampir tidak pernah lagi bergaul dengan kawan-kawan sebaya yang beragama Muslim. Konflik yang terjadi di Kota Ambon membuat pemukiman masyarakat terkotak-kotak berdasarkan agama yang dianut. Kalau toh bermain dan berinteraksi dengan kawan-kawan beragama Muslim hanya hitungan 1 sampai 2 jam, itu pun karena menghadiri seminar dan rekonsiliasi perdamaian untuk anak. Waktu bermain kami dibatasi. Saat itu saya duta anak di “Save The Children”, sebuah organisasi non-pemerintah dunia yang berkantor pusat di Inggris. Save the Children beroperasi di sekitar 120 negara termasuk Indonesia. Save the Children menyelamatkan nyawa anak-anak; memperjuangkan hak mereka; dan membantu mengembangkan potensi anak. Khusus untuk di Ambon, misi save the children berfokus ke pemulihan trauma anak yang mengalami konflik SARA. Selain seminar dan pelatihan, saya sering dilibatkan menyampaikan pesan-pesan perdamaian lewat radio-radio lokal di Kota Ambon, kami juga melakukan project drama perdamaian dan iklan-iklan perdamaian dan pernah ditayangkan di TV Swasta Nasional. Keterlibatan saya di organisasi ini akhirnya menyebabkan di kompleks tempat tinggal saya dirintis taman bacaan anak bantuan dari Save The Children.

Kembali ke soal hari pertama di Kampus Unhas, Makassar adalah Kota yang mayoritasnya beragama Muslim. Stigma-stigma yang tertanam sejak di Ambon cukup membuat psikologis saya goyah. Ternyata, apa yang saya kuatirkan tidak terjadi. Fisip Unhas sangat ramah. Khusus di ilmu politik, bukan saja saya yang berasal dari luar Provinsi Sulawesi Selatan, diangkatan 2007 ada yang berasal dari Medan, Flores, dan Depok. Ada juga yang beragama Nasrani (Tora, Dius, Aprianto, Hans, Ella, Martha). Senior-senior di politk banyak juga yang Nasrani. Fisip Unhas sangat mengakomodasi semua kepentingan meski berbeda keyakinan. Apalagi dengan keberadaan PMKO (persektuan Mahasiswa Kristen Oikumene). Mahasiswa Nasrani diberikan ruang untuk berekspresi di lingkungan kampus.

Kami yang Nasrani dikader dua kali, yang pertama tentu pengkaderan tingkat Himpunan Mahasiswa Politik (Himapol) Fisip Unhas dan kedua di PMKO Fisip Unhas. Sinergitas antara dua lembaga dikampus fisip ini terbilang harmonis. Katakanlah jika pengkaderan Himapol dilakukan di hari minggu, penggurus Himapol sangat bersikap toleran memberikan izin bagi mahasiswa yang Nasrani untuk ke gereja..

Eksistensi PMKO Fisip Unhas awalnya merupakan bentuk solidaritas sesama mahasiswa Kristen di Fisip asal Toraja dalam bentuk ibadah-ibadah yang dilakukan secara bergiliran di rumah-rumah mahasiswa. Solidaritas ini kemudian mencakup  seluruh mahasiswa Kristen bahkan dari semua denominasi gereja yang mempunyai kerinduan untuk berbagi iman bahkan juga menyangkut diskusi-diskusi yang lebih umum, misalnya tema diskusi seputar student movement. Sebagai sebuah entitas PMKO lahir agar solidaritas ini mempunyai kekuatan hukum yang mengikat warga Fisip Unhas. Awalnya PMKO bernama PMK (persekutuan mahasiswa Kristen) yakni mahasiswa dengan latar agama Kristen Protestan karena mahasiswa Khatolik memiliki wadah sendiri yaitu KMK. Namun karena kerinduan yang kuat antar warga Fisip, sekat itupun hilang, PMK bermetamorforsis menjadi PMKO. Kata Oikoumene yang dipakai PMKO berasal dari bahasa yunani, “Oikos” yang berarti rumah dan “Mene” berarti bumi. Oikoumene dalam pengertian adalah kesatuan. PMKO adalah rumah bagi mahasiswa Kristen (lintas aliran) bisa dikatakan seperti semboyan “bhineka tunggal ika”.

Menurut cerita senior PMKO angkatan 90-92 bahwa rapat perdana pembentukan PMKO di salah satu ruang kuliah FIS IV. Pada saat itu, rapat diwarnai dengan saling lempar kursi. PMKO sebagai organisasi diakui keberadaannya di kampus sama dengan organisasi lainnya seperti HMI dan GMKI. “Dulu tahun 2007 kalau saya tidak salah ingat, Risal (pemerintahan) jadi ketua BEM Fisip, PMKO dan organisasi ekstra lainnya dimasukan dalam struktur organisasi intern tapi bersifat koordinasi, setelah saya berdiskusi dengan senior dan pengurus mengambil keputusan untuk tidak masuk, alasanya kegiatan PMKO kedepannya akan lambat bergerak terkhusus aturan dasar (AD/ART) karena BEM Fisip yang harus diikuti, kegiatan PMKO akan mengikuti aturan dan jadwal BEM.” Kenang Gideon Lebang (Politik 05).

Kegiatan PMKO merekrut dan mendata mahasiswa Kristen disetiap jurusan dalam lingkup Fisip Unhas untuk bergabung dalam wadah persekutuan. Didalammnya ada kegiatan kelembagaan seperti LKMK (latihan kepemimpinan mahasiswa Kristen). Sedangkan kegiatan internal dimulai dari JKP (jalinan kasih persaudaraan) kemudian kegiatan hari besar agama Kristen yaitu Natal dan Paskah. PMKO melakukan kebaktian rutin setiap minggu. PMKO juga ikut berpartisipasi saat diundang oleh fakultas lain dalam lingkup Unhas maupun antar universitas di Makassar, semisal pertandingan olahraga, menyanyi, dll.

Sebagai sebuah organisasi juga tidak lepas dari pasang surut dinamika berorganisasi. Memasuki awal 2000 merupakan awal berat dalam menjaga keutuhan organisasi ini, namun karena semangat dan bimbingan senior-senior dan campur tangan Tuhan hingga kini eksistensi PMKO dapat dinikmati dari generasi ke generasi. Pergumulan anggota PMKO adalah sekertariat PMKO yang permanen. Setiap tahun sekretariat PMKO harus berpindah-pindah tempat. Ini terkait legalitas PMKO apakah masuk dalam BEM atau berdiri sendiri sebagai ektra kampus. Hasil patungan antar anggota PMKO dan bantuan seniorlah yang kemudian dikumpulkan menyewa rumah untuk dijadikan sekretariat PMKO. Kendala lain adalah soal dosen pembina PMKO. Minimnya Dosen yang beragama Nasrani di lingkup Fisip juga menjadi kendala. PMKO sangat berterima kasih buat Dr. Atta Irene Allorante, M.Si yang bersedia menjadi pembina PMKO. PMKO sebagai sebuah organisasi memiliki beberapa divisi yakni divisi kerohanian, divisi minat dan bakat, divisi kaderisasi, divisi inventaris, divisi humas, serta divisi dana dan usaha.

Kegiatan setiap awal tahun ajaran adalah penyambutan anggota baru. Dimulai dari pendekatan ke maba melalui kunjungan setelah jam perkuliahan selesai. Nama-nama mahasiswa baru Nasrani dicatat berdasarkan jurusan/prodi dan senior yang berada di jurusan tersebut bertanggung jawab atas mahasiswa di jurusannya. Di ruang MKU sehabis kuliah kak Gideon dengan rambut gondrongnya masuk ke kelas dan meminta kami yang beragama Nasrani untuk tinggal sejenak. Kak Gideon memperkenalkan dirinya sebagai Ketua PMKO dan menjelaskan visi misi dan program-program PMKO. Setelah itu kak Gideon mengajak saya ke toko kue Dona-Doni di dekat stadion Mattoanging, karena malam jam 7 ada ibadah rutin PMKO di rumahnya.

Proses menjadi ketua PMKO sama dengan organisasi lainnya, melalui kaderisasi. Kader terbaik dari angkatan itulah yang dipilih melalui Musyawarah Besar (Mubes). Sampai dengan angkatan 2002 ketua PMKO selalu 2 angkatan dari mahasiswa baru, misalnya angkatan 2002, ketuanya angkatan 2000. Di tahun 2005 sedikit berubah, seharusnya angkatan 2003 tetapi karena ada sedikit insiden di Mubes, calon yang diusung mengundurkan diri di detik-detik pemilihan, jatah 2003 dialihkan ke 2004, dengan Rido (HI 2004) sebagai ketuanya. Waktu pemilihan Ketua PMKO periode 2007 diikuti oleh dua calon Gideon Lebang (politik) dan Sofyanto Torau (pemerintahan). Tetapi sebelumnya kak Gideon adalah ketua untuk kegiatan Mubes pada saat itu. “Proses pemilihannya seperti kebanyakan organisasi lainnya, melalui proses screaning tapi khusus untuk saya, tidak ada niatan jadi ketua, tetapi didorong sama teman-teman lain terutama Kak Rony (antro) dan Ovel (politik)” Kata Gideon.

Kader Himapol hampir saja mencetak Hattrick (tiga kali beruntun menjabat sebagai ketua), di periode 2007 ketuanya adalah Gideon dan periode 2008 ketuanya Robert (politik 06), Tora (politik 07) gagal terpilih setelah kepengurusan Robert. Konsolidasi jelang pemilihan cukup sengit. Mubes PMKO dilaksanakan di luar Kota Makassar. Malino, Mamasa, dan Toraja adalah tempat yang paling sering menjadi pilihan. Mamasa adalah tempat dimana angkatan 2007 secara sah menjabat sebagai ketua PMKO, Christian (Adm 07) terpilih sebagai ketua PMKO.

JKP merupakan salah satu kegiatan yang sangat dinantikan oleh PMKO’ers. Kegiatan ini semacam bina akrab di Himapol, ajang perkenalan dengan maba. Bedanya jika di Himapol bina akrab diadakan biasanya terakhir (dibinasakan dulu, baru diakrabi J), JKP diadakan sebagai kegiatan pembuka bagi maba dan hampir selalu diadakan di Malino (biasanya 3 hari). Jika pengurusan periode kepengurusan PMKO adalah angkatan 2005, maka panitia JKP adalah angkatan 2006.

Hari jumat jam 6 sore maba dikumpulkan di Gereja Kare (depan pintu 1 unhas) diangkut dengan mobil tentara yang sudah disiapkan untuk menuju Malino. Malamnya dimulai dengan doa bersama, lalu kak Gideon bersama ketua panitia JKP memberikan sambutan. Esoknya kegiatan diisi dengan materi-materi kerohanian, semisal etika Kristen dan pergaulan muda-mudi Kristen. Pemateri adalah pendeta atau senior PMKO yang sudah dipersiapkan panitia. Materi-materi yang dibawakan juga diselingi dengan games-games menarik sehingga tidak membuat jenuh peserta JKP. Keaktifan maba  di setiap kegiatan JKP masuk dalam penilaian panitia karena nanti akan dipilih dua peserta terbaik JKP. Sebelum dikukuhkan maba melewati empat pos yaitu pos penyegaran, pos minat bakat, pos kerohanian dan pos PMKO. Disetiap pos ada beberapa senior yang bertugas untuk berbagi dengan adik-adik maba mengenai minat bakat, kerohanian dan PMKO. Kegiatan ini berlangsung  hari minggu jam 1 malam hingga minggu pagi. Awalnya maba dikumpulkan satu ruangan dan dimatikan lampu, satu-satu maba “diculik”. Malino yang dingin, dan suasan gelap semakin membuat ciut nyali maba. Tidak sedikit maba yang takut dengan penculikan tiba-tiba. Maba digiring dan dibawa ke pos-pos yang letaknya berjauhan. Suasana berubah menjadi mencekam!

Di Pos-pos senior sudah menunggu (ada yang menutup mukanya pakai sarung sehingga tidak dikenali). Maba dibentak-bentak dan diberikan pertanyaan sulit untuk mengoyang keimanan maba. Semisal “mengapa ko percaya Yesus?” senior memutar-mutar pertanyaan, hingga membuat maba kewalahan, tidak jarang ada yang emosi. Saya pun mengalaminya, di pos kerohanian misalnya saya harus berhadapan dengan kak Ridho, tensi saya meningkat karena beradu argument soal isi Alkitab. Tensi saya akhirnya turun ketika masuk ke pos penyegaran, disana sudah menunggu kak Gideon. Kami bercerita layaknya adik dan kakak. Kak Gideon banyak memberikan nasehat-nasehat soal perkuliahan di politik unhas dan cara bersosialisasi dengan mahasiswa yang beragama Muslim.

Setelah semua melalui pos tersebut tiba saatnya kami dikukuhkan langsung oleh Ketua PMKO dengan membacakan ayat Alkitab yang menjadi pegangan dalam berPMKO, kemudian mencium bendera PMKO, dan setelah api unggun dinyalakan kami pun resmi menjadi warga PMKO. Minggu siang semua menuju ke Makassar, dengan perasaan bahagia. Jalinan kasih persaudaraan antar mahasiswa Kristen terjalin tanpa ada sekat antar angkatan. Hubungan antar anggota aktif dan alumni PMKO terjalin hingga kini, para alumni selalu mensupport PMKO dan selalu dijadikan sasaran permohonan dana untuk mensukseskan program-program PMKO. Saya dan kak Gideon misalnya, adalah kader PMKO ditanah rantau, Papua. Saya bekerja sebagai tenaga pengajar di kampus swasta dan kak Gideon bekerja sebagai PNS di BKKBN Provinsi Papua. Saling menopang satu dengan yang lain.

LKMK adalah pengkaderan tingkat lanjutan. LKMK adalah salah satu syarat yang wajib diikuti bila anggota PMKO mau maju dalam pemilihan ketua di periode berikutnya. Biasanya kegiatan ini bekerjasama dengan HMI untuk materi umum seperti memimpin sidang, sedangkan materi-materi kepemimpinan Kristen dibawakan oleh senior PMKO (saya pernah kebagian menjadi pemateri). Beberapa senior yang Muslim juga mengungkapkan sering mengikuti kegiatan-kegiatan PMKO dan membawa materi di PMKO. Banyak yang bertanya mengapa kawan-kawan di HMI (di Fisip juga ada komisariat HMI Fisip) bisa membawa materi di PMKO? Hal ini terjadi karena keakraban antar warga Fisip. Menurut cerita para senior PMKO, keakraban ini bisa terjadi karena adanya MIMBAR. Karena mimbarlah warga Fisip memiliki kedekatan emosional, diskusi-diskusi antar mahasiswa dan senior terjadi karena budaya mengopi dan nongkrong bareng di Kantin Fisip. Keikutsertaan LKMK dibuktikan dengan sertifikat.

PMKO juga aktif melaksanakan perayaan Natal dan Paskah dan mengudang beberapa kampus di Kota Makassar. Sebelum kegiatan dilaksanakan dibentuk panitia, sama seperti JKP dan LKMK, panitia selalu kreatif berkerja mengumpulkan dana, bisa melalui bazaar makanan, garage sale (menjual barang layak pakai yang dimiliki anggota PMKO), dan lelang suara (vokal grup) di gereja-gereja saat ibadah minggu. Salah satu Perayaan natal yang cukup berkesan seingat saya dilaksanakan pada tanggal 17 desember 2014 di Gedung Gereja Toraja Mamasa Jemaat Tamalanrea mengangkat tema  “Berjumpa dengan Allah dalam Keluarga” dan subtema “Harmony Of Christmas” perayaan natal saat itu menampilkan drama musikal. Selain itu, PMKO sering melakukan aksi sosial dengan berkunjung dan memberikan bantuan ke Panti Sosial di Kota Makassar. Anggota PMKO juga terlibat aktif di paduan suara Unhas (PSM), D’B3 Voice (paduan suara Fisip Unhas) dan beberapa Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Anggota PMKO, terkhusus anak politik, pernah mengharumkan nama kampus dengan prestasi yang mereka raih, semisal Elis (politik 08) mengikuti festival menyanyi bersama  D’B3 Voice, Indra (politik 08) di UKM basket, dan Kak Gideon bersama tim bola PMKO berhasil menjadi juara 3 kejuaraan antar PMK se Unhas. Anggota PMKO diluar politik juga berprestasi bahkan sampai tingkat internasional. Fidelys Lolobua (Antro 2002) berhasil menyumbang medali untuk Indonesia, meski hanya mendapat medali perak di perhelatan olahraga se-Asia di Incheon, Korea Selatan. Sungguh sangat membanggakan karena ini kali pertama ia mengikuti ASIAN Games.

Bersyukur eksistensi PMKO sebagai bagian dari kehidupan kampus, seperti kerjasama BEM dan Himpunan terus terjalin dengan baik. Harapan kak Gideon sebagai mantan ketua PMKO Fisip Unhas agar organisasi ini tetap eksis ditengah banyaknya organisasi interen dan ekstern kampus dan kader-kader PMKO harus mampu bersosialisasi dengan orang-orang disekitar, menebar kasih !

Penulis

Hendry Bakri, Ovelio Tarongko, Gideon Lebang

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *