Hari-Hari Sebelum Gerakan Mahasiswa Menjatuhkan Sang Diktator

Hari-Hari Sebelum Gerakan Mahasiswa Menjatuhkan Sang Diktator

COBA BUKA INGATAN Anda menuju masa pertengahan 90-an. Sebutlah antara tahun 1995 – 1998. Jika Anda berjalan menuju rektorat melewati KOPMA Unhas, Anda akan melihat beberapa orang sedang berdiri menghadap dinding dan membaca sesuatu. Ya, itulah majalah dinding yang menjadi salah satu sumber informasi penting bagi mahasiswa saat itu.

Nama Majalah Dinding itu adalah BACABACABERDIRI!

Informasi yang disajikan pada Mading itu bukan informasi biasa. Isinya adalah kegelisahan pikiran dari mahasiswa yang begitu khawatir dengan keadaan Republik ini. Jika kita membaca artikel-artikel pendeknya, maka semakin nyatalah bahwa ada kemauan besar sejumlah mahasiswa Kampus Merah untuk mengubah zaman.

Jika ingatan anda masih terbuka, berjalanlah menuju Baruga dan berbelok ke koridor-koridor FIS. Nyaris setiap hari ada saja sekelompok mahasiswa bersemangat sedang berdiskusi atau memetik gitar melantunkan lagu-lagu Iwan Fals atau memekikkan puisi Wiji Thukul dan WS. Rendra. Lagu dan puisi yang liriknya marah atas kemapanan kekuasaan negara yang korup dan keberpihakan mahasiswa kepada orang-orang miskin yang semakin tersudut. Ya, saat itu ada kelompok-kelompok diskusi yang penggeraknya selalu saja memiliki gagasan untuk mereka perbincangkan. Buku-buku kiri baik bercorak Ekonomi Politik maupun Teologi Pembebasan serta novel-novel Pramoedya Ananta Toer serta novel-novel gelap lainnya yang sangat jarang berpindah tangan dari mahasiswa satu ke mahasiswa lainnya dan dibahas dalam acara-acara bedah buku maupun dalam pelatihan pengkaderan kemahasiswaan.

Di Sospol Unhas, salah satu kelompok diskusi itu adalah LIPSTIK!

LIPSTIK adalah organ di bawah senat mahasiswa Fisip Unhas. Ketua LIPSTIK adalah Andi Ahmad Yani (Administrasi 94) dan Rahmat AR (Politik 94) sebagai sekretarisnya. Di bawah kedua orang ini dan beberapa lainnya diskusi-diskusi sore maupun malam sering dilakukan. Setiap diskusi selalu saja ramai oleh mahasiswa maupun intel. Ya, saat itu ada banyak intel kodam maupun kepolisian  berkeliaran di kampus. Bahkan seorang yang bernama Kadang (bukan mahasiswa)—orang yang dianggap “gila” di kampus—juga dicurigai sebagai intel. Mahasiswa yang masuk ke dalam ‘arus zaman yang sedang bergerak’ itu mesti berhati-hati. Bukan sekadar takut kepada intel-intel militer maupun polisi berpakaian preman, namun juga kepada mahasiswa-mahasiswa tertentu yang mengabdi sebagai banpol atau intel. Keberadaan intel mahasiswa dan banpol ini, tidak jarang membocorkan rencana-rencana diskusi mahasiswa, bahkan juga mengatur terjadinya kekacauan-kekacauan tertentu di kampus. Jangankan berdiskusi, memegang buku potokopian Pramudya Ananta Toer saja sudah bisa membuat jantung ini berdebar saat itu.

Berdebarnya  jantung karena buku-buku politik semacam itu adalah tanda-tanda anak-anak muda yang sedang gelisah dan bersiap melawan sang diktator. Maklum, semangat perlawanan kerap dibelokkan oleh penguasa menjadi ‘antek-antek komunis’ yang saat itu selalu didesas-desuskan sebagai bahaya laten yang meronrong kewibawaan Sang Penguasa. Siapapun yang kemudian di cap Komunis oleh Negara adalah sesuatu yang bisa berdampak buruk saat itu!

Sebagai mahasiswa Fisip Unhas, kita boleh berbangga memiliki LIPSTIK dan kelompok-kelompok diskusi kritis pada tahun-tahun itu.

Mengapa berbangga?

Karena saat itu adalah keajaiban jika bisa mendapatkan dosen yang mau mengajarkan pikiran-pikiran Kritis. Nyaris semua kurikulum dari mata-mata kuliah yang kita ikuti bermuatan ideologi Pembangunan dan Modernisme yang merujuk kepada negara Barat yang justru dalam penerapannya di banyak tempat berkontribusi pada kemunduran ekonomi rakyat.

Tengok saja mata kuliah Pembangunan Politik atau Ekonomi Politik yang diajarkan di kelas. Dosen-dosen hanya akan lebih kerap mengadopsi pikiran-pikiran Verba, Lipset, Palombara, Pye, Huntington, Nisbet, Rostow, maupun Almond yang terlalu Amerika. Adapun pikiran-pikiran politik beraliran kritis seperti Hassan Hanafi, Samir Amin, Noam Chomsky, Gramsci, Foucault, Ali Syariati, dst hanya kita bisa simak secara leluasa dalam diskusi koridor.

Berkecambahnya daya kritis sejumlah mahasiswa yang kemudian rela mengawali protes-protes jalanan yang awalnya hanya berjumlah bilangan atau belasan tak sedikit lahir dari aktivis diskusi koridor atau pembaca akut buku-buku kritis dan tentu saja mading-mading senat maupun himpunan. Salah satu Mading Fisip yang mirip dengan BacaBacaBerdiri adalah BomGER. BomGer adalah singkatan dari Berita Oposisi Mahasiswa yang bikin geGER yang dikelola oleh senat mahasiswa saat itu.

Adalah para aktivis-pemikir dari sekelompok mahasiswa dan beberapa dosen yang mau menemani diskusi koridor seperti Kak Yahya (dosen Antropologi) dan Kak Alwi Rahman (Dosen Sastra) itulah kemudian membantu proses berkembangnya pemikiran alternatif di sejumlah mahasiswa. Sayangnya, Mading BomGer yang seringkali menampilkan gambar dan tulisan-tulisan satir yang mengrikik Rezim Orde kemudian dihancurkan oleh entah siapa! Ya, sudah sunnatullah, setiap aksi [sosial] akan menimbulkan reaksi atau setiap tekanan akan menimbulkan tekanan balik.

Jika merujuk kepada organisasi LIPSTIK, maka saat itu Ketua LIPSTIK menjalin jaringan dengan kelompok-kelompok diskusi di kampus maupun luar kampus. Dominan tentu saja adalah kelompok-kelompok diskusi beraliran Kiri. Itulah mengapa diskusi mereka juga diminati oleh para intel dan banpol ini. Kelompok-kelompok ini jelas bukan sekadar berdiskusi. Mereka juga berdemonstrasi di kampus maupun di luar kampus walau hanya dengan menumpang 2 – 3 pete-pete saja. Mereka berupaya membangunkan mahasiswa-mahasiswa yang dininabobokan oleh ‘kebaikan palsu’ dari para penguasa di Republik ini.

Ada beberapa demonstrasi yang diikuti oleh sebagian kecil mahasiswa saat itu. Memang masih cukup sulit mengajak mahasiswa berdemonstrasi dan mengikuti cara berpikir para aktivis ini di saat masih banyak orang bahkan tidak yakin bahwa kekuasaan Orde Baru akan tumbang dalam waktu dekat.

Lagi pula, kebanyakan pengurus organisasi mahasiswa baik senat maupun himpunan dalam kampus belum begitu sadar mengenai kegelisahan ini. Memang, tragedi 1996 saat mahasiswa UMI menolak kenaikan ongkos transportasi (akibat kenaikan BBM) diserbu polisi dan tentara Garnisun sempat menaikkan solidaritas mahasiswa saat itu. Namun, hanya sebagian kecil kelompok di atas yang menjaga bara kemarahan mahasiswa dan meledakkannya pada sepanjang Mei 1998.

Salah satu bentuk upaya merawat nafas gerakan adalah dengan mengangkat persoalan-persoalan penting ke publik, yaitu tuntutan mahasiswa menghentikan dominasi kuasa militer yang selama ini menjadi sangat kuat akibat kebijakan Dwi-fungsi ABRI sebagai penopang trilogy pembangunan ala Soeharto, khususnya pada menjaga stabilitas politik dan keamanan..

Setelah simpul-simpul kelompok diskusi ini melintasi fakultas-fakultas, belakangan mulai mucul keinginan sejumlah pengurus senat mahasiswa fakultas di Unhas bersatu: Fisip, Sastra, Ekonomi, Teknik, Kelautan, Pertanian, Kedokteran dan lainnya mulai berhimpun.

Pada suatu momen demonstrasi di rektorat Unhas, seorang aktivis, Maqbul Halim (Komunikasi 91 [?]) tampil dan menyerang militer dengan sejumlah kritikan tajam dan hinaan-hinaan yang menggelitik demonstran yang hadir. Ia memukau massa dengan gaya orasinya yang jenaka namun pedas di telinga tentara. Tak lama setelah demonstrasi itu, Maqbul menghilang. Kabar bahwa ia diculik tentara merebak dan sampai di telinga banyak mahasiswa. Karena “kehilangannya” tak pernah terjelaskan secara lengkap, maka ada juga segelintir mahasiswa berpikir bahwa kamerad satu ini sudah “dijinakkan” penguasa. Entahlah, mungkin hanya Tuhan Yang Maha Tahu dan Maqbul yang tahu peristiwa pastinya seperti apa. Bagaimanapun kejadiannya, adalah jauh lebih penting mengolah berita bahwa Maqbul telah diculik tentara ketimbang kemungkinan yang lain, semisal bahwa dia sedang pulang kampung.

Kelompok-kelompok diskusi ini, khususnya di FISIP di mana Andi Yani dan Alwi Hasan (Politik 1994) sebagai koordinator lapangan kemudian menggelar lagi satu demonstrasi di rektorat. Temanya adalah mengecam Tindakan Penculikan terhadap Maqbul Halim. Saat itu hadir pula beberapa professor, seperti Prof. Mattulada. Kehadirannya dalam kerumunan jelas menguatkan semangat perlawanan atas rezim penindas.

Demonstrasi ini kemudian menjadi bahan pemberitaan media massa baik lokal maupun nasional. Dukungan atas gerakan mahasiswa lalu membuncah dan semakin meluap-luap. Pertemuan-pertemuan malam digelar berkali-kali. Mahasiswa dari berbagai kepengurusan senat mahasiswa berkumpul dan mulai mengendalikan arah gerakan. Perlahan-lahan beberapa pegiat utama dari kelompok-kelompok diskusi ini mulai melepaskan komando, namun tetap berada dalam barisan. Pun demikian pihak rektorat juga mulai memberi dukungan kepada mahasiswa. Sebuah nama gerakan pun dipilih: Solidaritas Mahasiswa Universitas Hasanuddin (SMUH).

Isu gerakan pun mulai menjurus kepada menumbangkan Soeharto. Sebuah isu yang bahkan di Jakarta dan Jawa pada umumnya belum disuarakan oleh mahasiswa saat itu. Merasa komando gerakan beralih kepada pengurus-pengurus organisasi intra kampus, kelompok-kelompok diskusi ini tetap melanjutkan diskusi rutin. Mereka tetap mengasah pikiran agar bisa tetap kritis dalam membaca keadaan.

Long March mahasiswa Unhas pada 20 Mei 1998 memerahkan jalanan sepanjang jalan perintis kemerdekaan dan  Jalan Urif Soemohardjo. Kemudian ribuan mahasiswa bergabung dan menyemut menuju Lapangan Karebosi. Luapan tubuh, keringat dan pikiran mahasiswa di jalanan bukan hanya terjadi di Makassar tetapi juga di banyak kota di seluruh Indonesia. Mahasiswa-mahasiswa di Jakarta bahkan sudah menduduki bangunan Parlemen. Sang diktator Soeharto tak berdaya dan setelah itu, esoknya ia mengumumkan berhenti sebagai Presiden Republik Indonesia!

Mahasiswa bersuka cita dengan keberhasilan mereka!

Demikianlah, sebuah gerakan massif, seperti gerakan mahasiswa 1998 tidaklah terjadi begitu saja. Sejumlah kecil orang selalu memulainya dari hal-hal kecil untuk kemudian perlahan-lahan bisa mengubah hal besar[].

Note: Terima kasih untuk sejumlah informan yang tak perlu saya sebutkan namanya di sini.

Penulis:

Ishak Salim

(ketua Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik Unhas (Periode 1998/1999)

 

 

4 thoughts on “Hari-Hari Sebelum Gerakan Mahasiswa Menjatuhkan Sang Diktator

  • June 15, 2017 at 2:17 am
    Permalink

    Terasa hadir kembali di masa masa itu.

    Terima kasih share tulisannya bung Ishak Salim.

    Reply
    • June 16, 2017 at 5:45 pm
      Permalink

      Sama-sama kanda, nanti akan kami posting juga tulisanta ya 🙂

      Reply
  • June 16, 2017 at 5:47 pm
    Permalink

    Keren, menambah pengetahuan sejarah pergerakan mahasiswa th 90 an

    Reply
  • July 1, 2017 at 9:15 am
    Permalink

    Terima kasih atas pengarsipan sejarahnya kak! Membuat kami yg masih mahasiswa tidak buta sejarah dan tidak bersantai2 saja dihadapan kedzaliman yg ada hari ini, serta belajar membangun cerita kami sendiri u/ diceritakan di hari depan kelak. Kami menunggu kisah2 hebat lainnya kak.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *