Kepayahan Feminisme Membendung Kapitalisme Fashion

Bagi warga negara Indonesia, merayakan kemerdekakan Indonesia ke-72, tentu membawa semangat luar biasa dalam memaknai kebebasan. Semua orang memaknai kemerdekaan dalam bentuk kebebasan. Bebas  melakukan sesuatu terhadap hidupnya, termasuk menentukan posisi dan peran dalam dunia sosial. Bagaimana perempuan Indonesia memaknai kebebasannya?

Semangat kemerdekaan ini, seharusnya menginspirasi pemikir maupun para penggiat Gerakan Perempuan untuk melahirkan sesuatu yang baru dan lebih baik pada 2017 ini. Dalam artian, menghasilkan pemikiran-pemikiran yang segar dan juga lebih baik tentang ideologi dan gerakan perempuan. Bukannya menafikan pemikiran atau gerakan-gerakan yang sudah ada, tetapi menurut penulis para pemikir dan penggiat gerakan perempuan harus menghasilkan sesuatu yang lebih substantif dalam pemikiran ataupun gerakan sosial yang digelutinya.

Harus diakui, bahwa gerakan perempuan sudah banyak menuai keberhasilan diberbagai bidang. Kebanyakan perempuan saat ini sudah tidak lagi terdomestikasi pada pekerjaan-pekerjaan rumah tangga yang mengakibatkan dirinya teralienasi dari dunia sosial. Perempuan saat ini sudah berada pada posisi yang lebih maju dan hampir setara dengan laki-laki dalam lingkungan sosial. Isu-isu seksis seputar spesialisasi pekerjaan, perlahan mulai memudar dan tergantikan dengan dengan jargon-jargon persamaan hak antara gender laki-laki dan perempuan. Bila kita perhatikan, maka sekarang banyak perempuan yang memimpin laki-laki ataupun melakukan pekerjaan laki-laki. Semua ini adalah dampak dari gerakan emansipasi yang digadang-gadangkan para pejuang gerakan perempuan.

 

Pertanyaan klasik terkait kesetaraan hak

Kondisi kesetaraan ini kemudian memunculkan kembali pertanyaan klasik yang selalu diajukan oleh kaum emansipatorik perempuan. Sudah setarakah posisi antara laki-laki dan perempuan? Khusus untuk jawaban dari pertanyaan ini, penulis berani berkata dengan lantang bahwa kesetaraan antara laki-laki dan perempuan belum terwujud. Karena dalam dunia sosial meskipun kesetaraan kedudukan antara laki-laki dan perempuan mulai terwujud, namun kesadaran individu dan konstruksi sosial dalam identifikasi diri serta simbolisme sebagai laki-laki dan perempuan masih menunjukkan hubungan dominasi yang kental, utamanya dalam hubungan antara subjek dan objek.

Konstruksi sosok perempuan dalam dunia sosial masih merujuk kepada sebuah tatanan simbolik dimana perempuan dikonstruksikan sebagai objek hasrat lelaki (phallus), dimana diskursus perempuan masih berpusat pada pengejewantahan diri perempuan yang menjadi oposisi biner dari sifat-sifat maskulin, sekaligus objek dari maskulinitas tersebut. Bukan hanya laki-laki yang menjadikan perempuan sebagai objek hasrat seksualnya, tetapi perempuan juga sebaliknya mengkonstruksikan subjektifitasnya sebagai subjek yang memiliki hasrat untuk menjadi objek phallic (hasrat laki-laki). Identitas diri yang terbangun pada diri seorang perempuan saat ini adalah identitas yang teridentifikasi pada phallic. Disinilah ketidaksetaraan antara laki-laki dan perempuan terjadi.

Dalam dunia sosial, laki-laki (heteroseksual) menjadikan dan memandang perempuan sebagai perwujudan hasrat seksualnya, sedangkan perempuan mengidentifikaskan dirinya pada hasrat seksual laki-laki.

 

Perempuan dan Fashion

Mungkin pernyataan penulis agak sedikit membingungkan, atau mungkin bagi sebagian orang akan terkesan mengada-ada. Akan tetapi, inilah realitas sosial yang berkembang dalam kebudayaan global saat ini. Meskipun isu-isu seputar persamaan hak antara laki-laki dan perempuan sangat intens dibicarakan, namun hal ini menjadi kurang berarti ketika melihat perilaku sosial masyarakat sebagai wujud dari orientasi kebudayaan masih menempatkan diri perempuan sebagai objek dari hasrat seksual laki-laki.

Dalam tinjauan psikoanalisis dengan gaya Lacanian, penulis mencoba mengungkap tatanan simbolik dari diskursus tersebut dengan merujuk kepada fashion sebagai salah satu atribut penanda dari diskursus perempuan. Karena bagi penulis, dalam fashion, tidak ada gerakan emansipatorik yang menggerakkan emansipasi hak-hak perempuan. Sehingga dalam fashion, perempuan menjadi objek penderita dari eksploitasi kapitalisme, sekaligus wujud dari sebuah subjek yang dengan pasrah, atau bahkan dengan senang hati menjadikan diri sebagai objek hasrat lelaki.

Perhatikanlah perkembangan mode fashion dari dulu hingga sekarang. Dalam dunia fashion perbedaan jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan mengalami distingsi yang sangat besar sebagai sebuah objek eksploitasi kapital yang sangat menguntungkan. Fashion untuk perempuan adalah sesuatu yang berbeda dengan fashion laki-laki. Fashion laki-laki selalu dituntut untuk menunjukkan sisi maskulinitas pemakainya, sedangkan fashion bagi perempuan selalu mengeksploitasi feminitas dari perempuan yang memakainya. Feminitas yang dimaksud disini adalah sensualitas dan seksualitas perempuan yang sengaja dieksploitasi dan ditonjolkan untuk meninggikan kesan perempuan bagi pemakainya. Hal ini bisa kita lihat dalam wujud model pakaian perempuan yang selalu berusaha menonjolkan sisi feminitas perempuan dengan menggunakan penanda-penanda seksualitas, seperti payudara, pinggul, bokong dan paha bahkan vagina. Coba bandingkan dengan fashion pria yang jarang sekali menonjolkan maskulinitas melalui eksploitasi alat kelamin laki-laki.

Dalam dunia fashion, tatanan simbolik perempuan dikonstruksi menjadi sebuah objek hasrat seksual laki-laki. Penonjolan-penonjolan alat kelamin perempuan dalam fashion menjadi penyebab sulitnya memisahkan konstruksi perempuan dari dunia phallic. Begitu juga dengan perluasan seksualitas perempuan yang tidak hanya ditujukan untuk kaum lelaki, namun juga ditujukan pada eksploitasi perempuan oleh kapitalisme. Seksualitas yang dulunya hanya terbatas pada vagina dan payudara, sekarang diperluas pada bagian-bagian tubuh yang lain seperti kulit, bibir, pantat dan paha. Bagian-bagian tubuh perempuan ini, dalam fashion mengalami eksploitasi yang luar biasa untuk dikembangkan menjadi penanda erotisme sensualitas untuk membangkitkan hasrat seksual laki-laki dan menjadi liyan imajiner (diri yang lain) perempuan yang memungkinkan eksploitasi ekonomi terhadap diri perempuan dalam moda fashion seperti busana dan kosmetika.

Dalam dunia fashion, para kapitalis membentuk perempuan sedemikian rupa dalam tatanan kebudayaan popular untuk menjadi simbolisasi dan perwujudan hasrat laki-laki (Phallic). Hal ini dikontrol dengan penerapan sosialisasi melalui media dan penerapan norma dan nilai dalam budaya yang menempatkan perempuan sebagai sebuah objek, dimana hasrat perempuan adalah untuk menjadi objek hasrat laki-laki. Dalam artian, hasrat perempuan disimbolisasikan dalam phallus. Hal ini bisa kita lihat dengan berbagai tatanan norma dan nilai dimana perempuan diharuskan tampil cantik dan seksi, yang merupakan sebuah bentuk konstruksi wacana yang berorientasi pada kedirian perempuan sebagai objek phallic.

Identifikasi diri perempuan pada hasrat laki-laki inilah yang mendorong perempuan memodifikasi diri dan mengeksploitasi erotisme sensualitas dan seksulitasnya dengan berbagai hal yang menyangkut perluasan fungsi seksualitas secara tidak sadar. Dikatakan tidak sadar, karena perempuan sendiri tidak tahu dan tidak mengerti apa yang menjadi dasar mereka berbuat seperti itu selain untuk tampil cantik atau seksi. Mereka tidak menyadari bahwa identifikasi diri semacam ini adalah wujud identifikasi diri perempuan terhadap hasrat seksual lelaki. Hal ini kemudian semakin disamarkan oleh pencitraan perempuan dalam media, serta sosialisasi nilai dan norma perempuan dalam masyarakat. Maka jadilah perempuan sebagai objek hasrat laki-laki dan sekaligus menjadi objek eksploitasi kapitalis tanpa sadar.

Perempuan dalam Patriarki dan phallosentrisme

Jika ditelusuri lebih jauh, maka persoalan tesebut bermuara pada kebudayaan patriarki yang menempatkan perempuan pada posisi dimana dia berperan sebagai objek dari phallus. Disini perempuan diberikan liyan imajiner yang merupakan idealisasi dari perwujudan perempuan sempurna untuk memenuhi hasrat seksual laki-laki. Menurut Anda (para pembaca) kemanakah arah sensualitas dan seksualitas akan berakhir atau bermuara?

Walaupun hal tersebut kadang dikemas dengan berbagai atribut yang menyamarkan substansinya. Sehingga dalam praktiknya dalam kehidupan sosial, perempuan tidak merasa bertindak sebagai objek phallic tetapi bertindak atas subjektivitas dirinya sebagai perempuan. Hal ini dikarenakan oleh diskursus tentang perempuan selalu diusahakan untuk menyentuh hasrat narsistik seorang perempuan. Keadaan ini menjadikan perempuan sulit untuk lepas dari sudut pandang phallosentrisme yang melingkupinya.

Tatanan simbolik perempuan dalam dunia Phallic dikonstruksikan dengan berbagai atribut yang menyamarkan nilai phallic sebagai muara dari diskursus tersebut. Sensualitas, seksualitas serta erotisme perempuan dielaborasi dalam tataran dimana perempuan secara tidak sadar dikonstruksi menjadi objek phallic.Seperti dalam fashion dengan penonjolan sensulitas sebagai representasi dari alat kelamin dalam simbolisasi perempuan, ataupun perluasan alat kelamin perempuan yang secara tidak langsung diarahkan pada pemuasan hasrat laki-laki heteroseksual. Kulit yang mulus dan bibir yang indah dalam balutan gincu, atau gerak-gerak erotis dalam tarian yang berbalut seni, serta pakaian indah yang menonjolkan lekuk-lekuk seksualitas perempuan, merupakan penyamaran liyan imajiner perempuan bagi keinginannya terhadap phallus.

Konstruksi sosial yang sangat kuat ini, berlangsung di alam bawah sadar perempuan.Karena rasionalitas yang terbentuk dari hal tersebut tidak langsung diarahkan pada phallus, tetapi disamarkan dalam bentuk sensualitas dan erotisme sosial yang mengkonstruksikan perempuan. Sehingga perempuan sebagai objek phallus merasa diri sebagai subjek yang memiliki hasrat terhadap phallus. Hal inilah yang semakin mengokohkan partriarki dan phallosentrisme dalam dunia sosial sehingga menyebabkan perempuan menempatkan diri secara tak sadar dalam objek kehidupan seksual laki-laki. Jadilah hubungan yang tidak setara antara subjek dan objek yang membentuk realitas sosial yang ada, yang menjadikan posisi laki-laki dan perempuan dalam struktur sosial menjadi tidak setara.

Memasuki 2017, maka semestinyalah gerakan perempuan memperoleh semangat baru dan sekaligus ide baru. Semangat dan ide untuk melanjutkan gerakan perempuan yang telah ada sekaligus penyempurnaan gerakan-gerakan perempuan sebelumnya. Psikoanalisis seharusnya menjadi kajian utama bagi kaum feminisme yang ingin memperjuangkan kesetaraan posisi antara perempuan dan laki-laki. Sebab kondisi setara tidak akan pernah bisa diciptakan sepanjang konstruksi sosial yang melingkupi kesadaran dan keberadaan (being) perempuan belum disetarakan pula[].

 

Penulis

Andi Ali Armunanto, S.I.P, M.Si

Ketua Program Studi Ilmu Politik FISIP UNHAS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *