Anak Anak Kantin

kak gali

Tulisan pendek ini adalah tentang sepenggal kisah kehidupan mahasiswa Fisip Unhas di era 1990-an. Tentang sekelompok mahasiswa yang disebut sebagai anak-kantin! Kelompok mahasiswa ini punya momok tersendiri bagi mahasiswa lain, baik mahasiswa pada umumya maupun mahasiswa ‘aktivis-organisasi’.

———————————————————————————————————————

SEBELUM MUNCUL FENOMENA ANAK KANTIN, dikenal istilah bamboo house. Ini adalah sebuah kantin bersama. Bangunannya terbuat dari gamacca dan letaknya di bawah pohon bambu, tepat di depan Fakultas Ekonomi. Bamboo house merupakan tempat berkumpulnya mahasiswa, aktifivis, dosen, dan juga mahasiswa painung ballo.[1] Mereka, dari berbagai kalangan ini berkumpul jadi satu tanpa saling mengganggu satu sama lain.

Seiring penataan bangunan kampus, pihak kampus menggusur bamboo house dan yang tinggal hanyalah kenangan-kenangan yang tak tertuliskan!

Budaya berkumpul bagi mahasiswa dan kalangan akademisi lainnya tetap terjadi. Kini mereka berkumpul di kantin-kantin yang lain. Pada 1990, ada tiga kantin besar di Unhas. Di antara areal Fakultas Sastra dan Fakultas Hukum terdapat kantin FIS. Sementara di antara Fakultas Teknik dan Fakultas MIPA ada juga kantin yang disebut kantin teknik. Kantin ketiga disebut sebagai ‘Kantin Belakang’, terletak di antara Fakultas Pertanian, Kedokteran dan Perikanan.

Berkumpul di Pelataran Rodeo (Sumber Foto: Dokumen Facebook Kanda Fiastirawan Agam Caco)
Berkumpul di Pelataran Rodeo (Sumber Foto: Dokumen Facebook Kanda Fiastirawan Agam Caco)

Dalam perjalanannya, antara 1990 – 1992, kantin FIS menjadi tempat sejumlah mahasiswa meminum ballo dan belakangan minuman keras berbagai merek. Mereka pandai meraciknya menjadi minuman khas. Belakangan bahkan dikenal istilah minuman ballo khas sospol atau ‘racikan sospol’. Biasanya setelah mencampur aneka minuman itu, mereka memasukkannya ke dalam botol bekas teh, jadi keliatannya mereka hanya sedang meminum ‘teh botol’. Jadwal minum ini berlangsung dari siang sampai malam. Di sinilah, seingat saya, istilah ‘anak kantin’ mulai digunakan, yakni sekitar tahun 1992. Salah satu pentolan atau ikon anak kantin saat itu adalah Chaco![2]

Biasanya, kalau mau membeli minuman mereka selalu patungan.[3] Jika hasil patungan tidak mencukupi, maka mereka akan meminta tambahan dari mahasiswa yang dikenal. Di masa-masa awal itu, sepertinya hubungan antara anak-anak kantin maupun mahasiswa yang dikategorikan sebagai aktivis kelembagaan adalah kompak. Tidak pernah anak-anak kantin menekan mahasiswa pengurus kelembagaan kampus. Tetapi memang terkadang terjadi pemukulan terhadap mahasiswa di luar yang suka nongkrong di kantin. Biasanya kalau sudah ada anak kantin yang mabuk berat.

Biasanya alasan pemukulan itu juga sepele saja. Misalnya hanya karena si pemukul tidak suka liat muka mahasiswa itu. ‘Muka patotoai’ ujar mereka. Padahal mungkin justru muka anak kantin itu yang lebih patotoai. Bahkan, saking jengkelnya, seorang mahaiswa politik angkatan 1994, David yang pernah dipukul sampai jengkel dan berujar “Seandainya saya Tuhan, saya sudah cabut nyawanya anak-anak kantin itu.”

Seiring perjalan waktu anak kantin tidak lagi minum di kantin tapi mulai menduduki di pelataran FIS (sekitar Rodeo). Sejak itu, semakin banyak mahasiswa mulai terganggu karena areal di mana mereka berkumpul adalah areal ramai mahasiswa lalu lalang dari fakultas Ekonomi, Hukum atau Sospol ke rektorat. Tetapi, kebanyakan mahasiswa ini takut jika menegur. Salah-salah mereka bisa jadi sasaran amuk anak-anak kantin yang memang juga rewa-rewa.

anak kantin

Selain kantin FIS tadi, nasib kantin lain juga jauh berbeda. Jika kantin FIS jadi tempat mainung ballo maka kantin teknik dan kantin belakang lebih sering dijadikan tempat main judi (botoro). Biasanya kalau mau botoro, para pabotoro ke kantin Teknik atau ke kantin belakang.

Pada awal-awal tahun 90-an, paling tidak yang saya rasakan sampai saya selesai tahun 1996, anak kantin tidak pernah menganggu dan terlibat kegiatan mahasiswa (kecuali opspek). Mereka beraktifitas dengan dunianya sendiri, sampai pada tahun 1998 terjadi perubahan, di mana anak kantin mulai melakukan tekanan dan berusaha mempengaruhi kebijakan kelembagaan mahasiswa[].

[1] Painung Ballo adalah bahasa Makassar yang berarti peminum ballo. Ballo adalah minuman permentasi khas Makassar. Diolah dari pohon nira.

[2] Chaco ini bagi rektor saat itu, Prof. Dr. Basri Hasanuddin, dianggap orang paling terkenal di Unhas. Istilah itu keluar saat saya, Hidayat Muhallim, dan Sawedi  Muhammad mencoba membela Chaco sewaktu hendak dipecat dari Unhas. Kami menghadap rektor dan keluarlah istilah ‘orang paling terkenal’ itu. Alih-alih mengabulkan permohonan kami, rektor malah mengancam kami akan ikut dipecat kalau terus-menerus meminta surat pemecatan Chaco dicabut.

[3] Aktifitas Anak Kantin tidak berbeda dengan aktifitas mahasiswa kebanyakan (aktifis) dalam arti sama-sama berangkat ke kampus. Setelah kuliah (kadang-kadang cuma titip absen bahkan bolos), anak kantin biasanya langsung menuju kantin berkumpul sesama mereka sendiri. Biasanya setelah “personil” sudah lengkap mulailah kumpul-kumpul uang untuk pesta, kalau biaya pesta kurang biasanya mencari “sumbangan” istilah yang saat itu familiar ditelinga “tambah-tambah rong parner”. Setelah sumbangan dirasa cukup mulailah pesta digelar dan biasanya berlangsung sampai malam.   Awalnya, anak kantin cuma minum ballo, dengan asumsi perkembangan “kemajuan” informasi dan “pertumbuhan ekonomi” yang membaik, ballo tidak lagi dilirik dan beralih ke minuman botol. Minuman botol (alkohol) biasanya di campur susu kaleng dan soft drink (fanta atau coca cola), biasa dikenal dengan istilah campuran beton, katanya enak diminum nendang belakangan.

Oleh

Hasanuddin Gali

(Alumni Ilmu Politik UNHAS Angkatan 1990)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *