Mengapa Harus Noken Papua ?

Berbicara mengenai kebudayaan mengandung banyak definisi antara lain; norma-norma serta aturan-aturan yang mengatur tentang bentuk dan sifat dari relasi yang dijalin oleh masyarakat dalam suatu kebudayaan tertentu untuk saling berinteraksi dalam rangka mewujudkan kehidupan bersama mereka, ada juga norma-norma dan aturan-aturan yang mempunyai fungsi untuk mengatur hubungan mereka dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam yang ada di dalam  wilayah atau teritorial yang ada di bawah kekuaasaanya.

Ini berbicara megenai kearifan lokal masyarakat Papua khususnya yang berada di Kabupaten Jayapura, tentang pemanfaatan potensi yang ada guna  menunjang pembangunan secara efisien yang tidak terlepas dengan hak-hak dasar orang Papua. Karena tujuan dari suatu proses pembangunan yaitu untuk merubah sesuatu dari keadaan lama menjadi baru. Proses perubahan ini menekankan pada kualitas, artinya hasil dari suatu perubahan itu harus lebih baik dan bermutu dari keadaan sebelumnya. Untuk merealisasikan tujuan pembangunan tersebut maka Pemerintah Kabupaten Jayapura menggunakan pendekatan berbasis lokal dan berwawasan lingkugan agar masyarakat memanfaatkan potensi lokal dalam suatu proses pembangunan. Potensi lokal itu berasal dari sumber daya alam dan sumber daya manusia.

Porter Puncak Carstensz di Papua menggunakan Tas Noken untuk Angkat Barang

Apa yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Jayapura bisa dilihat pada saat ini dalam rangka mempertahankan kelestarian budaya di Kabupaten Jayapura dengan adanya pencanangan wajib memakai Noken bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Anak Sekolah maka keberadaan Noken menjadi penting secara khusus di Kabupaten Jayapura. Noken merupakan sebuah warisan budaya orang Papua yang sudah sangat membumi sehingga dikenal luas sampai pada tingkat internasioanal dan ditetapkan sebagai salah satu warisan dunia. Upaya pemerintah Kabupaten Jayapura berpartisipasi dalam melestarikan keberlangsungan warisan itu dengan menetapkan hari khusus berbasis budaya dalam birokrasinya yaitu menggunakan Noken setiap hari Rabu. Melihat fenomena tersebut dapat disimpulkan bahwa kebutuhan pasar domestik dan asing menjadi meningkat, kondisi itu berdampak positif bagi terciptanya lapangan pekerjaan yang dapat dikembangkan oleh masyarakat Papua, yang memang pada dasarnya sudah menjadi pengrajin Noken sebagai salah satu ciri khas Papua.

PNS Jayapura menggunakan Tas Noken

Kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah harus ditunjang oleh aspek pendukung lainnya yang bersinggugan langsung terhadap kebijakan itu sendiri, tentunya aspek yang dimaksud adalah penyuplai bahan baku yang memadai, namun kenyataan di lapangan berdasarkan observasi saya dan beberapa teman-teman seangkatan 2013 Jurusan Ilmu Pemerintahan,  tepatnya di Kampung Sereh Distrik Sentani dan Kampung Doyo lama, Kampug Sosiri, Kampung Yakonde Distrik Waibu. Singkat cerita observasi itu berkaitan dengan Mata Kuliah Ekologi Pemerintahan. Menunjukan bahwa bahan baku pembuatan Noken  asli yang terbuat dari kulit kayu  sangat susah utuk di dapat sehingga Noken dengan berbahan dasar alam ciri khas asli sangat kurang, walaupun ada pasti harganya lebih mahal dari Noken yang dirajut pakai benang.

Melihat potensi daerah dan masalah ketersediaan bahan baku dalam rangka pelestarian budaya itu, saya dan beberapa teman-teman membuat kegiatan  yang sinergis dengan kebijakan Pemerintah dan mendukung ekonomi berbasis budaya dengan membudidayakan tanaman mahkota dewa (Phaleria maerocarpa), tumbuhan asli  Indonesia yang berasal dari Papua. Mengingat tumbuhan mahkota dewa ini dapat menjadi bahan  dasar dalam pembuatan Tas Noken, kulit pohon mahkota dewa yang dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan Tas Noken asli. Kegiatan ini disaksikan langsung oleh  Bupati Kabupaten Jayapura beserta Pegawai Negeri Sipil dan masyarakat pengerajin Noken, dengan kehadiran mereka kami berharap  mempertahankan kelestarian budaya agar tetap terjaga.

Untuk menjaga kelestarian budaya ini maka pemerintah Kabupaten Jayapura melakukan beberapa hal, diantaranya:

  1. Tetap konsisten dengan memakai Tas Noken pada hari khusus yang telah dicanangkan
  2. Menjamin ketersediaan bahan baku pembuatan Tas Noken asli Papua
  3. Meningkatkan intensitas dalam melakukan publikasi kebijakan hari khusus berbasis budaya dan produk Noken hasil kerajinan tangan masyarakat serta nilai budaya dari Noken tersebut
  4. Penyediaan pasar khusus yang terintegrasi dalam pemasaran Noken,
  5. Melakukan promosi dengan cara menjadikan Noken sebagai cinderamata kepada tamu Negara yang datang ke Papua.
Tas Noken Sebagai Cideramata dan ole ole khas Papua

Langkah di atas secara langsung akan meningkatkan perekonomian pengerajin Tas Noken asli Papua sekaligus lambat laun akan menggeser fakta yang terlihat selama ini, dimana pada saat tamu Negara yang datang ke Papua cinderamata utama yang diberikan adalah berupa ikat kepala yang ada burung Cenderawasi di atasnya, hal itu sangat disayangkan karena burung Cenderawasi  atau burung Emas itu seharusnya dilindungi bukan untuk dibunuh lalu dijadikan cinderamata kepada tamu yang datang ke Papua. Bertolak dari pandangan ini maka kedepan penting untuk terus mengkaji kearifan lokal yang ada dalam kebudayaan-kebudayaan di tanah Papua sehingga dapat dijadikan modal sosial bagi pembangunan. Kearifan lokal sebagaimana yang dimaksud di atas terkandung dalam unsur-unsur budaya seperti pengetahuan lokal, kesenian, bahasa dan nilai-nilai budaya.

Namun sampai saat ini  masyarakat belum mengerti secara benar tentang pembangunan dibidang kebudayaan dalam otonomi khusus. Masyarakat hanya mengerti menjadi tuan di Negeri sendiri dan dengan potensi yang begitu melimpah, dengan demikian banyak hal-hal yang dilupakan dan tidak diaplikasikan dalam kehidupan sosisal budaya yang menunjang pembanguanan daerahnya.

Mau Tahu tentang Kuat dan Mahalnya Porter Papua, simak disini Travel Detik

Oleh : Diaz Ondikeleuw, S. IP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *