Menafsir Kolom Kosong

Proses pilwali sudah berlangsung. Hasil sementara berdasarkan Quick Count banyak mengunggulkan kolom kosong sebagai pemenangnya. Kolom kosong sendiri, jauh-jauh hari sudah digaungkan oleh berbagai pihak terutama pendukung petahan. Setelah resmi digugurkan kontan pendukung petahana mendorong isu kolom kosong sebagai bentuk perlawanan terhadap proses politik yang terjadi. Perlawanan inipun dinamakan sebagai gerakan kolom kosong yang diimbuhi juga sebagai gerakan menyelamatkan demokrasi  dan lain-lain.

Bagi saya menarik untuk mengkaji kemenangan kolom kosong, selain ini baru sekali terjadi, namun dari itu kolom kosong meraih kemenangan dengan mengalahkan kandidat yang didukung 11 parpol di kota Makassar. Belum lagi faktor kekuatan ekonomi politik yang berada dibelakang kandidat yang menjadi lawan kolom kosong. Di atas kertas capital politik yang dimiliki oleh kendidat tersebut sungguh besar maka wajar jika sebagian besar pihak mengunggulkan kandidat tersebut.

Namun apa makna kemenangan kolom kosong? Benarkah kemenangan kolom kosong tersebut adalah kemenangan (mantan) kandidat? Berikut saya berupaya “menafsir” variasi pendukung/pemilih kolom kosong. Upaya ini tentunya cukup dini untuk dilakukan, untuk sahihnya tentu perlu riset yang mendalam dan solid. Tentu pula upaya menafsir ini sangat kuat bobot subjektifitasnya dan lemah kualitas ilmiahnya karena tidak melalui tahap-tahap semestinya dalam merangkum fenomena politik. Berikut beberapa kategori pendukung kolom kosong tersebut :

  1. Individu/kelompok masyarakat yang loyal terhadap petahana. Harus diakui petahana memiliki pendukung yang loyal, teutama individu/kelompok masyarakat yang “dibina” secara langsung maupun tidak langsung oleh petahana melalui program-program pemerintah kota. Mereka inilah yang secara berkelompok maupun individual yang terus mengampanyekan kolom kosong.
  2. Individu/Kelompok masyarakat yang melihat proses piilwali sudah jauh dari semangat jujur, adil, dan setara. Proses pilwali sudah dikerumuni oleh kepentingan-kepentingan ekonomi politik kelompok tertentu sehingga menghalalkan segala cara maka dari itu harus dipulihkan kembali dengan memilih kotak kosong.
  3. Individu/kelompok masyarakat yang boleh jadi tidak anti dengan pasangan kandidat tertentu tetapi menduga ada kekuatan besar yang ikut aktif proses politik pilwali. Hal ini santer terdengar melalui ruang-ruang publik dan social media maupun perbincangan keseharian bagaimana aktor besar bekerja untuk kepentingan politik salah satu kandidat yang kebetulan juga memiliki pertalian kekerabatan.
  4. Individu/kelompok masyarakat yang menginginkan proses pilwali berlangsung transparan, setara, akuntabel mulai dari proses rekruitmen hingga pencoblosan dengan memberikan ruang yang besar pada partisipasi masyarakat. Kelompok ini berada di luar dukung mendukung akan tetapi lebih pada bagaimana pilkada bisa berlangsung adil, setara dan akuntabel.
  5. Individu/kelompok masyarakat yang sudah tidak percaya lagi terhadap (kinerja) partai politik yang ikut berimbas pada dukungan mereka terhadap pasangan calon. Walaupun calon perseorangan juga didukung oleh satu partai, nampaknya tetap tidak dilihat sebagai calon yang didukung/diusung oleh partai politik.
  6. Individu/kelompok masyarakat yang sebenarnya apolitik namun merasa jengah dengan proses pilwali yang dianggap sudah “Tidak Fair”.
  7. Individu/masyarakat yang sudah memiliki pilihan politik namun tidak ikut berkompetisi karena sesuatu dan lain hal (Tidak memperoleh dukungan parpol dan lain-lain) maka dari itu memilih kolom kosong agar terbuka struktur kemungkinan kandidat dukungannya dapat ikut berkompetisi pada pilwali selanjutnya.

Dari beberapa tafsir di atas, saya menduga kemenangan kolom kosong tersebut tidak juga berarti bentuk dukungan langsung kepada mantan kandidat (petahana). Begitupun juga, saya menduga hasil ini bukanlah sepenuhnya buah kerja tim sukses/ partai politik pendukung petahana mengingat dari variasi pendukung kolom kosong sebagian besar tidak memiliki afiliasi langsung dengan kandidat/tim sukses.

Boleh jadi kemenangan kolom kosong ini adalah bentuk “interupsi politik” dari masyarakat akan semua proses politik selama pilwali berlangsung (bahkan mungkin disemua proses politik lokal). Masyarakat yang selama ini diklaim sebagai mayoritas diam, nampaknya tidak diam, mereka tetap awas mengamati, memantau proses politik lokal dengan cara mereka sendiri baik secara individu maupun bersama-sama. Memang bentuk dan aksi  “gerakan” ini tidak mewujud dalam aksi massal, boikot, membuat petisi dan lain-lain bahkan jauh dari terorganisir apalagi idiologis. Nampaknya “gerakan” ini berlangsung “diam” dan terjadi dari sel-sel terkecil ; pertemanan, keluarga melalui ruang-ruang informal pergumulan keseharian semisal warung kopi, dapur, teras rumah dan tentu saja social media.

Akhir cerita, masyarakat telah menyuarakan aspirasinya melalui TPS. Kali ini, hemat saya, bukanlah aspirasi biasa, bukanlah aspirasi kosong dalam arti hanya mencoblos tanda gambar saja akan tetapi sebuah “gerakan interupsi politik”. Interupsi dari masyarakat akan kejumudan politik, kecongkakan kekuasaan, proses politik tidak transparan dan akuntabel, yang tidak menyediakan ruang partisipasi (subtantif) dari publik, proses politik yang dikuasai segelintir elite saja. Sekali lagi, masyarakat telah bersuara, yang abai terhadap hal tersebut maka bersiaplah ditelan zaman. Sekian.

 

Penulis

 

Irawan Amiruddin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *