Tantang Dirimu dan Jadilah Legenda

”Percuma lah kita berguru pada kehebatan Soekarno, Bruce Lee, Mike Tyson, Pele, dan siapa saja yang dipandang hebat, jika kita sendiri tidak siap jadi legenda.”

 

“Orang-orang harus dibangunkan aku bernyanyi menjadi saksi”

Sebuah lirik lagu Kesaksian yang ditulis W.S Rendra dan dipopulerkan oleh Band Kantata Takwa dengan karakter suara langka Iwan Fals, menjadi teguran dan meyakinkan bahwa kondisi harus terus diperbaiki, perubahan zaman telah berjalan dengan sangat cepatnya, sementara pembangunan kualitas sumber daya manusia kita berjalan melambat.

Tidak cukup menjadi saksi. Orang-orang tidak sekedar harus dibangunkan oleh penindasan yang mereka alami. Kita harus bangkit melawan, karena sesungguhnya kita adalah bagian dari mereka yang tertindas.

Selama ini harapan kita bertumpu pada tiga hal, sebagai instrumen penting mengubah mindset bangsa, yaitu negara yang diwakili oleh sekolah, institusi tradisi diwakili oleh keluarga, dan agama yang diwakili oleh pemuka agama. Ketiganya telah mengalami degradasi oleh para pelakunya. Itulah kata yang dilontarkan sastrawan Rhadar Panca Dhana dalam sebuah diskusi di Press Room, Gedung Parlemen, Nusantara III, Senayan Jakarta, Agustus 2015.

Negara, dalam pandangan filosofis adalah institusi besar yang dibangun atas dasar kesadaran untuk memperbaiki tatanan kehidupan, menciptakan ketenangan dan menjamin hidup warganya. Begitu juga dalam alenia pembukaan konstitusi negara kita, ada penegasan tekad untuk melindungi aset terbesar yang dimilikinya, yaitu rakyat yang mendiami setiap jengkal wilayah yang ada di Indonesia.

Peran pemerintah yang memiliki kewenangan seakan kewalahan menentukan sikap. Pertanyaannya apakah kita juga akan diam meratapi nasib dan menunggu santunan negara?. Mantan Presiden Amerika Serikat, John F. Kennedy pernah berkata,”jangan tanyakan apa yang diberikan negara kepadamu tapi tanyakanlah apa yang kau berikan kepada negaramu.” Adalah sebuah penegsan bahwa negara tak akan mampu kokoh berdiri tanpa akumulasi peran dan kontribusi dari individu-individu di dalamnya.

Ketika negara lemah dan mengalami dis-orientasi, kepada siapa kita akan mencari perlindungan?. Tentu kita sangat kecewa akan kondisi ini, tapi hal itu tidak lantas melunturkan nasionalisme kita. Justru sebaliknya, salah satu yang membuat kita bertahan sebagai suatu bangsa dan memiliki kesamaan tunggal di tengah banyaknya perbedaan adalah adanya nasib yang sama sebagai bangsa terjajah oleh imprealisme, dan sekarang kembali terjajah oleh suatu sistem ekonomi pasar yang bernama kapitalisme dan mengalami degradasi moral oleh arus informasi globalisasi.

Francis Fukuyama, dalam bukunya “Guncangan Besar”, memaparkan bahwa biologi manusia menciptakan kemampuan untuk mengatasi masalah tindakan bersama, tetapi norma dan metanorma tertentu yang dipilih oleh sekelompok orang merupakan pilihan budaya, bukan produk alam. Artinya bahwa setelah struktur organ kita terbentuk dan mampu untuk menjalankan aktivitas, hal yang menentukan adalah bagaimana sistem nilai kita bangun sebagai representasi moral manusia beradab.

Dalam banyak perbedaan pandangan orang-orang besar, kesamaan yang mereka miliki adalah adanya kemauan untuk melampaui dirinya, dalam arti melampaui setiap batas keterbatasan, batasan kebijakan konvensional di zamannya. Mereka terluka namun tak pernah memperlihatkannya, bahkan kematian pun telah mereka taklukan oleh karya dan hasil pemikiran yang memberi kontribusi bagi kelangsungan hidup peradaban manusia.

Setiap dari kita tentu memiliki harapan, bagaimanapun besarnya, seperti apapun bentuknya, karena sesungguhnya secara naluri kita memiliki ambisi. Kadang kita seolah-olah telah sampai pada suatu kondisi yang sangat luar biasa, merasakan suatu kemegahan, dan kadang kesuksesan orang lain kita kendarai untuk sementara yang sifatnya betul hanya sementara, karena itu bukan milik kita. Beribu-ribu bahkan jutaan orang mengalami nasib yang sama, lahir dan berakhir hanya sebagai pemimpi, untuk sampai mewujudkan mimpi dianggap hal yang tidak masuk akal. Jika mental yang seperti demikian yang terbangun, maka kita telah mati dalam bahasa peradaban karena tidak meninggalkan jejak kebijaksanaan. Kita akan kalah sebelum berjuang.

Seperti apa seharusnya?

Mualailah bangun kapasitas dari sekarang. Jika kita membangun diri sendiri maka bayarannya pasti murah, tidak manipulatif, dan melahirkan kebanggaan. Coba lihat calon pemimpin kita, meraih kuasa dengan membayar mahal, karena sebagian besar dari mereka tidak membangun kapasitas, untuk membuat naskah pidato saja membutuhkan bantuan orang lain dan tentu kebanyakan menggunakan pikiran orang lain. Dalam banyak hal juga seperti itu, dimana-mana tidak percaya diri. Mengambil sikap juga selalu meragu, itulah sebabnya kita masih terus terbelakang karena kebanyakan pemimpin kita lupa diri dan kadang tidak tahu diri.

Dalam bukunya Self Driving, Rhenald Kasali memberikan pandangannya terkait landasan pribadi yang akan berbeda dari generasi lain di zamannya, yaitu mereka yang memiliki self discipline,

Mari kita merenungi prinsip hidup para samurai dibangun atas: Self discipline, fokus, dan nilai-nilai kehormatan. Itulah resep hidup mereka sehingga memiliki cita rasa yang lebih istimewa dibanding manusia pada umumnya.

Dalam diri para samurai mengalir warna darah sama seperti yang mengalir dalam diri kita, menghirup udara sama yang kita hirup setiap harinya, namun peradabannya adalah prinsip hidup  mereka hargai dan patuhi. Kedisiplinan dan kesungguhan mereka adalah suatu kesatuan dalam menciptakan kehormatan mereka.

Tak ada yang mampu mengalahkan manusia-manusia yang disiplin. “Bahkan senjata yang lebih modern dan pasukan yang lebih banyak sekalipun  tak akan bisa mengalahkan samurai”

Kalimat itu dilontarkan Nathan, komandan pelatih yang didatangkan investor pembanguanan jalan rel kereta api di Jepang dalam era restorasi Meiji.

Dalam bukunya Rhenald Kasali membagi kedisiplinan menjadi tiga

  • Forced discipline. Disiplin ini digerakkan dari luar oleh lembaga tempat Anda bekerja, orang tua, guru, trainer, atau coach Anda
  • Self Discipline. Disiplin berasal dari dalam diri masing-masing yang dibentuk secara bertahap dan melawan ketidaknyamanan-ketidaknyamanan diri.
  • Ini adalah perilaku yang tidak berdisiplin. Tentu kita tidak ingin masuk kategori ini.

 

Konsekuensi yang lahir dari setiap pilihan adalah terciptanya kondisi yang membutuhkan penyesuaian, termasuk mambangun kedisplinan membutuhkan upaya besar untuk membalikan situasi malas dalam diri kita. Kita terbiasa dengan hal yang mudah dan serba tidak membutuhkan usaha keras, kita lahir dalam kondisi serba instant. Mari kita lihat perilaku dominan sehari-hari masyarakat yang ada di sekitar kita, ingin hidup bahagia, mendapatkan fasilitas hidup yang serba mewah namun lupa kewajiban memberikan kerja terbaik, mengerjakan sesuatu dengan sungguh-sungguh, mengambil inisiatif melakukan perbaikan, menghargai waktu dan membangun kesadaran untuk terus membangun kualitas diri .

Pandanglah semua hal yang ada di sekitar kita penuh dengan keistmewaan, sebagai suatu hal yang harus disikapi dengan sungguh-sungguh, sekecil apapun keberadaannya.

“Mengenal kekuatan dan kelemahan diri sendiri sekaligus mengetahui kekuatan dan kelemahan lawan, maka 100 kali berperang 100 kali menang. Sementara, “mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri tetapi tidak mengetahui kekuatan dan kelemahan lawan, maka 100 kali berperang, 50 kali menang dan 50 kali kalah.” Sebaliknya, “tidak tahu kekuatan dan kelemahan diri sendiri maupun kekuatan dan kelemahan lawan maka, 100 kali berperang 100 kali pasti kalah.” Seperti itulah pesan ahli strategi perang Sun Tzu dalam Art Of The War.

Dalam dimensi hidup kita saat ini yang menggerus nilai-nilai moral kita adalah persoalan materi, segala kebahagiaan itu digantungkan pada persoalan materi, karya seni sebagai representasi keindahan dianggap bernilai jika dihargai nominal uang yang besar. Ada pergeseran makna nilai keindahan menjadi nilai ekonomi. Bahkan sampai pada persoalan kecantikan dan kegantengan itu ukuannya ketika memiliki barang mewah, kegantengan akan bertambah sekian persen jika memakai I-Phone, berkendara Lamborgini, dan memakai produk-produk import, itulah konstruksi nilai yang sedang mewabah di masyarakat kita. Apa pentingnya mengetahui semua itu?, agar kita belajar tahu hal yang benar-benar menjadi suatu kebutuhan. Kita tidak akan pernah bangkit jika tidak mengenali diri sendiri dan mengenali faktor penghambat laju kita.

So,,, Kenali Dirimu, Kenali Lawanmu, dan Kenali Lingkunganmu. Maka “kemenangan” akan sempurna!!!

 

Andries Riesfandhy

Direktur Serum Institute

One thought on “Tantang Dirimu dan Jadilah Legenda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *