Kejamnya Ospek Ta’ Senior!

Kampus Tanpa Mahasiswa akan hilang daya Pembaharuan, mahasiswa tanpa Kampus akan hilang daya pembangunan” (Anonymous)

SEORANG SENIOR POLITIK menghardik Kahar yang datang terlambat saat OPOSAN pada 2000 silam. Pakaiannya lusuh, sepatunya butut, dan tubuhnya berbau lumpur. Ia naik ke meja setelah sang senior memerintahkannya. Ia berdiri tegap dengan tatapan lurus ke depan. Senior yang tadi menghardiknya melemparkan sebuah pertanyaan.

Ko mau jadi apa sehingga kau pilih Ilmu Politik?” Kahar menjawab spontan dan tetap berdiri tegap.

“Mau jadi Pilot, Kak!”, jawabnya lantang.

Para senior yang mengospek, juga kawan-kawan seangkatan Kahar yang sedari tadi dibungkam ketakutan pun melepaskan tawa.

Tapi jawaban dengan keajaiban tak terkira Kahar tidak berhenti di situ. Senior kembali bertanya.

Ko hobi apa, Kahar?

Ia masih lantang menjawab, “main bola senior!”

Senior bertanya lagi, “Posisi apa kau kalau main bola?”

“Tiang gawang senior!”, jawab Kahar singkat.

Lagi-lagi orang-orang tertawa.

Tapi, hari itu adalah hari pelaksanaan OPOSAN. Jadi setelah tawa pecah, ada saja senior yang melayangkan sesuatu ke tubuh Kahar, berikut menghukum kawan-kawannya yang turut tertawa.

Itulah jawaban lucu nan unik dari seorang Kahar. Keunikan itulah yang selalu diingat oleh Agus Mawanda, dan kawan-kawan seangkatannya.

Kahar bukan hanya unik dalam penampilan dan ucapan, tapi juga punya kepedulian terhadap kawan-kawannya di Himpunan dengan caranya sendiri. Ia pandai menjala ikan. Di Unhas, ada dua danau yang cukup luas untuk sebuah kampus. Di sanalah ia menjala, nyaris setiap sore di awal ia menjadi mahasiswa. Jika Himpunan punya kegiatan dan kekurangan dana, maka ia siap menjala ikan danau untuk memenuhi kebutuhan konsumsi.

Ya, Kahar mengambil jala yang ia bawa dari kampungnya di Sinjai dan lalu memanggulnya ke danau. Ia berjalan kaki dari Pondokannya menuju danau. Setibanya di lokasi tujuan, ia melepas sandal jepitnya dan mulai menuruni tepi danau. Jika permukaan air sudah menyentuh puser atau dada, maka ia pun menebar jala dengan kecepatan dan kecekatan lengan kokoh seorang nelayan.

Mahasiswa Ilmu Politik angkatan 2000  berjumlah 29 orang.[1] Sembilan orang merupakan mahasiswa yang lolos melalui ‘jalur bebas tes’. Sisanya, 20 mahasiswa lolos melalui jalur UMPTN. Dari total mahasiswa, sembilan di antaranya adalah perempuan.

Bagi mahasiswa angkatan 2000, OPOSAN yang digelar oleh kepanitiaan angkatan 1998 adalah OPOSAN yang kejam.

“Senior HIMAPOL, kami rindu kasihmu serta menunggu cintamu… adalah bait kerinduan yang kerap mereka nyanyikan, namun bertepuk sebelah tangan. Rindu mereka justru berbalas dengan terpaan fisik dan mental yang menggentarkan. Setidaknya begitu yang Agus Mawanda rasakan.

Kepiluan mengikuti OPOSAN juga dituturkan oleh Abd Gani Renuat, mahasiswa asal Kepulauan Kei di Maluku Tenggara.

Di awal, setelah Gani mengetahui kelulusannya, ia merasa bangga. Jika ada kawan atau tetangga yang bertanya, Ale kuliah di mana? Dengan tegas ia menjawab, “Beta kuliah di Unhas, Bang.”

Tetapi kebanggaan itu segera sirna seiring Gani menginjakkan kaki di awal-awal harinya di Kampus Merah. Kebanggan itu melesap bak asap tersapu angin Laut Seram. Ketika ia mulai menyiapkan berkas pendaftaran ulang, dirinya seperti berhadapan dengan ‘monster-monster’ yang bersembunyi di balik benteng Kampus. Mereka bersiap memangsa siapapun yang berbau kencur, sang mahasiswa baru. Dalam aura ketidak-nyamanan itu, ia membesarkan hatinya agar bisa melewati masa-masa menakutkan tersebut.

Saat itu, Agustus 2000, bulan di mana matahari menyengat ubun-ubun, Gani tiba. Ia adalah pemuda asal Kei yang jaraknya 2000-an kilometer dari Kota Makassar yang membara. Ia memang pernah melewati masa-masa sulit konflik di Maluku. Tapi saat itu, ia tetap saja mengalami ketegangan menghadapi suasana baru.

Ketakutan yang sama juga dipaparkan oleh Agus Mawanda. Bukan hanya di tiga hari pelaksanaan OPOSAN yang membuatnya mengenang momen menakutkan. Bahkan di hari-hari sebelum dan sesudah OPOSAN.

Agus Mawanda menuturkan bahwa ada tujuh hari pra-OPOSAN dimana ia dan kawan-kawannya mengalami tekanan mental dan fisik. Belakangan, ia menyadari, sebagai mahasiswa Ilmu Politik, sang senior bagaimanapun membutuhkan “panggung dan penonton”. Itulah sebentuk basis yang melegitimasi eksisnya Sang Senior! Tontonannya adalah serangkaian intimidasi seolah tanpa ada akhir menyenangkan. Lakon-lakon berupa tamparan, pukulan dan hal-hal menjijikkan menjadi plot-plot cerita yang dimainkan. Semua itu harus ditanggung oleh kumpulan junior yang tak berdaya dihadapan himpunan. Sutradara pun memaksakan ‘lakon tanpa skrip’ untuk dimainkan oleh maba.

“Makan nasinya dulu!”, bentak senior saat lakon makan siang dimainkan.

Nasi bungkus itu maba buka dan mendapati nasi campur dengan lauk-pauk sederhana: sepotong ikan atau telur, tempe, sayur dan sesendok sambal. Mereka pun menuntaskan nasi bagian masing-masing dengan rasa hambar yang tak biasa.

“Sekarang makan lauknya!” bentakan kedua.

Maba melahap ikan hingga tandas. setelah itu, mereka diminta untuk menyantap sayur yang kuahnya sudah tak ada lagi. Mereka pun melalap dedaunan hijau layu hingga helaian terakhir. Tinggallah cabe di atas kertas pembungkus makanan dengan warna merah menyala. Bentakan senior kembali menggema.

“Sekarang, habiskan lomboknya!”, bentak senior bersambut senyum.

Maba menahan gaduh dan tak punya daya menolak apapun yang dititahkan senior. Mereka pun kepedisan begitu biji-biji dan kulit cabe itu menyentuh tepian lidah. Semua merasakan pedis. Pedis dilidah, pedih dihati. Senior tertawa senang.

Saat itu hanya ada satu gelas Aqua tersedia. Bukan segelas untuk setiap orang. Tetapi, satu gelas untuk seluruh maba yang berjumlah 28 orang!

Matik!

OPOSAN hari ketiga, banyak dari kawan Agus Mawanda tidak hadir. Senior menuduh ada pemboikotan dari maba. Mereka yang hadir hari itu pun menerima hukuman yang membabi buta.

“Senior sudah berada di luar konsep kewajaran dalam menyiksa kami,” kenang Agus Mawanda.

Sandiwara toh harus memiliki ujung pada akhirnya. OPOSAN ditutup dengan kemenangan sang penentu arah cerita, Senior. Sementara maba mensyukurinya sebagai akhir sebuah pembantaian.

*

SELANJUTNYA, MAHASISWA POLITIK 2000 mengikuti Self Introduction Program (SIP) di Benteng Rotterdaam. Di awal program, diajukan dua kandidat kepala suku: Agus Mawanda dan Gani maju berorasi di hadapan konstituen.

Di sela-sela kepenatan menerima asupan pengetahuan dari para senior dan narasumber dalam SIP, maba saling bercanda jika sedang berada di bangsal Benteng. Kahar dan beberapa kawan lain seperti Andri dan Maskur (keduanya telah berpulang) adalah bintang yang mengocok perut.

Setelah seluruh prosesi pengkaderan awal usai, tiba waktunya Bina Akrab. Salah seorang maba bernama Riri adalah anak seorang pejabat di Bulukumba. Jadilah pengurus Himpunan saat itu menyetujui pelaksanaan Bina Akrab di Pantai Bira. Untuk memudahkan pemberangkatan, pengurus mengajukan peminjaman bus kampus. Namun, karena alasan tertentu, permohonan itu tidak dikabulkan. Pengurus Himpunan pun mengupayakan pengadaan kendaraan dengan cara lain.

Dengan menyewa bus, mereka menuju Bulukumba. Sebelum tiba di Pantai Bira, rombongan anggota HIMAPOL singgah makan siang di rumah Riri. Saat itu ada kejadian menarik. Rum, maba berperawakan kurus dengan berat tubuh hanya 35 kilogram menunjukkan kemampuannya dalam menyantap makanan. Ibu Riri tercengang melihat Rum mampu menghabiskan tiga piring nasi–yang tentu saja bagi pria secara umum, tentu sulit menghabiskan 3 piring makanan. Kawan-kawan Rum menduga, di dalam tubuh Rum ada sebangsa jin yang rakus.

Setelah santap siang, rombongan melanjutkan perjalanan.

Setiba di Pantai Bira, rupanya bus kampus yang awalnya hendak dipinjam pengurus HIMAPOL berada di sana. Salah seorang petinggi kampus bersama keluarganya menggunakan bus tersebut. Kini pengurus HIMAPOL mengetahui alasan apa yang menyebabkan mereka tidak mendapatkan izin menggunakan bus tersebut.

Dengan perasaan dongkol, salah satu pengurus Himpunan saat itu, Ahmad Lutfi memobilisasi maba untuk berorasi dan memaki-maki petinggi kampus yang menggunakan bus. Bergantian mereka berorasi, termasuk sejumlah maba yang mencoba berkoar-koar dengan TOA. Tak puas dengan caci maki pihak rektorat, mahasiswa Ilmu Politik mencorat-coret badan bus. Alhasil, sebelum bus berangkat ke Makassar mengaangkut kerabat petinggi rektorat Unhas, beberapa mahasiswa, entah siapa, diminta membersihkan kalimat-kalimat yang memalukan di dinding bus tersebut.

Setelah kolaborasi protes antara senior dan maba hari itu, tanpa disadari suasana mulai cair. Mungkin inilah makna kegiatan Bina Akrab sebenarnya. Walaupun jalinan keakraban itu tidak pernah sempat terbahasakan.

**

AGUSMAWANDA MENGENANG peristiwa pada 2001. Saat itu masa peralihan kepengurusan dari angkatan 1997 ke 1998. Saat itu, beberapa pentolan pengurus HIMAPOL menghembuskan gagasan bahwa angkatan 1999 bisa saja bertarung dengan angkatan 1998 pada pemilihan ketua himpunan selanjutnya. Bagi Agus, hal ini agak aneh. Mengapa gagasan ini harus digulirkan, padahal biarkan saja proses suksesi berlangsung sebagaimana lazimnya sesuai urutan generasinya. Gagasan itu terus bergulir.Sepertinya, penggagas seperti Lutfi (ketua himpunan yang saat itu menggantikan Agus Muktamar yang mengundurkan diri) menyiapkan sejumlah skenario dan berkolaborasi dengan angkatan 1999.

“Apa kepentingan angkatan 1997 menghalangi dan membangun konspirasi menjatuhkan angkatan 1998?” demikian Agus Mawanda bertanya-tanya.

Saat pemilihan akhirnya usai dengan terpilihnya angkatan 1999 dan kesempatan angkatan 1998 mengurusi himpunan akhirnya kandas, Agus Mawanda menarik kesimpulan untuk dirinya sendiri—setelah dia mengetahui beberapa alasan mengapa angkatan 1997 melakukan hal itu.

“Politik terkadang kejam. Rupanya motif angkatan 1997 menghalagi 1998 adalah karena sejumlah program kerja kepengurusan 1997 tidak berjalan disebabkan oleh tidak adanya dukungan angkatan 1998,” simpul Agus.

Sebenarnya, bukan hanya Agus Mawanda yang menyimpulkan demikian. Kesimpulan itu lahir dari obrolannya bersama Hj. Sukmawati, Roni, Eka, Gani dan rekan lainnya.

Kepengurusan berikutnya, pada 2002, tibalah giliran angkatan 2000 melanjutkan estafet kepengurusan di HIMAPOL. Ada 4 calon ketua saat itu yakni Roni Syamsul, Eka Syafran, Andri Aksari (Alm) dan Agus Mawanda. Keempat calon ini mewakili sejumlah “aliran” yang berkembang saat itu. Roni adalah alumi IMMIM Putra yang dianggap mewakili anggota HIMAPOL beraliran ‘Islam radikal’. Sementara itu, Eka Syafran dan Andri (Alm) mewakili mahasiswa mahasiswa HIMAPOL beraliran ‘Liberal’ dan Agus Mawanda, yang saat itu mendapat dukungan mayoritas kawan-kawan seangkatannya, dianggap mewakili aliran ‘Moderat’ di himpunan.

Namun, di luar dugaan, Agus Mawanda yang oleh sejumlah kawan-kawannya memilih mengundurkan diri dari pencalonan. Protes pun tidak terelakkan yang datang dari pendukungnya. Erna Aprianti, Hamria, Riri, Erna Soppeng, Islah, Yusri dan yang lainnya menyebut Agus Mawanda sebagai orang egois, jahat, dan tidak peduli kepada angkatan 2000.  Bahkan yang lebih dramatis lagi, Erna Aprianti dan Hamria sampai meneteskan air mata sebagai ekspresi kekecewaan mereka. Kecewa yang teramat mendalam atas keputusan Agus mundur dari pencalonan. Setelah menyampaikan kekecewaan itu, mereka menjauhi Agus Mawanda selama satu semester. Menyadari kekeliruannya itu, Agus Mawanda menerima sangsi moral dari pendukungnya dan memilih tidak aktif sama sekali di HIMAPOL. Eka Syafran lah yang pada akhirnya memenangkan pemilihan dan menjabat sebagai Ketua Himpunan.

Peralihan kepengurusan di HIMAPOL penuh dengan eforia dan drama kekecewaan. Tidak dapat disangkal, di beberapa peralihan merupakan buah dari kekecewaan yang terjadi selama kepengurusan sebelumnya. Kekecewaan yang berbuntut konflik lintas generasi dan pada akhirnya muncul kepermukaan di tengah momentum pemilihan. Buah kekecewaan berbentuk konflik tidak hanya terjadi antar lintas generasi saja, tapi juga di internal masing-masing generasi HIMAPOL. Konflik adalah sebuah keniscayaan. HIMAPOL bisa menjadi wadah resolusinya. Atau, mungkin IKAPOL yang bisa mewadahinya.[]

[1]Abd Gani Renuat; Abdal; Abustam; Agus Mawanda; Andi Baso Akbar (alm); Andri Aksari (alm); Arista Astrib; Dias Maulana Dai; Eka Syafran; Erna Aprianti; Ernawati; Fahrul; L Habibie; Hamriah; Intang Kumalasari; Islah; Jamal; Kahar; Khaeril Anam; Maskur Alwi; (alm); Muh. Rum; Rahma; Rony Samsul; Santi; Serly Sarda; Sri Ramadhan; Sukmawati; Supran Sultan; Yusri Maezal.

 

Penulis

Agus Mawanda, Hj. Sukmawati, Abd. Gani Renuat

 

2 thoughts on “Kejamnya Ospek Ta’ Senior!

  • August 30, 2017 at 4:18 pm
    Permalink

    Saya pribadi waktu itu mendukung angkatan 99 untuk bertarung di pemilihan himapol dengan alasan agar angkatan 98 bisa fokus dan disiapkan untuk percepatan regenerasi di pengurus senat Fisip. Dan seingatku waktu itu saya sempat diskusi dengan saudara aan 98. Dan Alhamdulillaah Ali said akbar terpilih menjadi ketua senat Fisip. Secara potensi solidaritas dan kerja-kerja angkatan 98 saat itu sangat layak untuk di level senat. Demikian terima kasih. Salam untuk seluruh keluarga Himapol dan Ikapol Unhas.

    Reply
  • August 30, 2017 at 5:15 pm
    Permalink

    Keren ceritanya Boss. Rindu jg dengan suasana ospek jaman dulu.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *