Star Wars, Filsafat, dan Politik: Part I

 

Poin besar di tulisan saya sebelumnya, bahwa ‘jantung’ film Star Wars adalah pola oposisi yang melekat pada Force yang berelasi satu sama lain; Sisi Gelap Force & Sisi Terang Force. Pola oposisi yang berelasi satu sama lain ini kemudian dilihat dalam salah satu tradisi Filsafat Timur yaitu Tao via Fritjof Capra[1], yang karenanya kita nda tau kapan dan bagaimana kedua sisi Force tersebut ketika berhenti ber-dialektis.

Dari situ kemudian lantas bisa dipahami bahwa keberadaan Sisi Gelap dan Sisi Terang tidak berdiri satu sama lain secara utuh sebagai dua oposisi yang betul-betul terpisah. Keberadaan Gelap selalu meniscayakan keberadaan yang-bukan-Gelap—yang diberi nama: Terang, dan begitupun sebaliknya. Contoh lainnya, untuk memahami ‘sendok’ atau agar keberadaan ‘sendok’ dimungkinkan, akan selalu meniscayakan yang-bukan-sendok yang diberi nama: garpu, gelas, piring, toples, dan kawan-kawannya. Karena itulah pada identitas sesuatu tidak pernah ‘utuh’, selalu terdapat ‘kekosongan’ yang akan siap diisi oleh sesuatu-yang-lain agar sesuatu itu dapat eksis. Maka identitas sesuatu pada dirinya akan selalu relatif; A = A sekaligus-bukan-A. Ini merupakan konsekuensi logis dari gagasan tentang kekurangan yang dianggap telah-selalu-ada atau ada memang mi sebelum kita tau’ki. Tidak ada sesuatu yang utuh, karena setiap sesuatu akan senantiasa berelasi dengan sesuatu yang lainnya dikarenakan terdapatnya kekurangan pada sesuatu tersebut. Maka saya mengasumsikan seperti inilah logika dasar dari ‘jantung’ film Star Wars.

Dari keseluruhan relasi sesuatu-sesuatu tersebut terbentuklah satu kesatuan sistem utuh yang meresapi siapapun, dimanapan, dan kapanpun. Pada Ibn ‘Arabî kita melihat sistem tersebut mirip Wahdah al-Wujûd[2], pada Hegel sistem tersebut mirip Yang-Absolut[3], sampai kepada Filsafat ‘Jaman Now’ sistem tersebut mirip dengan Semesta Teks—there is no outside-text[4]. Bagaimana dengan Star Wars? Sistem tersebut disebut: Force.

“It’s an energy field created by all living things. It surrounds us and penetrates us. It binds the galaxy together.”[5]

Lantas bagaimana sistem atau Force tersebut terbagi[6] menjadi—yang dalam pengertian Star Wars—Sisi Terang & Sisi Gelap? Ini persoalan lain dan akan akan dijelaskan pada kesempatan lain. Maka untuk sekarang ini, kita tidak akan menjelaskan kenapa Sisi Terang; Jedi dan Sisi Gelap; Sith bisa teraktual pada Force, tetapi kita mengasumsikan bahwa kedua sisi tersebut secara apriori—ada memang mi dan nda bisa mi menyatu. Untuk selanjutnya melihat model pemahaman sistem politik yang dikandung kedua sisi tersebut.

***

Sebagai seseorang yang kebetulan menyicipi Ilmu Politik di FISIP Unhas (heheh..), saya melihat film Star Wars tidak hanya sebagai film science fiction biasa, tetapi melihat juga bahwa terdapatnya dimensi pemahaman model sistem politik yang berbeda secara tegas diantara kedua sisi tersebut. Ini yang membuat saya merasa beruntung berada dalam iklim kajian di FISIP Unhas, heheh..

Tulisan ini bukan berangkat dari pengertian-pengertian Politik pada umumnya yang mungkin hampir secara keseluruhan terlabeli stigma “kotor”, “licik”, “jahat, dsb. Politik yang dimaksud disini mengikuti intuisi dari Martin Suryajaya dengan mengartikannya secara longgar, yakni merupakan perkara formasi, administrasi dan
justifikasi pembagian kerja masyarakat dalam kerangka pemenuhan kebutuhan hidup bersama[7]. Ini selaras dengan definisi Filsafat á la Gilles Deleuze & Félix Guattari[8], yang juga dapat dipahami sebagai perkara mem-formasi-kan. Apa yang hendak diformasikan tak lain adalah sebuah sistem kehidupan sosial yang kompleks, dan tepat pada titik ini kita menyebutnya Filsafat Politik. Secara sederhana ini seperti ketika kita memformasikan kedua sisi Force—ini Sisi Gelap dan itu Sisi Terang—dengan menetapkan indikator-indikator yang menjadi batasannya. Namun dalam sistem politik tidak sesederhana seperti memformasikan kedua sisi Force. Memformasikan sistem politik yang kompleks mesti dilakukan oleh seseorang (atau sekelompok orang) dengan kualitas tertentu yang disebut Filsuf.

Pada film Star Wars perkara memformasikan sistem politik merujuk pada faktor inti: wilayah & masyarakat ke dalam pertanyaan: bagaimana kehidupan masyarakat di galaksi ini dikelola?’. Masyarakat yang ingin dikelola terdiri atas individu manusia yang unik karena memiliki konsepsi kedaulatan atas dirinya sendiri. Jika kita mengikuti asumsi dasar Thomas Hobbes tentang manusia, bahwa manusia yang unik tersebut jika tidak dikelola dengan benar akan melahirkan kekacauan[9]. Maka dibutuhkan ‘sosok khusus’ yang dapat mengelola. Maka muncul lagi pertanyaan: ‘siapa yang dapat mengelolanya?’.

Dari kedua pertanyaan tersebut kemudian melahirkan model sistem politiknya masing-masing; Sistem Politik Sisi-Terang-Force & Sistem Politik Sisi-Gelap-Force. Model formasi sistem politik dari kedua sisi Force itulah yang coba kita lihat pada film Star Wars. Sebagai langkah awal, berikut kita dapat merangkum kedua model formasi tersebut:

Perlu diketahui (lagi) bahwa pola gerak kedua sisi Force tersebut bukan gerak dalam pola hirarki atau dengan kata lain posisi bawah untuk menduduki posisi atas. Gerak kedua sisi Force berada pada posisi setara. Karena keduanya pada posisi setara, kita jangan melihat salah satu sisi berikut dengan sistem politik yang dianutnya dalam derajat hirarkis—ini baik dan itu buruk.

Jika kita mengikuti logika kekurangan yang seperti digambarkan sebelumnya di atas, kesimpulan yang hadir adalah kedua sisi tersebut (berikut dengan sistem politik yang dianut) mestilah tetap eksis atau tetap hidup setelah pertarungan. Karena jika salah satunya mati, maka yang hidup akan mengalami kebuntuan eksistensial, dan oleh karenanya segalanya menjadi absurd. Pertentangan ‘filosofis’ kedua formasi tersebut dapat dilihat pada scene dialog kedua orang tua Luke & Leia; Anakin Skywalker & Padme Amidala[10]:

Sebelum percakapan itu terjadi, Anakin Skywalker masih berada pada Sisi-Terang-Force. Keganjilan mulai terasa ketika Anakin Skywalker menyadari bahwa Sistem Politik Sisi-Terang-Force tidak bekerja. Dikarenakan kebijakan yang dikonversi dalam lembaga perwakilan tidak membuat semua pihak setuju, seperti yang Padme Amidala sendiri katakan. Anakin Skywalker kemudian menyatakan bahwa kebijakan mestilah membuat setuju semua pihak dan itu harus dilakukan oleh seseorang yang bijak. Disaat itulah titik dimana Anakin Skywalker berangsur-angsur beralih ke Sisi-Gelap-Force dan menjadi Darth Vader. Dengan kata lain, Anakin Skywalker merupakan kontradiksi inheren pada Sistem Politik SIsi-Terang-Force.

***

Keseluruhan film Star Wars mulai dari A New Hope (1977) sampai The Last Jedi (2017), kita dapat melihat kalau Sistem Politik Sisi-Gelap-Force dipimpin oleh seseorang. Namun alih-alih dipimpin oleh seseorang yang bijak seperti yang diinginkan Anakin Skywalker, justru digambarkan dalam film adalah seseorang yang otoriter (Sidious ataupun Snoke) yang memburu kelompok ‘minoritas’ dari Sistem Politik Sisi-Terang-Force untuk dihancurkan. Sehingga menimbulkan kesimpulan umum bahwa Sistem Politik yang dikelola oleh seseorang (atau sekelompok orang) akan selalu jatuh pada kebatilan atau dengan kata lain kediktatoran. Apakah itu berarti bahwa sistem politik tersebut buruk dan mesti dihancurkan? Apakah gelap selalu salah?

Bersambung..

[1] http://revi.us/star-wars-filsafat-kultur-timur-dalam-pertentangan-jedi-vs-sith/

[2]  “Ibn ‘Arabî diyakini sebagai tokoh yang memberikan sumbangsih besar dalam menyebarkan konsep Wahdah al-Wujûd”, selengkapnya lihat: https://mnjabir.blogspot.co.id/2013/03/wahdatul-wujud-menurut-mulla-sadra_3.html

[3] Lihat buku Imanensi dan Transendensi (Sebuah Rekonstruksi Deleuzian atas Ontologi Imanensi dalam Tradisi Filsafat Prancis Kontemporer) karya Martin Suryajaya. Secara sederhana, dapat dipahami dalam buku Martin Suryajaya ini, Hegel ditempatkan sebagai Bapak Filsafat Imanensi atau realitas satu kesatuan sistem yang utuh.

[4] Dengan asumsi dasar bahwa seluruh keberadaan realitas ditopang oleh Satu Kesatuan Bahasa (Pembedaan-Penundaan) dan konsekuensi terjauhnya adalah segala sesuatunya menjadi relatif, maka anggapan Jacques Derrida ini sekurang-kurangnya dapat mewakili ‘puncak’ kondisi filsafat hari ini. Seperti yang digambarkan Martin Suryajaya dalam pengantar bukunya: “… sejak satu dekade terakhir dunia filsafat kontemporer nampak sedang bergolak keras”, Matrealisme Dialektis (Kajian Tentang Marxisme dan Filsafat Kontemporer).

[5] Obi-Wan Kenobi—Film Star Wars (A New Hope) tahun 1977

[6] Gaya penulisan ini disebut Derrida sebagai sous rature (under erasure). Tujuan dari gaya ini, yaitu dengan mencoret suatu kata, adalah menunjukkan bahwa kata tersebut adalah tidak relevan secara maknawi, melainkan perlu tetap diafirmasi keberadaannya yang performatif sebagai suatu “jejak kehadiran.” Lihat Gayatri Spivak, “Translator’s Preface,” dalam J. Derrida, Of Grammatology, hal. Xvii. [Mengutip penjelasan ini dari Tesis Hizkia Yoise berjudul PSIKOANALISIS PARADOKS KEDAULATAN KONTEMPORER—KASUS KEBIJAKAN GLOBAL WAR ON TERROR AMERIKA SERIKAT SEMASA PEMERINTAHAN GEORGE W. BUSH, Jr.]

[7] https://indoprogress.com/2014/04/marxisme-dan-artikulasi-politik/

[8] Lihat buku WHAT IS PHILOSOPHY? (Reinterpretasi Atas Filsafat, Sains, dan Seni), Gilles Delueze & Félix Guattari menuliskan “Kita tidak pernah berhenti mengajukan pertanyaan ini [apakah filsafat?], dan kita telah memiliki jawabannya, yang belum berubah: filsafat adalah seni membentuk, menemukan dan merajut konsep-konsep”.

[9] Asumsi dasar Thomas Hobbes tentang manusia yang disebut Kondisi Alamiah atau Pra-Politik adalah serigala (lupus). 1. Seperti anggapan Hizkia Yosie dalam Tesisnya: PSIKOANALISIS PARADOKS KEDAULATAN KONTEMPORER, “Pada kondisi homo homini lupus, semua lupus memiliki kegelisahan yang sama, yaitu keberlangsungan eksistensialnya. Hubungan di antara lupus diwarnai dengan dilema keamanan—keamanan seorang lupus dianggap ancaman bagi lupus lainnya”. 2. Dan juga Jonathan Wolff dalam bukunya: Pengantar Filsafat Politik, “Inti pandangan Hobbes adalah bahwa ketika tidak ada pemerintahan, tabiat dasar manusia pasti akan membawa manusia pada konflik yang keras. Maka bagi Hobbes, filsafat politik dimulai dengan studi tentang hakikat manusia”.

[10] Film Star Wars (Attack of the Clones) tahun 2002

 

Penulis

 

Rury Ramadhan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *