Puisi Puisi Dzikry el Han

Setangkai Senja dari Sanggei[1]

Kupetik setangkai senja yang mekar di tepi Sanggei, untukmu

Karena aku tahu

ia akan terus mekar kembali

tanpa batas waktu

 

Mungkin saja aku bukan orang pertama

yang memanen senja itu

karena Sanggei telah menumbuhkannya

sejak berabad lalu

 

Meski dayung berganti mesin

dan orang-orang Waropen mulai memitoskan

bahan bakar minyak sebagai Ibu Kehidupan

senja di Sanggei tetap berwarna lembayung

 

Kubawa ia dengan sangat hati-hati

agar tak patah hingga tiba di hadapanmu nanti

 

Kubayangkan guguran cahayanya

mengajarkan kita mengenai cinta

yang dititipkan para leluhur

kepada sungai, tanah, dan tubuh

untuk kita rawat

agar senja di tepi Sanggei tetap dapat dipetik

hingga orang-orang Waropenkelak menutup catatan sejarahnya

————–

[1]Namasebuahsungai di Waropen, Papua.

 

Madeline

Kupahat namamu, Madeline

pada hareken dan kaneke[1]

yang suci di dalam honai

agar kau tahu cintaku sejati

 

Kurangkum jiwamu, Madeline

dalam sepi

yang kugantungkan pada ribuan buah sika[2] kering

di toko-toko cenderamata

dan berharap cintaku

menyebar ke seluruh penjuru semesta

dibawa orang-orang manca yang menyukai

barang etnik negeri kita

 

Kubiarkan waktu mengurai sorot matamu menjadi

bukan lagi gadis lembah

sebab persoalan adat tinggal membeku di dalam lensa

sunyi pada catatan-catatan ilmuwan dan pujangga

atau paling puncak

hanya sanggup kita perankan dalam rupa-rupa

festival kebudayaan

tidak menjadi soal, Madeline

Aku masih betah menganyam

gelang dan cincin ilalang[3]

sembari berangan

kelak aku dapat membawamu pulang

———-

[1]Hareken dan kaneke adalah benda sakral milik masyaralat adat di Lembah Baliem.

[2]Labu putih dengan nama ilmiah Lagenaria siceraria, digunakan untuk membuat holim atau koteka dengan cara dibersihkan semua bijinya sehingga berongga, kemudian dikeringkan.

[3]Gelang dan cincin khas Lembah Baliem.

 

Manuskrip Puyakha[1]

Sampai punah cerita-cerita leluhurku

tak pernah dituturkan lagi

tetap kupahat kenangan tentang Negeri Puyakha

pada selembar ruhku yang menolak sepi

 

Jiwaku nyanyian

yang bergulir dari Ayapo, Asei, hingga Kwadeware[2]

melantunkan angin, sampan, dayung

air danau yang keruh dari tepi ke tepi

dusun sagu yang termangu di senja hari

seperti kidung agung abadi

 

Jiwaku tarian

yang mabuk akan rumbai-rumbai dan gelang kaki

teriakan, gumam, atau desah dari dalam nurani

memintal isyarat mengenai masa depan yang teka-teki

 

Jiwaku lukisan

yang memberkati setiap lembar kulit kayu kombouw[3]

dengan goresan fouw[4]

mengangankan segala ihwal manusia Puyakha tetap berpusat

pada obae onggo

————-

[1] Nama asli Sentani, memiliki arti ciri nyata.

[2]Nama perkampungan di wilayahSentani.

[3] Flora khas Sentani, memiliki nama ilmiah Ficus variagata. Kulit kayunya diolah sebagai media seni lukis khas Sentani.

[4] Motif lukisan khas Sentani, berbentuk lingkaran yang berpusat pada sebuah titik. Fouw adalah simbol yang berarti setiap kegiatan dan keputusan adat ditetapkan oleh ondofolo, dipusatkan di obae onggo (para-para adat), dan dilaksanakan oleh seluruh masyarakat.

——

Dzikry el Han, penulis dan pendiri Sekolah Menulis Papua. Lahir di Lamongan, 28 Oktober 1979. Saat ini berdomisili di Jayapura. Dzikry aktif menulis dan bergiat di bidang pengembangan literasi. Salah satu karyanya adalah novel etnografi berjudul “Cinta Putih di Bumi Papua”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *