Belajarlah Hingga Ke Lapangan Hijau

sumber: TribunNews.com

Semalam juta-an pasang mata di seluruh dunia menjadi saksi Final Liga Champions Eropa. Pertandingan puncak dari jalan panjang kompetisi Sepak bola Benua Eropa. Pertandingan yang lama dinanti-nanti oleh kedua suporter tim maupun simpatisan mereka sepenjuru jagad. Jauh-jauh hari pendukung kedua tim sudah membuat kegaduhan di lini masa dengan saling sindir. Sudah jauh-jauh hari pula segala macam rupa berita, analisis serta prediksi menghiasi nyaris diseluruh Media massa, terutama media Online. Mulai dari analisis dan berita terkait teknis kesepakbolaan maupun berita dan analisis yang tidak berhubungan langsung dengan sepak bola yang dikemas dengan ragam rupa pula.  Akhirnya, semalam 11 pemain di lapangan mempertunjukkan tontonan puncak bagi kita semua.

Jika menonton sepak bola hanya soal dukung mendukung pastilah kemenangan yang dicari. Jika sepak bola dilihat semata-mata permainan, pastilah taktik dan strategi yang menjadi kenikmatannya. Akan tetapi sepak bola selalu menyajikan hal yang melebihi dan melampaui itu semua. Pertandingan Final UCL semalam menunjukkan bagaimana sepak bola melampauinya. Sepak bola dengan para aktornya telah memperagakan bagaimana kemanusiaan bisa mewujud dan meluap-luap tak tertahankan. Tak salah jika sepak bola disebut juga sebagai drama lapangan hijau. Amarah, kegembiraan, empati, solidaritas hadir dalam satu pertandingan dalam sebuah kompetisi yang mempertaruhkan segalanya: kehormatan, modal, gengsi serta harga diri !

Semalam kita menyaksikan bagaimana Muhammad Salah terguling-guling dengan tangan  terjepit Sergei Ramos hingga menyebabkan bahunya cedera. Selang beberapa menit kemudian ia pun harus menyerah dengan cedera bahu yang tak tertahankan. Begitupun tangisnya,  tumpah tak tertahankan. Kita semua dapat menduga, bukan sakit karena cederalah yang membuat ia menangis tapi lebih karena ia sadar tak akan berada di lapangan dengan kawan-kawanya berjibaku membela tim hingga detik yang terakhir. Peristiwa yang membuat pendukung Liverpool seakan dicabut kegembiraannya seketika itu juga, diganti dengan kepiluan yang dalam.  Di babak selanjutnya giliran Carvajal di kubu Real Madrid harus mendahului kawan-kawanya menyudahi pertandingan lebih awal akibat didera cedera. Juga diiringi isak tangis.

Semalam pun kita menyaksikan ketika Muhammad Salah berjalan keluar lapangan, Cristiano Ronaldo menghampiri Muhammad Salah, lalu dengan halus kedua tangannya menepuk-nepuk kedua pipi Muhammad Salah. Kita tak perlu belajar bahasa tubuh ataupun semiotika hanya untuk menafsirkan adegan tersebut. Terang ia menyampaikan empatinya pada lawannya yang sedang terluka: bahwa ia pun berduka atas peristiwa yang menderanya. Cristiano Ronaldo sadar betul bagaimana pilunya harus menyudahi pertandingan akibat cedera, ia sadar betul pilunya perasaan tidak berada di lapangan saat kawan-kawan satu tim menggerakkan segenap energi bertarung demi kehormatan klub.  Sebagaimana juga yang pernah ia rasakan dalam peristiwa lain sepak bola ketika membela negara dan bangsanya.  Peristiwa lain yang mungkin Muhammad Salah tak akan rasakan.

Selanjutnya kita semua tahu bagaimana pertandingan berlangsung. Gol demi gol terjadi. Bunyi peluit wasit mengakhiri pertandingan. Kegembiraan meluap di barisan Real Madrid !

Tapi apa hanya itu? tentu tidak. Pemain Real Madrid memberi respeknya atas perjuangan pemain-pemain Liverpool. Mereka saling menyelamati dan menyemangati. Kita pun menjadi saksi bagaimana Loris Karius sambil terisak-isak memohon “ampunan” pada Suporter atas kekeliruan yang ia lakukan. Memohon kepada elemen maha penting dari klub yang usianya sama tuanya dengan Klub itu sendiri. Suporter pun membalasnya dengan terus bernyanyi seakan berseru: Jangan sedih, Loris! anda telah berjuang demi kehormatan kami!

Begitulah sepak bola ditampilkan dengan segenap drama yang menyertainya. Suatu permainan yang dinikmati bukan saja soal menang atau kalah, bukan saja soal bagaimana taktik dan strategi dioperasionalkan. (Bahkan) bukan hanya soal berapa besar uang yang berputar dalam suatu pertandingan. Akan tetapi melampaui semua itu. Dalam sepak bola mempertunjukkan bagaimana anak manusia saling menghormati kawan bahkan lawan. Bagaimana permainan dimuliakan dengan sikap respek serta empati kepada siapapun dan kepada apapun. Dalam sepak bola (yang benar) kita dipertontonkan bagaimana (harusnya) kemanusiaan diperlakukan dalam suatu kompetisi.

Hal-hal tersebut di atas rasanya sulit didapatkan pada konteks kompetisi lainnya, semisal: Kontestasi Politik ! bahkan dalam  ranah ini sepak bola tak lebih hanyalah sebagai pasar untuk menjual nama dan pengaruh. Sepak bola tak lebih hanyalah sebagai kendaraan dalam meraup dukungan politik seluas-luasnya. Sepak bola tak lebih sebagai tempat menyimpan kredit sosial yang sewaktu-waktu dapat di tagih dan ditukarkan. Dengan perlakuan seperti itu bagaimana pula dapat menghargai segenap nilai-nilai yang menyertai sepak bola: empati, respek dan etika?. Lalu bagaimana pula suatu pertandingan atau kompetisi dimana etik, respek dan empati telah dicabut darinya?. Sungguh suatu pertandingan yang kotor dan menjijikkan. Tidakkah mereka bisa belajar dari lapangan hijau? Ataukah mereka memang enggan?

 

Penulis

Irawan Amiruddin, S.I.P., M.Si

Suporter Arsenal yang kebetulan Peneliti Sosial dan Politik.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *