Kampung Yang Membawa Makassar Menuju Kota Dunia

Suasana Lokasi Pementasan Teater Kondo Buleng di Kampung Paropo Oleh Sanggar Seni Ilolo Gading

LAPANGAN TERBUKA sore itu ramai oleh penonton. Properti teater sudah siap; jala dipasang melebar, dua buah gendang digantung, sebuah gong, sebuah pancing, sebuah senapan angin, dua buah bubu (perangkap ikan dari bambu), serta topi caping, semuanya menempal pada dinding tembok belakang rumah milik warga.

Dinding ini menjadi latar arena pertunjukan. Di bawahnya, satu lembar tikar ukuran 3×5 meter terhampar, sebuah gendang tergantung pada dudukannya, area ini tempat pemusik pengiring 7-10 orang. Satu lembar tenda lain seukuran 5×5 meter juga terhampar di depannya, menjadi arena pertunjukan Kondo Buleng. Alas tikar ini dipasang agar pemain tidak langsung bersentuhan dengan tanah yang kering berdebu. Arena pertunjukan dibatasi dengan tali plastik sekira 6×10 meter. Empat buah loudspeaker berdiri di keempat sudut pembatas ini. Para penonton berkerumun di luar membentuk huruf U.

Saya datang ke Kampung Paropo bersama Heather Lander, seniman visual dari Scotlandia yang sedang residensi di Tanahindie, Makassar. Selain dipadati oleh warga Kampung Paropo, rupanya banyak mahasiswa ilmu budaya dari Universitas Hasanuddin hadir pada acara ini. Ada yang memegang buku catatan, tripod dan kamera digital. Saya melihat beberapa pengajar sedang duduk di bangku kayu, salah satunya, Dias Pradidamara, dosen Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin.

Pertunjukan dimulai. Masuklah para pemain laki-laki berpakain adat Makassar berwarna hijau lengkap dengan passapu (ikatan kain) di kepala. Mereka yang berjumlah 7 orang memegang alat musik masing-masing. Seorang yang tertua memegang biola duduk bersila. Sebagai pengantar, dia mulai menggesek biola dan menyanyikan lagu dalam bahasa makassar, para pemain lain mengikuti dengan suara lebih tinggi. Gendang pun bertalu, lalu perlahan lenyap.

Pementasan Teater Kondo Buleng oleh Sanggar Seni Ilolo Gading di Kampung Paropo Makassar

Alunan musik kedua kembali dimainkan mengiringi nyanyian berjudul Daeng Camumu. Satu pemain teater berpakaian hitam masuk ke arena dengan topi caping dan alat pancing, dia mulai memainkan perannya. Setelah beberapa kali beraksi, bunyi biola, gendang dan nyanyian makassar kembali terdengar lalu berhenti. Masuk pemain berpakaian sama dengan lilitan sarung pada kepalanya. Ia membawa jala. Terjadi dialog antara pemancing dan penjala. Penonton terpingkal melihat adegan, mimik dan dialog mereka yang memperebutkan wilayah tangkapan ikan. Gesekan biola, gendang dan nyanyian makassar kembali terdengar dan berhenti kembali. Dua pemain berpakaian serupa masuk, seorang membawa bubu. Ia mencoba mengangkap ikan di wilayah yang sama, terjadi percekcokan antara mereka, gerak dan dialog kembali membuat penonton tertawa.

Seorang pemain dengan kostum Kondo Buleng (Bangau Putih) masuk ke pementasan, layaknya bangau terbang, dia mengelilingi pinggiran sungai. Burung Bangau dan warga berebut untuk menangkap ikan di wilayah itu. Walaupun bersaing, mereka semua tetap mencari ikan dengan cara masing-masing. Tak lama seorang Tuang (Tuan) berpakain putih dengan sepatu laras membawa senapan panjang. Kehadirannya memperkeruh perseteruan, warga menunjukkan letak bangau kepada Sang Tuan. Ia pun membidiknya beberapa kali. Tuan menembak bangau hingga mati, namun Tuan juga terpeleset dan tenggelam. Seorang nelayan melaporkan ke kepala kampung, lalu mereka diperintahkan untuk mencari mayat sang Tuan. Berbagai cara mereka lakukan untuk menyeberangi sungai yang dalam. Membuat jembatan namun gagal. Tiga orang berenang dengan gayanya sendiri. Tiga lainnya dengan cara lain, berperan menjadi perahu sambil mendayung hingga ke seberang. Mereka menemukan tuan. Kemudian menghidupkannya dengan mantra yang dinyanyikan. Mereka juga mencari bangau, dengan mantra sang bangau juga dibangkitkan. Pertunjukan selesai. Para penonton baik dewasa, pria dan wanita, anak-anak tertawa dengan mimik, tingkah, dan ucapan selama permainan berlangsung. Heather yang tidak mengerti percakapan para pemain, mengatakan, “pertunjukan ini sangat lucu dari tingkah dan mimiknya.”

***

HARI BERIKUTNYA saya berkunjung ke Kampung Paropo. Lokasi pementasan kemarin adalah ruang terbuka berbagai aktivitas warga kampung; tempat anak-anak bermain (layangan lagi musim pada bulan Mei).  Di ujung tanah lapang ini, di bawah sebuah atap tenda, 3 kurungan ayam dan tiga tumpuk kandang dari bambu, sekitar 5 orang dewasa berkumpul sedang memegang ayam Bangkok. Di sampingnya, yang dijadikan background pementasan kemarin terparkir dua mobil Avanza. Rupanya tanah lapang ini bukan milik umum. Dari luar dekat Jalan Abdullah Daeng Sirua, tanah ini berpagar seng dengan patok “Tanah ini milik Kolonel CPL Oktavianus, Hak Milik No. 113/1977 dengan Luas Tanah: +_ 1.328 M2.” Kalau tanah ini sudah terjual atau digunakan si pemilik, aktivitas warga akan tumpah ke jalanan dan lorong di kampung ini. Tak ada lagi ruang dan panggung warga seperti pementasan kemarin.

Dari Jalan Babussalam Raya – Jalan Abdullah Daeng Sirua, saya menyusuri Jalan Paropo I, jalan ini bisa dilalaui satu mobil. Rumah-rumah berajajar berhadapan tanpa halaman. Di sebelah  kiri, saya melihat rumah dengan plang Sanggar Seni Gendang Tanjidor dengan sponsor PNPM, lalu disebelahnya Sanggar Seni Pengarajin Ketupat dengan sponsor yang sama. Saya terus menyusuri jalan ini. Banyak warga beraktivitas di pinggir jalan, ada yang duduk di atas motor, ada yang sedang membakar ikan, dan yang lain bercakap-cakap. Di sebelah kanan, terdapat masjid. Seorang lelaki tua sedang duduk sandar di depan pagar masjid, beralas kardus di pinggir jalan. Setelah masjid ini, saya melihat banner pada dinding tembok rumah yang sudah rapat ke jalan bertuliskan Sanggar Seni Tu’rikale Paropo. Tanpa Sponsor. Rumah-rumah di jalan ini berhimpit rapat satu sama lain. Pinggir jalan langsung berbatasan dengan dinding tembok rumah atau teras maupun pagar dengan parit selebar tiga jengkal diantaranya. Rata-rata sudah bangunan tembok permanen. Ada yang berlantai dua. Pada dinding tembok saya tidak menemukan mural yang menarik mata, seperti yang selama ini dilakukan oleh pemerintah kota makassar pada beberapa tempat (lorong)

Di sudut ujung Jalan Paropo satu saya melihat satu sumur yang ditembok setinggi setengah meter. Beberapa orang saya lihat mengambil air. Berbelok ke arah Jalan Paropo II, sebelum simpang jalan terdapat tiga susun kandang ayam dari bambu di pinggir jalan menempel pada dinding tembok, di atas parit. Pada persimpangan jalan di Paropo II ini, mencolok satu rumah permenen lantai satu, di depannya terdapat plang bertuliskan rumah sehat. Rumah tua permanen ini, ditembok pagar keliling, namun di sekeliling bangunan rumah terdapat tanah yang ditumbuhi pohon pisang, mangga, bunga dan tanaman lainnya. Rumah ini sangat berbeda dengan jenis rumah yang saya lewati. Patut menjadi rumah sehat dengan kategori halaman rumah dan tanaman di sekelilingnya.

Saya menyusuri Paropo II bertolak dari Jalan Abdullah Daeng Sirua. Di sudut persimpangan tampak satu bangunan yang berbeda; Rumah panggung kayu khas Bugis-Makassar. Rumah ini merupaka Taman Baca Panakkukang. Bagian bawah atau kolong rumah dijadikan untuk sekolah Pendidikan Anak Usia Dini. Pada bagian atas, dengan menaiki tangga tangga kayu pada sebelah kiri dan kanan, merupakan ruang yang lapang tanpa dinding. Beberapa anak-anak sedang bermain di atas. Terdapat beberapa kursi plastik dan meja. Sepertinya tempat ini biasa dijadikan tempat pertemuan warga. Hanya dibatasi pagar pembatas pada pinnggirnya. Di bagian belakang adalah perpustakaan di dalam ruangan yang tertutup. Bagian belakang rumah taman baca ini menempel pada bangunan masjid.

Dari Paropo II, saya menuju ke Paropo III arah Jalan Abdullah Daeng Sirua. Di ujung jalan Paropo III, dibelakang rumah warga masih tampak tanah kosong yang banyak ditumbuhi tanaman pandan setinggi empat meter. Di sudut jalan ini, seorang pemuda bertelanjang dada, tangannya bertato sedang memberi makan ayam di pinggir jalan di depan rumahnya. Selanjutnya di pertigaan jalan dekat jalan poros Abdullah Dang Sirua, di sudut jalan menembus paropo II terdapat satu rumah tempat satu sanggar seni.

***

RUMAH DAENG ARSYAD disapa Daeng Aca’, berada di tengah Kampung Paropo, Jalan Babussalam 4. Menuju ke rumahnya melewati paving block diantara tembok bangunan rumah yang hanya bisa dilalui satu sepeda motor. Di dinding tembok rumahnya terdapat plang Sanggar Seni Ilolo Gading.

Anggota Sanggar Seni Ilolo gading Sebelum Pentas

Hanya satu meter melangkah dari pinggir jalan sempit ini, saya sudah berada di ruang tamu rumahnya. Sebuah lemari kaca ukuran satu meter terpasang di sudut, tempat pakaian adat makassar disimpan. Piagam dan foto-foto pementasan juga terpajang di atasnya. Semua dinding yang tembok di ruang tamu ini, dipasang banyak foto pementasan, dua topeng kayu, berbagai piagam, dan satu foto keluarga yang paling besar diantaranya. Beberapa gendang disimpan di pojok belakang sofa. Saya dan Daeng Aca’ duduk bersebelahan di kursi ini.

Ia mulai memainkan biola saat berusia kelas 4 Sekolah Rakyat. Setiap hari setelah menjual ikan, tangan ayahnya yang masih dipenuhi sisik ikan melatih Daeng Aca menggesek biola. Ayahnya berpesan, “belajar nak, kalau malam saya tidak bisa melihat, kau yang bisa mengantikan saya”. Dimanapun ayahnya bermain ia selalau ikut, kadang ia tidur di paha ayahnya. Pada saat kondo buleng dimainkan, ia dibangunkan untuk menonton. Ayahnya pernah bernazar, kalau ia pandai bermaian biola akan diadakan pesta syukuran untuk makan sokko (ketan) dan telur. Daeng Aca akhirnya sudah bisa bermain biola dan beryanyi. Syukuran pun dilakukan. Saat itu, ia masih kecil sudah memimpin pertunjukan.

Pada tahun 60-an, kampung yang biasa mengundang mereka seperti Kampung Sero, Karunrung, Liukang, Paccinongang, Tidung Mariolo, Balang Baru, dan kampung-kampung di wilayah pegunungan. Mereka biasanya berangkat sore dengan bendi atau berjalan kaki. Mereka pulang berjalan kaki, kadang shalat subuh di jalan.

Menyebut beberapa anggota I Lolo Gading yang seangkatan dengan ayahnya antara lain Daeng Abbasa (Ayahnya), Ambo Tibo, Haji Para dan Daeng Udding. Saat itu, pertunjukan mereka disebut Akkarena Bado-Bado. Belakangan ini disebut sebagai teater. Dalam pertunjukan ini terdapat rangkaian acara seperti Tari Siru, Macan dan Kera, Gandrang Bulo, Kondo Buleng, Pepe’pe ri Makka. Pementasan dilakukan pada acara siklus hidup bugis-makassar seperti aqiqah, sunatan, perkawinan, masuk rumah, maulid. Pementasan mereka banyak dilakukan di halaman rumah khas bugis-makassar. Belakangan mereka juga mengisi kegiatan di panggung atau gedung yang diadakan oleh pemerintah, kegiatan wisata dan budaya serta kegiatan para pengusaha.

Sudah 48 tahun Sang Maestro, Daeng Arsyad bermain. Dulu mereka latihan di halaman rumah yang ada di Jalan Paropo I. Saat itu, ada empat rumah yang berhadapan dengan halaman yang luas, di sanalah mereka latihan. Kini, mereka latihan halaman sekolah Taman Kanak-Kanak yang tepat di depan rumahnya atau di dalam kelas sekolah tersebut. Sekarang jumlah anggota sanggar ini 20 orang.

Dalam pementasan, ia selalu mengingatkan untuk tidak terlalu bangga atau sombong di kampung orang. “Pergi ke kampungnya orang jangan adatmu yang kau pakai, ikut adatnya orang disana,” itulah salah satu pesan yang disampaikan.

Selama berseni, belum ada yang menyuruhnya pulang. Kunci baginya adalah menjaga ketepan waktu pementasan. Panggung Ilolo Gading sudah sampai dunia international. Sebut misalnya; Amerika, Jepang, Singapura, Korea Selatan. Mereka sudah bertandang ke Malaysia sebanyak 5 kali.  Saat berkunjung ke rumahnya, dua kelompok binaan yang memainkan Bale Sumange’ berangkat ke Bulukumba untuk mengisi acara perkawinan. Sanggar ini juga memeriahkan hari ulang tahun Kabupaten Enrekang tahun 2017.

Salah satu pertunjukan lain yang tersohor dari Paropo adalah tarian aktraktif dengan menyulut api pada sekujur tubuh dan pakaian (Pepe’ pepe ka ri Makka). Konon, pertunjukan ini hanya diajarkan secara garis darah (turunan). Awalnya hanya kelompok Ilolo Gading kemudian satu anggotanya membuat Sanggar Remaja. Satu sanggar lagi bernama Sanggar Turikale.

Dahulu, Kampung Paropo yang duu bagian dari Gowa memang dikenal sebagai kampung yang islami, beberapa syeikh dan tokoh berasal dari kampung ini, yang terkenal seperti Janggo Paropo. Sampai sekarang, Paropo juga sering menggelar Maulid Nabi yang disebut Maudu Lompoa ri Paropo. Untuk mengenang tokoh di Paropo, satu jalan di sebelah Jalan Abdullah Daeng Sirua diberi nama Jalan Janggo Paropo.

Daeng Aca’menitip harap pada anak cucunya untuk menjaga kesenian Makassar di Paropo. Seperti pesan ayahnya pada dirinya dulu. Seorang cucunya sudah diajaknya ikut pementasan. Anak bungsunya, Subhan, pemuda yang lahir 2 Mei 1985 ini juga tengah menyelesaikan studi akhir S2 di salah satu institute seni di Solo. Sanggar Seni Ilolo Gading yang berarti bambu muda berharap pada rumpun muda untuk bertunas dan memiliki panggung pementasan. Sebagaimana warga Paropo dan para pengunjung bisa menyaksikan identitas seni budaya Makassar ditampilkan di halaman Kampung Paropo.

 

***

GAMBARAN di atas menunjukkan salah satu permukiman di Kota Makassar yang disebut sebagai Kampung Paropo. Pada bagian pertama, dalam pementasan itu, isinya menggambarkan kehidupan sehari-hari warga. Penonton (warga) dan pemain tidak berjarak, begitupun pemain dan properti yang digunakan. Kadang pemain sendiri menjadi properti. Improvisasi membuat gelak tawa penonton pecah; Kebahagiaan yang tampak pada konteksnya, yang tidak ditemukan pada pentas di dalam gedung. Kedua, deksripsi tentang wilayah kampung di tengah kota yang kian mengalami perubahan. Kampung Paropo berada dalam wilayah Kecamatan Panakukkang, salah satu kawasan bisnis di Makassar (tak jauh dari Mall Panakkukang). Seperti perkampungan lainnya, Kampung Paropo terlihat masih terbengkalai.

Ketiga, proses transformasi pendidikan seni-budaya (pengetahuan, seni dan nilai-nilai).

Bagian pertama dan ketiga merupakan asset budaya yang dimiliki kampung ini (mewakii identitas budaya makassar yang sifatnya imajiner). Bagian kedua merupakan pembangunan infrastruktur yang sifatnya fisik.

Bagaimana membangun kampung di tengah kota seperti ini? Beberapa perancang pembangunan berangkat dari model pembangunan yang berbasis aset. Salah satunya aset budaya dan seni. Bagaimana mendudukkan pembangunan dengan kebudayaan. Terdapat model perencanaan pembangunan (cultural asset based development). Model ini melihat budaya dan seni bukan hanya bagian seremonial yang biasa dipentaskan pada saat pembukaan atau penutupan berbagai kegiatan. Tetapi bisa menjadi bagian dari proses pembangunan itu sendiri. Untuk memajukan kampung-kampung di Makassar.

Misalnya dengan sederhana di Kampung Paropo, kalau ingin membangun baruga terbuka atau ruang terbuka untuk kegiatan pusat budaya, pemerintah membeli lahan lalu menyediakannya (fisik), namun sekaligus membuat bagaimana ruang tersebut bisa berkelanjutan. Disini fungsi kebudayaan sebagai panggung dalam proses pendidikan dan membangun kesadaran, seperti yang digambarkan pada bagian pertama dan ketiga tulisan di atas.

Setidaknya untuk memulai proses pembangunan seperti ini, beberapa yang perlu dilakukan antara lain; 1). Menemukan keragaman aktivitas kesenian dan budaya yang masih hidup serta sumberdaya manusia yang peduli dengan aktivitas tersebut di suatu wilayah 2). Membentuk kelompok atau pendamping terkait metode dan cara melakukan pembangunan berbasis budaya tersebut, 3). Implemantasi dan kolaborasi praktik rencana pembangunan 4). Mengembangkan rencana pembangunan ke kampung-kampung wilayah kota sesuai dengan kondisi dan asset masing-masing.

Sebagai teladan, Kampung Kali Code disulap oleh oleh Romo Mangun dari pemukiman kumuh menjadi menarik. Kemudian Kampung Ketandan wajahnya dirias oleh warga kampung sendiri atas inisiatif Ibu Risma, Walikota Surabaya. Senangnya jika Kota Makassar menjadi kota yang nyaman dan membahagiakan warganya. Menuju Kota Dunia yang tidak tercerabut dari budaya bangsanya[].

 

Penulis : Siswandi

Alumni Ikapol (angkatan 2004)

Saat ini bekerja sebagai Pengorganisir Masyarakat di Enrekang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *