Fenomena di Balik Maraknya Kue-Kue Kekinian

MARAKNYA ARTIS YANG MEMBUKA usaha kuliner khas daerah merupakan fenomena tersendiri di Indonesia. Jika kita mendata maka setidaknya terdapat lebih 30 artis Indonesia yang membuka usaha ‘toko kue kekinian’. Bahkan, beberapa artis itu membuka toko kuenya di daerah yang sama. Di Bandung ada Laudya Chyntia Bella dengan ‘Bandung Makuta’, Syahrini dengan ‘Princess Cake’ dan Amy Qanita (ibunda Raffi ahmad) dengan ‘Kanaya cake’. Begitu pula di Surabaya kita bisa mencicipi kue-kue seperti ‘Surabaya Snowcake’ milik Zaskia Sungkar, ‘Patata’ sajian dari Okky Setiana Dewi, dan ‘Vini Vidi Vici Cake’ racikan Vidi Aldiano. Lalu di kampung kita sendiri di Kota Makassar ada ‘Bosang Cake’ dan ‘Baklave Makassar’ masing-masing milik artis Ricky Harun dan Irfan Hakim serta ‘Boluta’ milik Ari Untung.

Mungkinkah fenomena ini kelak akan menggeser posisi para pedagang kue-kue usaha skala rumah tangga dan para juru masak yang menguasai khazanah boga nenek moyang kita di Sulawesi Selatan? Bisa jadi iya. Gempuran produk ekonomi dari luar sudah menunjukkan beberapa kedigdayaannya di kota ini. Salah satu yang paling spektakuler adalah kekuatan jaringan minimarket berjejaring—seperti Alfamart dan Indomaret—telah meluluhkan kekuatan ekonomi gadde-gadde dan pasar-pasar rakyat.

Fenomena masuknya kalangan artis yang memiliki popularitas ke bisnis kuliner tentu akan mengancam usaha sejenis yang sudah jauh lebih dulu hadir di kota dan keseharian kita.  Popularitas para pedagang kue-kue lokal saat ini akan kalah dengan nama besar sang artis berikut bongkahan modal yang mengikuti bisnis mereka. Mereka dapat mengemas ‘aneka kue’ dengan apik nan menggoda dan promosi langsung oleh artis-artis plus kawan-kawan mereka yang beken. Setidaknya, apa yang terjadi saat ini tampak nyata dari antrian di setiap outlet kue kekinian tersebut. Bahkan banyak dari mereka yang rela antri jauh sebelum toko itu dibuka. Jika dicermati, sebagian dari para pemburu penganan kekinian rela melakukannya karena rasa penasaran dan ikut-ikutan ingin mencoba lalu mempostingnya di sosial media demi ‘kesan’ kekinian tadi. Di sisi lain, perilaku semacam itu bisa jadi tidak terkait langsung dengan ia menyukai atau tidak menyukai rasanya.

Dalam kajian kebudayaan, perilaku para artis menawarkan konsep ‘bisnis kue kekinian’ di atas disebut oleh Jean Paul Baudrillard sebagai “Konsep Konsumsi Simbol”. Konsep ini merupakan pergeseran orientasi konsumsi masyarakat dari berbasiskan ‘kebutuhan hidup’ (needs) menjadi gaya hidup (life style). Menurut Baudrillard, masyarakat sekarang [saat ini] lebih terpaku pada konsumsi simbol dibanding kegunaannya. Akibatnya, seseorang akan lebih memilih produk kue “kekinian” [yang sudah berisi nilai ‘gaya hidup] ketimbang pada kudapan bermerek lokal yang [hanya] memiliki bentuk dan rasa yang sama walau dengan harga yang jauh lebih murah.

Hal ini membentuk perilaku di masyarakat sekarang bahwa belum keren atau ngehitz seseorang jika ia belum mencoba kue tersebut kemudian mengunggahnya di media sosial demi memenuhi unsur ‘kekinian’ yang menjadi ciri masyarakat dijital. Hal ini yang dimaksud  Jean Paul Baudrillard sebagai “distingsi” atau jarak sosial yang terbentuk akibat pilihan selera. Misalnya, dengan memakan atau membeli kue kekinian seperti Baklave Makassar-nyaIrfan Hakim atau Bosang Cake-nya Ricky Harun atau Bolu’ta atau Japannese cake-nya Arie Untung akan membangun ‘label’ di masyarakat sebagai budaya tinggi (high culture) dan budaya rendah alias kampungan kalau hanya makan bolu peca atau bolu cukke’.

Di samping ‘distingsi’ dan ‘pergeseran orientasi’ masyarakat dari ‘kebutuhan hidup’ menjadi ‘gaya hidup’ ada hal yang lebih besar dibalik semua itu, yakni adanya praktik bisnis Monopoli oleh pengusaha besar atau pemilik modal. Pemodal ini berdiri di belakang para artis yang sekadar menjadi satu bagian saja dari mesin produksi bisnis rasa ini. Pemilik modal memanfaatkan maraknya ‘konsumerisme’ dalam keseharian masyarakat, popularitas sang artis, dan berupaya membentuk satu bangunan perilaku sosial yang diproduksi terus menerus melalui jaringan dunia maya—media sosial.

Sebagai seorang yang berkecimpun dalam dunia masak memasak dan olah rasa, penulis sudah mengamati jenis-jenis kue yang mereka tawarkan. Dari bahan bakunya, kue-kue itu nyaris seluruhnya berbahan dasar cheese cake atau chiffon cake dengan lapisan puff pastry yang diberi cream. Dari cara mengemasnya, apa yang tampak berbeda hanyalah bentuk kue, toping dan kemasannya. Lebih jauh, desain marketingnya pun antara satu dengan lainnya tak jauh berbeda. Pun demikian pada cara promosinya melalui media sosial seperti instagram, mengadakan meet and greet di outletnya dan memakai jasa artis pop sebagai brand ambasador sekaligus pemilik (owner).

Jadi, dalam kontek ‘politik dagang’ ini, sang pemilik modal atau owner sesungguhnya hanya memanfaatkan kepopuleran para artis tersebut demi satu tujuan paling purba dalam praktik bisni, laba!

Tentu para artis tidak keberatan dengan sistem yang memanfaatkan popularitas mereka demi alasan yang kurang lebih sama, uang. Perilaku para artis ini berbisnis kue-kue bukanlah soal seni dan budaya adiluhung para leluhur yang sudah sedemikian rupa menciptakan produk kue-kue lokal. Alih-alih mempertahankan cita rasa daerah, mereka justru tak berkait langsung dengan aneka racikan atau resep dari kue-kue yang dijual di gerainya. Dengan kata lain, ini hanya business as usual, sebuah praktik saling menguntungkan atau simbiosis mutualisme.

Dalam konteks yang lebih luas, perilaku ekspansi ekonomi ke daerah-daerah juga ditopang oleh alasan klise, yakni membuka lapangan kerja atau meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah. Padahal, alih-alih membuka lapangan kerja, ancaman paling nyata justru runtuhnya gerai-gerai kue yang mengandalkan warga-warga kota. Untuk itu, sebagai warga kota pemerhati masalah kuliner lokal, jika ekspansi ini semakin meluas maka tidak menutup kemungkinan perilaku mengonsumsi kue berubah dan membuat konsumen beralih jajanan dan berpotensi mematikan usaha skala rumahan. Sudah banyak contoh bagaimana pemodal besar menggilas pelaku kecil. Untuk itu, pengaturan perilaku para pebisnis oleh pemerintah perlu dilakukan.

Tetapi ini baru permulaan dan kita perlu berhati-hati menyikapinya. Sejauh ini, walaupun ‘Kue-Kue Kekinian’ dari kaum artis di Indonesia tumbuh dan berkembang bak jamur di musim hujan, kue-kue dan makanan khas daerah kita tetap memiliki penggemarnya sendiri, termasuk penulis.

Bagi saya, seenak apapun chesse cake yang dijual oleh artis-artis itu, tetap tidak bisa mengalahkan rasa dari barongko yang baru keluar dari kulkas, manisnya cucuru bayao dan sikaporo, segarnya pisang ijo di tengah teriknya matahari, atau nikmatnya makan pallubasa pakai alas pas lagi lapar-laparnya.

Jadi buat penjual-penjual kue atau makanan kampung kita di luar sana, jangan khawatir dengan gempuran kue-kue kekinian artis tersebut. Tetaplah fokus tinggkatkan pelayanan, lakukan inovasi, pertahankan kualitas dan rasa insya Allah akan tetap bisa bertahan. Anda tahu rahasianya, “Lidah dan selera orang beda-beda jadi tetaplah bersemangat!

Mariki sarapan, putu!

Penulis : Andi Anna Rahayu,S.IP (abond)

8 thoughts on “Fenomena di Balik Maraknya Kue-Kue Kekinian

  • July 15, 2017 at 6:33 am
    Permalink

    Sama jiki sai… Sy penggemar barongko…bagi sy tuh jauh lbh enak dr pd kue yg ditawarkan para artis… Pernah sy coba beli, mahal na tommi poeng ternyata bgtji rasax sy kira gmn2 mi rasax…ka org rela antri smpe berapa meter…tp bg saya dan kluarga kue tradisional lbh enak contoh roko-rokocangkuning, pallubutung, pisang ijo, bolupeca, bijinangka, taripang, dll…

    Reply
    • July 17, 2017 at 9:12 am
      Permalink

      Terima kasih say atas reviewnya….
      Saya sebenarnya suka sm semua jenis kue dan makanan tp kembali lagi yah lidah ngga bisa bohong… Tetep aja nyarinya yg khas…. ?

      Reply
  • July 16, 2017 at 4:28 am
    Permalink

    setuju bgt sama opini nya mba abond

    Reply
    • July 17, 2017 at 9:13 am
      Permalink

      Terima kasih kanda…
      Salam hangat…. ?

      Reply
  • July 16, 2017 at 5:38 am
    Permalink

    Terima kasih yang sudah baca dan share tukisan saya ini….

    Salam bolu cukke… ?

    Reply
  • July 17, 2017 at 6:27 am
    Permalink

    Setuju. Saya lebih suka makan sitambolo dibanding kue2 artis yg mahal tapi rasanya biasa saja ??

    Reply
  • July 20, 2017 at 8:30 pm
    Permalink

    Setuju dengan ulasannya. Bahkan kadang ada yg beberapa caption atau promosinya itu menurut saya gak pas. Misalnya bagi kami yang ga suka bakpia…ini lho ada oleh oleh kekinian blabla…..atau kini ada oleh oleh kekinian dari jogja selain bakpia….bla bla bla….. what? sampai saya komen di IG nya waktu itu….ini kan kue bukan khas jogja….kenapa pula nyinggung2 yg udah olej oleh khas dari dulu…. gemes…

    Reply
  • August 27, 2017 at 1:01 pm
    Permalink

    Terbaik siiih ini tulisannya ?

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *