Urbanisasi Masyarakat Pegunungan dan Dinamika Kota Jayapura

 

PAPUA, “surga kecil yang jatuh ke bumi”, entah dari mana istilah ini datangnya tetapi begitulah orang-orang biasa menyebutnya. Wilayah di ujung Timur Indonesia dengan luas mencapai hampir 808.105 km² ini juga dikatakan sebagai “Jakarta” kedua, dikarenakan bayaknya suku bangsa yang datang dan tinggal di Papua. Dengan penduduk asli yang dibagi kedalam dua kelompok besar, yaitu Papua pegunungan atau pedalaman, dataran tinggi dan Papua dataran rendah dan pesisir.

Pada kesempatan kali ini saya akan sedikit membahas tentang urbanisasi atau perpindahan masyarakat ke pusat-pusat kota di Papua, khususnya bagi saudara-saudara kita yang berasal dari pegunungan Papua, karena persebaran mereka yang saya rasa agak tidak alamia dan merata sehingga merambat sampai ke dinamika sosial seperti sentimen atau mosi tidak percaya diantara sesama masyarakat Papua dan pendatang yang kerap kali menimbulkan gesekan di dalam kehidupan bermasyarakat.

Sampai saat ini urbanisasi merupakan hal yang terus berkembang di Papua. Tak terkecuali kota Jayapura dengan lebel sebagai ibu kota Provinsi Papua, banyak yang menjadikan Jayapura sebagai tujuan berikut. Baik yang datang untuk menetap dalam jangka waktu lama maupun singkat, telah memberikan ancaman tersendiri bahwa timbulnya kepadatan penduduk karena adanya keterbatasan wilayah di Jayapura yang tidak sebanding dengan banyaknya penduduk yang tinggal di Jayapura.

Terjadinya urbanisasi masyarakat gunung ke pusat-pusat kota di Papua sampai sekarang pun sudah sampai ke daerah-daerah Selatan Papua seperti Merauke dan Asmat yang secara topografi adalah daerah dataran rendah berawah. Sebuah keanehan jika dilihat, mengingat hampir semua masyarakat gunung tipikalnya bercocok tanam, bukan meramu seperti orang-orang pesisir dataran rendah pada umumnya.

Secara bersamaan terdapat sejumlah Kabupaten yang dimekarkan pada beberapa wilayah di Pegunungan Tengah, sehingga kalau saja ingin mencari penghasilan bukanlah sesuatu yang sulit bagi mereka. Bukan rahasia lagi kalau perputaran uang di daerah pegunungan begitu besar dengan istilah di Papua sering diebut “uangbes” yang artinya uang besar. Begitupun dengan sumber daya alamnya, bisa saja diolah oleh mereka untuk menghasilkan nilai ekonomis.

Ditambah sejak 2013 lalu, kebijakan Gubernur Papua dengan memberikan dana (Otsus) Otonomi Khusus sebesar 80 persen ke seluruh kabupaten di Provinsi Papua dengan menaruh perhatian tinggi pada empat sektor utama yakni pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi rakyat dan pemenuhan infrastruktur dasar. Namun tidak serta merta membuat masyarakat berkeinginan untuk mengembangkan daerahnya dan lebih memilih untuk keluar dan berdomisili ke kota lain di Papua.

Parahnya, pindahnya mereka dan memillih menetap ke kota-kota besar di Papua tidak di ikuti dengan kemampuan untuk bersaing dengan masyarakat pendatang dari luar Papua. Saya sendiri ketika melewati pusat-pusat keramaian di Jayapura seperti di Expo dan Perumnas 3 Waena, sering melihat begitu kentalnya kesenjangan sosial yang memisahkan antara Papua Pantai, Papua Gunung, dan masyarakat Pendatang. Banyak masyarakat pegunungan yang terlihat lebih ke arah pra-sejahtera. Ketika sebagian dari mereka tidak mendapatkan pekerjaan, mudalah mereka untuk dimanfaatkan.

Saya berandai-andai jika saja jarak dari Wamena ke Jayapura bisa ditempuh dengan berjalan kaki 5 sampai 6 hari, tetapi untuk mengakses daerah-daerah seperti Biak, Kaimana, Manokwari dan daerah Selatan Papua lainnya pasti membutuhkan kapal ataupun pesawat terbang karena jarak yang jauh dan sebagiannya terpisahkan oleh laut. Sehingga saya melihat urbanisasi bagi masyarakat gunung yang terjadi beberapa tahun terakhir terkesan seperti mobilisasi massa yang sengaja didesain.

Setidaknya dari hasil diskusi dengan beberapa sahabat. Pada tahun 2001 ketika meninggalnya bapak Teis Eluay sebagai tokoh masyarakat Jayapura pada saat itu. Masyarakat Papua merasakan suatu kehilangan yang luar biasa sehingga ikatan emosional antara sesama orang Papua terjalin begitu erat, mereka hidup bersama tanpa adanya masalah-masalah sosial yang berarti. Namun semakin kesini ketika terjadinya urbaniasi dari luar Jayapura ditambah masalah transmigrasi yang terjadi secara terus menerus, mulai menciptakan masalah lain. Dengan latar belakang sosial yang berbedah berpengaruh terhadap perilaku dan sikap dari beberapa komunitas masyarakat sehingga menjadi gesekan dan menimbulkan konflik.

Berkaca pada beberapa kejadian ketika pecahnya konflik di Jayapura, seperti kasus Nafri di tahun 2008, di ikuti oleh konflik-konflik komunitas lainnya yang terjadi seperti tahun 2009 pada kasus Yahim di Kabupaten Sentani, pembakaran rumah di Kampung Yoka di tahun 2010 antara masyarakat gunung dan orang Sentani dan kasus yang juga terjadi di Organda, Abepura pada tahun 2015. Hal ini membuat sebagian komunitas memilih menjaga jarak dengan komunitas masyarakat dari gunung.

Konflik komunitas pun semakin terjadi, di ikuti kasus-kasus pembunuhan misterius lainnya. Memang sebagian dari kasus di atas karena konflik komunitas, bisa diselesaikan secara musyawarah tetapi selain dari pada itu pelakunya bahkan tidak ditemukan. Sehingga berbagai konflik yang terjadi sejak tahun 2008 kesini membuat munculnya satu identitas kuat antara pendatang dan Papua pantai untuk melawan masyarakat gunung. Dari sini juga, makin banyak timbulnya Paguyuban-Paguyuban, salah satunya Paguyuban Nusantara di Arso, dimana perna saya mendengar bahwa paguyuban nusantara ini mengejar sekumpulan masyarakat gunung diakibatkan meninggalnya seorang ibu.

Urbanisasi terus menjadi masalah sosial yang senantiasa mewarnai kehidupan perkotaan dengan berbagai permasalah yang tidak pernah berhenti. Ditambah tidak adanya ruang perjumpaan yang dibangun antara sesama komunitas ditambah komunitas yang masih menutup diri dan belum membuka diri dengan komunitas lain membuat masalah urbanisasi terus berlanjut.

Banyak program yang telah dibuat pemerintah daerah dengan melakukan pembangunan yang dimulai dari kampung namun penghambatnya adalah program – program yang dibuat tidak didukung oleh semua elemen. Padahal program tersebut bertujuan untuk membangun Papua kedepannya lebih baik sehingga mengurangi berbagai masalah yang tujuan akhirnya adalah perdamaian di papua dapat tercipta.

Penulis

Kristmas Tawurutubun, S.HI

Pegiat Sekolah Menulis Papua

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *