Jika Politisi Menguasai Media Sosial

politik-social-media

Internet atau international networking atau interconnection networking, secara fisik dianalogikan seperti jaringan laba-laba (the web) yang menyelimuti bola dunia. Jaringan itu adalah serangkaian titik demi titik (node) yang saling berhubungan satu sama lain tanpa dibatasi jarak, waktu, dan tempat. Internet mengakibatkan hampir tidak ada lagi individu ataupun kelompok sosial yang hidup dalam isolasi geografi. Ia telah mendekatkan jarak yang jauh dan mengecilkan dunia yang besar. Kelebihan itu kemudian berpotensi menghadirkan efek positif lainnya, seperti kemudahan mengakses informasi tanpa kendala jarak dan waktu. Di internet, juga terdapat jejaring sosial yang menjadi sarana komunikasi secara personal dan mendalam antar komunikator dan komunikan yang dapat membentuk ikatan emosional.

Kelebihan pada aspek jangkauan dan kemudahan aksesnya, menyebabkan internet berperan strategis dalam aktivitas politik saat ini, terlebih untuk digunakan sebagai sarana sosialisasi dan kampanye politik. Untuk melihat suksesnya kontribusi media internet untuk sosialisasi dan kampanye politik, yaitu keberhasilan Barrack Obama menjadi presiden pertama orang kulit berwarna di Amerika Serikat selama dua periode kepemimpinan. Chris Hughers sebagai manajer kampanye Obama berbasis internet membuat situs (website) khusus www.barrackobama.com dan mengoptimalkan penggunaan media sosial seperti MySpace, Twitter, Facebook, dan Plurk. Melalui internet, tim Obama berhasil merebut 218 juta users dan berhasil mengumpulkan dana sebanyak US 659,7 juta dollar atau setara Rp. 6,9 triliun, tiga kali lipat dana kampanye McCain pada pemilu AS tahun 2008.

Besarnya efek yang ditimbulkan dengan berkampanye dengan media internet di AS, juga berimbas pada proses kampanye politik di Indonesia. Di tahun 2009, berdasarkan data APJII di masa pemilu, terdapat sekitar 40 juta user atau pengguna internet di Indonesia. Dengan antusiasme user menggunakan media internet di masa itu, semua capres-cawapres dan tim pemenangannya menggunakan media online sebagai ruang berkampanye. Mengikuti model berkampanye Obama, pasangan SBY-Boediono juga melakukan hal sama pada pemilihan di periode keduanya. Pun demikian yang terjadi di daerah-daerah, di mana berkampanye melalui media internet merupakan suatu strategi yang tidak boleh diabaikan.

 

Bagaimana politisi memanfaatkan media sosial?

Di Sulawesi Selatan, Pada pemilihan Gubernur Sulawesi Selatan Tahun 2013, calon gubernur/wakil gubernur Syahrul Yasin Limpo-Agus Arifin Nu’Mang merupakan pasangan yang paling banyak menggunakan media sosial internet dalam berkampanye. Dari penelusuran di beberapa search engine, SYL mempunyai 3 akun twitter resmi, salah satunya @SAYANGJilidII, facebook (profil people, grup, fan page) resmi 3 akun. Di luar akun resmi tim pemenangan, terdapat 33 akun dan sebuah website: www.syahrulyasinlimpo.com. Sedangkan Ilham Arif Sirajuddin menggunakan media sosial sebagai sarana kampanye memiliki akun facebook resmi 4 akun, total dengan simpatisan ada 20 akun dan website: www.iasemangatbaru.com. Selain itu, pada pemilihan walikota Makassar 2013 yang lalu, terdapat 10 kandidat pasangan calon walikota – wakil walikota dengan berbagai latar belakang yang berbeda satu sama lainnya. Seluruhnya juga tidak lepas dari strategi sosialisasi dan kampanye melalui dunia online.

Kuatnya pengaruh penggunaan media online sebagai ruang partisipasi politik terlihat dari perolehan suara pasangan Tamsil Linrung – Das’ad Latif dalam pilwali di Kota Makassar. Pasangan ini paling akhir mendeklarasikan diri kepada publik. Dalam waktu yang tak sepanjang calon lainnya, ia jelas membutuhkan kerja lebih keras untuk meraih suara. Apalagi kebanyak publik mengenal Tamsil sebagai politisi yang berkarir di Jakarta dan wakilnya adalah seorang akademisi-agamawan yang baru memulai berpolitik. Di masa awal pilwali, mereka kurang populer dibandingkan kandidat-kandidat yang lebih awal melakukan sosialisasi politik. Tetapi, dengan memanfaatkan jaringan dunia maya, pasangan ini bisa menempati urutan ketiga dari 10 pasangan calon.

Tim pemenangan pasangan Tamsil – Das’ad tentu saja melakukan strategi yang sama dengan banyak pemenang pilkada, yakni memaksimalkan peran media internet. Tim pemenangan membuat 3 akun twitter resmi @Tamsil_Linrung, @ceramahku, dan @Tamsil_Dasad dengan total pengikut 3.037. Profil people, group, dan fan page resmi 3 akun, yaitu Tamsil-Das’ad dengan 3.335 suka, Tamsil Linrung-Politik Untuk Kemanusiaan dengan 8.709 suka, dan Ust.Das’ad Latief dengan 1.658 suka, total dengan simpatisan ada 26 akun, dan website terdiri dari: www.tamsil-dasad.com, www.news.tamsil-dasad.com, www.tamsil-linrung.com, www.makassarberdaya.com. Dengan barisan ‘perangkap’ dunia maya untuk menggaet pemilih tersebut, pasangan ini telah membuktikan hadirnya efek massifikasi yang sangat cepat dari media internet.

Menjelang pilkada serentak tahun 2017, antusiasme publik dalam beropini di media sosial sudah semakin terlihat. Ide-C , salah satu lembaga riset di Makassar memaparkan hasil penelitian mereka ke publik yang menunjukkan popularitas para bakal calon (balon) gubernur SULSEL pada kontestasi politik 2018 nanti. Dari pengamatan jejearing media sosial, balon gubernur Nurdin Abdullah memiliki jumlah akun sebanyak 129 komunitas dengan kemampuan menggaet tingkat popularitas sebesar 50,82%. Jika menggunakan ruang partisipasi politik konvensional, Nurdin Abdullah representasi NA baik melalui media baliho, spanduk maupun poster tidak terlalu mempublikasikan dirinya dibandingkan balon lainnya. Melalui representasi NA di media sosial, para pemilih akan mengetahui sejumlah infomasi mengenai beragam keberhasilan atau prestasi NA dalam membangun kabupaten Banteng sebagai seorang bupati. Tentu saja, berbagai informasi yang ditampilkan dalam berbagai laman tersebut adalah untuk membentuk citra sang bupati dan membangun opini publik agar NA dapat maju sebagai bakal calon dalam pilgub Sulsel mendatang.

Menjadi pemilih cerdas

Dengan memahami cara kerja politisi memanfaatkan media online sebagai strategi membangun citra dan opini publik, maka sudah selayaknya publik atau pemilih atau netizen memiliki kecerdasan politik untuk mampu memilah informasi dan kemudian menentukan pilihan tepat dalam memilih kandidat. Bagaimanapun, sarana media internet merupakan cara kerja paling efektif dan efisien menjalankan fungsi politik pemasaran (marketing politics). Para produsen citra akan mensimulasikan subjek atau objek tertentu sebaik-baiknya dan kemudian menampilkannya secara terus menerus kepada para netizen sehingga mampu menggiring pikiran massa dalam suatu opini dan tindakan kolektif tertentu sesuai keinginan mereka. Untuk itu, sebagai subjek politik, para netizen sebagai warga negara pada umumnya agar tidak terlena pada objek politik yang besar kemungkinan bersifat rekaan belaka atau political simulacra.

Apa yang harus dipahami oleh para netizen adalah adanya kesenjangan antara subjek atau objek yang dicitrakan dengan realitas sesungguhnya. Semakin jauh kesenjangan itu, maka apa yang tampil dalam media daring (dalam jaringan—internet) jelas bukanlah penampilan sesungguhnya. Ia bukan lagi sebagai representasi dari subjek tetapi sudah menjadi post representasi—meminjam pandangan Yasraf Amir Piliang sebagai pakar politik cyber. Post representasi adalah pembentukan ide politik sebagai ide murni melalui teknologi media media elektronik dan digital, dalam pengertian citra yang ditampilkan di layar tidak lagi merepresentasikan realitas fisikal di luarnya, melainkan sudah dibentuk berdasarkan ide-ide murni di dalam layar itu sendiri (Piliang, 2005).

Dalam keadaan di mana potensi munculnya citra-citra yang tidak mewakili kebenaran atau berisi kebohongan, maka media sosial bisa menjadi ancaman bagi demokrasi. Ancamannya akan semakin nyata jika para pengguna tidak memiliki kesadaran bersama dan pengetahuan memadai untuk melakukan counter atas informasi yang tidak benar. Politisi yang memiliki sumberdaya menguasai ruang-ruang media sosial sangat mungkin melakukan pembajakan demokrasi (hijacking democracy) di mana setiap waktu citra kebohongan tampil di media menutupi realitas sesungguhnya. Contohnya, kinerja politisi yang buruk tetapi tampil secara luas di media sosial sebagai politisi yang penuh prestasi.

Lalu, sebagai bagian dari publik, apa yang seharusnya kita lakukan adalah terus menerus mengembangkan semangat mencerdaskan masyarakat, dengan turut memberikan pesan-pesan politik yang benar, mendidik, dan bermoral.

fauziah

FAURIZAH RAMLAN, S.IP

Peneliti Sosial Politik

Mahasiswa Pasca Sarjana Ilmu Politik – UNHAS

email: iecaa.faurizah@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *