Kentut Sang Maba dan Perjuangan Menuju Ketua BEM Fisip

[1]

OSPEK ATAU OPOSAN ADALAH momen tidak terlupakan dalam prosesi penerimaan mahasiswa baru, khususnya sebagai mahasiswa Ilmu Politik Fisip Unhas. Sebenarnya setiap saat dan setiap Mahasiswa Baru di angkatan kami memiliki cerita unik dan lucu masing-masing. Walaupun demikian, tetap saja kami memiliki kenangan bersama yang lebih melekat dan mewarnai kebersamaan kami waktu itu.

Dengan meminta ijin teman-teman seangkatan 1998, saya mencuplik kenangan bersama itu. Momen paling berkesan bagi kami ketika mendapatkan hukuman menyanyi oleh senior Himapol. Di masa kami, artis yang terkenal di tahun 1998 di antaranya adalah Andre Taulani dari Group Stinky dan Reza Artamevia. Hamzah dari Kota Pare-Pare adalah salah seorang teman kami. Kepada senior Himapol ia mengaku suka menyanyi dan mengidolakan Andre Taulani sang vokalis Stinky (sekarang jadi komedian). Bahkan ketika senior memintanya memilih jenis hukuman apakah orasi atau menyanyi, ia memilih menyanyi. Alhasil, setiap kami mendapatkan hukuman, ia akan menyanyi ala konser dan kami adalah penonton fanatiknya.

Hamzah menyanyi di atas meja di tengah lapangan Fisip. Tugas kami adalah berperilaku brutal saling dorong, saling sikut seolah hendak berebutan memeluk sang idola, Hamzah. Tetapi, yang membuat kami, sang penggemar, ini jengkel sekaligus merasakan kelucuan adalah Hamzah yang ternyata hanya hapal satu lagu Andre Taulani.

Saya lupa judul lagunya, tetapi liriknya kurang lebih seperti ini: “Tetes Air Mataaaaa….Basahi Pipikuuuu…di saat kita kan berpisaaah…”

Coba bayangkan, selama 3 sampai 4 hari kami di Ospek dengan hukuman menyanyi berkali-kali dalam sehari dan hanya Hamzah satu-satunya vokalis yang tersedia dengan lagu satu-satunya itu.

“Tetes Air Mataaaaa….Basahi Pipikuuuu… di saat kita kan berpisaaah …”

Saking hafal dan mualnya kami dengan lagu itu , setelah Ospek dan mulai kuliah, kami kadang memanggil Hamzah dengan nama: TETESSSS!

*

[2]

USAI OPOSAN, SIP dan bina akrab di Tana Toraja, kami pun larut dalam kegiatan sehari-hari di kampus. Kami mengikuti perkuliahan rutin dan mulai memburu diskusi-diskusi kelompok yang marak saat itu. Kami juga memburu buku-buku terbaru baik di toko-toko buku, pelataran kampus maupun senior-senior yang lebih dulu memilikinya.

Beberapa tahun kemudian, kini kami adalah senior dengan junior-junior yang lugu. Sebagai senior Himapol, kami memiliki sejumlah tugas tentu saja. Salah satu tugas itu adalah menjadi anggota tim steering committee pelaksanaan OPOSAN dan SIP.  Saat itu, pengurus Himpunan menugaskan saya menjadi pemateri di sesi ‘renungan dan baiat’ saat bina akrab di Malino.

Malino malam hari adalah Malino yang dingin. Renungan dilakukan pada pukul 1 dinihari. Maba Himapol hanya mengenakan baju kaos Oposan Himapol yang tipis. Suasana yang gelap dan tentu saja mereka menggigil dalam selimut kabut yang mulai turun. Para senior memilih berjaket atau berselimut sarung Bugis.

Saya memulainya dengan kalimat-kalimat pembuka yang tepat untuk membawa emosi mereka. Biasanya, materi baiat harus berakhir dengan uraian airmata dari semua maba. Itu adalah salah satu indikator kesuksesan pembaiatan maba himapol. Isinya adalah soal-soal keberpihakan mahasiswa kepada rakyat kecil dan perlawanan kepada pemangku kuasa yang lalim. Tugas-tugas kemanusiaan dengan contoh-contoh perjuangan akan menjadi ujaran-ujaran sang pembaiat. Siapa kita dan bagaimana kita harus melakukan perubahan menuju kondisi masyarakat yang lebih baik.

Hingga memasuki menit ke-40, ujaran-ujaran renungan sudah berhasil menggiring perasaan maba menuju puncak. Menjelang klimaks, renungan akan mengantar pada pentingnya mengenang jasa orang tua yang membesarkan dan mendidik kita hingga bisa menjadi Mahasiswa. Sudah ada tangis yang terdengar. Saya sudah berhasil sejauh ini.

Malang tiba, saat itu saya sudah sedang menghentikan bicara sejenak guna memastikan setiap maba bisa saling mendengar tangis mereka satu sama lain. Tanpa saya berkata-kata, suasana menjadi hening dan tangisan beberapa maba perempuan sudah cukup memancing emosi yang lain. Tiba-tiba, salah seorang maba yang kedinginan (kemungkinan masuk angin) kentut dan semua orang dalam lingkaran mendengar bunyi kentut panjang yang melebihi suara tangis.

Pembaiatan di ambang kegagalan. Suara kentut itu menghentikan tangisan dan beberapa maba sudah mulai tertawa. Senior juga tertawa. Bahkan saya pun antara marah dan geli dibuatnya.

Saya jadi serba salah, mau marah acara sakral ini akan berantakan. Lagi pula, dalam suasana gelap dan dingin, mana bisa saya tahu siapa yang kentut. Saya memilih menutup renungan ini dan setelah itu langsung masuk ke rumah yang disewa panitia. Saya memesan segelas kopi ke panitia dan bersama senior lainnya mengobrolkan kekonyolan tadi.

Sayup-sayup saya mendengar teriakan dan bentakan panitia di luar rumah.

Mereka bertanya keras dan marah, “Siapa yang  kentut tadi!?”

*

[3]

SALAH SATU MOMEN paling serius dalam bermahasiswa adalah saat saya bersaing membawa nama Himapol di panggung suksesi pemilihan ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fisip Unhas. Kami memaksimalkan upaya merebut posisi ini mengingat pada saat itu angkatan kami memilih tidak mengikuti kontestasi pemilihan ketua Himapol karena satu dan lain hal (akan ada tulisan khusus tema ini).

Lagipula, Himapol sudah cukup lama puasa panjang dari jabatan Ketua BEM. Karenanya perjuangan dirintis jauh-jauh hari. Mengumpulkan tim Himapol, gerilya dari pondokan ke pondokan, melobi ketua-ketua himpunan, sowan ke senior-senior, galang dukungan organisasi ekstra-kampus, dan rapat-rapat tim sukses nyaris setiap hari. Hasilnya tidaklah mengecewakan, kesepakatan politik tercapai, 5 dari 7 ketua Himpunan telah menyatakan dukungan kepada kami. Calon ketua BEM dari Himapol menang di atas kertas.

Tiba di detik-detik yang menentukan saat pendaftaran kandidat, rupanya ada 4 kandidat yang mendaftar sebagai kandidat di Pemilu BEM. Hati saya sempat kecut dan bertanya-tanya, “kok setelah gerilya politik, melobi dukungan 5 ketua himpunan, masih juga ada orang yang berani menjadi kandidat. Bukankah di atas kertas, kami sudah pasti menang? Jangan-jangan ada yang  berkhianat?” begitu pikiran spekulatif dan perasaan marah mulai muncul di kepala saya.

Tapi itulah politik, arahnya tidak bisa ditebak dengan mudah. Menyadari kenyataan itu, tim suksesi kemudian menyatakan apapun yang terjadi, saya tetap harus maju menjadi kandidat. Hari ketiga atau tepat di hari terakhir pendaftaran, saya memasukkan berkas.

Rupanya, sejak beredar kabar ‘berkas saya sudah masuk’ seketika itu pula konstelasi suksesi berubah 180 derajat. Satu persatu kandidat lawan datang menemui kami melobi tawar-menawar kekuasaan. Kami mebicarakan beberapa posisi strategis dan jika kami menyetujuinya mereka akan menarik kandidat yang sudah mereka ajukan.

Kerja tim sukses Himapol tidak sia-sia. Mereka yang menjadi lawan menyadari betul kuatnya dukungan kandidat Himapol. Hingga memasuki masa kampanye, tanpa diduga, keempat calon lawan semuanya mengundurkan diri. Tinggallah saya seorang diri sebagai calon tunggal Ketua Umum BEM.

Kemenangan pun tak terhindarkan. Kami semua bahagia dan merayakan hasil perjuangan keras ini. Saya menjadi Ketua Umum Bem Fisip Unhas periode 2002-2003 secara aklamasi dari Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) tanpa melalui pemilu. Kemenangan hanya bisa diraih dengan kerja keras. Itu kesimpulan saya atas kemenangan yang diupayakan dengan sungguh-sungguh oleh tim suksesi ini.

Bravo Himapol! Beban sejarah telah tertunaikan dengan penuh dedikasi dan perjuangan![]

 

Penulis:

Andi Ali Said Akbar, MA

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fisip Periode 2002-2003

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *