Kisah Klasik Komunitas Tangga Art

Komunitas Tangga Art dengan latar tembok tempat aksi coret coret

ERA 90-AN BOLEH JADI merupakan era keemasan bagi aktifitas mahasiswa di kampus. Geliatnya bukan hanya ramai dengan aneka kegiatan rutin lembaga kemahasiswaan (ektra maupun intra), tapi juga semarak kelompok-kelompok budaya yang begitu banyak. Kelompok-kelompok kultural ini pun memiliki ciri beragam. Ada yang bernuansa kajian ilmiah, ada pula bernuansa hobi seperti pecinta alam, seni, musik dan lain-lain.

Di masa itu sungguh mudah mendapati orang-orang berdiskusi, atau sekadar nongkrong, bersantai dan bercerita banyak hal. Kelompok-kelompok budaya ini memiliki tempat  nongkrong yang biasanya juga menjadi nama dari komunitasnya. Di setiap fakultas di Unhas kelompok-kelompok seperti ini juga eksis. Bahkan ada kelompok yang anggota-anggotanya lintas fakultas. Hidupnya kelompok-kelompok kultural ini boleh jadi merupakan penanda bagi kehidupan mahasiswa zaman dulu dengan sekarang.

Bagi mahasiswa Fisip yang kuliah di akhir tahun 90-an (1996 – 2000-an), dipastikan sebagian besarnya pernah mendengar komunitas bernama TANGGA ART. Tangga Art merupakan salah satu komunitas budaya saat itu dari sekian komunitas yang ada. Anak  Mimbar, Anak Tangga Perjuangan, dan Anak Baruga Bawah adalah beberapa contohnya. Nama Mimbar merujuk kepada Panggung MIMBAR dan kelompok ini tepat menongkrong di balik panggung. Nama Tangga Perjuangan berujuk ke Tangga dalam area FIS 8—entah apa makna perjuangan dalam kata bagi komunitas ini. Lalu kata Baruga pada Anak Baruga Bawah, tentu merujuk ke gedung Baruga Andi Pangerang Pettarani.

Jadi, penamaan Tangga Art merujuk ke tempat anak-anak mahasiswa ini nongkrong, yakni di tangga FIS IV di gedung perkuliahan Fisip. Posisi tangga ini cukup strategis waktu itu, selain sederet dengan lokasi Sekretariat sejumlah Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) tempat mereka juga tak jauh dari ruang kuliah. Jadi, bagi mahasiswa yang sehabis beraktifitas di HMJ atau yang lagi menunggu waktu kuliah  ataupun bolos kuliah—tentu saja ini paling banyak—Tangga ini merupakan pilihan yang tepat untuk nongkrong.  Belum lagi pada waktu itu tak jauh dari Tangga ada ‘Mace Penjual’. Maka lengkaplah semua kebutuhan untuk nongkrong sepanjang hari.

Bagaimana TANGGA ART terbentuk?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas ada sedikit cerita tentang konteks sosial kehidupan mahasiswa pada era itu, khususnya di FISIP. Dari banyak cerita terkait setidaknya ada 4 hal yang menguras perhatian dan energy mahasiswa: [1] kuatnya sentimen antar angkatan, [2] arogansi antar himpunan yang kental, [3] Arogansi antar Fakultas serta [4] kuatnya dominasi salah satu komunitas di Fisip—komunitas ini pernah di ceritakan sebelumnya:(link-an ke “anak-anak Kantin” dan “Ketegangan menjelang Mimbar”).

Komunitas ini merupakan komunitas yang sangat hegemonik dan legendaris di FISIP bahkan FIS. Pengaruhnya bukan hanya di dunia pergaulan tapi juga di percaturan “ekopolitik” Fisip. Sebagai contoh, bagi yang ingin menjadi ketua senat atau ketua ospek haruslah mendapat “restu” dari komunitas ini. Nah, kondisi-kondisi tersebut menjadi kesadaran umum bagi mahasiswa FISIP termasuk mereka yang biasa nongkrong di Tangga (art). Singkat cerita, mereka merasa harus ada hal yang perlu dilakukan guna mencairkan kondisi yang tak menyenangkan ini—agar situasi kampus aman, tenteram dan ceria selalu.

Komunitas Tangga Art usai pelaksanaan Ospek tahun 1999

Lalu darimana memulainya?

Saat itu, memulainya adalah melalui kelompok kecil seangkatan.

Sebenarnya cukup banyak yang di lakukan oleh angkatan-angkatan sebelumnya untuk membangun situasi FISIP yang lebih inklusif. Upaya itupun coba dirintis oleh kawan-kawan angkatan 96, berkat dukungan Bang Andi Yani (adm 94), Bang Tomy (Politik 94), Bang Wandy (Adm 94), Bang Idol (Kosmik 94) dan abang-abang lainnya. Kawan-kawan angkatan 96 mengadakan kegiatan pertandingan sepak bola antar HMJ se-FISIP yang di namai “Fisip 96 Fun Soccer”.

Mates (Pemerintahan 1996) menjadi ketua panitianya. Ide dasar pelaksanaan kegiatan ini adalah untuk ‘mengakrabkan anak-anak 96 Fisip’ agar polarisasi kelompok dapat menjadi lebih cair atau tidak begitu menguat di antara mereka. Walhasil, kegiatan ini berhasil menyatukan angkatan 96 baik mahasiswa yang belajar di Tamalanrea maupun di Baraya. Sejak itu komunikasi pun mulai berjalan dan mereka mulai membincangkan banyak hal. Seingat penulis, kegiatan serupa dari dua angkatan berbeda—seperti 1997 dan 1998—juga mereka lakukan.

Kita kembali ke Tangga Art .

Kelompok Tangga Art sebenarnya bukanlah komunitas tunggal dari angkatan 96 saja, tapi juga berasal dari dua angkatan lain: 95 dan 97). Lagi pula, usia antar angkatan ini cukup dekat di tambah lagi sebagian besar adalah teman yang sudah saling mengenal sejak SMA. Hingga memudahkan pembauran antar angkatan.

Dalam  perjalanannya, Tangga Art tidak hanya menghimpun anak-anak Fisip. Saat itu ada Fadli dan Kiky (Teknik 97), Ulla dan Ucok (MIPA 96), Ipul (Peternakan 96), Ende, Farid, Aco, Fami, Eka, dan Adit (Ekonomi), serta Alex (Sastra).

Adapun tambahan kata ‘ART’ hal itu dilatari dengan melihat kesamaan diantara kawan-kawan Tangga Art yang  suka akan seni terutama seni musik. Bahkan banyak di antaranya punya skill yang mempuni menggunakan alat musik (salah satunya Ferry yang di kemudian hari menjadi personil penting di ART2TONIC, ada Iccang Gode’ dan Atong personil FISIP Band).  Kegandrungan akan musik benar-benar menjadi unsur perekat pada saat itu. Bahkan Tangga Art melahirkan group band yang bernama “Palsu band”. Band yang belakangan kita curigai menginpirasi Fadli Padi membentuk Padi Band. #Eh.

Palsu Band Tahun 1999

Singkat cerita, siang itu Tangga Art di “formalkan” menjadi komunitas. Sejak hari itulah Tangga Art tidak lagi hanya tempat nongkrong tetapi sudah menjadi komunitas dengan seni dan musik sebagai cirinya.

Kegiatan-kegiatan Tangga Art

Seiring perjalanan waktu, Tangga Art kemudian menjadi komunitas yang dikenal dan aktif. Salah satu penandanya adalah banyaknya “undangan” dari komunitas lain untuk menghadiri kegiatan mereka: contohnya undangan dari JASBOG Pertanian dan anak KORIDOR MIPA.

Pergaulanpun meluas. Tempat nongkrong bukan lagi hanya di Tangga Art. Kami sering ke LT3 Fak. Mipa. Selain itu, kami juga kerap berkumpul di rumah Mas Agung (Politik 96) di Jl. Lompo Battang No. 216 (Lombat 216). Rumah itu merupakan markas kedua kami. Sementara itu, kami juga kerap berkumpul di rumah Gego (HI 97) di Jalan Kakatua II. Lalu, setiap minggu selalu saja ada waktu yang kami habiskan di Pantai Losari (lama).

Di lingkungan Fisip, Tangga Art kian mendapat perhatian. Jika ada kegiatan—semisal program Kerja—yang bernuansa seni atau musik, maka Komunitas Tangga Art akan menjadi rujukan. Setidaknya ada 3 kegiatan yang [pernah] dikerjakan oleh Tangga Art bareng Senat Mahasiswa Fisip, serta 1 kegiatan mandiri.

  1. Inaugurasi Maba 99

Pasca Ospek Mimbar 99 anak Tangga Art terlibat di acara Inaugurasi, ketua panitia saat itu Elu (komunikasi 96) dan Eki (HI 95), Atong (Kosmik 95) dan kawan-kawan angkatan 95 lainnya sebagai panitia pengarah. Berbeda dengan ospek, inaugurasi kegiatannya lebih kental nuansa seninya dan tentu saja dalam suasana yang lebih Fun. Kegiatan inaugurasi merupakan kegiatan puncak dari proses pengkaderan tingkat fakultas, tak heran jika kegiatan ini menjadi indikator keberhasilan suatu kepengurusan senat. Di tingkat universitas inaugurasi menjadi semacam momentum untuk menunjukkan kebesaran (Glamour)  Fakultas masing masing.

Kegiatan ini walaupun hanya 1 malam tetapi persiapannya cukup panjang, item acara cukup banyak dan butuh waktu lama menggodoknya. Salah satu item acara yang cukup lama dibuat adalah parodi_sepertinya ini item wajib di acara kemahasiswaan waktu itu. Setidaknya ada beberapa tahap yang di lakukan dalam membuat Parodi. Tahap pertama, menentukan tema dan alur cerita; kedua, membuat skrip; ketiga, Proses dubbing; dan Keempat, Latihan.

Proses paling rumit adalah dubbing, berhubung kala itu teknologi masih terbatas jadi semuanya dilakukan secara manual. Semisal untuk dubbing suara benar-benar dilakukan dengan menggunakan Tape Record (double deck) sebagai alat recording yang prosesnya harus diulang beberapa kali untuk dapatkan hasil yang maksimal. Sedikit cerita sewaktu dubbing suara untuk kebutuhan parodi di atas, waktu itu dibutuhkan musik latar untuk adegan orang mabuk, rencana awal menggunakan lagu dari soundtrack film kungfu  (wong fei hung) sebagai musik latar akan tetapi kaset (pita) tidak ada jadilah suara manual yang dimasukkan. Ajaibnya, dengan segala keterbatasan rangkaian acara bisa di rampungkan dan dipentaskan dengan baik pula. Pada acara ini juga Palsu Band tampil dengan apiknya memukau ribuan mahasiswi yang hadir. #Hallah.

  1. Festival Musik di Lapangan FIS.

Era 90-an memang sulit dilepaskan dari musik. Musik menjadi kemewahan dari generasi ini dan hampir semua genre musik hidup dan memiliki penggemarnya masing-masing, baik itu yang popular maupun  indie label/underground. Tak berlebihan jika ada yang berpendapat musik merupakan medium pengikat (koesifitas) dari pergaulan anak-anak muda era itu. Nongkrong di lorong atau di kamar sambil mendengarkan musik, menonton festival musik merupakan menu wajib era itu. Begitupun di gerakan mahasiswa, lagu menjadi alat agitasi di kala aksi.

Pada era itu juga musik Indonesia dalam puncak kejayaannya. Bukan hanya di level nasional di tingkat lokal juga sangat semarak, tak terhitung band lokal dari berbagai genre yang lahir. Festival ataupun bazar musik nyaris tiap minggu diadakan oleh berbagai kalangan terutama lembaga kemahasiswaan.

Salah satu di antaranya Festival musik yang diadakan oleh Senat FISIP  yang mana anak Tangga Art sebagai panitia pelaksana (ketua panitia Osman /ADM 97). Acara ini berlangsung di lapangan FIS. Momen paling diingat di acara ini ketika Atong menyanyikan lagu “ White Shade Of Pale”  mengunakan harmonika untuk mantannya yang bernama: sebut saja namanya Mawar. Romantis, bukan. Tapi untuk apa romantis untuk mantan?

  1. Festival Musik Biru Kuning

Salah satu kegiatan besar yang diselenggarakan oleh Tangga Art (dengan Senat Mahasiswa FISIP tentunya) adalah Festival Musik Biru Kuning. Acara ini di ketuai oleh (Alm) Ucu (HI 97) yang berlangsung di Pelataran PKM Unhas.

Komunitas Tangga Art sebelum Festival Musik Biru Kuning di PKM Unhas

Sedikit cerita tentang pelataran PKM. Lokasi ini merupakan salah satu titik utama aktifitas mahasiswa unhas kala itu. Lokasi ini juga menjadi pusat bagi mahasiswa menunggu angkot untuk pulang. Maklum, masa itu masih jarang mahasiswa menggunakan kendaraan pribadi. Praktis moda transportasi utama adalah Pete Pete kampus. Nah, lokasi paling strategis menunggu Pete Pete—terutama di sore hari—adalah di depan PKM.

Pada hari-hari tertentu atau yang biasa di sebut “Hari Pasar” PKM benar-benar menjadi pusat keramaian. Tak ayal lokasi ini menjadi semacam melting pot mahasiswa unhas kala itu. Rasa rasanya ini juga kemewahan di masa itu. Setidaknya memberi peluang berkenalan dengan mahasiswi dari fakultas lain. Syukur-syukur bisa satu Pete Pete dan kita dibayarkan. Poinnya, waktu menunggu pete pete dan pete pete itu sendiri menjadi medium sosialisasi kala itu.

Nah, kembali ke acara musik. Awalnya acara ini rencana dilaksanakan di pinggir danau Unhas dengan menggunakan panggung terapung di atas danau. Tapi setelah di pikir-pikir secara teknis sangat rumit maka lokasinya di pindahkan di pelataran PKM. Acara ini tergolong besar dan tentu membutuhkan dana yang besar pula. Pihak senat[1] menyediakan dana awal yang hanya cukup untuk kebutuhan administratif (buat proposal, surat-surat dll) selebihnya harus pontang panting cari sponsor.

Panitia Festival Biru Kuning “Penjaga Panggung” th 1999

Salah satu properti yang paling dibutuhkan adalah panggung rangka besi—yang memang lagi top era itu—biayanya sewanya cukup mahal. Setelah pontang panting mencari dana tetap saja belum cukup untuk sewa panggung dan sound system. Sedangkan waktu pelaksanaan kian mepet. Tidak ada cara lain selain harus ada yang menalangi lebih dulu alias mengutang. Untunglah berkat lobi dan upaya barisan Dharma wanita Tangga Art akhirnya berhasil mendapatkan talangan dana untuk mencukupkan kebutuhan yang kurang.

Kegiatannya sendiri berjalan kondusif walaupun ada sedikit gesekan tapi tidak mengurangi kelancaran acara secara keseluruhan.  Ketika acara usai barulah kerumitan dimulai, yakni bagaimana mengganti dana yang dipinjam untuk acara tersebut. Setidaknya ada 2 cara yang kami tempuh waktu itu: Menarik sumbangan dari anak-anak Tangga Art yang menerima beasiswa dan Mengadakan acara penggalangan dana alias Bazar yang hasilnya digunakan untuk membayar utang.

Singkat cerita setelah semua beasiswa cair dan beberapa kali mengadakan Bazar akhirnya utang tersebut dilunasi. Nah, begitulah cara mahasiswa tempo doeloe menyelesaikan masalah tanpa masalah. Oh iya! di acara ini, Palsu Band tampil lagi sebagai band pembuka.

  1. Invitasi Bola Basket 3 on 3 dan Festival musik di Lapangan Basket karebosi.

Ini merupakan kegiatan mandiri pertama yang dilakasanakan oleh Tangga Art. Kegiatan ini di ketuai oleh saudari Inna (HI 98). Ide kegiatan ini berdasar pada harapan agar Tangga Art tidak hanya dikenal di Kampus tetapi juga di luar kampus. Itu juga menjadi alasan kenapa kegiatannya di luar kampus. Seiring dengan keinginan tersebut dicarilah juga sekretariat luar sebagai markas kegiatan. Setelah segala daya upaya dilakukan didapatlah tempat yang murah sebagai sekretariat. Lokasinya di jalan Bontolempange tepatnya selang 1 rumah dari markas HMI.  Singkat cerita di sinilah aktifitas bermula lagi.

Komunitas Tangga Art Usai festival Musik dan Invitasi Bola basket di Lapangan Karebosi

Kegiatannya sendiri menggabungkan 3 kegiatan sekaligus: Pertandingan basket 3 on 3, Try Out, dan festival musik. Dengan format tersebut dibutuhkan energi dan dana besar untuk melaksanakannya. Kami kemudian membentuk beberapa tim yang di bagi berdasar item-item acara serta 2 tim khusus: Satu tim publikasi yang di mandori oleh Fadli dan tim pencari sponsor (Osman, Gego, Irdjan, Wandi, Ana, Eki, Ancong dll).

Dikarenakan acara ini membutuhkan dana besar maka sebagian besar kebutuhan di upayakan tidak mengeluarkan biaya. Salah satu item yang butuh biaya besar adalah media publikasi, pada masa itu umumnya media publikasi menggunakan spanduk, baliho dan iklan radio yang semua tentu membutuhkan biaya. Setelah dihitung-hitung, setidaknya ada 2 media publikasi yang di butuhkan: 1) Spanduk besar bergambar logo Tangga Art (lupa ukuranya), lalu 2) Baliho ukuran besar (8 tripleks). Maklum belum ada Digital Printing jadi semuanya serba manual. Lalu bagaimana mengadakan itu semua? Di sinilah “keliaran” dibutuhkan.

Untuk memenuhi kebutuhan di atas, tim publikasi di bawah komando bos Fadli (ada Ende, Mas agung, Adit, Temy, Amran, Memed, Mail, dll) setiap malam keliling kota mencari spanduk dan baliho yang izin atau acaranya sudah selesai. Setelah di dapat spanduk tersebut di ambil dengan cara memanjat atau dengan menggunakan bambu yang ujungnya diikatkan sebilah pisau untuk memutuskan tali pengikatnya.

Walhasil puluhan spanduk dapat dikumpulkan setiap malamnya. Spanduk-spanduk yang terkumpul kemudian dimasak bersamaan dan diberi zat pewarna (wantex) hingga warnanya menjadi satu. Alat masaknya waktu itu menggunakan drum tempat sampah (yang juga hasil curian) dengan ban mobil sebagai bahan bakarnya. Setelah proses masak memasak selesai lalu di keringkan, baru setelah itu spanduk-spanduk tersebut digambar sesuai desain yang diinginkan. Rumit, bukan? Disitulah hebatnya.

Aksi  paling ajaib dari tim ini adalah ketika menyulap Baliho acara pesulap Deddy Courbuzer menjadi baliho acara Tangga Art.  Ceritanya waktu itu ada acara yang menghadirkan Deddy Courbuzer di salah satu hotel di Makassar, kebetulan saja ukuran baliho acara tersebut pas seperti yang di butuhkan. Baliho tersebut terpasang di Perempatan Jl. H. Bau dan JL. Arif rate. Kontan saja rencana operasi pun disiapkan. Tepat pada malam acara tersebut dilaksanakan Tim ini sudah berada di lokasi baliho itu berada. Nah, pas waktu acara itu berakhir operasi pembongkaran baliho pun dilangsungkan di bawah instruksi bos Fadli. Tak kurang dari 30 menit baliho itu pun terbongkar dan diangkut ke sekretariat dan malam itu juga baliho tersebut diubah gambarnya disesuaikan dengan  acara Tangga Art. Dan, malam keesokan harinya Baliho tersebut di pasang kembali tepat di tempat yang sama pula. Hmm, ajaib, bukan?

Singkat cerita acara ini berjalan sukses, kawan-kawan berhasil membayar lunas harapan  melaksanakan kegiatan di luar kampus. Tak seperti acara sebelumnya acara ini tidak meninggalkan utang ataupun gesekan selama acara berlangsung. Oh iya, Palsu band tampil lagi di acara ini, seperti biasa spesialis band pembuka alias tes tes alat.

Begitulah, cerita singkat Tangga Art. Salah satu komunitas yang pernah hidup dan memberi warna pada kehidupan kampus di masanya. Seperti komunitas lainnya di dunia kemahasiswaan, Tangga Art pun harus urut undur seiring menipisnya masa studi. Masanya pun berakhir sekaligus memberi ruang bagi yang lain untuk lahir dan memberi warna sesuai dengan zamannya. Sekian.

*seusai membaca tulisan ini, mari kita mengirim doa untuk kawan Ucu (HI 97), Memed (ADM 97), Igor (Kosmik 96), Adi (Pemerintahan 96) yang  telah lebih dahulu mendahului kita semua. Amin.

[1] Lebih tepat DPM sebab senat dalam masa transisi, SK kepanitiaan sempat di permasalahkan karena di keluarkan oleh DPM tapi  berkat perjuangan sdr Himar (sebagai ketua DPM) hal ini dapat diselesaikan dengan baik.

Penulis: Irawan (Ikapol Unhas Angkat 1996)

Peneliti Ilmu Politik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *