AKSI AFIRMASI: Integrasi Mental dan Ilmu

 

Dalam bukunya, Perjuangan Melawan Kalah, Nasihin Masha menuliskan motivasi dasar Mahathir Muhammad membangun Malaysia keluar dari tiang gantung kemiskinan. Adanya kesenjangan sosial yang terjadi antara kaum pribumi (ras melayu) dengan etnis Tionghoa dan pihak Asing menjadi kegelisahan besar baginya yang kemudian dituliskan dalam bukunya The Malay Dilemma. Gagasan yang sangat kontroversial itu sekaligus sebagai jalan dipecatnya dari UMNO akibat protes kerasnya atas tidak sensitifnya pemerintah menangani konflik ras melayu dengan etnis Tionghoa pada 13 Mei 1969 di Kuala Lumpur yang menewaskan 184 orang.

Saat mendapatkan kesempatan dalam perubahan konstalasi politik di UMNO, gagasannya kemudian diberi ruang oleh PM Tuan Abdul Razak. Pemerintah kemudian meluncurkan New Economy Policy (NEP). Nawa cita dari program yang dijalankan adalah adanya penghapusan diskriminasi, dan kesenjangan atas akses ekonomi yang sangat rasial.

Pada tahun 1975, pemerintah memberikan kesempatan kepada kaum pribumi mengembangkan diri melalui backing kebijakan dengan memberi insentif pengembangan industri manufaktur dan insentif untuk ekspor. Atas kebijakan tersebut, kemiskinan yang semula 52 persen pada tahun 1970, pada 2004 menjadi 5 persen saja.

Dulu Malaysia belajar ke Indonesia, sekarang kita harus berbesar hati balik belajar dari cara pemimpinnya memperlakukan rakyatnya.

Sebagai bangsa yang memiliki kekayaan yang luar biasa, Indonesia hanya menunggu momentum menemukan figur seperti Mahathir Muhammad untuk menjadi bangsa besar. Namun perlu kita sadari bahwa dalam kondisi kekinian, kita membutuhkan sinergi atau kolaborasi menuju ke sana, setiap dari kita harus menjadi figur yang di-representasi-kan Mahathir dalam hidupnya untuk berkontribusi bagi banyak orang.

Dominasi ke-tidak-berdaya-an masyarakat adalah representasi ketidak mampuan stakeholder menjalankan perannya secara konsisten. Indeks gini rasio berada di angka 0,44 terbesar sepanjang sejarah bangsa ini. Angka tersebut menunjukan semakin melebarnya kesenjangan sosial di masyarakat kita. Antara si miskin dan si kaya semakin mengalami stratifikasi ekonomi yang semakin jauh, dan berdampak pada dimensi kehidupan yang lain. Dominasi ekonomi akan berujung pada dominasi politik, budaya, pendidikan, seni, olah raga dan sejarah yang tercatat hanyalah cerita kelam.

Tercatat dalam sejarah cikal bakal perkembangan perilaku masyarakat modern, sebelum Rockefeller dan para mitranya mengintervensi kurikulum pendidikan di Amerika, aktivitas masyarakat lebih pada perdagangan. Namun setelah masuk era industri, para elit di Wall Street mulai gelisah akibat kurangnya tenaga kerja yang bisa menjalankan aktivitas industri. Maka kuasa ekonomi mengubah haluan pendidikan.Derivasi dari kebijakan tersebut adalah terbentuknya manusia yang senang bekerja di katoran, di pabrik dengan segala remeh temeh godaannya.

 

Menakar kuasa ekonomi yang didominasi sekelompok kalangan di Indonesia.

Ketika ekonomi menjadi sangat sentralistik di kalangan segelintir elit saja berarti pula bahwa ada dominasi di bidang lain sebagai upaya mempertahankan akumulasi kapital secara terus-menerus. Dari dimensi politik, corak kekuasaan yang terbangun adalah terjadinya oligarki dan dinasti politik, dalam level yang lebih luas akan terjadi kartelisasi politik dimana pihak penyelenggara negara bersama-sama menguras keuangan negara melalui kebijakan yang disepakati secara transaksional pragmatis.

Tak berhenti dalam satu aspek, dimensi berikutnya adalah melihat kecenderungan gaya hidup masyarakat sebagai turunan dari budaya kemudian melakukan intervensi.  Dalam konteks ini, masyarakat akan terus digiring untuk sejalan dengan keinginan pasar. Pilihan-pilihan masyarakat akan dtentukan oleh simulasi-simulasi yang dikonstruksi oleh media. Konsekuensi dari framing media adalah timbulnya konsumtivisme, hedonisme, dan terbebasnya individu dari rekat nilai dan norma budayanya secara perlahan. Secara gamblang, konsumtif identik dengan perilaku boros yang mengonsumsi barang atau jasa secara berlebihan. Pilihan konsumsi tidak lagi berdasar pada faktor kebutuhan dan skala prioritas melainkan prestise dan gaya hidup bermewah-mewah. Perilaku ini dalam perkembangannya akan menjadi candu bagi pelakunya dan lambat laun diyakini sebagai penyakit jiwa.

Dalam bukunya Stop Mencari Uang!, Bernhard Limbong mengemukakan nalar Freudian terkait konsumtivisme. Dalam hal ini,  hasrat untuk mengonsumsi secara berlebihan adalah sesuatu yang bersifat instingtual. Ia berada dalam fase pertama perkembangan struktur psikis manusia: yaitu id. Pade fase id ini, semua tindakan mengacu atau didasari oleh prinsip kesenangan-kesenangan yang besifat spontan. Tindakan untuk mencapai kepuasan dan kesenangan spontan ini dalam fase id bersifat irasional.

Masyarakat Konsumer menurut Jean Braudillard disebut dengan masyarakat kapitalis muthakir dan Adorno dengan masyarakat komoditas. Adorno mengemukakan  empat aksioma penting yang menandai “masyarakat komoditas”atau “masyarakat konsumer”. Empat aksioma tersebut, meliputi: Pertama, masyarakat yang di dalamnya berlangsung produksi barang-barang, bukan terutama bagi pemuasan keinginan dan kebutuhan manusia, tetapi demi profit dan keuntungan. Kedua, dalam masyarakat komoditas, muncul kecenderungan umum ke arah konsentrasi kapital yang massif dan luar biasa yang memungkinkan penyelubungan operasi pasar bebas demi keuntungan produksi massa yang dimonopoli dari barang-barang yang distandarisasi. Kecenderungan ini akan benar-benar terjadi, terutama terhadap industri komunikasi.

Ketiga, hal yang lebih sulit dihadapi oleh masyarakat kontemporer adalah meningkatnya tuntutan terus-menerus, sebagai kecenderungan kelompok yang lebih kuat untuk memelihara, melalui semua sarana yang tersedia, kondisi-kondisi relasi kekuasaan dan kekayaan yang ada dalam menghadapi ancaman-ancaman yang sebenarnya mereka sebarkan sendiri.

Keempat, karena dalam masyarakat kita kekuatan-kekuatan produksi yang sangat maju, dan pada saat yang sama, hubungan-hubungan produksi terus membelenggu kekuatan-kekuatan produksi yang ada, hal ini membuat masyarakat komoditas sarat dengan antagonisme. Antagonisme ini tentu saja tidak terbatas pada ranah ekonomi tetap juga ke ranah budaya.

Era kita telah diperhadapkan pada kondisi yang kompleks, era yang memberi keleluasaan berekspresi termasuk dalam hal memproduksi. Dalam konteks bernegara, hal tersebut mendapatkan perlindungan hukum, artinya praktik tersebut telah melewati legalisasi. Dibalik intervensi yang tak kasat mata ada celah dimana negara kewalahan memproteksi masyarakatnya menuju ruang hampa sosial yang ditandai ketidak seimbangan antara jiwa dan raganya dengan identitas baru manusia kekinian yang terus dieksploitasi oleh bangunan peradaban yang mencabut nilai-nila dasar budaya kita dan menggantinya dengan budaya baru yang diglobalkan dan kita dipaksa tunduk dan mencicipinya lalu kemudian latah menyandangnya hanya karena kita tidak ingin dipandang kolot dan tidak mengikuti trend zaman.

Bebrapa tahun lalu, balantika musik nasional tersentak oleh kabar keluarnya beberapa pentolan musisi papan atas  di negeri ini, sebut saja Reza ex drummer Noah, kemudian Derry gitaris band Betrayer salah  satu band papan atas beraliran cadas Trash Metal yang tergabung dalam Metalik Klinik dengan hitsnya Bendara Kuning, selanjutnya di bulan februari 2015, Berry Manoch vokalis band Saint Loco dengan aliran Hip Metal salah satu aliran musik yang sangat digandrungi kalangan muda juga mengambil keputusan yang sama dengan Derry Sulaiman, menjadi muallaf dan berhenti dari aktivitas grup bandnya. Dari segi popularitas seharusya mereka menikmati pencapaian mereka selama ini. Ketika ditanya alasan keputusan mereka, ketiganya memiliki pandangan yang sama. Di balik keteneran meraka terdapat ruang hampa yang mereka rasakan, jauh membawa mereka pada keterpurukan hidup. Kebesaran nama mereka di bidang musik berbanding terbalik dengan apa yang mereka rasakan, puncak pencarian mereka justru adalah kesederhanaan hidup, ketenangan batin dengan menekuni ajaran agama serta menjauhi kehidupan glamor mereka.

Substansi yang diperjuangkan Mahathir Muammad membebaskan rakyatnya dari belenggu monopoli ekonomi adalah upaya intelektual yang termanifestasi dalam setiap pilihan dan kebijakan yang ia hadirkan dalam dunia nyata,begitupun dengan Reza, Derry Sulaiman, dan Berry Manoch (Sekarang Muhammad Berry Al Fatah), adalah upaya mencari antitesis dari pengalaman yang telah dijalani, sekaligus sebagai bentuk dialektis melwan kalah.

Secara perlahan hal demikian akan menjadi bundelan besar sebagai aksi afirmasi untuk mentransmisikan nilai-nila kebaikan bagi sesama. Rasulullah bersabda “Hairunnas anfa’uhum linnas” bahwa “ Sebaik-baik manusia diantara kalian adalah yang banyak bermanfaat bagi orang lain.” (H.R Bukhari Mslim).

Ada yang menginspirasi dan ada yang terinspirasi, seperti itulah kebaikan ditularkan. Tokoh-tokoh besar jadi panutan karena kemampuan mereka mengintegrasikan kekuatan mental dan ilmu yang mereka miliki untuk memberi asa bagi orang lain. Melakukan aksi afirmasi (penguatan) untuk menemukan arti hidup yang sebenarnya.

 

Penulis

Andries Riesfandhy

Direktur Serum Institute

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *