Jangan Takut Makan Coto

Pernahkah anda menonton film To The Bone? Film ini bercerita tentang seorang wanita muda bernama Ellen (diperankan oleh Lily Collins) yang terobsesi untuk tampil kurus. Demi mengikuti obesesi tersebut, dia rela melakukan diet ekstrim agar memiliki tubuh ideal menurut keinginannya. Namun, diet ekstrim yang dilakukannya justru berdampak pada perubahan psikis dan pola pikir Ellen. Dia terus-terusan menganggap dirinya gemuk dan terus melakukan diet ekstrim. Padahal pada faktanya, tubuh Ellen sebenarnya sudah berada di bawah normal. Kondisi tersebut membawa Ellen pada penyakit Anorexia yang bisa mengancam jiwanya.

Film tersebut menunjukkan kita betapa seseorang bisa menggunakan berbagai macam cara agar terlihat “cantik” di mata orang lain. Meskipun hal tersebut dapat mengantarkan kita pada penyakit yang dapat mengancam tubuh kita. Fisik masih menjadi perhatian utama dalam berpenampilan. Sebagian besar manusia berlomba untuk tampil menawan, langsing, tinggi, dan memiliki kulit seputih salju.

Alfred Adler, seorang psikolog Austria, mengemukakan bahwa kehidupan manusia seperti itu cenderung termotivasi oleh dorongan untuk mengatasi perasaan inferior dan menjadi superior. Tingkah laku seseorang ditentukan utamanya oleh pandangan mengenai masa depan, tujuan, dan harapan kita. Terdorong oleh perasaan yang inferior, dan ditarik oleh keinginan agar menjadi superior, maka manusia akan mencoba untuk hidup sesempurna mungkin. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika banyak orang yang berusaha membatasi asupan kalori yang masuk ke dalam tubuhnya, bahkan ada yang rela untuk melakukan diet ketat dan ekstrim untuk mencapai hal tersebut.

***

Berbeda dengan cerita di atas, di Sulawesi Selatan, sebagian masyarakat terbiasa untuk menyantap makanan berat dengan jumlah kalori berlebih. Ada kebiasaan masyarakat Bugis-Makassar, mereka tidak hanya meminum teh, kopi, atau kue sebagai sarapan. Mereka juga terbiasa menyantap nasi kuning atau bassang (makanan khas Makassar yang terbuat dari jagung pulut). Pada siang hari mereka makan coto, pallubasa, atau sop konro (makanan berbahan utama daging). Malam hari, selain makan nasi dan ikan bakar, pilihan lain jatuh pada mie Titi atau mie Awa. Sebagai cemilan, mereka biasa  menyantap es pisang ijo, es cendol, pallubutung, pisang goreng, atau pisang epe. Jika ada rencana untuk tidur larut malam, songkolo bagadang menjadi pilihan utama sebagai santapan saat nonton bola atau hanya sekadar main domino. Dan satu lagi rahasia umum: Orang Bugis-Makassar belum menganggap diri mereka makan, sebelum memakan yang namanya nasi!

Kita bisa membayangkan berapa kalori yang dimakan oleh orang Bugis-Makassar dalam sehari. Padahal menurut ilmu kesehatan, asupan kalori yang dibutuhkan dalam tubuh manusia hanya sekira 2.200 kkal untuk perempuan dan 2.500 kkal untuk laki-laki tergantung dari aktivitas yang dijalani sehari-hari. Jumlah kalori yang terkandung dalam semangkok coto misalnya, berkisar 585 kkal. Hitungan itu belum termasuk kalau memakai formasi 212 (dua ketupat, 1 coto, 2 kacang). Jika di total jumlah kalori yang terkandung dalam makanan yang rata-rata dimakan oleh orang Bugis-Makassar dalam sehari itu, bisa mencapai 3.000 kkal bahkan lebih. Hal itulah yang menurut ilmu kesehatan dapat memicu penyakit seperti, obesitas, jantung, kolesterol, asam urat, stroke, dan diabetes.

Seorang pakar kuliner, William Wongso dalam bukunya “Flavors of Indonesia” membantah pernyataan di atas. William berpendapat bahwa pengaruh terbesar dari tingginya penyakit seperti jantung, kolesterol, asam urat,  diabetes dan sebagainya, semata-mata bukan karena jenis makanan yang berlemak. Lebih banyak faktor karena gaya dan pola hidup seseorang khususnya masyarakat perkotaan yang kurang melakukan aktivitas fisik, mengkonsumsi junk food dan menggunakan bahan makanan yang terpapar kimia berlebihan seperti pestisida, plastik bungkusan makanan, dan lain-lain.

Penyumbang terbesar efek buruk dari sebagian besar makanan itu bukan hanya berasal dari daging atau santan. Akan tetapi, berasal dari pengolahan makanan yang salah. Misalnya, pengolahan garam yang dipanaskan bersama dengan masakan. Pengolahan semacam itu membuat garam mengeluarkan zat yang berbahaya bagi tubuh. Efek jangka panjang bisa berdampak  pada tekanan darah tinggi,  jantung, kolesterol, dan sebagainya. Disarankan bila memasak, garam ditaburkan ketika masakan sudah matang atau dalam suhu normal.

Sebenarnya, makanan khas Indonesia yang cenderung berlemak memiliki penangkal atau penawar alami melalui bahan rempah yang digunakan sebagai bumbu. Semisal, kunyit sebagai antibiotik, lengkuas sebagai anti inflamasi, daun salam sebagai zat penangkal kolestrol, dan jahe yang baik untuk pencernaan. Oleh karena itu di setiap masakan tradisonal Indonesia yang menggunakan daging biasanya  wajib memakai daun salam yang fungsinya bukan hanya sebagai penguat rasa tetapi juga bermanfaat sebagai penangkal lemak jahat yang bisa menyebabkan kolesterol.

Mungkin itulah sebabnya orang-orang dulu walaupun sering memakan daging tetap baik-baik saja, dan biasanya berumur panjang. Mereka menerapkan pola hidup yang seimbang antara aktivitas fisik dan pola hidup teratur. Bahan makanan mereka juga belum terkontaminasi oleh penggunaan zat-zat kimia seperti pupuk kimia dan pestisida.

Salah satu penangkal alami yang sudah berlangsung lama di Sulawesi Selatan adalah kebiasaan mengkonsumsi jeruk nipis.. Jeruk nipis menjadi penambah wajib bagi setiap masakan di Sulawesi Selatan. Coto, pallubasa, sop saudara, konro, bahkan bakso belumlah lengkap tanpa jeruk nipis.

Sebuah penelitian dari Institute of Health Sciences Baltimore Amerika Serikat menyatakan, air jeruk nipis atau lemon efektif sekali untuk kanker, karena mengandung senyawa flavonoid unik yang mempunyai anti oksidasi serta anti kanker sehingga mampu membunuh sel kanker yang 10.000 kali lebih kuat dari chemotherapy, melalui 20 test di laboratorium sejak tahun 1970, ekstrak buah ini menghancurkan sel-sel ganas dari 12 macam kanker diantaranya usus besar, payudara, prostat, paru-paru dan pankreas. Dan terapi ini hanya menghancurkan sel-sel kanker yang ganas dan tidak mempengaruhi sel-sel yang sehat.

Jeruk nipis juga berfungsi sebagai penetralisir pada makanan, khususnya pada makanan yang berlemak. Kandungan kalsium, vitamin dan flavonoid dalam jeruk nipis dipercaya dapat mengurangi risiko penyakit diabetes, jantung dan kolesterol. Jeruk nipis juga dapat membantu melancarkan pencernaan karena kandungan rasa asam yang terdapat pada jeruk nipis merupakan asam sitrat, di mana ketika masuk ke dalam tubuh kita, senyawa tersebut akan bekerja sama dengan enzim-enzim serta jenis asam lainnya yang ada dalam tubuh kita guna menghasilkan sistem pencernaan yang sehat.

Oleh karena itu, sangatlah dianjurkan untuk  mengkonsumsi jeruk nipis setelah makan makanan yang berlemak seperti coto, pallubasa atau konro. Disarankan untuk mengkonsumsi jeruk nipis setiap hari setelah makan siang atau makan malam. Atau bisa dengan cara hemat. Caranya dengan mengambil segelas air hangat atau dingin kemudian tambahkan 2 sendok perasan jeruk nipis lalu diminum setelah makan. Bisa juga dengan menaruh 2 atau 3 irisan jeruk nipis atau lemon ke dalam gelas air minum kita. Atau kita dapat menaruh irisan jeruk nipis atau lemon tersebut pada gelas besar sepanjang hari, dan jika airnya habis cukup kita tambahkan saja air putih, jadilah itu sebagai minuman sehari-hari yang baik untuk kesehatan karena mampu menghambat terjadinya gejala segala penyakit. Minuman murah dengan khasiat luar biasa bukan?

Banyaknya manfaat dari jeruk nipis membuat orang Bugis-Makassar tidak bisa jauh dari buah tersebut. Bukan hanya untuk makanan yang berkuah seperti coto, pallubasa, dan konro, bahkan untuk makan nasi goreng pun orang Bugis-Makassar selalu menambahkan jeruk nipis. Tentunya, untuk sebagian orang luar Sulawesi Selatan mengganggap itu kebiasaan aneh, karena bagi mereka jenis makanan berkuah seperti soto-lah yang biasa memakai jeruk nipis. Bahkan sebagian hanya menggunakan cuka sebagai penambah rasa.

Maka, jangan heran apabila setiap warung atau restoran di Makassar selalu menyediakan jeruk nipis, apapun masakannya. Hal itu sudah menjadi kebiasaan orang Bugis-Makassar, sehingga keluar Sulawesi Selatan pun sebelum makan hal yang paling pertama dicari selain sambal adalah jeruk nipis. Dan jangan heran pula, jika Anda makan di warung atau restoran selalu terdengar kalimat,

“Daeng, ada jeruk nipis ta’?”

Andi Anna Rahayu,S.IP (abond)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *