Mahasiswa Sospol Unhas Angkatan 1993, Bisa apa Di Masanya?

[catatan menjelang SIlaturahmi Letting MIMBAR 93 dan Syukuran RM Torani]

BERBICARA MENGENAI DINAMIKA kemahasiswaan Angkatan 1993 tak banyak yang bisa saya ceritakan. Kejadian di tahun-tahun aktif sebagai mahasiswa sudah berlangsung lebih 20 tahun lalu, tepatnya 24 tahun. Tentu itu bukan waktu yang pendek, bukan?

Salah satu momen penting saat itu yang beberapa keeping kenangannya masih teringat adalah pelaksanaan Ospek saat itu, Masa Inisiasi Mahasiswa Baru atau Mimbar 93! Saat itu, prosesi penerimaan mahasiswa sospol berlangsung di luar kampus. Ya, Inilah satu-satunya proses Mimbar yang diadakan di luar kampus.

Mengapa? Saat itu, menurut kabar para senior, suasana dalam kampus kurang kondusif melakukan prosesi penerimaan maba. Mimbar berlangsung di sebuah desa yang penduduknya kebetulan baru saja tertimpa musibah kebakaran, yaitu di Desa Marannu, Kabupaten Maros.

Para senior membagi para maba ke dalam kelompok-kelompok yang terdiri dari berbagai jurusan. Panitia Mimbar 93 menempatkan setiap kelompok di rumah-rumah warga kampong. Di sana, kami berusaha saling mengenal sesama maba dari berbagai angkatan. Selain itu, kami juga berinteraksi dengan warga-warga di kampung dan berupaya berempati dengan kondisi kesulitan yang dihadapi orang-orang kampung pascakebakaran. Kami bukan hanya berasal dari satu jurusan, melainkan juga dari jurusan lain baik mereka yang akan kuliah dijenjang D3 maupun S1. Bagi kelompok kami yang tinggal serumah, ikatan persaudaraan terjalin erat, dan hal itu terus meluas melintasi jurusan sebagai mahasiswa sospol pada momen-momen perkuliahan selanjutnya, selepas proses MIMBAR.

Bisa dikatakan, solidaritas mahasiswa angkatan ini terus berlanjut dikarenakan model perkuliahan diatur berdasarkan berdasarkan nomer stanbuk mahasiswa (NIM), bukan berdasarkan jurusan atau program studi. Bahkan solidaritas angkatan berada di atas solidaritas berbasis himpunan mahasiswa jurusan/prodi. Klaster perkuliahan berdasarkan urutan nomer stanbuk ini berlangsung hingga semester ketiga dan mulai terkonsentrasi ke mata kuliah-mata kuliah khusus pada semester-semester selanjutnya.

Khusus prodi Ilmu Politik, mahasiswa angkatan 93 tampak istimewa karena memiliki jumlah mahasiswi yang lebih banyak daripada angkatan-angkatan sebelumnya. Saat itu ada tercatat 17 mahasiswi, di mana 13 di antaranya tetap bertahan sebagai mahasiswi jurusan Ilmu Politik. Jumlah itu sudah jauh dari lumayan, mengingat pada dua angkatan sebelumnya, angkatan 1991, seluruh mahasiswinya pindah ke jurusan lain.

Menguatnya solidaritas angkatan itu membuat adanya slentingan bahwa angkatan kami angkatan yang eksklusif! Alasannya, angkatan kami lebih sering beraktivitas sesama angkatannya saja, khususnya kegiatan having fun. Tapi memang betul demikian. Kami beberapa kali membuat kegiatan bersama sesame angkatan saja. Misalnya di saat malam tahun baru kami biasanya berkumpul dan [bahkan] menginap di rumah kawan kami Akbar dan menghabiskan malam pergantian tahun dengan acara makan-makan dan keliling kota. Bahkan, pernah pula, seusai pelaksanaan Opspek angkatan 1994 atau 1995, beberapa angkatan 93 yang tergabung panitia saat itu bersepakat untuk jalan-jalan ke LumpuE Pare-Pare. Kami ingin melepas penat dan menikmati keindahan kota Pare-Pare. Setelah Ospek s Tepat setelah Opspek selesai, kami ke Pare-Pare dengan mobil Angkutan Antar Kota.

Pengalaman lain saya lainnya adalah saat tumbuhnya semangat mempelajari ajaran Islam. Pada masa itu majelis-majelis kajian dan diskusi bertebaran di sudut-sudut koridor. Beberapa kawan kami seperti Amirullah, Nur Salam dan lainnya saat itu bahkan berinisiatif mendirikan organisasi kajian yang kemudian disebut Forum Kajian Insani atau FKI. Kawan-kawan lainnya, seperti Akbar Mangenre Kurusi menjadi pengurus HMI bahkan pernah menjabat sebagai Ketua Komisariat HMI Fisip Unhas.

Di sekretariat FKI (yang juga adalah mushalla) di setiap menjelang shalat jumat ada kajian keagamaan yang bertempat di Mushallah FKI. Lokasi mushalla ini dulunya berada di sebelah tangga yang bersebelahan dengan sekretariat Himapol. Selain itu, FKI juga rutin mengadakan ‘bakti sosial’ di mana saya aktif mengikutinya. Selain itu, di tingkat Himapol, pengurusnya juga rutin mengadakan pengajian bulanan yang tempatnya berpindah-pindah dari rumah ke rumah. Dampak dari ghirah keislaman yang sangat tinggi, di  awal semester 3, hampir seluruh akhwat atau mahasiswi Muslimah angkatan kami berhijab. Awalnya hanya 3 orang mengenakan kudung.

Di samping kajian-kajian keagamaan, kajian dan diskusi ilmiah juga marak pada saat itu di koridor SIL. Beberapa penggeraknya lagi-lagi angkatan 93, yakni Amirullah, Nur Salam, Akbar MK dan Mirwan BZ Vauly dari Politik [belakangan pindah ke jurusan HI], Mahbub Alimuhyar dan Ahmad Syam dari Pemerintahan serta A. Amri Ampa dari Administrasi. Kajian yang dilanjutkan dengan diskusi ini diadakan setiap selesai perkuliahan sekitar pukul 10.30 pada setiap Selasa dan Kamis (kalau tidak salah ingat). Beberapa kajian juga sempat diisi oleh kanda Notrida GB Mandica sebelum ia melanjutkan studi ke negeri Paman Sam.

Cerita dinamika pemilihan Ketua Himapol dari angkatan 1993 juga menarik disimak. Saat itu ada dua kandidat dari angkatan kami, Adi Adnan dan Nur Salam. Saat itu, sudah diketahui khalayak mahasiswa bahwa Adi Adnan didukung penuh “Kelompok Kantin” dan dekat dengan senior sementara Nur Salam saat itu banyak didukung oleh mahasiswi dan penggiat komunitas mushallah maupun kajian. Sebenarnya, saat itu, sebagai aktivis FKI, kami ingin mendorong Amirullah (mantan ketua SIP Angkatan IV) mencalonkan diri juga, Menurutku, ia memiliki charisma kepemimpinan yang luar biasa di kalangan teman-temannya, bahkan banyak senior pun segan kepadanya. Sayangnya, ia tidak mencalonkan diri dan justru mendorong sahabatnya, Nur Salam. Memang, Amirullah dan Nur Salam berkawan dekat. Keduanya memiliki pemikiran dan gagasan yang seringkali sejalan. Konon Nur Salam menjadi perantara ketika Amir hendak melamar calon istrinya beberapa tahun silam di akhir-akhir studi kami.

Namanya pemilihan kepemimpinan, tentu ada saja strategi atau intrik berjalan. Saat itu kami mencurigai adanya scenario pemenangan Adi Adnan dengan cara mengulur waktu pelaksanaan pemilihan sampai selarut mungkin. Beberapa maba dan akhwat yang tidak bisa tinggal sampai larut dan merupakan basis suara Nur Salam terpaksa pulang sebelum pemilihan. Skenario ini berjalan lancara dan Adi Adnan terpilih sebagai ketua Himapol.

Di masa Adi Adnan sebagai ketua Himapol, saya tidak banyak aktif pada kegiatan himapol. Saya merasa peran saya tak begitu dibutuhkan sehingga pengurus tidak melibatkan saya dalam kegiatan-kegiatannya, kecuali untuk SIP dan Mimbar. Aku dan beberapa kawanpun lebih memilih aktif di sejumlah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) seperti FKI, Kohati atau HMI. Beberapa teman mahaiswi juga pernah ikut di PMI (KSR) berkat ajakan Nur Salam tetapi tidak berlanjut karena berbenturan dengan kegiatan-kegiatan di kampus juga.

Di angkatan kami, beberapa mahasiswa yang tampil menonjol. Rahaya misalnya, ia jago berpencak silat. Ia bahkan menjuarai beberapa turnamen pencak silat daerah dan kini menjadi pelatih pencak silat Tapak Suci. Ada juga Anggriani, ia bergabung di Resimen Mahasiswa (Menwa) dan menjadi salah satu penerjun payung wanita saat itu. Nur Salam aktif dan menghidupkan KSR-PMI yang vakum tahun-tahun sebelumnya. Ada juga Mirwan dan Akbar di lembaga Pers Mahasiswa, Identitas. Lalu Marwah yang pandai menulis cerpen dan karyanya sudah sering dimuat di majalah-majalah remaja populer pada masa itu semisal Anita Cemerlang. Sayangnya Marwah mundur dari perkuliahan sebelum masuk semester ketiga.

Demikian sekelumit ingatan saya terkait Mahasiswa Angkatan 1993 dan semoga bermanfaat bagi pembaca.

Ingat, Lusa pertemuan khusus alumni MIMBAR 93, hari Jum’at, 21 Juli 2017, pukul 20.00 wita, bertempat di RM Torani Jl. Urip Sumoharjo Komp. SPBU. Yang mau ikut, silakan konfirmasi dengan menghubungi Muharram Madjid (Mus) 081344060375, Kartini Hamid (Tini) 08114441329, dan Saya, Sosiawaty Masrul (Sos) di 089622662350. Selamat Bernostalgia bersama MIMBAR 93[]

Catatan Nur Salam tentang Mimbar 93 dan  Pengkaderan Politik (SIP)

Pasca dari OSPEK/MIMBAR 93, para senior mewajibkan kami mengikuti Bina Akrab dan pengkaderan khusus mahasiswa Ilmu Politik, yakni ‘Self Introduction Program (SIP)’. Saat itu adalah SIP untuk angkatan ke-2 (Dua). Menurut saya saat itu, konsep pengkaderan SIP  sungguh luar biasa. Para pemateri menyuguhkan banyak ilmu dengan model pembelajaran menarik. Kami mendapatkan bekal menjalani rutinitas sebagai mahasiswa Ilmu Politik Unhas. Saat itu, ketua himpunan kami adalah Kanda Muhammad Elhamid.

Sejak itu, kami lebih percaya diri dan mulai rutin mengadakan acara-acara seperti pengajian, kajian-kajian keilmuan ataupun sekadar kumpul-kumpul dan bersilaturahmi. Beberapa orang di antara kami di angkatan 93 juga aktif berkolaborasi dengan angkatan 93 dari jurusan lainnya di Fisip untuk membentuk FKI (Forum Kajian Insani) yang merupakan cikal bakal pelopor pengadaan Mushallah di lingkungan Fisip Unhas. Selain itu, kami juga pernah merintis dan menerbitkan Buletin Himapol “OPOSAN”.

Mengenai nama-nama angkatan kami di himpol adalah: Akbar M. Kurusi, Adi Adnan, Laode Kaimuddin, Indra Abdi, Amirullah, Husain, Nursalam AS,  Haedar, Abd. Samad,  Taufik Mansyur, Ilyas, Faisal, Zakariah, Rio Riata Patanna, Sosiawaty, Rahayu, Gustiana, Anggriani Alamsyah, Nurinsan, Sugiprawati, Sri Hayati, Maunarni, A.Tutriani, Nurfaidah, A. Aminah, Halijah, Haslindah, Lucia Palanda (selesai di ADM), Mirwan BZ Vauli (selesai di HI), Syamsu Edi (selesai di HI), Rahma amir (selesai di ekstension), Diana (Selesai di HI), Marwah (Hanya Sampai Semseter 2)

Catatan Nur Salam dan UKM KSR PMI

Unit Kegiatan Mahasiswa Korps Sukarela (KSR) Palang Merah Indonesia (PMI) Unhas adalah organisasi yang mengalami kevakuman saat itu. Pada tahun 1993, saya bergabung dengan UKM ini dan melakukan banyak pembenahan. Bahkan organisasi ini sangat kurang dikenal oleh mahasiswa saat itu. Kami pun menata diri dan menyiapkan sebuah Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar) untuk pertama kalinya. Sejak itu, kami terus memperbaiki kaderisasi dan mulai mengikuti event-event tingkat nasional seperti Temu Masuk Anak KSR PMI antar perguruan tinggi se-Indonesia di Bali, Malang, Yogyakarta, Semarang, Jakarta, dan kota2 lainnya . Dalam kurung waktu 2 tahun kemudian atau sekitar 1995, kehadiran UKM KSR PMI Unhas sudah dikenal oleh akademikus semua Fakultas di lingkungan Unhas. KSR bukan lagi UKM yang sepi dan jauh dari peminat.

Jika dulu KSR identic dengan Fakultas Kesehatan Masyarakat dan tertutup, kaku serta tidak mampu merekrut banyak mahasiswa menjadi anggotanya, kini kepercayaan setiap Fakultas pun terus bertambah. Bahkan, sejak tahun 1995 (dan dua tahun setelahnya), tim UKM KSR PMI Unhas menjadi  tim medis oleh setiap Fakultas. Dengan kepercayaan sebesar itu, setiap tahun ada ratusan pendaftar menjadi anggota KSR.

Sebagai mahasiswa Ilmu Politik, saya bangga telah dipercaya sebagai Pembina Teknis KSR PMI UNHAS mulai 1995 hingga sekarang (2017). Tentu saja, beberapa mahasiswa Himapol tertarik dan kemudian bergabung dengan KSR-PMI dan mewarnai perkembangan organisasi yang mengusung praktik kesukarelawanan ini[].

Catatan Nur Salam tentang Forum Kajian Insani (FKI )

Berdirinya FKI saat itu merupakan bentuk kolaborasi dari 2 kelompok kajian saat itu, yakni kelompok kajian Nurul Fikri dan Fathul Muin. Pada 1993, Kelompok Nurul Fikri sering disebut sebagai kelompok kajian para mahasiswa pria atau ikhwan dan Fathul Muin sebagai kelompok kajian mahasiswa perempuan atau akhwat.

Kemudian, beberapa anggota dari kedua kelompok kajian ini bertemu dan mendiskusikan sejumlah persoalan sosial. Mereka kemudian menggagas melaksanakan diskusi-diskusi maupun bedah buku. Selain itu, mereka memikirkan agar di lingkungan FISIP ini bisa berdiri satu Mushallah. Ya, saat itu, untuk shalat di Mushallah, mahasiswa Fisip harus k eke mushallah di Fakultas Teknik atau ke Fakultas lain yang ada.

Pada 22 april 1994, kelompok kajian Nurul Fikri mengundang mahasiswa muslim menghadiri pengajian sekaligus silaturrahmi antara mahasiswa di Fisip. Melalui kegiatan ini aktivis kajian ini menyampaikan gagasan perlunya membentuk Forum Kajian yang lebih besar, lebih kuat dan lebih berwarna, serta alternatif untuk melakukan ajang berbagi pengetahuan  dan praktik bermahasiswa se-Fisip Unhas. Kemudian, beberapa mahasiswa angakatan 93 lintas jurusan diminta merumuskan: nama, struktur  dan susunan kepengurusan serta arah kebijakan organisasi.  Tim perumus menyepakati nama kelompok Forum Kajian Insani (FKI) dan sejak itu, ketua umum pertama adalah Ahmadsyam (pemerintahan 93). Berikutnya, wakil ketua umum adalah Nur Salam AS (politik 93), sekretaris umum adalah Amirullah (Politik 93), dan bendahara umum adalah Andi Amri Ampa (Administrasi 93). Adapun anggotanya berasal dari aktivis kajian baik Nurul Fikri maupun Fathul Muin.

Kemudian FKI bergerak cepat dengan melakukan pendekatan, advokasi dan serangkaian lobi baik kepada Pengurus DPM, Senat Fisip Unhas, Pembantu Dekan 3 Fisip UH, Dekan Fisip serta kepada  mahasiswa Fisip Unhas tentang keberadaan FKI. Serangkaian diskusi dilakukan rutin minimal sekali seminggu. Berkat perjuangan yang cukup menguras tenaga dan  pikiran bahkan perasaan maka Pimpinan Fakultas dengan didukung oleh Senat dan DPM Fisip Unhas menyetujui memberikan  ruangan disebelah tangga dan sebelah secretariat Himapol satu  ruangan yang ukurannya dapat dikatakan tidak begitu luas untuk dijadikan sekretarist FKI sekaligus Mushallah. Dan oleh pengurus FKI kemudian bersepakat bahwa ruangan tersebut sekaligus dijadikan sebagai ruang shalat/mushallah yang oleh kami saat itu memberi nama ruangan tersebut sebagai Mushallah Ibnu Khaldun[].

Penulis adalah Sosiawaty Masrul dan Nur Alam AS

Keduanya Anggota IKAPOL (Angkatan 1993)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *