KETEGANGAN MENJELANG MIMBAR 1998

 

Ini sepotong kisah yang dimulai pada tahun 1998. Arenanya adalah seputar menjelang pelaksanaan dan setelah MIMBAR 1998. Kisah tentang pergolakan internal mahasiswa Fisip Unhas, antara ‘Kelompok Kantin’[1] dan ‘Kelompok Pengurus Organisasi mahasiswa’. Perbedaan cara pandang dan perbedaan dalam bertindak telah menjadi habitus dalam dunia kemahasiswaan. Persoalan siapa benar dan siapa salah bukan hal yang utama dalam tulisan ini. Namun tulisan ini sekadar mengingatkan kembali siapapun yang pernah merasakan dan terlibat di dalam masa-masa pendek itu.

 

KETUA SENAT FISIP-UNHAS, Muhammad Nur Alamsyah (Pemerintahan 1993) merasakan betul bagaimana tekanan dari ‘Kelompok Kantin’ terkait kebijakan senat mahasiswa. Salah satu yang paling keras tekanannya adalah saat menjelang pelaksanaan Opspek 1998, atau dengan sebutan internal fisip MIMBAR: Masa Inisiasi Mahasiswa Baru.

 

Saat itu, bisa dikatakan, kekuatan organisasi-organisasi kelembagaan mahasiswa di tingkat FISIP cukup kuat dan solid. Tetapi, dominasi ‘Kelompok Kantin’ juga amat terasa dalam memengaruhi bahkan mengintervensi beberapa gagasan atau kegiatan lembaga, khususnya Ospek. Istilah yang lebih familiar sebenarnya adalah ‘Anak Kantin’ ketimbang kelompok kantin (baca tulisan Kanda Hasanuddin Galih Link). Mereka adalah sekumpulan mahasiswa yang memiliki kebiasaan yang sama dan berkumpul di kantin Fisip. Yang pasti mereka kebanyakan tidak tergolong sebagai ‘mahasiswa bureng’—pemburu rangking atau sebuah istilah lain saat itu buat mahasiswa yang kerjanya hanya ke ‘Kampus, Kamar, dan Kampung’. Mereka suka bermain domino, beberapa minum minuman keras di kampus, dan have fun! Tapi, beberapa kebiasaan itu tidak berkaitan langsung dengan soal kecerdasan, beberapa diantara mereka tentu saja adalah mahasiswa yang pintar—dan tentu saja juga berorganisasi. Entah siapa yang mempopulerkan penyebutan itu ‘anak kantin’ itu. Tapi itu adalah label yang melekat pada kelompok ini, khususnya saat mahasiswa sudah berkumpul merencanakan aneka kegiatan kampus termasuk momen pemilihan ketua organisasi.

Beberapa pelaksanaan OSPEK sebelumnya selalu menjadi arena perebutan kepentingan dua kelompok besar ini di Fisip, yaitu ‘anak-anak organisasi’ dan ‘anak-anak kantin’. Keduanya berebut posisi dan berupaya menunjukkan dominasinya atas dinamika kemahasiswaan. Salah satu kepentingan kelompok kantin adalah beberapa jenis ‘tender pengadaan’ untuk ditangani, misalnya pengadaan seragam dan perlengkapan ospek bagi mahasiswa baru. Maka, jika Kelompok Kantin bisa mendorong calon ketua Opspek (MIMBAR) yang mereka ajukan dan menjadi ketua MIMBAR maka itu menjadi pintu merebut sumberdaya dan pengaruh.

Untuk mengimbangi dominasi itu, Pengurus Senat Mahasiswa FISIP mendapatkan dukungan baik dari DPM maupun 9 Ketua himpunan di FISIP. Ketua DPM Fisip adalah Amri Ampa (Administrasi 1994) dan sekretarisnyanya adalah Rahmat Abdul Radjab (Politik 1994). Ketua Himapol, Ishak Salim yang didukung oleh beberapa senior yang punya pemikiran yang sama dengan pengurus senat mahasiswa turut dalam barisan tersebut. Begitu solidnya kepengurusan organisasi-organisasi intra-kampus ini, membawa mereka pada satu kesepakatan: Akan mengawal pelaksanaan OPSPEK sebaik-baiknya: Tanpa pungutan, Tanpa Kekerasan!

Untuk mewujudkannya, salah satu kesepakatan dari 9 himpunan adalah membentuk ‘Panitia 9 MIMBAR’. Bentuk ini berarti mengabaikan sistem kepanitiaan dengan ketua panitia tunggal sebagaimana selama ini dilakukan. Kebijakan ini mendapatkan reaksi keras dari setiap himpunan di mana di setiap himpunan, tentu saja ada pula dominasi kekuatan ‘Kelompok Kantin’ yang memainkan peran melalui anggota-anggotanya. Perbedaan pemikiran, cara pandang, maupun gagasan dalam satu himpunan adalah keniscayaan.

Berbagai penentangan di tingkat himpunan yang dialami oleh para ketua himpunan menyebabkan konsolidasi ketua-ketua himpunan semakin diperkuat. Namun tekanan atas mereka tidak mengendur sedikitpun. Penentangan di tingkat fakultas tidak kalah sengitnya. Beberapa pimpinan Kelompok Kantin—secara langsung maupun melalui perantara senior—melakukan tekanan baik psikis maupun pisik kepada pengurus Senat dan pengurus BPM. Ketua senat Fisip dan ketua BPM bahkan pernah ditempeleng oleh salah satu pentolan Kelompok Kantin, Caco. Tapi, Ketua Senat maupun Ketua BPM walaupun dengan rasa harga diri tertindas, memilih tidak membalasnya. Tapi mereka justru semakin tertantang untuk menantang “kemapanan” Kelompok Kantin selama ini dalam mengelola OSPEK. Ketua senat bukan karena takut untuk melawan, apalagi dia seorang karatedo (Go Ju Kai), dia hanya bilang dengan tegas, “Bang, saya tidak akan balas, tapi saya tidak akan lupakan hal ini!”

Tekanan itu pula yang membuat konsolidasi kekuatan para pengurus organisasi mahasiswa ini menguat dan mendapatkan dukungan dari Komisi Disiplin (komdis Fisip) saat itu, Andi Sangkuru dan Andi Syamsuddin (alm) yang saat itu masing-masing menjabat juga sebagai Pembantu Dekan dan  Sekretaris jurusan Polpem. Bahkan, beberapa mahasiswa dari angkatan yang lebih muda (seperti angkatan 1996) juga menyatakan diri bergabung untuk mengawal pengurus senat.

Di Himapol, saat persiapan pelaksanaan OPOSAN 98 terjadi kericuhan. Saat itu, ketua Lokakarya pelaksanaan Oposan berasal dari angkatan 1996. Muhammad Nur adalah ketua panitia pelaksana lokakarya itu. Di saat lokakarya sedang berlangsung, tiba-tiba ada perkelahian di luar ruangan. Rupanya di luar sedang berkelahi antara Ali Murdani (Politik 1992) berkelahi dengan seorang mahasiswa, yang belakangan diketahui bernama Hasrul Hasis (Administrasi 1993[?]). Mendengar kericuhan itu, ketua Himapol dan Ketua panitia lokakarya dan semua peserta keluar ruangan. Tampak saat itu Ali dan Hasis sadang bergumul dan Ali berupaya merebut parang yang dipegang Hasis. Beberapa kawan yang berani datang membantu Ali. Tapi rupanya Hasrul Hasis tidak sendiri, ada satu atau dua kawannya. Salah satunya nyaris menikam Alwi Hasan (Politik 1994). Tapi orang itu sempat menyabet ke arah perut Alwi dan kulit perut itu tergores dan darah mengucur deras. Beruntung goresannya tidak begitu dalam, hanya kulit luar saja yang tersayat.

Rudihanto (Politik 1995), yang berhasil merebut parang Toraja Hasrul Hasis kemudian membawanya lari entah ke mana. Begitu parang terlepas, pengeroyokan terhadapnya tidak terhindarkan. Tendangan dan pukulan kepada Hasis diberikan bertubi-tubi oleh puluhan mahasiswa politik. Bahkan hantaman batu juga diayunkan ke kepala Hasis. Tapi ajaib, tak sedikitpun Hasis mengalami cedera. Kami berkesimpulan bahwa Hasis kebal saat itu.

Setelah pengeroyokan, Ketua Himpunan dan beberapa mahasiswa politik membawa Hasis dan bermaksud menyerahkan ke Pengurus senat. Di ruang senat, M. Nur Alamsyah meraih Hasis dan segera meminta salah seorang pengurus senat membawa Hasis pergi dengan memboncengnya. Ketua Himapol sempat marah, kenapa Hasis dibawa keluar kampus. Ia meraih kerah baju ketua senat dan mengancamnya. Ketua senat dengan tenang meminta ketua Himapol untuk tenang dan ia menjelaskan bahwa Hasis menjadi tanggung jawabnya dan menjamin bahwa urusan ini akan diselesaikan. Beruntung saat itu, ketua Lokakarya, M. Nur tidak menjangkau Hasis, padahal badiknya siap dihunuskan. Ia amat jengkel ada orang yang mau mengganggu acara di mana ia ketuanya.

Saat itu Pengurus Himapol melaporkan kejadian ini dan beberapa kali Hasis dipanggil oleh pihak kepolisian namun ia tidak mengubris panggilan-panggilan itu. Soal ini kemudian tidak terselesaikan secara hukum. Hasis yang sudah mengabaikan panggilan kedua tidak lagi mendapatkan panggilan ketiga. Begitulah biasanya kasus-kasus pidana diselesaikan di negeri ini, yakni tidak perlu diselesaikan.

Belakangan, konsolidasi pengurus-pengurus himpunan di tingkat fakultas membawa ketua Himapol dan beberapa anggota Himapol menyatakan mendukung sikap dan rencana pengurus senat mahasiswa dan DPM mengelola Ospek dengan baik. Pendeknya, dominasi Kelompok Kantin dalam pelaksanaan MIMBAR mesti berakhir di periode MIMBAR 1998. Tidak ada pungutan, minimalisir kekerasan dan mulai menerapkan pola kaderisasi yang berbeda dengan sebelumnya adalah harapan yang bisa diraih saat itu.

Setelah pernyataan komitmen 9 ketua himpunan, tekanan terhadap pengurus himapol khususnya kepada ketua Himapol mulai terjadi. Pentolan kelompok Kantin juga melakukan tekanan kepada ketua Himapol. Suatu hari, di ruang himpunan Kema Sosiologi, Caco juga menekan ketua Himapol. Batalkan kepanitiaan 9 adalah tuntutannya. Ia mengancam akan memukulnya dan mencarinya kemanapun dia pergi jika ia menolak. Ketua Himapol juga bergeming. Saat itu tidak ada pemukulan. Ali Murdani, senior politik yang juga ditakuti memilih masuk ke ruangan dan meminta ketua himapol keluar ruangan bersamanya. Ali membawanya ke sekretariat Himapol dan pembicaraan internal dilakukan.

Beberapa senior Himapol saat itu memberikan sejumlah pertimbangan penting. Obrolan lebih resmi akan dilanjutkan dalam rapat himpunan. Esoknya atau beberapa hari setelah itu, rapat himpunan dilakukan. Ketua himpunan dan anggota himapol yang segaris dengan kepanitiaan 9 seperti Nur Salam (1993), Rahmat AR (1994) dan Abdallah (1994) serta beberapa anggota pengurus himapol saat itu turut hadir. Anggota himapol memenuhi ruangan sekretariat. Salah satu yang hadir adalah Arfah/Chapa (politik 1995) yang merupakan calon kuat ketua Ospek yang didorong oleh kelompok kantin.[2]

Di Himapol, dibandingkan dengan himpunan lainnya, kebijakan panitia 9 ini memang lebih pelik. Himapol punya calon kuat ketua MIMBAR 1998, namun ketua Himapol sendiri sudah berkomitmen di tingkat Fisip. Mencabut kebijakan tersebut, bagi ketua Himapol berarti lari dari komitmen yang sudah dibangun sebelumnya. Ia lebih mementingkan skala kebijakan Fakultas ketimbang tekanan kuat di tingkat Himpunan. Ketua Himapol menyatakan diri tidak mau lari dari komitmen itu. Seiring dengan itu, dorongan agar ketua Himapol mundur dari kepengurusan mulai muncul.

Pertemuan-pertemuan semakin intens dilakukan, baik di kalangan pengurus di tingkat fakultas, antar ketua himpunan maupun kelompok kantin. Tekanan dari kelompok Kantin terhadap pengurus senat masih terjadi. Suatu hari sekelompok mahasiswa yang disinyalir Kelompok Kantin melakukan perusakan sekretariat senat dan BPM. Beberapa barang rusak dan televisi dibawa ke rumah salah seorang senior di perumahan dosen Unhas. Semakin kuatnya tekanan fisik membuat pengurus senat tidak bermarkas lagi di sekretariat. Sekretariat untuk berkumpulpun disepakati di luar kampus. Bahkan, lokakarya pelaksanaan MIMBAR di tingkat fakultas di lakukan di luar Fisip, yakni di salah satu desa di kecamatan Balocci, Pangkep.

Malam saat lokakarya berlangsung, ketua Himapol meminta dukungan dari mahasiswa politik angkatan 1996. Ia meminta khusus kepada Muhammad Nur untuk menjadi tameng bagi kelompok pengurus jika tekanan Kelompok kantin semakin menjadi. Nur setuju. Ia berjanji, bersama dengan beberapa kawan-kawannya seangkatannya yang lain mereka akan melindungi Pengurus senat dan pengurus Himapol. Belakangan, rupanya Hasrul Hasis pun masuk dalam skenario perlawanan itu. Entah bagaimana prosesnya, Hasrul Hasis turut berkomitmen untuk bersama-sama senat memperjuangkan kebijakan ini. Jadi, M. Nur yang awalnya sangat membenci Hasis karena membuat kekacauan tepat saat lokarkaya pelaksanaan Oposan berjalan kini berteman untuk bersiap berkelahi dengan Caco maupun pentolan Kelompok Kantin lainnya jika terjadi benturan.

Belakangan, setelah [atau sebelum?] pelaksanaan MIMBAR, Hasis dan Caco akhirnya bertemu (dipertemukan[?]) dan keduanya berkelahi dan menjadi tontonan mahasiswa dan dosen sefisip yang seru. Bukan hanya tontonan bagi mahasiswa, tapi juga sejumlah dosen dan bahkan ada pula Pak Andi Sangkuru. Perkelahian ini tentu saja bukan perkelahian tiba-tiba. Saat itu sudah ada kesepakatan, jika ada anggota Kelompok Kantin membantu, maka akan terjadi perkelahian massal. Sebenarnya, di masa itu ada pula tantangan berkelahi oleh Ostaf Al Mustafa. Ostaf adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi, pegiat Unit Kegiatan Pers Mahasiswa (UKPM) dan anggota Korps Pencinta Alam Unhas (KORPALA). Beberapa selebaran tertempel di dinding Fisip. Bunyi selebaran itu kira-kira seperti ini:

“Tantangan Duel. Saya Ostaf Al Mustafa menantang duel Saudara Caco. Silakan Saudara tentukan tempat dan waktunya. Saya tantang duel sampai mati dan disaksikan umum. Duel satu lawan satu.”

Beberapa kali memang Ostaf tampak berdiri di seputaran FIS dan menanti Caco menerima tantangannya. Ostaf mungkin laki-laki pemberani, tetapi dia juga punya Korps kuat di belakangnya. Apapun rencana dibalik tatangan duel Ostaf ini, tentu itu bukan niatan yang biasa.

Seiring waktu berjalan, kekuatan himpunan untuk menopang kebijakan kepanitiaan 9 melemah setelah Ketua Himahi dan Kosmik menarik diri dari komitmen mereka. Jika sudah demikian, maka kebijakan Panitia 9 ini tidak lagi bisa dipertahankan. Apalagi saat itu beberapa anggota himapol juga berani menyodorkan surat pengunduran diri kepada ketua himapol untuk segera ditandatangani. Karena tidak lagi bisa mempertahankan akhirnya ketua-ketua himpunan bersepakat untuk mencabut kebijakan 9 ketua himpunan itu dan tak lama setelah itu ketua Himapol menyatakan mengundurkan diri sebagai ketua. Berdasarkan konstitusi Himapol, Syahruddin sebagai sekretaris umum saat itu menjadi ketua.

Chapa kemudian mendapatkan persetujuan dari pengurus Senat Mahasiswa menjadi ketua MIMBAR 1998. Saat itu ketua senat mendorong nama Islah sebagai koordinator SC MIMBAR. Selain itu, ketua senat juga meminta agar ketua MIMBAR wajib memberikan pertanggungjawaban keuangan setelah usai pelaksanaan MIMBAR 98. Akhirnya, Chapa berhasil melaksanakan MIMBAR 98, namun karena gagal mendapatkan penilaian “WTP alias Wajar Tanpa Pengecualian” (ini meminjam istilah yang belakangan muncul untuk menilai kinerja pemerintah daerah), maka mantan ketua MIMBAR mendapatkan sangsi skorsing selama satu semester.

Kuatnya tarik menarik kepentingan di tingkat mahasiswa sebenarnya bisa tidak sekeras ini jika Pihak rektorat maupun pihak Dekan bisa bersikap tegas kepada kelompok kantin yang melakukan represi yang keras kepada pengurus resmi senat maupun himpunan. Tentu pengabaian itu juga dilatari oleh sejumlah kepentingan yang samar bagi kebanyakan mahasiswa. Tapi pihak dari dosen maupun mahasiswa senior tahu betul akar-akar timbulnya pengabaian itu. Beberapa tahun sebelumnya ada peristiwa ‘Black September’ tahun 1992—di mana mahasiswa Fisip dalam tawuran antar fakultas, membakar beberapa bagian dari Fakultas Teknik—dan sejumlah kejadian sebelum peristiwa membara itu. Selain itu, dominasi Kelompok Kantin yang kuat dan nyata kekuasaannya di lingkungan Fisip lebih membuat banyak mahasiswa tunduk dan memilih bungkam, termasuk banyak senior.

Hanya beberapa tahun setelah itu, setelah sejumlah kekacauan ini, Hasrul Hasis, Caco, Andi Sangkuru, Andi Syamsuddin, M. Nur dan beberapa mahasiswa lainnya bergabung oleh satu kepentingan yang sama. Pepatah ‘Tiada kawan abadi, hanya kepentingan yang abadi’ dalam politik kembali terjadi. Mengetahui hal itu, ketua senat dan beberapa aktivis mahasiswa yang dulu saling berseberangan kecewa dengan hal itu. Tapi mereka tak lagi peduli, adalah generasi-generasi pengurus senat maupun himpunan setelah 1998 kini berhadapan dengan koalisi baru itu. Sejak itu, ketegangan dalam Fisip masih berlanjut sampai beberapa tahun kemudian. Memasuki era Milenium, tahun 2000 dan seterusnya dampak dari perubahan polarisasi antar kekuatan mahasiswa masih berlanjut. Salah satunya adalah ketika satu kamar Ramsis yang ditinggali oleh sang ikon dibakar oleh entah siapa.

Sejak saat itu juga, bersama dengan Pak Andi Sangkuru, M. Nur dkk mengembangkan suatu perguruan silat bernama Panca Sakti yang masih aktif sampai sekarang. Perisitwa dua dekade itu sudah nyaris dilupakan oleh para mahasiswa saat itu. Namun, sebagian dari mereka masih melanjutkan perkawanan dengan cara yang dan alasan yang berbeda.

Saat ini, era di mana media sosial bisa mempertemukan mereka dengan mudahnya baik melalui dunia maya maupun kopi darat telah memudahkan siapapun untuk saling bersua dan mengenang masa lalu[].

 

[1] Pada awalnya, yang disebut kantin itu adalah Bamboo House di depan fakultas Ekonomi. Kantin ini menjadi tempat berkumpulnya mahasiswa dan dosen dari berbagai kalangan. Setelah penataan kampus, bamboo house digusur dan pada tahun 1990 ada tiga kantin besar dibangun: kantin FIS, Kantin teknik, dan “kantin belakang”. Kantin FIS mulai menjadi tempat minum minuman keras. Caco adalah salah satu ikonnya (sumber informasi: Hasnuddin Gali, 2016).

 

[2] Tentang dukungan kuat terhadap Chapa, dari informasi lain—yakni dari Anak-anak MIMBAR, Chapa punya kelompok sendiri, yakni anak-anak MIMBAR. Sejarah berdirinya Kelompok MIMBAR ini ada dalam tulisan lain. Kelompok MIMBAR berbeda dengan kelompok Kantin atau kelompok Ramsis (muncul belakangan). Kelompok Mimbar diinisiasi oleh mahasiswa Fisip angkatan 1995. Mereka berasal dari berbagai jurusan dan prodi. Mayoritas dan paling berpengaruh dalam kelompok ini adalah Mahasiswa Prodi Ilmu Politik angkatan 1995. Mereka memback-up Chapa untuk menjadi Ketua MIMBAR 98 (Opspek 1998). Namun, kelompok MIMBAR belum proaktif memengaruhi pihak-pihak yang berkepentingan di kampus, seperti organisasi kemahasiswaan saat itu. Bahkan, sependek ingatan saya sebagai pengurus Himapol saat itu, lobi atau tekanan untuk memperoleh dukungan dari pengurus Himapol saat itu tidak ada.

Penulis : Ishak Salim

Pengurus Ikatan Alumni Politik Unhas (2016/2022)

One thought on “KETEGANGAN MENJELANG MIMBAR 1998

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *