Sosok Perempuan Dalam Bingkai Melankolis Ala Sinetron

DALAM KATA ‘PEREMPUAN’ TERKANDUNG ANASIR ‘EMPU’ yang di Kamus Bahasa Indonesia bermakna penghormatan, penempatan yang tinggi pada seseorang, orang yang ahli, atau gelar kehormatan yang sejajar dengan tuan. Perempuan Indonesia diagungkan dan disanjung, disebut sebagai tiang negara, hari Kartini dirayakan sebagai hari nasional dan bahkan kita mempunyai Menteri yang memberdayakan para perempuan. Indonesia dari dulu sudah banyak memiliki tokoh perempuan dan sampai sekarang pun banyak pejabat tinggi perempuan. Hebat bukan?

Namun ada gambaran paradoks yang menjadi tampilan favorit media massa dalam mengemas perempuan, baik lewat bentuk audio-visual maupun teks-tulisan. Sejumlah sinetron Indonesia yang nyaris menguasai mata tayangan televisi komersial Indonesia memberikan gambaran buruk rupa tokoh-tokoh perempuan. Kalaulah para perempuan itu tidak tergambarkan sebagai perempuan ceriwis yang membuat orang lain tersiksa dan menderita, perempuan itu akan menjadi otak persengkongkolan atau konspirasi untuk menyingkirkan anggota keluarga lain agar harta warisan keluarga bersangkutan tidak jatuh pada anggota keluarga lain itu, melainkan pada diri para perempuan itu sendiri.

Gambaran buruk lainnya adalah para perempuan divisualisasikan sebagai perempuan penggoda seorang manajer perusahaan, sehingga manajer itu melupakan keluarganya dan keluarga yang terlupakan itu terlunta-lunta. Sementara pihak perempuan dalam wilayah domestik rumah tangga pun biasanya bahkan digambarkan sebagai sesosok istri yang senantiasa mendesak-desak suaminya agar memenuhi kebutuhan konsumtif dirinya sehingga sang suami melakukan korupsi dan kejahatan lainnya. Selain para perempuan yang digambarkan sebagai penyebab malapetaka bagi dunia perempuan lainnya, para perempuan yang menjadi korban pun relatif tidak pernah ada yang digambarkan melakukan perlawanan terhadap persoalan yang mendera mereka. Kalau mereka tak digambarkan penuh dengan derai air mata, setidaknya mereka digambarkan lari dari persoalan, termasuk lari dalam artian harfiah ‘lari dari rumah’, yang kemudian menemukan masalah baru lainnya. Gambaran seperti itu seperti membawa kita pada kesimpulan: “percuma saja perempuan melarikan diri karena hanya akan menumpuk, menimbun dan menambah masalah baru”. Atau dengan kalimat lain yang lebih esesensial: “janganlah perempuan lari dari masalah sekaligus jangan pula hadapi masalah, namun jalanilah segenap masalah!”

Dalam wacana dialog sinetronpun yang kemudian menjadi frame (bingkai) dalam memandang kesalahan antara puan dan tuan pun sering mengalami ketimpangan makna. Ada dialog yang sering dilontarkan orang-orang yang berperan sebagai tokoh loyal yang menilai ketidak harmonisan rumah tangga, yang malah ini juga biasanya diperankan oleh perempuan. “Kenapa anda tak menuruti kemauan suami anda? Daripada suami anda malah jajan di luar mencari perempuan lain”. Maknanya, seolah ada pembenaran bahwa kuasa lelaki jajan seksual itu sebagai akibat adanya ketidakberesan yang disebabkan perempuan di ranjang domestik, senantiasa ada pembenaran terhadap kelakuan menyimpang lelaki tanpa membertimbangkan hal aneh apa yang sedang terjadi di wilayah intern mereka. Inilah kisah klasik bahkan klise yang sering ditampakkan media massa mengemas kondisi interaksi perempuan dalam berumah tangga.

Selain itu dalam pembuatan film horor (yang secara rasional dapat dinilai sebagai humor), yang sering ditampakkan sebagai hantu adalah perempuan. Sinetron seri horor yang sangat populer dulu yang kemudian menjadi dasar konsep para pembuat film horor kekinian yaitu Si Manis Jembatan Ancol (RCTI) menampakkan sosok perempuan yang dilakoni oleh Diah Permatasari saat itu yang menegaskan keelokan tubuhnya ketika tewas dianiaya para pemerkosa yang kemudian menyebabkan dia menjadi hantu yang bergentayangan. Lalu ada juga dulu sinema fiksi Mak Lampir, Nyi Pelet yang cukup populer mulai di kalangan anak-anak hingga dewasa, walaupun digambarkan belum menjadi hantu, namun menjadi perempuan jahat kelewatan yang didramtiskan dengan kostum yang tak sebagaimana umumnya dipakai perempuan “baik-baik”. Begitu pula penggambaran di era kekinian yang masih mengadopsi pelabelan konsep hantu atau tokoh horor yang didominasi perempuan yang kemudian dilabeli dengan istilah kuntilanak, suster ngesot, sundel bolong, wewe gombel, nenek sihir, dan sebagainya. Ideologinya seakan hendak menyatakan bahwa yang jahat dan kejam dalam membalas dendam adalah perempuan. Barangkali memang begitulah kodrat budaya industri hiburan, miskin kemungkinan yang lain, muskil bagi lelaki yang berperan sebagai antagonis, sementara tak pernah mustahil menempatkan perempuan bisa saja munafik, culas, serta antagonitas lainnya.

            Jelas, perlakuan diskriminatif terhadap perempuan bukanlah takdir, atau bukan kodrat, serta bukan nature, melainkan lantaran kultur atau budaya yang dibangun oleh suatu komunitas, dan mirisnya menjadi agenda setting dengan perantara media massa. TV yang masih media favorit, tidak dapat dipungkiri tujuan muaranya ada pada Rating! Dan alangkah sia-sianya ketika kita berharap bahkan menuntut televisi Indonesia mencerdaskan bangsa dengan menanamkan nilai-nilai kearifan dalam memandang konstruksi realitas. Sehingga esensi perempuan sebagai sosok yang hebat masih sangat minim di mata publik. Padahal kita semua sadar banyak perempuan hebat, misalnya Diah Pitaloka, Benazir Bhutto, Bunda Teresa, atau perempuan-perempuan di sekitar kita, di mana ada aku, ibuku bahkan kamu dan ibumu, sosok yang mampu mengayomi seluruh kebutuhan anggota keluarganya, mulai dari nomer ukuran sepatu, pakaian bahkan makanan kesukaannya. Sosok yang mampu menangis tanpa terdengar.

Mengapa bukan karakteristik yang paling fundamental seperti itu yang menjadi kemasan tayangan sinetron favorit penonton yang mayoritas juga adalah perempuan?

Sebelum dapat menjawabnya, maka ada baiknya kita, wahai perempuan, berhenti dulu menikmati dramatisasi sinetron yang seenaknya saja membentuk dan membongkar identitas keperempuanan kita sesuka hatinya. Sudah waktunya bagi kita menyuarakan suara kita sendiri beradasarkan apa yang senyatanya dialami dan dilakukan perempuan[].

Penulis: Faurizah Ramlan

Mahasiswa Magister Ilmu Politik Unhas

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *