Membaca Hasil Survey (Bagian Terakhir)

Pada tulisan sebelumnya kita sudah membahas 5 poin terkait bagaimana membaca dan menafsirkan hasil /data survey. Mari kita lanjutkan poin berikutya ;

  1. Kerangka sampel yang digunakan.

Kerangka sampel adalah daftar nama-nama semua anggota populasi sasaran. Katakanlah kita akan melakukan survey kepuasaan terkait pelayanan pembuatan SIM A di Makassar setahun terakhir maka diperlukan daftar nama semua orang yang pernah mengurus SIM A di Kota Makassar selama setahun terakhir. Daftar nama-nama itulah yang kita sebut dengan kerangka sampel. Maka dari itu pun dalam membaca hasil survei kita tidak boleh mengenarilisasi bahwa itu adalah hasil atau pendapat dari semua pemilik SIM di Kota Makassar.

Setidaknya ada dua syarat dari kerangka sampel yag baik, yakni (Aropi, 1999);

  1. Komprehensif, dalam arti kerangka sampel harus memuat semua anggota populasi sasaran ke dalam kerangka sampel.
  2. Tidak double, dalam arti kerangka sampel juga harus memastikan bahwa semua anggota populasi itu mempunyai kesempatan yang sama untuk terpilih sebagai sampel. Berarti dalam kerangka sampel tidak boleh ada nama yang tercatat lebih dari sekali sehingga memiliki peluang menjadi sampel lebih besar.
  3. Up to date, jika memungkinkan kerangka sampel haruslah yang terbaru dengan mempertimbangkan kedua hal di atas.

Kerangka sampel yang baik dan komprehensif merupakan syarat penting bagi suatu survey, karena dengan adanya kerangka sampel yang baik dan komprehensif, kita dapat yakin melakukan generalisasi hasil survey ke suara populasi.

Keteresedian kerangka sampel yang baik dan komprehensif merupakan salah satu kendala terbesar dalam melakukan survey di Indonesia. Hal ini banyak dikarenakan buruknya system administrasi / pencatatan terutama di level pemerintahan. Dalam kondisi terburuk ada kalanya kerangka sampel harus dibuat baru berdasar informasi dari berbagai  pihak terkait di lokasi survei.

  1. Teknik pengumpulan data.

Setiap teknik pengumpulan data memilik kelebihan dan kelemahan masing-masing. Apakah wawancara dilakukan secara tatap muka, melalui telpon, surat dan lain-lain. Setiap metode wawancara memiliki karakter, kelemahan dan kekuatan masing-masing. Hal-hal inilah yang perlu juga diperhatikan dalam membaca, menuliskan hasil survey.

  1. Tingkat respon rate

Idealnya survei mendapat respon baik dari responden (masyarakat). Tingkat respon itu dapat dilihat dari tingkat partisipasi responden yang diwawancarai. Akan tetapi dalam proses pelaksanaan survei adakalanya responden tidak dapat diwawancarai dengan berbagai alasan ; menolak diwawancara, tidak berada di lokasi selama survey berlangsung, meninggal dunia, sakit dan lain-lain. Kondisi responden yang tidak dapat diwawancarai ini sangat sering terjadi pada area perkotaan. Terlebih di kota-kota besar yang mobilitas penduduknya sangat tinggi. Maka tak jarang survey yang dilangsungakan di desa biasanya lebih cepat selesai dibanding dengan survey yang berlangsung di perkotaan.

Lalu mengapa respon rate ini penting ? respon rate penting karena bisa jadi responden yang tidak dapat diwawancara dengan berbagai alasan tersebut, opininya berbeda dengan responden yang dapat / bersedia diwawancarai. Jika menyimpulkan hasil survei hanya berdasar opini responden yang bersedia diwawancarai, hasil survei bisa jadi akan bias. Misalnya survey mengenai Kinerja PDAM Kota Makassar, dari 1000 Responden hanya ada 500 responden yang bersedia diwawancarai (respon rate = 50%). Katakanlah hasil surveinya ada 60% yang menilai kinerja PDAM Kota Makassar buruk. Dari hasil ini setidaknya ada 2 kemungkinan ;

  1. Opini dari calon responden yang tidak bersedia diwawancarai itu hampir sama dengan opini responden yang diwawancarai. Jika ini yang terjadi, kemungkinan tidak akan bias.
  2. Opini dari calon responden yang tidak bersedia diwawancarai tadi berbeda dengan opini responden yang besedia diwawancarai. Jika ini terjadi akan timbul bias.

Maka dari itu dalam membaca hasil survey harus melihat ; 1) Seberapa besar respon rate, 2) Apa saja alasan hingga responden tidak dapat / bersedia diwawancarai, 3) Penjelasan terkait respon rate yang rendah, apakah dikarenakan beberapa item pertanyaan saja ataukah semua pertanyaa.

  1. Non sampling error sudah ditekan seminimal mungkin.

Maksud poin 9 adalah tingkat kesalahan bukan pada metode akan tetapi pada aspek manusia (pelaku survei). Apakah prosedur serta tahapan-tahapan survei benar benar berjalan dengan baik ataukah tidak. Mulai dari proses merumuskan instrumen, proses sampling, wawancara, cleaning data, entri data, apakah berjalan dengan baik dan benar. Terutama bagaimana mekanisme quality control dilakukan. Penjelasan terkait tahapan-tahapan metode, entri data hingga bentuk-bentuik quality Control penting untuk disimak untuk menilai apakah procedural ilmiah berjalan dengan tertib atau tidak.

Sembilan poin di atas sangatlah penting diperhatikan dalam menilai, membaca data/hasil survei. Hal ini juga penting agar debat terkait hasil survey menjadi lebih ilmiah bukan saling menghujat dan saling mendiskreditkan yang justru kian menjauh dari pembahasan survey itu sendiri. Jikapun semuanya telah dilakukan akan tetapi masih ragu, ada mekanisme lain yang dapat di tempuh dalam menilai keilmiahan/validitas dari hasil survey, yakni dengan melakukan spot check. Metode spot check adalah proses memeriksa kembali prosedur kerja lapangan yang dilakukan oleh pewanwancara lapangan, mulai dari teknik sampling, proses wawancara, hingga edit data. Secara metode Spot check biasanya menggunakan total 20% responden yang sudah diwawancara untuk cek kembali apakah prosedur/tahapan metode survey sudah dilakukan dengan sesuai metode ataukah tidak.  Akhir kata, Selamat mencoba hal di atas.

Oleh: Irawan Amiruddin, S. IP M. Si

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *