LITERASI MEDIA SEBAGAI UPAYA SELEKTIF TEKAN INFORMASI BERBAUR KAMPANYE HITAM DI PILKADA

Di era yang modern ini, proses penyampaian informasi semakin berkembang. Waktu yang digunakan untuk menyampaikan informasi itupun relatif cepat dan praktis. Kemudahan untuk menyampaikan informasi seolah-olah tak megenal jarak dan waktu. Media sosial merupakan salah satu cara menyampaikan informasi kepada masyarakat, sebuat saja contohnya facebook, twitter, youtube dan sebagainya. Namun, dewasa ini proses penyampaian informasi kepada masyarakat dibumbui dengan informasi yang kurang tepat. Sayangnya, sebagian dari masyarakat kita memakan mentah-mentah informasi tanpa meyaringnya terlebih dahulu.

Kemudahan dalam menyampaikan informasi ini turut membuat para calon kepada daerah memanfaatkan hal tersebut. Para calon kepala daerah dengan mudahnya menyampaikan visi misinya tanpa harus face to face dengan blusukan ataukah memasang baliho, ataupun cara lain yang prosesnya terbilang ribet.

Menurut data dari Webershandwick, perusahaan public relations dan pemberi layanan jasa komunikasi, untuk wilayah Indonesia ada sekitar 65 juta pengguna Facebook aktif. Sebanyak 33 juta pengguna aktif per harinya, 55 juta pengguna aktif yang memakai perangkat mobile dalam pengaksesannya per bulan dan sekitar 28 juta pengguna aktif yang memakai perangkat mobile per harinya. Pengguna Twitter, berdasarkan data PT Bakrie Telecom, memiliki 19,5 juta pengguna di Indonesia dari total 500 juta pengguna global.

Kampanye di media sosial pun adalah kampanye yang diperbolehkan dan diatur dalam peraturan KPU.Berdasarkan Pasal 65 UU 1/2015, praktis hanya tiga metode kampanye yang dibiayai dan dilakukan sendiri oleh calon kepala daerah yaitu pertemuan terbatas, pertemuan tatap muka dan kegiatan lain yang tidak melanggar larangan kampanye. Dalam draft PKPU yang tengah dilakukan uji publik, kegiatan lain yang dimaksud antara lain (1) menyebar souvenir seperti kaus, mug atau payung yang jika dikonversi nilainya tidak melebihi Rp50 ribu per buah; (2) rapat umum (lima kali untuk calon Gubernur, dan tiga kali untuk calon bupati/walikota) dan (3) kampanye di media sosial.

Kampanye di media sosial secara tegas tidak disebut dalam UU 1/2015, tetapi kemudian KPU memasukan hal ini sebagai bagian dari ‘kegiatan lain’. Ketentuan tentang kampanye di media sosial sudah dimasukan dalam draft PKPU. KPU mengakui media sosial sebagai sarana kampanye resmi calon kepala daerah.

Mengenai Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) Nomor 7 Tahun 2015 tentang Kampanye Pemilihan Gubernur, Bupati dan Wali Kota, PKPU  hanya mengatur akun medsos resmi pasangan calon dan para pendukung. Sementara akun medsos lainnya tidak diatur sehingga disinilah bisa muncul kampanye hitam atau black campaign. Kampanye hitam adalah menghina, memfitnah, mengadu domba, menghasut, atau menyebarkan berita bohong yang dilakukan oleh seseorang calon/ sekelompok orang/ partai politik/ pendukung seorang calon, terhadap lawan mereka.

Dewasa ini, antara pilkada dan media sosial adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Dengan mudahnya para calon kepala daerah  atau pendukungnya menyampaikan visi-misinya melalui media sosial. Memposting segala aktivitas seharinya ataukah memamerkan fotonya untuk menarik perhatian. Sebenarnya bukan hal yang salah, akan tetapi jika dilakukan dengan kampanye hitam maka akan melanggar aturan.

Masyarakat sebagai sasaran informasi mudah termakan informasi. Perlu adanya pemahaman mengenai literasi media. Literasi media adalah kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan mendekonstruksi pencitraan media.Perkembangan teknologi yang laur biasa dari konvensional hingga munculnya media baru membuat seseorang harus memiliki kemampuan literasi yang baik. Mampu membedakan mana yang baik dan mana yang tidak, mampu membuat keputusan percaya atau tidak.

Kini masyarakat sudah masuk dalam tahapan masyarakat informasi. Kebutuhan akan informasi menjadi yang utama. Khalayak menjadi sangat aktif dan bebas memilih mana yang bisa memenuhi kebutuhannya. Perkembangan teknologi yang pesat dan lahirnya media baru menuntut seseorang untuk bisa memiliki kemampuan literasi yang berbeda dari biasanya. Dari anak-anak hingga dewasa , perlu untuk belajar bagaimana sebuah berita dibuat, apa yang ada dibaliknya. Bahkan pada tatanan ahli bisa mengetahui arah dan motif subuah tulisan dibuat.

Fokus utama dari literasi media adalah isi pesan. Kemampuan untuk bisa memahami, menganalisis dan mengevaluasi menjadi yang tidak bisa lepas dari melakukan literasi. Seseorang tak hanya sekedar membaca, dan memperoleh informasi. Namun, dalam proses memperoleh informasi tersebut, seseorang dengan sendirinya mendayagunakan kemampuan akal pemikirannya.

Perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat harus dimanfaatkan kearah positif menurut presiden. Presiden Jokowi pun menyadari bahwa teknologi informasi juga memberikan dampak yang negatif bagi masyarakat, seperti banyaknya informasi yang meresahkan, yang mengadu domba, memecah belah. Presiden jokowi juga meminta dilakukannya gerakan masif untuk melakukan literasi, edukasi, dan menjaga etika, menjaga keadaban dalam bermedia sosial.

Di Indonesia sendiri, literasi media sangat dipandang penting. Contohnya adalah dengan dimasukkannya literasi media dalam kurikulum pendidikan. Dalam beberapa perguruan tinggi negeri literasi media dimasukkan sebagai mata kuliah. Hal ini merupakan satu langkah pemerintah untuk membentengi masyarakat agar tidak memakan langsung berita yang kurang jelas atau biasa disebut hoax. Ini tentunya juga merupakan salah satu cara agar masyarakat lebih dewasa lagi dalam memandang kampanye hitam dalam pilkada.

Tidak menutup kemungkian dalam beberapa tahun kedepan jika literasi media dipahami dengan betul maka masyarakat kita menjadi masyarakat yang cerdas dalam memilih pemimpin. Melalui dengan kemampuan literasi media dengan tidak memakan mentah-mentah informasi yang ada dan disertai dengan aturan pemerintah, pemilihan kepala daerah akan berjalan lanjar. Kampanye hitam yang dilontarkan para oknum yang tak jujur akan tak memberikan pengaruh  yang besar kepada masyarakat.

 

Daftar pustaka

Penulis

Rudi Salam

Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UNHAS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *