Berpolitik Dalam Harga Diri Yang Terluka

Foto Ilustrasi Ospek Tahun 1994

[3 Serpihan Kecil Ingatan dari Mahasiswa Ilmu Politik Unhas Angkatan 1997]

[1]

Kengkreng!!![1]

SOE HOK GIE MUNGKIN AKAN sedikit mengernyitkan dahinya melihat mahasiswa baru (maba) Ilmu Politik Unhas angkatan 1997 yang justru menjadi antitesa pikiran dan tindakannya, sebagaimana yang tertuang dalam buku berjudul “Buku, Pesta, dan Cinta”. Rasanya hampir tak ada kata “Kupesta” (Buku, Pesta, dan Cinta), paling tidak yang saya rasakan, ketika pertama kali menginjakkan kaki di Bumi Biru Kuning.

Kengkrengko!” menjadi santapan subuh menyambut para maba yang harus bergerak pelan dari pintu II Unhas. Jarak yang hanya sepeminuman teh ke Gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) nyatanya baru selesai ujungnya ketika lidah matahari mulai mengelus muka bersamaan dengan tamparan keras di wajah. Saya yang kebetulan dititipkan di Asrama Mahasiswa (Ramsis) di salah satu senior Ilmu Politik masih sedikit beruntung (atau malah memalukan), tidak harus berjalan sejauh teman-teman yang lain.

“Ini Bang, titipannya Kak Anu,” belum juga bayangan pengantar saya menghilang “buk!” jotosan sudah mendarat. Seumur-umur baru kali itu saya rasakan perihnya kepalan tangan menghantam badan. Bukan sakit fisik yang mendera tapi harga diri yang tercabik.

Wajah sang eksekutor bahkan masih terekam jelas sampai sekarang. Ah rasanya ingin kembali saya bertemu dengan orang ini hanya untuk berucap “Sakitnya tuh disini” sambil mengusap lengan dan pipi.

 

[2]

Orang Jawa dan Sawerigading

DUA TAHUN PERTAMA mengenyam bangku kuliah, rasanya tidak ada yang istimewa. Kuliah, kampus, dan kampung menjadi rutinitas yang membosankan. Pengetahuan lebih banyak diperoleh dari buku teks para dosen. Gabriel Almond, Sidney Verba, dan Miriam Budiardjo sering menjadi nama rujukan yang pendapatnya harus dibaca. Tidak menjadi sesuatu yang membanggakan ketika di semester awal, IPK sempurna tersemat. Hafalan menjadi kunci ketika berhadapan dengan ujian perkuliahan.

Zaini Rosyidin-lah, mahasiswa Ilmu Politik dari Temanggung Jawa Tengah, yang justru menggugah kesadaran saya. Tak tanggung-tanggung, jauh-jauh dari Jawa, Epik I La Galigo – Kitab Sakral Orang Bugis, menjadi bacaannya. Lelaki berperawakan kurus itu asyik melumat halaman demi halaman sambil bibirnya menyesap kopi hitam.

“Eh, berapa buku yang kau punya?” pertanyaannya di suatu hari begitu menohok.

“Apa yang kau tahu tentang Sawerigading?” membuat saya mati kutu dan menahan malu.

“Janganko cuma baca buku politik dari kampus!” suara medoknya menyindir dengan aksen Bugis-Makassar.

“Belajar politik ada di kearifan dan budaya lokal!” lagi-lagi dengan suara yang menyudutkan.

“Kampunganmu!” untung hari sudah malam, sehingga muka saya yang mengelam tidak terlalu nampak.

Dan bagi Jen—begitu saya memanggilnya—politik bukan hanya kata tapi juga perbuatan. Mukanya lebam merah seperti tomat ketika di satu malam saya mengantarkan minyak gosok ke kamarnya untuk membalur lukanya. Ia menjadi korban prajurit jaga setelah demo di Pintu I Unhas.

“Ini karena ulah jin penunggu Danau Unhas yang saya kencingi sebelum demo,” demikian katanya sambil menahan nyeri di bibirnya yang monyong kena popor senjata.

Namun, pertanyaan demi pertanyaan malam itulah yang sedikit membuka mata saya. Alam sudah terbentang, buku sudah dihamparkan, kemalasan pun harus ditanggalkan.

Malu saya, lahir di Bugis tapi tidak tahu akarnya!

 

[3]

Kajian dan Himpunan

HARI-HARI TERASA BERLARI. Aku mengumpulkan buku sebanyak-banyaknya, membeli kalau uang beasiswa sudah keluar atau meminjam tanpa niat mengembalikan.

“Orang yang terbodoh di dunia adalah orang yang meminjam buku lalu mengembalikannya”, kata senior yang konon diambil dari pepatah Rusia.

Jurgen Habermas, Adorno, Karl Marx sampai Ali Syari’ati tidak hanya kemudian menjadi penghias kamar tapi tulisannya ikut menghias bibir di pelataran kampus yang menjadi tempat kajian. Belum secanggih senior-senior yang lain, paling tidak pikiran tidak secupak katak dalam tempurung.

“Eh, kamu maju yah sebagai bakal calon Ketua Himapol,” tawaran beberapa junior dan senior menjadi bagian salah satu episode perkuliahan.

Tidak satupun teman angkatan 97 yang berminat menjadi Ketua Himapol. Entah kenapa saya yang digadang. Sampai saat ini pun, masih menjadi pertanyaan yang menggantung di benak.

Menjadi kandidat tunggal tidak kemudian menjadi jalan tol terpilih sebagai ketua. Bergerilya ke junior dan senior tetap dilakukan untuk memperoleh dukungan. Bayang-bayang diperhadapkan dengan kotak kosong cukup membuat nyali saya ciut.

“Menjadi anggota di Kerukunan Mahasiswa Pinrang,” jawabku saat Kanda Himar (1995) mengajukan pertanyaan saat screening menuju calon Ketua Himapol.

“Primordial betul!” sengat Kanda Himar (1995) secepat kilat begitu mendengar jawaban saya yang lugu ketika ditanya pengalaman organisasi.

“Di antara beberapa ketua Himapol sebelumnya, kamu salah satu yang lumayan ganteng dan gak ancur-ancuran,” kalimat senior inilah yang melecut saya memberanikan diri maju menjawab tawaran menjadi ketua Himapol J Hehe.

Didampingi Ahmad Lutfi, Ihsanul ‘Iccank’ Amri, Wahidah, Afdal, Hasyim, dan dukungan dari teman-teman di 98 dan 99 (diantaranya Sakinah Nadir, Illank, Aan, Ali, Iswahyudi) dan teman lainnya, kepengurusan Himapol di periode sayapun berhasil dibentuk.

Menjadi Ketua Himapol memberi “keuntungan” politik tersendiri. Di tengah maraknya diskursus Sosialisme dan Komunisme, saya diperhadapkan dengan tekanan dari pihak jurusan yang mempertanyakan fenomena ketertarikan mahasiswa ke wacana sosialisme. Ada nada kurang senang dengan ke-khusyuk-an baru tersebut. Beberapa kali saya ditanya tentang hal ini dan meminta supaya kajian tersebut dihentikan.

Saya yang juga sedang mabuk dengan Syari’ati dan Marx tentu tidak bisa berhenti. Melawan kebijakan pihak kampus secara frontal juga bukan pilihan.

Tercetuslah kemudian ide mengundang pihak fakultas dan jurusan menjadi panelis bersama dengan mahasiswa membahas sosialisme. Entah mengapa, undangan yang tadinya diiyakan kemudian dibatalkan secara sepihak. Tapi yang pasti kajian di pelataran kampus apa pun bahasannya tetap berjalan dan pihak kampus tidak sealergi (atau mungkin mereka sudah letih) seperti sebelumnya.

Demikian serpihan ingatan saat bermahasiswa dahulu[].

 

Pejambon, menunggu matahari tenggelam, 2017

[1] Squat jump ala mahasiswa di Makassar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *