Hikayat Busman Dan Berdirinya Perhimpunan Mahasiswa Politik

kak busman

Anda ingin tahu kapan dan bagaimana pertama kalinya Himapol Fisip Unhas berdiri? Mari mengikuti cerita dari salah seorang penggagasnya, Busman Rahman!

BUSMAN RAHMAN DAN RUSMAN LATIEF mendaftar bersama di program studi Ilmu Politik Unhas. keduanya adalah angkatan 1984 dan selama ini hidup bertetangga. Saat mereka mendaftar, belum ada Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik yang mewadahi mereka. Angkatan pertama mahasiswa Ilmu Politik adalah 1980. Artinya, di tahun keempat keduanya memasuki Jurusan Ilmu Politik dan Pemerintahan [Program studi Ilmu Politik] belum ada wadah berorganisasi seperti Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik. Keduanya dan beberapa mahasiswa lain disambut oleh pengurus himpunan lain dari jurusan yang sama: Himahi dan himapem. Saat itu, Busman disambut oleh Himahi (Himpunan Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional).

Mengetahui tak ada organisasi mewadahi mahasiswa ilmu politik, Busman yang saat itu masih gundul pun merasakan bahwa seharusnya ‘anak-anak politik’ juga memerlukan rumahnya sendiri.

Suatu hari, saat Busman dan kawan-kawannya[1] ini mengikuti matakuliah Kepribadian dan Pemikiran Politik Islam rupanya mencuatkan gagasan untuk mendirikan Himpunan sendiri. Entah mengapa keinginan itu muncul pada saat mengikuti mata kuliah itu. Tetapi setelahnya, Busman mengajak kawan-kawannya berkumpul dan mendiskusikan gagasan mendirikan himapol. Merekapun berkumpul untuk mematangkan gagasan yang tadi terlintas.

Hasil diskusi salah satunya adalah menugaskan Busman Rahman dan Rusman Latief mendiskusikan gagasan ini kepada Ketua Senat Mahasiswa FISIP yang juga mahasiswa Ilmu Politik yakni: Andi Ala Mappatombong (alm). Ia memaparkan data mahasiswa politik dari 4 angkatan. Jika Himpunan ini bisa berdiri, maka penyambutan mahasiswa baru angkatan 1986 tidak harus dilakukan oleh dua jurusan itu: Himapem dan Himahi. Ketua senat menyetujui usul itu dan menunjuk Busman dan Rusman masing-masing sebagai ketua dan sekretaris panitia pendirian himpunan.

Bersama dengan Abdul Aziz Thaba (Alm) dan kawan-kawannya mereka merancang aktivitas menuju pembentukan Himapol. Agenda pertama adalah musyawarah besar. Panitia mengundang seluruh mahasiswa angkatan Ilmu Politik untuk hadir. Sayangnya, saat mubes berlangsung, hanya dua angkatan yang mengikutinya: angkatan 1983 dan 1984. Dalam ingatan Busman, dari angkatan 1983 hadir Agung Budi Santoso, Idon Wari, Fredi Sallao, Firdaus, Teguh Yunanto, Andi Yakub, dan Darwis. Sementara angkatan 1984 hadir 12 orang. Singkatnya, seluruh peserta menyepakati berdirinya himpunan bagi mahasiswa ilmu Politik.

Dalam mubes tersebut, hal menarik adalah saat pembahasan terkait angkatan mana yang akan pertama kali menjadi pengurus himpunan. Salah satu mahasiswa angkatan 1984, Rusman Latief mengusulkan agar angkatan mereka yang menjadi pengurusnya. Tentu saja usulan ini masuk akal mengingat angkatan inilah yang mengusulkan sampai mengupayakan proses berdirinya himpunan. Tetapi, Busman salah satu yang tidak setuju dengan usulan itu. Menurutnya, angkatan mereka masih terlalu muda. Senior-senior yang telah berkecimpung dalam berbagai organisasi intra maupun ekstra kampus bisa menjadi pengurus perdana. Lagi pula, saat itu, himpunan-himpunan di Fisip memang dipegang oleh mahasiswa angkatan 1983. Tetapi melihat keinginan kuat Rusman, ia pun tidak melarangnya untuk berjuang.

Akhirnya, mahasiswa politik angkatan 1983 mengajukan Agung Budi Santoso sebagai kandidat melawan Rusman angkatan 1984. Dalam pemilihan, Agung Budi Santoso mendapatkan dukungan dari dua angkatan. Dengan dukungan itu, akhirnya Agung terpilih sebagai ketua himapol pertama. Busman lalu mengusulkan agar kepengurusan perdana ini biarkan angkatan 1983 yang mendominasi. Untuk mahasiswa politik angkatannya, biarkan menunggu giliran pada periode tahun selanjutnya. Kawan-kawannya sepakat.

Saat kepengurusan perdana (dan beberapa periode selanjutnya), himapol belum memiliki sekretariat dalam kampus. Pengurus melaksanakan rapat di kelas atau di rumah-rumah kawan mereka.

Pada kepengurusan selanjutnya, pada musyawarah besar kedua, seluruh anggota Himapol angkatan 1984 diusulkan maju semua sebagai kandidat dan akan disaring. Sampai akhirnya tersedia 3 kandidat dengan dukungan terbesar, pemilihan ketua umum dilakukan. Saat itu terpilih tiga nama: Abdul Aziz Thaba, Busman Rahman, dan Rusman Latief.

“Sebelum pemilihan, saya menyatakan mundur saat itu,” ujar Busman.

“Saya lalu menyerahkan dukungan saya kepada Aziz Thaba. Mengapa? karena saat itu saya melihat Aziz Thaba unggul dari sisi keintelektualannya,” kenangnya penuh semangat.

Pertarungan kedua kandidat Himapol ini berlangsusng seru. Mereka saling memaparkan gagasan yang brilian. Pada akhirnya, Aziz Thaba dapat memenangkan pertarungan menuju kosong satu Himapol. Rusman dengan berbesar hati menerima hasil itu. Walaupun dua kali ia gagal menjadi ketua Himapol ia tidak berkecil hati. Ia tetap masuk dalam kepengurusan Himapol periode kedua ini.

Abdul Aziz Thaba menawarkan posisi wakil ketua kepada Rusman dan Busman Rahman sebagai sekretaris umum serta bendahara adalah Dewi Rahmatia.

Abdul Aziz Thaba dan Busman Rahman mulai mengatur program. Mereka kerap berkumpul di rumah Aziz Thaba di Pabaeng-baeng. Sebagai Ketua Umum dan Sekretaris Umum, Aziz Thaba dan Busman merancang rencana program himpunan pada periode kepengurusan mereka. Mereka merancang desain logo dan lambang himapol, menerbitkan bulletin rutin, kegiatan sosial, dan kegiatan akademik seperti membantu dosen-dosen sebagai penasihat akademik para mahasiswa baru. Tawaran program itu kemudian dibawa ke Rapat Kerja kepengurusan himpuan yang baru.  Raker berlangsung di Bantaeng, di rumah Sugiarti.

Nama buletin yang disepakati saat itu adalah Hipotesa. Busman sebenarnya menawarkan nama lain, yakni Paradigma. Bulettin dapat terbit dua kali dalam sebulan. Pengelolanya adalah mahasiswa angkatan 1987. Mereka mengetik setiap tulisan yang masuk ke redaksi dan memotokopinya beberapa eksampelar. Mahasiswa politik menjadikan bulletin sebagai ajang berlatih menulis.

Berkat tradisi kepenulisan itu, ada 4 penulis yang kemudian menjadi penulis kolom opini di harian Pedoman Rakyat. Mereka adalah Abdul azis thaba, M. Yahya Mustafa, Rusman Latief, dan Busman Rahman. Oleh sejumlah aktivis mahasiswa saat itu mereka digelari para intelektual pribumi.

Bukan itu saja manfaat bulletin ini, Pak Andi Yakub yang pernah menulis di bulletin ini bisa menggunakan prestasi itu untuk dilampirkan sebagai persyaratan kenaikan pangkatnya sebagai dosen ilmu politik.

Adapun mengenai lambang himapol, saat itu anggota himapol menyepakati logo adalah gambar papan catur dan warna dasar himpunan baik untuk bendera maupun kaos himpunan adalah merah. Usulan menggunakan papan catur sebagai lambang Himapol ini oleh Busman dan Aziz Thaba, padahal keduanya tidak bisa bermain catur.

Untuk program kunjungan sosial, pengurus menetapkan melakukan bakti sosial selama beberapa kali. Dan desa-desa yang sempat mereka datangi adalah desa Ma’rang d Pangkep, desa di Wonomulyo, dan desa di Limbung Gowa.

“Saat itu hubungan antar mahasiswa himapol sangat dekat. Ada humaniora antara senior dan yunio,” kata Busman.

“Ada istilahnya di mana persaudaraan itu didasarkan kepada Al-Qur’an dan Kahlil Gibran,” ia menceritakannya dengan nada senang mengenang yang telah lama berlalu.

“Maksudnya, kak?” tanya saya bingung saat berbincang dengannya via telepon. Sayangnya ia tidak menceritakan lebih lanjut. Belakangan, dalam perbincangan di group whatsapp ‘IKAPOL UNHAS’ yang beranggotakan alumni ilmu politik, kaitannya dengan Kahlil Gibran adalah lebih kepada ‘rasa cinta’ dalam gerakan kemahasiswaan. Idiom ‘Buku, Pesta dan Cinta’ yang merujuk kepada Soe Hok Gie bisa membantu memahami mengapa Gibran menjadi rujukan bagi Busman dalam soal percintaan di masa mahasiswa.

 

SETELAH KEPENGURUSANNYA di Himapol selesai, Busman Rahman lalu banyak aktif di Fakultas dan Senat Universitas. Ketua Himapol berikutnya pada periode 1988/1989 adalah Taufiq Zaini (angkatan 1985), kemudian pada periode 1989/1990 adalah Damri Djanaun (angkatan 1986), serta Kamal Jakcson (angkatan 1987) pada periode 1990/1991. Pada periode terakhir, Notrida Mandica bersaing dengan Kamal Jackson sebagai kandidat ketua Himapol.

Pada tahun 1988, Busman terpilih sebagai ketua senat setelah melalui upaya-upaya politis nan berliku. Ia dan timnya melakukan sejumlah lobi politik untuk menarik dukungan. Saat itu, ada sekitar 14 bakal calon yang berminat. Dari Himapol ada Iskandar Zulkarnaen dan Busman Rahman. Dari 14 bakal calon itu akan disaring menjadi 7 nama dan akhirnya hanya akan dilakukan pemilihan setelah tersisa 3 kandidat: Busman Rahman, Idris Zulkarnaen, dan Idris DP. Sungguh keras upaya yang harus dilakukan oleh Busman untuk memenangkan kontestasi ini. Bagaimanapun Iskandar adalah kawan seangkatannya dan dukungan terhadap kandidat ini terbelah.

Busman sempat jengkel karena Rusman yang merupakan kawan dekatnya dan sama-sama aktif di ‘Kelompok Diskusi Primary’ lebih condong keberpihakannya kepada Iskandar. Busman mengajak Rusman mendiskusikannya secara serius. Iskandar juga adalah anggota ‘Primary’namun salah satu kartu penting dalam pemilihan ini adalah afiliasi kandidat kepada HMI. Busman Rahman mengikuti basic training sejak masih plontos, sementara Iskandar tidak beraktivitas di HMI. Nyaris saja Rusman dipecat dari Primary akibat kekerasan hatinya. Busman geram!

Pemilihan ketua senat saat itu dipilih melalui Badan Perwakilan Mahasiswa yang saat itu diketuai oleh Armin Arsyad (kini Professor Ilmu Pemerintahan Unhas). Setiap perwakilan jurusan memiliki dua suara. Ketiganya memenuhi syarat untuk dipilih oleh wakil jurusan. Hasilnya adalah Busman terpilih sebagai Ketua Umum Senat Mahasiswa Fisip Unhas pada tahun 1989 dan Busman menunjuk Idris DP sebagai sekretaris umumnya.

Di masa-masa aktif dalam dunia organisasi kemahasiswaan di tingkat Fisip maupun Universitas, Busman turut pula dalam sejumlah demonstrasi Anti Helm. Puncak demonstrasi itu sebenarnya adalah pada tahun 1987. Namun, pergolakan anti kebijakan pemberlakuan pemakaian helm bagi pengendara bermotor terus berlanjut bahkan sampai pada tahun 1990. Busman juga pernah mencalonkan diri sebagai ketua senat perguruan tinggi dan menjadi salah satu anggota presidium saat itu. Ia juga menginisiasi pendirian Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi seluruh Indonesia dan kongresnya diadakan di Makassar. Ia pun terpilih sebagai ketua pertama setelah mengalahkan beberapa kandidat seperti Eef Saefulloh Fatah.

“Saya kemudian melanjutkan kegiatan di tingkat universitas. Saya juga terpilih sebagai presidium senat mahasiswa unhas. Ketua Presidium adalah Baso Rukman Abd Jihad,” ujarnya. Kini Baso Rukman aktif sebagai aktivis Serikat Pekerja Nasional dan Dewan Pengurus Pusat  KSPSI. Karena ia getol menolak kebijakan anti-helm, ia pun menjadi DPO pihak militer saat itu. Pada tahun 1989 ia ditangkap setelah berbulan-bulan pencarian.

Busman tetap aktif dalam dunia gerakan sampai bertahun-tahun kemudian. Ia ke Jakarta dan bergabung dengan Yayasan Pijar bersama Nuku Sulaiman. Ia juga sempat ke Australia meminta perlindungan politik di sana. Setelah itu, ia memutuskan ke Riau dan kini menetap di sana. Ia menyelesaikan doktoralnya di Malaysia dan kini mengajar di Universitas Riau[].

[1] Di angkatan 1984, kawan-kawannya adalah Abdul Aziz Thaba, Abdurrahman Sabara, Iskandar Zulkarnaen, Muhammad Yahya Mustafa, Dewi Rahmatia, Safwanuddin, Tajuddin Ismail, Ambo Dalle, Hasanuddin, Sukarno, Rusman Latif dan Andi Yusran.

Oleh Ishak Salim

(Kandidat Doktor Ilmu Politik, UGM)

Penulis adalah Koordinator Penelitian dan Pengembangan IKAPOL – Unhas

 

One thought on “Hikayat Busman Dan Berdirinya Perhimpunan Mahasiswa Politik

  • May 28, 2017 at 8:21 am
    Permalink

    Mantappp…memberi gambaran kpd kita bagaimana ide dan kreatifitas para pendahulu(senior) di awal2 pembentukan Himapol. Terima kasih.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *