POLITIK: Ilmu, Seni, dan Keterampilan

 

Berbicara politik adalah sesuatu yang sangat menarik, karena akan membicarakan, kepentingan masyarakat, bernegara, dan hubungan internasional. Oleh karenanya, sejak dahulu politik adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan yang dipelajari secara khusus, karena peran dan kehadirannya selalu dibutuhkan. Pada akhirnya, perguruan tinggi banyak melahirkan ilmuan ilmu politik, yang selalu hadir pada setiap peristiwa politik memberikan analisa dan solusinya. Tampil diberbagai media massa, atau menjadi konsultan politik bagi pihak yang membutuhkan.

Mempelajari ilmu politik pada dasarnya adalah usaha untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Plato dan Aristotoles menyebutnya en dam oniathe good life. Aristoteles juga menyebut manusia sebagai “zoon politicon” istilah yang diberikan untuk menyebutkan manusia sebagai makhluk hidup yang tidak bisa hidup tanpa ada interaksi sesama jenis (makhluk sosial). Zoon politicion juga memiliki makna sebagai hewan yang bermasyarakat.

Ilmuan politik senior Indonesia, Profesor Miriam Budiardjo, mengatakan berbicara politik, maka akan membicarakan tentang konsep; (1) negara (state) – pengolalan suatu negara untuk mencapai tujuanya. (2) kekuasaan (power)- mengelola kemampuan, mempengaruhi untuk mendapatkan kekuasaan. (3) pengambilan keputusan (decision making)- melakukan proses dan menetapkan pilihan-pilihan  keputusan. (4) kebijakan (policy) kumpulan keputusan, dan (5) pembagian (distribution) nilai-nilai dalam masyarakat.

Jadi sangat luas ruang lingkup politik. Oleh karenanya, jika belajar politik, dituntut untuk memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas. Ilmu politik juga tidak berdiri sendiri, tetapi berhubungan dengan disiplin ilmu-ilmu lain,  diantaranya; ilmu hukum, ekonomi, sosial, sejarah, filsafat, sosiologi, dan masih banyak lagi.

Dalam kehidupan bernegara, aktivitas politik selalu saja diwarnai dengan pertentangan atau pertikaian antar kelompok atau individu untuk mencapai tujuan politiknya, yaitu mencapai kehidupan yang lebih baik. Bahasa sederhananya untuk  mencapai keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Ada yang menyebut pertentangan itu merupakan seni. Tanpa pertentangan, aktivitas politik tidak hidup, tak bergairah dan dan bertenaga. Ada yang menyebutnya sebagai politik praktis. Didefinisikan sebagai kegiatan dari satu orang atau sekelompok orang yang mempengaruhi pandangan, pendapat masyarakat tentang suatu keputusan / kebijakan pemerintah.

Tujuannya dari pertentangan tersebut, sebenarnya tidak lain untuk menuju kehidupan bersama yang lebih baik. Hanya saja, pertentangan ini sering menjadi pertikaian fisik yang menelan korban jiwa, dan kerugian material yang tidak sedikit. Timbulnya pertikaian  tersebut dalam peristiwa politik, karena para pelaku politik (politisi) lebih menonjolkan sifat kebintangan  manusia. Menghancurkan, membunuh lawan politik, etika dan moral  atau bahkan aturan  ditabrak untuk mencapai nafsu kebinatangannya. Lupa pada tujuan murni (utama) politik yaitu untuk mencapai kehidupan bersama yang lebih baik.

Pertikaian yang terjadi, kadang disebabkan hal-hal yang tidak penting. Misalnya, ucapan ‘kata atau ucapan’ lawan politik yang dianggap merendahkan. Inilah yang menjadi pemicu timbulnya pertikaian, dari kecil hingga melebar  kemana-mana, dan pada akhirnya memakan korban jiwa.  Paling sensitif pemicu petikaian adalah soal suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA).  Padahal, untuk menuju kehidupan bersama yang lebih baik, seperti tujuan murni politik, tidak mengenal SARA. Setiap individu, suku, ras, agama dan golongan semuanya berkeinginan untuk hidup lebih baik. Tidak ada yang ingin merusak atau hidup dalam penderitaan dan kegelapan.

Hanya saja, karena sifat kebinatangan yang ditonjolkan, tujuan bersama untuk memperbaiki atau mencapai kehidupan  yang lebih baik, kadangkala menjadi terabaikan. Hal-hal sepele di “blow up” menjadi tujuan utama, menjadi senjata mematikan untuk membunuh lawan politik untuk mendapatkan dan menikmati kehidupan politiknya.

Sifat kebinatangan yang muncul di antaranya; mau menang sendiri, sombong, tidak senang diganggu, dikritik, tidak pikir panjang. Sejata yang digunakan, gigi dan cakar, dan  komunikasi. Praktis terlihat, pertentangan politik  menjadi arena  permainan kotor, licik, tipu daya, kejam dan sadis.

Dengan munculnya konsep demokrasi,  pertikaian fisik dan sifat kebinatangan dalam perisitwa politik seharusnya tidak ada lagi. Lebih pada pertarungan karakter, taktik dan strategi, dan berlomba mendapatkan simpati publik. Tetapi selalu saja ada ‘aktor-aktor’ individu atau kelompok politik yang bermain dengan sifat kebinatangan yang kotor, licik dan sadis.

Jika peristiwa politik adalah merebut dan mempertahankan kekuasaan politik, akan menjadi ajang pertikaian  yang menonjolkan sifat kebinatangan. Mereka yang menang akan menikmatinya. Yang kalah terpuruk pada titik nol, dan akan membangun taktik dan strategi lagi untuk merebutnya, mungkin dengan cara-cara yang tidak manusiawi. Berlindung pada argumentasi untuk menuju kehidupan bersama yang lebih baik.

Politik tidak bisa berdiri sendiri. Politik butuh dukungan, tidak hanya dukungan moril, tetapi juga material dan juga doa. Semuanya ini berkolaborasi, terintekrasi secara harmoni untuk menuju kehidupan bersama yang lebih baik. Dukungan politik  harus jelas, pasti, yakin, dan memiliki cita-cita. Karena dukungan politik pada akhirnya diukur dengan kepastian. Walau aktivitas politik juga ukurannya dengan nilai sosial, baik, buruk, senang, tidak senang, bahagia, tidak bahagia, dan lainnya. Sedangkan cita-cita dimaksudkan, politik  harus mengantar, menunjukkan, dan meyakinkan kepada pengikutnya bahwa “ada matahari di balik awan”,  ada harapan yang hendak dicapai, harapan  hari esok yang lebih baik dari hari ini.

Politik adalah ilmu dan keterampilan. Sebagai ilmu pengetahuan, politik adalah ilmu yang mempelajari untuk mengatur kehidupan masyarakat. Sebagai keterampilan   adalah kemampuan  menjalankan tugas–tugas, kecakapan, sikap, nilai  untuk menunjang keberhasilannya mengatur masyarakat. Namun, banyak orang yang mempelajari politik sebagai ilmu dan keterampilan, tetapi tidak mudah untuk mempraktekkannya. Mereka pun hanya mengikuti naluri kebinatangannya, sehingga politik menjadi  kotor dan kejam.

Akibatnya, banyak masyarakat yang  tidak peduli dengan politik atau biasa disebut “apolitis” (apoliticals): tidak terlibat pada kelompok politik. Menjadi pasif dan bahkan tidak menggunakan hak politiknya.  Apolitis tidak mempunyai kepentingan politik, namun sebagai mahluk sosial tetap  bersosialisasi dengan orang-orang politik. Para apolitis ini, biasanya’ teman, tetangga, sahabat, dan  keluarga.

Dalam bersosialisasi dengan individu atau kelompok politik, individu yang mempunyai ambisi politik, syahwat politik, kepentingan politik dan target politik, secara aktif mengamati gerak gerik kelompok apolitis. Setiap tindakan dan ucapan   dimaknai sebagai tindakan dan ucapan politik. Jika bersosialisasi dengan lawan politiknya, dicurigai segala gerak-gerik dan ucapannya. Walaupun  hanya jamuan makan, dimaknainya pun sebagai aktivitas politik, bahkan lahirlah istilah “no free lunch” (tidak ada makan siang gratis).

Kalau dalam jamuan makan itu, ada pembicaraan politik, biasanya hanyalah  sebuah obrolan biasa, karena berbicara politik tidak bisa dihindari, akan selalu menjadi pembicaraan yang menarik. Jika materi pembicaraan itu sampai pada lawan politiknya, masalah bisa terjadi. Dianggap berpihak kepada musuh politiknya.  Hal inilah salah satu sebab yang dapat merusak hubungan pertemanan atau keluarga, dan pada akhirnya bisa terjadi pertikaian. Jika suda demikian, politik tidak membawa kepada kemaslahatan hidup orang banyak. Menjadi bencana bagi orang lain. Menjadi alat merusak harmonisasi perteman dan kekeluargaan.

Pada kondisi inilah, kehadiran ilmu politik adalah obatnya. Sifat kebinatangan manusia tidak menonjol atau ditonjolkan lagi. Politik bukanlah kegiatan yang kotor dan licik. Politik adalah ilmu, seni dan keterampilan untuk mengatur kehidupan manusia yang lebih baik. Oleh karenanya, individu, kelompok, agama. suku, wilayah teritorial, dan lainnya wajib hukumnya belajar politik untuk membangun menuju kehidupan bersama yang lebih baik.

 

Rusman Latief

Pengamat Perkembangan Politik Media

 

One thought on “POLITIK: Ilmu, Seni, dan Keterampilan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *