AcSI dan Persinggahan Warga Himapol-Unhas Sebelum Ke mana-mana

Suasana Diskusi saat hendak mengaktifkan kembali AcSI Tahun 2008

ADA PERTANYAAN SEDERHANA bagi mahasiswa ketika menjelang akhir studi di universitas. Kemana tujuan selanjutnya? Pertanyaan ini terkadang membuat mahasiswa tingkat akhir garuk kepala. Jika tidak memiliki jawaban, bisa dipastikan Anda berada pada situasi disorientasi.

***

Tahun 2004 silam, sejumlah mantan pengurus Himapol (Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik) mendirikan sebuah organisasi masyarakat sipil. Mereka menyebutnya, AcSI, singkatan dari Active Society Institute. Tujuannya, mendorong warga sipil terlibat aktif dalam berbagai proses pembangunan dan pemberdayaan masyarakat. Kegiatannya, berkisar pada pengorganisasian masyarakat di desa, tata kelola pemerintahan desa, studi kebijakan publik dan peningkatan kapasitas orang-orang muda.

Beberapa pendirinya adalah Tomy S. Yulianto, Ishak Salim, Risal Suaib, Himar, Ihsanul Amri, Irawan, Ali Said, dan Muslinah Hanafi (Almarhumah). Nama-nama ini berasal dari angkatan 90-an di program studi ilmu politik. Mereka adalah pengurus aktif Himapol dimasanya.

Tomy S Yulianto Sedang Menfasilitasi Perumusan Goal dan Rencana Kerja AcSI tahun 2008

Pendirian AcSI oleh sejumlah alumni Ilmu Politik menjadikan organisasi ini terikat erat dengan warga aktif di Himapol. Tidak mengherankan, pada proses berjalannya organisasi ini, sejumlah warga Himapol terlibat. Umumnya dari angkatan 2000-an awal. Saat itu, mereka melakukan studi kepuasan publik atas kebijakan pemerintah kota Makassar. Selain itu, juga melakukan pelatihan untuk aparatur pemerintah desa. Bisa dikatakan, saat itu AcSI adalah organisasi masyarakat paling awal yang dikenal melakukan survey kebijakan publik. Biasanya, kalaupun ada survei, maka itu dipastikan dilakukan oleh lembaga dari Jakarta. Entah itu LP3ES, PSKK – UGM, atau LSI.

 

Menurut cerita dari Ishak Salim, di awal program AcSI, setelah survei kepuasan publik Makassar atas kebijakan Walikota IAS, AcSI mendapat tawaran dari Pemerintah Kabupaten Maros melakukan pelatihan bagi aparat pemerintahan desa. Tidak tanggung-tanggung, ada 83 desa siap dilatih. Saat itu, Direktur perdana AcSI, Tomy S Yulianto (saat ini Wakil Bupati Bulukumba) menyetujui kerjasama itu dan mobilisasi alumni Ilmu Politik Unhas pun dilakukan. Angkatan tertua saat itu adalah M. Arifuddin Amin (1992), Ia juga menjadi salah satu fasilitator saat itu. Kerjasama dengan pihak Pemda Maros ini tak lepas dari kelihaian loby Alwi Hasan (Alumni Ilmu Politik, angkatan 1994). Walaupun saat itu, secara sepihak Pemda Maros tidak melanjutkan kerjasama dengan AcSI dalam memberikan pelatihan kepada pemerintah desa pada kluster terakhir, banyak hal telah dipelajari.

AcSI mengorganisir Demonstarsi Anti Penggusuran Pasar Lokal di Makassar 2010

Seperti organisasi masyarakat sipil pada umumnya di Makassar, dalam perjalanannya, AcSI mengalami pasang-surut. Saat memasuki tahap perkembangan organisasi, secara bertahap, sejumlah pengurusnya sudah harus melangkah ke tujuan selanjutnya.  Jika dicermati, selain bekerja pada penguatan masyarakat, AcSI lebih tepat dikatakan sebagai tempat “berlatih dan menempa diri” sebelum ke tempat lain.

Saat ini, generasi pertama organisasi ini sudah tersebar dengan kemampuan yang mumpuni di bidangnya masing-masing. Sebagai peneliti, pengorganisir, politisi dan akademisi, wakil bupati, aktivis gerakan sosial, birokrat dll.

 

***

Saat Alwi Hasan pergi bekerja sebagai PNS di Mamuju (2005?), Tomy Yulianto bekerja di TNC di Kalimantan Timur (2006?) dan Ishak Salim melanjutkan studi masternya di Belanda (2006), terjadi kevakuman di acSI. Andi Ali Said Akbar, Ihsanul Amri, Irawan dan sejumlah anggota AcSI lainnya masih bertahan. Tapi aktivitasnya jauh berkurang. Kesibukan lain membuat AcSI mengalami masa vakum. AcSI baru aktif kembali saat Ishak Salim kembali dari studinya pada akhir 2007 dan AcSI mulai anggota AcSI menghimpun diri kembali tepat di awal tahun 2008.

 

Bersamaan dengan pengaktifan AcSI, organisasi intra kampus saat itu sedang mengalami masa surut. Sejumlah kebijakan universitas saat itu tidak menguntungkan lembaga mahasiswa. Kegiatan mahasiswa mengalami sejumlah kendala. Semisal pengkaderan mahasiswa baru, serta kegiatan kelompok-kelompok diskusi yang tidak pernah lepas dari pantauan pejabat kampus. Kebijakan ini dicurigai berkaitan erat dengan upaya penerapan sistem Badan Hukum Pendidikan (BHP) di Unhas. Sistem pendidikan yang berbau bisnis.

Poster Menentang Premanisme dalam Pengelolaan Pasar Terong, Makassar

Ishak Salim dan Risal Suaib berperan dalam pengaktifan kembali organisasi ini. Keputusan untuk mengaktifkan AcSI terjadi setelah sejumlah diskusi dengan para pendirinya. Perekrutan personil pun dilakukan. Saat itu, personil baru masih tidak lepas dari warga Himapol. Umumnya berasal dari angkatan 2004.

Kegiatan AcSI pada fase ini masih berkisar pada kajian dan kritik pembangunan yang disertai dengan pengorganisasian warga. Harapannya, dengan pengorganisasian, terbentuk pranata di tingkat warga yang lebih kuat untuk berhadapan dengan kekuasaan. Untuk mendukung hal ini, peningkatan kapasitas personil dalam hal penelitian, penulisan dan advokasi perlu ditingkatkan.

Cita-cita di atas membuat AcSI melakukan sejumlah pelatihan yang melibatkan warga Himapol. Saat kegiatan AcSI berjalan, kantornya juga menjadi “rumah singgah” bagi sejumlah warga Himapol yang tidak terlibat secara langsung dalam kegiatan organisasi ini.

Dalam fase ini, kurang lebih empat tahun, AcSI kembali menjadi tempat persinggahan bagi sejumlah warga Himapol. Selepas itu, mereka kembali memilih tujuan selanjutnya.  Ada banyak pelatihan saat itu dan kerja pengorganisasian yang relatif panjang di Pasar Terong (2008 – 2012).

Di masa Ishak Salim sebagai direktur AcSI (2008 – 2010) dan kemudian dilanjutkan di masa Zulhajar (2010 – 2012) dan Agung/Sunardi (2012-2014) ada banyak pelatihan bagi orang-orang muda, seperti bagaimana menjadi seorang pengorganisir masyarakat (PRA), bagaimana melakukan pengorganisasian pedagang pasar rakyat, pelatihan penelitian dengan beragam metode seperti Etnografi, PAR, advokasi kebijakan publik, metodologi pendidikan kritis, Menulis ilmiah maupun popular, sampai belajar bahasa Inggris digelar. Belum lagi diskusi-diskusi dan talkshow ke beberapa universitas juga kerap dilakukan oleh personil AcSI.

Tidak bisa dipungkiri, para personil adalah fase ini bisa lebih mudah berkumpul karena kebiasaan mereka bersama-sama dalam kegiatan kampus, khususnya di Himapol.

***

Saat ini, AcSI [yang bergabung dengan Komunitas ININNAWA pada 2010] tetap memainkan peran sebagai “rumah”alternative bagi sejumlah mahasiswa ilmu politik di Universitas Hasanuddin. Bahkan—setelah tim manajemen AcSI mengembangkan satu divisi khusus yang disebut ‘katakerja’ kini aktivitas AcSI merambah dunia sastra dan budaya melalui kerja-kerja kolaboratif—beberapa mahasiswa dari jurusan lain juga terkadang mampir di organisasi ini. Mereka berusaha mempelajari sejumlah hal yang kemungkinan belum sempat di urus oleh organisasi kampus. Sebut saja melatih kemampuan meneliti dan menulis. Ini bisa menjadi bekal sebelum melangkah lebih ke tujuan selanjutnya.

Tidak berlebihan jika kita mengatakan bahwa keberadaan AcSI erat kaitannya dengan keberadaan Himapol. Karena melalui Himapol, regenerasi dalam organisasi ini bisa berjalan lebih mudah. Untuk mengetahui di mana dan apa saja kegiatan AcSI saat ini, datanglah di Jl. Wesabbe Blok C.64. Di sana juga Anda dapat membaca di perpustakaan katakerja[].

Penulis: Sunardi Hawi

Bekerja sebagai Sekretaris Komunitas ININNAWA

Saat ini sedang mengoordinir pengorganisasian rakyat di dua desa Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung

One thought on “AcSI dan Persinggahan Warga Himapol-Unhas Sebelum Ke mana-mana

  • July 12, 2017 at 4:55 am
    Permalink

    Hebat….Himapol IKAPOL hebat memang.

    Smg tetap eksis buat Acsi dan Ininnawa dlm melaksanakan visi misinya.

    Luar biasa.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *